Jutaan tahun lalu, Ras Dewa Naga Primordial dimusnahkan oleh Aliansi Sembilan Penguasa Surga karena kekuatan mereka yang terlalu menentang takdir. Sejarah mereka dihapus, meninggalkan abu dan kutukan.
Di Benua Azure yang terpencil, Chu Chen hidup dalam kehinaan sebagai pemuda dengan "Akar Roh Cacat". Namun, nasibnya berputar tragis ketika desanya dibantai tanpa ampun oleh Sekte Serigala Darah demi sebuah gulungan usang peninggalan leluhurnya.
Dalam genangan darah dan keputusasaan, kutukan di dalam tubuh Chu Chen hancur. Ia membangkitkan garis keturunan Dewa Naga Primordial terakhir dan mewarisi teknik terlarang. Teknik ini memungkinkannya melahap segala energi di semesta—racun mematikan, pusaka suci, hingga Api Ilahi—untuk memperkuat dirinya.
Membawa dendam lautan darah, Chu Chen merangkak dari jurang kematian, bersumpah untuk membelah sembilan cakrawala dan menarik para Penguasa Surga dari takhta agung mereka!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gua Beracun
Ledakan demi ledakan terus bergema dari arah danau rawa di belakang Chu Chen, menggetarkan tanah hingga jangkauan bermil-mil. Langit malam di atas area tersebut bahkan sesekali menyala merah dan hijau, menandakan betapa brutalnya pertarungan antara Penatua Sekte Serigala Darah dan Sanca Rawa Berbisa.
Namun, Chu Chen tidak menoleh ke belakang sedikit pun.
Ia terus berlari menyusup ke dalam kegelapan Zona Dalam Pegunungan Sepuluh Ribu Buas. Di wilayah ini, pepohonan tidak lagi tumbuh tegak ke atas, melainkan melengkung dan saling melilit bagaikan cakar iblis yang berusaha mencengkeram langit. Kabut yang menyelimuti tempat ini bukan lagi sekadar embun malam yang dingin, melainkan gas beracun berwarna keunguan yang menggerogoti kulit dan paru-paru.
"Ukh..." Chu Chen terbatuk tertahan, menutup hidung dan mulutnya dengan sisa kain jubahnya yang sudah robek.
Meskipun fisiknya telah mencapai Puncak Lapis Kelima Alam Penempaan Raga dan garis keturunan naganya memberikannya ketahanan alami yang kuat, racun miasma Tingkat 2 ini perlahan mulai menyusup melalui pori-pori kulitnya. Sensasi gatal yang menyengat dan pandangan yang mulai berkunang-kunang adalah peringatan keras dari naluri bertahannya.
"Aku harus menemukan tempat berlindung untuk menetralisir racun ini dan memulihkan tenaga fisikku. Bergerak membabi buta di zona ini sama saja dengan menggali kuburanku sendiri," batin Chu Chen dengan pemikiran yang jernih dan dingin.
Matanya yang berupa celah vertikal emas memindai sekeliling dalam kegelapan pekat. Telinganya menangkap suara gemercik air yang sangat pelan dari arah tebing batu di sebelah barat. Mengabaikan rasa sakit di otot-ototnya, ia mengubah arah dan merayap menuju suara tersebut.
Setengah batang dupa kemudian, ia tiba di dasar sebuah tebing batu hitam yang menjulang tinggi. Di salah satu sisinya, terdapat celah sempit—hanya cukup untuk dilewati satu orang menyamping—yang tertutup oleh rimbunnya lumut beracun dan akar berduri. Dari dalam celah itulah air menetes.
Chu Chen tidak langsung masuk. Pengalamannya bertahun-tahun di desa pinggiran mengajarinya bahwa gua-gua seperti ini biasanya menjadi sarang pemangsa.
Ia mengambil sebatang kayu bergetah dari tanah, menggesekkan Batu Api yang ia temukan dari saku Zhao Meng sebelumnya, dan melemparkan kayu yang menyala itu ke dalam celah tebing.
BZZZZZT!
Cahaya api seketika memicu pergerakan. Puluhan Kelabang Tulang Hitam, masing-masing sebesar lengan orang dewasa, berhamburan keluar dari dalam celah dengan suara capit yang mengerikan. Ini adalah Binatang Beracun Tingkat 1 tingkat atas. Gigitan mereka bisa melumpuhkan seekor sapi jantan dalam tiga detik.
"Sudah kuduga," gumam Chu Chen tanpa panik sedikit pun.
