NovelToon NovelToon
Zee Dan Kamera Tua

Zee Dan Kamera Tua

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Time Travel / Mengubah Takdir
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: _SyahLaaila

Setelah bertahun-tahun tak pernah dibuka, gudang tua di belakang rumah akhirnya kembali disentuh Zee. Dia hanya berniat merapikan peninggalan kedua orang tuanya yang telah lama tiada. Di antara debu dan kardus usang, Dia menemukan sebuah kamera analog tua yang tak pernah Dia ingat sebelumnya, kamera itu masih menyimpan satu gulungan film.

Karena penasaran, Zee mencoba memotret halaman belakang rumahnya, tempat sumur lama yang sudah kering berdiri sunyi di dalam pagar, tidak ada yang aneh saat Dia menekan tombol rana. Namun saat hasil cetaknya muncul, Dia terkejut.

Di dekat sumur kering itu, tampak sebuah pintu tua transparan, berdiri tegak tanpa dinding, seolah-olah mengarah tepat ke bibir sumur, pintu itu tidak ada saat Dia memotret.

Zee bingung apa maksud dari jepretan kamera tua itu? Penasaran lanjutan cerita nya? Yukk ikutin kelanjutan ceritanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _SyahLaaila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13.

Ketika Zee membuka mata, cahaya matahari sudah tinggi.

Hari telah siang.

Dia segera bangkit, membersihkan diri, lalu mengenakan pakaian rapi sebelum turun ke bawah.

Di halaman belakang, Pak Ali terlihat sibuk merawat kebun. Tangannya cekatan menyiram tanaman, sesekali memeriksa buah-buahan yang mulai matang di pohon.

Sementara itu, dari arah dapur, aroma masakan menyeruak lembut. Bu Maya tampak sedang menyiapkan makan siang.

“Pagi, Bu… Pak…” sapa Zee pelan.

“Kamu sudah bangun, Neng,” jawab Bu Maya sambil tersenyum hangat.

Tak lama kemudian, mereka duduk bersama menikmati makan siang. Sederhana, namun terasa hangat dan nyaman.

Seolah semuanya baik-baik saja. Namun, Zee tahu dunianya sudah tidak lagi sama.

Setelah makan, Zee kembali ke kamarnya.

Dia duduk di tepi tempat tidur, menatap kosong ke arah jendela. Tirai tipis bergoyang pelan tertiup angin siang.

Tenang di luar. Namun tidak di dalam dirinya.

Semua yang terjadi sejak kemarin… terlalu sulit untuk diterima dengan logika.

Zee menunduk, menatap kedua tangannya.

“Kalau ini terus berlanjut...orang-orang pasti akan curiga.” gumamnya lirih.

Dia bukan orang kaya..Setidaknya, bukan sebelumnya. Namun sekarang?

Dengan aplikasi itu, Dia bisa mendapatkan apa saja dengan mudah. Bahkan sesuatu yang tidak masuk akal sekalipun.

Dan itu berbahaya. Orang-orang di sekitarnya bukanlah orang bodoh. Sedikit saja perubahan yang mencolok… pertanyaan akan mulai bermunculan.

Zee menghela napas panjang. “Sepertinya… aku harus mulai usaha.”

Keputusan itu terasa masuk akal. Dengan begitu, semua yang ia miliki bisa dijelaskan.

Tidak menimbulkan kecurigaan ataupun mengundang masalah. Keputusan itu pun bulat.

Zee segera berdiri, merapikan pakaiannya, lalu keluar rumah. Dia berjalan menuju samping rumahnya, sebuah lahan kosong yang selama ini hanya dipenuhi rumput liar.

Tanah itu cukup luas..Dan posisinya strategis.

“Kalau di sini dibangun toko kecil…” pikirnya, “cukup untuk awal.”

Tanpa menunda, Zee melangkah menuju rumah tetangganya.

“Ibu Sari…!” panggilnya sopan dari depan pagar.

Tak lama, seorang wanita paruh baya keluar dari dalam rumah.

“Eh, Zee, Nak. Ada apa?” tanyanya ramah.

Zee tersenyum. “Bu, saya mau tanya… tanah kosong di samping rumah itu masih milik Ibu, kan?”

“Iya, masih,” jawab Ibu Sari. “Memangnya kenapa?”

Zee menarik napas sejenak, lalu berkata dengan mantap, “Kalau… saya ingin membelinya, boleh, Bu?”

Ibu Sari tampak terkejut. “Membeli?”

“Iya, Bu. Saya mau coba buka usaha kecil-kecilan. Jadi butuh tempat,” jelas Zee tenang.

Ibu Sari terdiam sejenak. Tanah itu memang sudah lama tidak digunakan. Akhirnya, ia tersenyum kecil.

“Kalau untuk kamu, boleh saja, Nak. Nanti kita bicarakan harganya baik-baik.”

Wajah Zee langsung sedikit lega. “Terima kasih, Bu.”

Prosesnya tidak memakan waktu lama. Dalam beberapa hari, tanah itu resmi menjadi milik Zee. Dan tanpa membuang waktu, Dia segera memulai rencananya.

Zee ingin membangun sebuah toko kecil terlebih dahulu. Tidak terlalu besar atau mencolok.

Namun cukup untuk menjadi awal. Yang penting… terlihat normal di mata orang lain.

Zee memutuskan untuk membuat bangunan itu menyatu dengan rumahnya, agar lebih praktis dan tidak menarik perhatian.

Untuk itu, Dia membutuhkan bantuan tukang. Dan satu nama langsung terlintas di benaknya. Pak Rahman.

Keesokan harinya, Zee mendatangi rumah Pak Rahman.

“Pak, saya mau minta tolong,” ujarnya setelah bertemu.

Pak Rahman tersenyum ramah. “Mau bangun apa, Neng?”

“Saya mau bikin toko kecil di samping rumah. Disambung langsung ke rumah juga,” jelas Zee.

Pak Rahman mengangguk, wajahnya mulai serius. “Ukurannya kira-kira berapa?”

Zee menjelaskan semuanya dengan detail ukuran bangunan, posisi pintu, hingga sambungan ke rumah utama. Tidak mewah, namun rapi, dan cukup kokoh.

“Bisa, Neng,” kata Pak Rahman akhirnya. “Nanti saya ukur dulu tanahnya, terus kita hitung bahan.”

Zee tersenyum lega. “Baik, Pak. Saya percayakan ke Bapak.”

Beberapa hari kemudian, pembangunan pun dimulai. Suara palu dan mesin terdengar setiap pagi. Perlahan, tanah kosong itu berubah. Dari hamparan rumput liar… menjadi pondasi. Dari pondasi… menjadi dinding.

Zee sering berdiri di depan rumahnya, memperhatikan semua itu dalam diam.

Tatapannya tenang. Namun jauh di dalam, Dia sedang menyusun sesuatu yang besar.

Toko kecil itu…bukan sekadar usaha biasa. Itu adalah awal. Awal dari sesuatu yang jauh lebih besar. Dan hanya Zee yang tahu bahwa suatu hari nanti, toko itu akan menjual sesuatu yang tidak pernah ada di dunia ini.

Sore hari datang perlahan.

Langit berubah jingga, sinar matahari mulai melembut, menyelimuti halaman rumah dengan cahaya keemasan.

Seperti hari-hari sebelumnya, satu per satu orang mulai berpamitan.

“Kalau begitu, kami pulang dulu, Neng,” ujar Pak Rahman sambil mengelap keringat di dahinya.

“Iya, Pak. Terima kasih banyak hari ini,” jawab Zee dengan senyum.

Para tukang pun ikut berpamitan, disusul Pak Ali yang menutup pekerjaannya di kebun.

“Jangan lupa istirahat, Neng,” pesan Bu Maya dari dalam rumah.