Ia tidak mundur. Mata naganya menyala terang, memancarkan aura tekanan dari pemangsa puncak mutlak. Pada saat yang sama, ia mengaktifkan Seni Kaisar Naga: Pusaran Ketiadaan Dasar pada kedua telapak tangannya, menciptakan daya hisap mematikan.
Saat kelabang-kelabang itu menerjang, Chu Chen melesat maju bagaikan hantu. Tangannya bergerak menyambar, menghancurkan cangkang kelabang dan menyedot habis esensi serta racun mereka sebelum mereka bisa menggigitnya.
Bagi kultivator biasa, menyerap bisa kelabang adalah bunuh diri. Namun bagi Chu Chen, Darah Naga di jantungnya langsung membakar racun itu, memurnikannya menjadi tenaga fisik mentah yang memperkuat lapisan luar ototnya.
Hanya dalam waktu kurang dari dua puluh tarikan napas, lantai di depan celah tebing itu dipenuhi oleh puluhan cangkang kelabang yang mengering bagaikan kerupuk gosong.
Chu Chen menyingkirkan sisa-sisa bangkai itu dan menyempil masuk ke dalam celah tebing. Bagian dalamnya ternyata cukup luas, membentuk sebuah gua kecil alami. Udara di dalam sini anehnya jauh lebih bersih, disaring oleh lapisan lumut unik yang tumbuh di dinding gua. Ada mata air kecil yang menetes dari stalaktit, menciptakan genangan air jernih di sudut gua.
"Tempat yang sempurna."
Chu Chen segera mencari batu-batu besar di dalam gua dan menyusunnya di depan celah pintu masuk, menyisakan ruang yang sangat kecil hanya untuk aliran udara. Ia bahkan melumuri batu-batu itu dengan sisa cairan getah kelabang untuk menyamarkan bau tubuh manusianya. Kesalahan kecil bisa berakibat fatal di zona ini.
Setelah gua sepenuhnya tertutup dan aman, Chu Chen akhirnya menjatuhkan dirinya ke tanah yang dingin. Ia mengatur napasnya yang memburu, membiarkan detak jantungnya kembali normal.
Baru pada saat itulah ia merasakan rasa sakit dari pertarungan hari ini memukulnya sekaligus. Otot-ototnya menjerit kelelahan, dan ada beberapa luka sayatan kecil yang masih meneteskan darah kotor. Namun, sudut bibir Chu Chen justru melengkung membentuk senyuman buas yang memuaskan.
"Dalam satu hari... aku berubah dari sampah yang tidak bisa mengumpulkan setetes Qi, menjadi kultivator Lapis Kelima Penempaan Raga yang bisa meremukkan besi dengan tangan kosong." Ia menatap kedua tangannya yang kini dipenuhi kapalan keras dan bekas luka pertempuran. "Jika ini adalah kutukan... maka biarkan Sembilan Penguasa Surga gemetar saat kutukan ini memakan mereka."
Setelah beristirahat sejenak dan meminum air jernih dari mata air, Chu Chen merogoh balik jubahnya. Ia mengeluarkan Kantong Penyimpanan kulit binatang buas milik Zhao Meng.
Mengabaikan Batu Roh untuk saat ini, perhatian Chu Chen sepenuhnya tertuju pada gulungan Peta Kulit Domba yang tampak sangat kuno.
Bahan peta itu terasa kasar dan tebal. Saat Chu Chen membentangkannya di bawah cahaya remang-remang dari lumut bercahaya di dinding gua, ia mengerutkan keningnya.
"Ini... bukan peta biasa."
Garis-garis di atas kulit domba itu tidak digambar menggunakan tinta, melainkan diukir menggunakan sejenis energi spiritual yang sudah memudar. Peta itu menunjukkan daratan Benua Biru Langit secara kasar, namun fokusnya mengarah pada sebuah wilayah pegunungan yang ditandai dengan lambang awan yang menusuk langit.
"Sekte Awan Suci," Chu Chen membaca aksara kecil di bawah lambang tersebut.
Sekte Awan Suci adalah salah satu sekte raksasa di Benua Biru Langit. Dibandingkan dengan Sekte Serigala Darah yang hanya sekte lokal kelas rendah, Sekte Awan Suci adalah penguasa mutlak yang memiliki ahli di Alam Istana Jiwa. Jaraknya puluhan ribu mil dari Pegunungan Sepuluh Ribu Buas.
Namun, yang menarik perhatian Chu Chen bukanlah lokasi sekte tersebut, melainkan sebuah titik berwarna merah pudar yang digambar tepat di bawah fondasi gunung utama Sekte Awan Suci.