“Iya, Bu,” jawab Zee lembut.

Tak lama, suasana rumah kembali sepi. Hanya tersisa suara angin sore dan langkah kaki Zee yang perlahan masuk ke dalam rumahnya. Dia menutup pintu dan menguncinya

Lalu berjalan menuju kamarnya. Langkahnya tenang… namun tujuannya jelas.

Sesampainya di dalam, Zee menutup tirai jendela. Dia berdiri sejenak di tengah ruangan, menatap ke arah meja kecil di sudut kamar.

Di sanalah, batu itu berada, batu teleportasi.

Zee menarik napas pelan.Tanpa ragu, Dia meraih berlian tersebut..Cahaya lembut kembali muncul, menyelimuti tubuhnya.

Dan dalam sekejap_

Dunia di sekitarnya menghilang. Ketika Zee membuka mata, Dia ia sudah berdiri di balkon apartemennya.

Angin laut langsung menyambutnya. Aroma asin yang khas… suara ombak… semuanya terasa nyata.

Zee melangkah keluar, menatap ke arah pantai yang terbentang luas.

Namun kali ini, Dia tidak berlama-lama. Tanpa menunggu, Dia segera bergegas turun dan berjalan menuju desa pesisir.

Langkahnya sedikit lebih cepat dari biasanya. Seolah… ada sesuatu yang Dia harapkan.

Dan benar saja, dari kejauhan, sebuah pemandangan membuatnya berhenti.

Di tepi jalan kecil desa itu, Doni berdiri. Namun ia tidak sendiri. Di sampingnya, berdiri seorang pria dan seorang wanita. Pak Sam dan Bu Yati. Ketiganya tampak menunggu.

Begitu melihat Zee, mata Doni langsung berbinar.

“Kak Zee!” teriaknya penuh semangat, lalu berlari kecil menghampiri.

Zee tersenyum, sedikit terkejut namun juga hangat. “Doni…”

Sementara itu, Pak Sam dan Bu Yati berjalan mendekat dengan langkah yang lebih hati-hati.

Tatapan mereka tertuju pada Zee. Penuh rasa penasaran dan banyak pertanyaan. Namun juga… penuh harapan.

Sesampainya di hadapan Zee, Doni langsung berdiri di sampingnya, seolah bangga.

“Ini, Kak… Ayah sama Ibu Doni,” ucapnya.

Zee mengangguk sopan, lalu sedikit menundukkan kepala.

“Selamat sore, Pak… Bu.”

Pak Sam membalas dengan anggukan pelan, namun tatapannya tetap tajam, meneliti.

Sementara Bu Yati terlihat lebih lembut, meski jelas masih ragu.

“Jadi… kamu yang namanya Zee?” tanya Pak Sam akhirnya.

“Iya, Pak,” jawab Zee tenang.

Hening sejenak.

Angin laut berhembus pelan, membawa suasana yang terasa sedikit tegang.

Namun Doni memecahnya.

“Kak Zee baik, Yah! Kak Zee yang kasih semua itu!” ucapnya cepat.

Pak Sam menghela napas pelan.“Iya… Doni sudah cerita semuanya,” katanya. “Dan itu yang membuat kami datang ke sini.”

Pak Sam menatap Zee dalam.

“Terima kasih… sudah membantu anak kami.”

Nada suaranya tulus. Namun masih ada sesuatu yang belum selesai.

Zee bisa merasakannya.

“Tidak apa-apa, Pak,” jawab Zee lembut. “Doni anak yang baik.”

Bu Yati melangkah sedikit maju. “Maaf kalau kami datang begini saja,” ucapnya hati-hati. “Kami hanya… ingin memastikan.”

Zee menatapnya tenang. “Memastikan apa, Bu?”

Bu Yati terdiam sesaat, lalu berkata pelan, “Bahwa kamu… benar-benar orang baik.”