Ada segel energi kecil yang menutupi titik merah itu. Segel spiritual yang menghalangi fana biasa untuk membacanya.
"Zhao Meng pasti tidak tahu apa isi sebenarnya dari titik ini karena tingkat kultivasinya belum cukup untuk menembus segelnya. Tapi aku..."
Meskipun Chu Chen tidak memiliki Qi, Niat Spiritualnya diturunkan langsung dari jiwa Kaisar Naga. Ia memusatkan pandangannya, membiarkan pupilnya kembali menyempit menjadi celah vertikal. Sebuah jarum niat mental yang tak kasat mata menusuk langsung ke arah segel di peta tersebut.
Tring!
Segel pudar itu pecah. Seketika, peta kulit domba itu memancarkan pendaran cahaya merah tua yang sangat panas, hingga membuat suhu di dalam gua naik beberapa derajat.
Garis-garis energi di peta itu bergerak sendiri, membentuk sebuah bentuk ilusi nyata di atas hamparan kulit domba. Ilusi itu memperlihatkan sebuah gunung berapi purba yang tertidur jauh di bawah tanah, di dasar Sekte Awan Suci. Dan di dalam magma kental di inti gunung berapi tersebut... mekar sebuah teratai yang seluruh kelopaknya terbuat dari api cair yang membakar.
"Api Surgawi... Api Teratai Merah," suara kuno Long Di tiba-tiba bergema lemah di sisa-sisa ingatan Chu Chen, seolah terpicu oleh penampakan ilusi tersebut. "Salah satu dari Seratus Api Ilahi yang lahir di awal penciptaan. Energi murni yang sangat ekstrem, mampu membakar lautan menjadi abu. Ini... adalah makanan yang sangat sempurna untuk Dantianmu, Nak."
Napas Chu Chen tercekat.
Ia ingat rasa putus asanya saat menelan Pil Pengumpul Qi tadi. Dantian naganya terlalu besar dan terlalu rakus. Menyerap Qi alam biasa atau pil fana tingkat rendah sama saja dengan mengisi lautan menggunakan sendok teh. Ia membutuhkan ledakan energi dalam jumlah raksasa sekaligus untuk memecahkan kebuntuan dan membentuk Lautan Qi.
Api Surgawi. Api Teratai Merah. Ini adalah kunci mutlaknya.
"Pantas saja Sekte Serigala Darah menggeledah desaku mencari pusaka," simpul Chu Chen, otaknya bekerja dengan kecepatan penuh. "Penatua itu mungkin mengetahui desas-desus bahwa di desaku ada Gulungan Hitam—yang mereka kira pusaka—untuk menembus segel kuno, atau mungkin mereka sedang mencari cara untuk mencuri Api Teratai Merah ini dari bawah hidung Sekte Awan Suci."
Ilusi api di atas peta itu perlahan meredup seiring dengan habisnya sisa energi spiritual di kulit domba, kembali menjadi gulungan biasa.
Chu Chen menggulung peta itu kembali dengan perlahan, matanya memancarkan tekad yang membara, jauh lebih panas dari api ilusi barusan.
Pegunungan Sepuluh Ribu Buas ini, meskipun berbahaya, hanya akan memberikan peningkatan kekuatan fisik dari berburu Binatang Buas. Ia tidak akan pernah bisa melangkah ke Alam Lautan Qi jika ia hanya bersembunyi di sini sebagai pemburu liar. Jika ia ingin membalas dendam pada Penatua Sekte Serigala Darah secara langsung, dan jika ia ingin mengguncang Sembilan Penguasa Surga di masa depan... ia harus mengambil risiko mematikan.
Ia harus pergi ke Sekte Awan Suci.
"Menyusup ke sekte raksasa dan mencuri Api Surgawi dari dasar fondasi mereka..." Chu Chen tertawa pelan, tawanya terdengar sangat gila di dalam gua yang sepi itu. "Hanya orang bodoh yang bosan hidup yang akan merencanakan hal seperti ini."
Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat.
"Sayangnya bagi mereka... aku memang berniat menelan langit. Jangankan gunung berapi, akan kutelan seluruh sekte mereka jika menghalangi jalanku."
Malam itu, di dalam gua kecil yang tersembunyi di tengah hutan beracun, seorang remaja fana yang pernah dianggap sebagai sampah paling hina di dunia, baru saja menetapkan langkah pertamanya untuk merampas sebuah keajaiban surga.
Besok saat fajar menyingsing, ia akan meninggalkan hutan ini. Tahap perburuan fana telah usai; jalan menuju keabadian yang sebenarnya baru saja akan dimulai.