Suasana kembali hening. Namun kali ini, Zee tidak langsung menjawab. Dia hanya tersenyum kecil. Lalu berkata dengan suara tenang, “Kalau saya tidak baik… Doni tidak akan berdiri di sini dengan senyum seperti itu, Bu.”

Doni langsung tersenyum lebar. Sementara Bu Yati terdiam. Perlahan, ketegangan di wajahnya mulai mencair.

Namun Pak Sam, masih menatap Zee dengan dalam. Seolah ada pertanyaan lain yang lebih besar… yang ingin ia tanyakan. Dan akhirnya, ia pun membuka suara.

“Kalau begitu…” katanya pelan, “boleh kami tahu… sebenarnya kamu ini siapa?”

Angin laut berhembus pelan, membawa aroma asin yang khas.

Zee terdiam sejenak. Tatapannya beralih ke Doni, yang berdiri di sampingnya dengan wajah penuh harap. Lalu ke Bu Yati, yang masih menyimpan keraguan, dan akhirnya kembali ke Pak Sam.

Zee menarik napas pelan.

“Saya… hanya orang biasa, Pak,” jawabnya tenang. “Tapi… kebetulan saya punya sesuatu yang bisa membantu.”

Jawaban itu sederhana. Tidak sepenuhnya menjelaskan. Namun cukup untuk saat ini.

Pak Sam tidak langsung membalas. Ia menatap Zee beberapa detik, seolah menimbang kata-kata itu.

Lalu akhirnya, ia mengangguk pelan.

“Kalau begitu…” ucapnya, “mau kah kamu ikut ke rumah kami dulu?”

Zee sedikit terkejut, namun tidak menolak. “Boleh, Pak.”

Wajah Doni langsung berseri-seri. “Iya, Kak Zee! Ayo ke rumah Doni!” katanya semangat.

Bu Yati tersenyum tipis, kali ini lebih hangat dari sebelumnya.

“Rumah kami sederhana saja, Nak… tapi kami ingin bicara baik-baik di sana.”

Zee mengangguk. “Saya tidak masalah, Bu.”

Mereka pun berjalan bersama menuju rumah Doni. Langkah mereka menyusuri jalan kecil di desa pesisir itu. Langit semakin redup, cahaya jingga perlahan berubah menjadi keunguan.

Sesampainya di rumah, rumah kecil itu tampak sama seperti kemarin. Sederhana namun hangat.

“Silakan masuk, Nak,” ujar Bu Yati.

Zee melangkah masuk, matanya mengamati sekeliling dengan tenang. Tak lama, mereka duduk bersama. Kali ini, suasananya berbeda.

Tidak ada lagi sekadar basa-basi. Ada sesuatu yang ingin disampaikan.

Pak Sam duduk lebih tegak. Wajahnya serius. Ia memulai.

“Zee… Doni sudah menceritakan banyak hal tentang kamu,” katanya pelan.

“Dan jujur saja… kami tidak sepenuhnya mengerti siapa kamu.”

Zee hanya diam, mendengarkan.

“Tapi,” lanjut Pak Sam, “kami tahu satu hal. Kamu sudah membantu anak kami.”

Ia berhenti sejenak. Lalu suaranya berubah lebih berat. “Dan sekarang… kami yang ingin meminta bantuan.”

Zee sedikit menegakkan tubuhnya..“Apa yang bisa saya bantu, Pak?”

Bu Yati saling pandang dengan suaminya, lalu menunduk sebentar. Pak Sam menarik napas panjang.

“Ikan di laut… sudah semakin sedikit,” ucapnya.

Zee terdiam.

“Beberapa tahun lalu, kami masih bisa menangkap banyak ikan. Cukup untuk makan… bahkan kadang untuk dijual,” lanjutnya.

“Tapi sekarang… untuk dapat sedikit saja… sangat sulit.”

Suasana menjadi hening.

Doni menunduk, tangannya menggenggam ujung bajunya. “Kenapa bisa begitu, Pak?” tanya Zee pelan.

Pak Sam mengepalkan tangannya. “Karena orang-orang dari negeri seberang. Mereka datang dengan kapal besar,” lanjutnya.

“Bukan seperti kami… yang hanya pakai perahu kecil.”

Matanya mulai terlihat marah… sekaligus sedih. “Mereka menangkap ikan dengan cara yang tidak benar, mereka… membom laut.” katanya.

Zee langsung mengernyit. “Membom…?”

Pak Sam mengangguk. “Sekali ledakan… ikan-ikan langsung mati. Mereka ambil semuanya,” ujarnya.

“Tapi yang hancur bukan cuma ikan… terumbu karang juga rusak. Tempat ikan berkembang biak… hilang.”

Bu Yati menahan napas. “Sekarang laut itu… seperti mati,” ucapnya lirih.

Zee terdiam. Pikirannya mulai bekerja. Dia membayangkan laut yang dulu penuh kehidupan… kini perlahan rusak.

“Kalau terus seperti ini…” lanjut Pak Sam, suaranya mulai serak, kami tidak tahu harus bagaimana lagi.”

Doni mengangkat wajahnya. “Kak Zee…” ucapnya pelan.

Zee menoleh. “Doni tidak mau Ayah susah terus…”

Lalu Pak Sam kembali berbicara. “Kami tidak tahu kamu punya kemampuan seperti apa. Tapi… dari semua yang Doni ceritakan…” Katanya jujur.

Ia menatap Zee dalam-dalam. “Sepertinya… kamu bukan orang biasa.”

Zee tidak menjawab. Namun ia tidak menyangkal.

“Kami tidak minta banyak, hanya… kalau ada cara, untuk membantu laut kami… atau setidaknya membantu kami bertahan…” lanjut Pak Sam.

Bu Yati ikut menatap Zee, matanya berkaca-kaca. “Tolong kami, Nak…”

Ruangan kecil itu kembali sunyi. Semua mata tertuju pada Zee.

Di dalam hatinya, sesuatu bergerak. Ini bukan lagi sekadar tentang Doni, tapi tentang satu desa dan kehidupan banyak orang.

Zee menunduk sebentar… lalu perlahan mengangkat wajahnya. Tatapannya kini berbeda. “Saya akan bantu, Pak,” ucapnya akhirnya.

Doni langsung tersenyum lebar. “Benarkah, Kak?!”

Zee mengangguk, Dia menarik napas pelan., “Iya, tapi… kita harus lakukan dengan cara yang benar.”

Pak Sam terlihat terkejut. “Cara… yang benar?”

Zee tersenyum tipis. “Kita tidak hanya bantu hari ini. Tapi… memastikan laut ini bisa hidup lagi.” katanya

Kalimat itu menggantung, namun penuh harapan, dan untuk pertama kalinya cahaya kecil muncul di mata Pak Sam dan Bu Yati.

1
Ida Kurniasari
Doble up thorr
Ida Kurniasari
Doble up thor
Ida Kurniasari
Doble up dong thorr😍
keyza formoza
lanjut thoorr
Ida Kurniasari
sangat sangat menarik thor
SyahLaaila: siap kak☺️
total 1 replies
Ida Kurniasari
bagus banget thorr,lanjutt up😍
Ida Kurniasari
😍
Chen Nadari
The best Thorr
SyahLaaila: makasih kak☺️
total 1 replies
Ida Kurniasari
baru bab satu aja udah deg degan thor,ceritamu bikin penasaran
Musdalifa Ifa
menguji kesabaran
Andira Rahmawati
mau nabung dulu biar puas entar bacanya👍👍💪💪💪
Andira Rahmawati
trusss semangat💪💪💪 lanjuttt
Andira Rahmawati
lama amattt jadi penasaran...
Andira Rahmawati
hadir thorr
Twis G
semangat author 🌹🌹🌹
Narina
lanjut thor semakin penasaran 😍😍
Narina
cerita nya seru thor lanjut 🌷🌷🌷
SyahLaaila: siap kak ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!