NovelToon NovelToon
Sekolah Hantu

Sekolah Hantu

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu / Sistem
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: I'ts Roomie

SMA Nusantara bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Ia adalah mesin raksasa yang memangsa jiwa. Di balik kemegahan arsitekturnya, tersimpan eksperimen gelap "Proyek Nusantara" yang telah mengorbankan ribuan siswa sejak tahun 1985. Setiap detak lonceng adalah tanda maut dan setiap koridor adalah penjara bagi mereka yang tak pernah kembali ke rumah.

Arga, seorang remaja dengan kemampuan Indigo yang ekstrem, terpaksa memasuki neraka ini demi mencari kakaknya yang hilang. Berbekal tangan perak yang menjadi kunci sekaligus kutukannya, Arga bersama Lintang dan Rian harus mengungkap konspirasi berdarah Sang Kepala Sekolah, Bramantyo.

Di dunia di mana batas antara realitas dan alam Barzakh kian menipis, mampukah Arga mematahkan sumpah hitam pendiri sekolah sebelum fajar terakhir ditelan kegelapan abadi?

Since: 10-04-2026

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I'ts Roomie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Suara dari Kegelapan

Napas Arga memburu tak beraturan. Uap tipis keluar dari mulutnya meskipun udara di dalam koridor terasa aneh, campuran antara panas yang menyengat dan pengap yang menyesakkan dada. Tubuhnya masih bersandar lemas pada pintu kayu kelas X-A yang terkunci rapat. Di luar sana, suara seretan kaki yang kasar dan rintihan parau mulai terdengar semakin jelas. Itu adalah suara para senior yang disebutkan oleh gadis menyeramkan tadi. Mereka semakin dekat.

Tidak ada waktu untuk ragu atau berpikir panjang. Arga segera memutar tubuhnya dan mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa untuk mendorong pintu itu dengan bahunya.

Kriet...

Suara engsel besi berdecit keras dan memilukan, seolah olah kayu tua itu sedang menjerit memprotes kehadirannya. Begitu celah terbuka cukup lebar, Arga langsung menyelinap masuk dengan cepat. Ia segera menutup pintu itu kembali sekuat tenaga dan mengunci besi penguncinya yang sudah berkarat dan keras. Setelah merasa aman untuk sesaat, ia membiarkan tubuhnya jatuh terduduk di lantai yang dingin dan berdebu. Jantungnya berdegup sangat kencang hingga bunyinya terdengar jelas di telinganya sendiri.

Ruangan itu kembali hening.

Cahaya yang menerangi kelas ini sangat minim. Hanya ada sisa sisa cahaya merah menyala yang masuk melalui celah celah jendela dari luar koridor. Pemandangan di dalam kelas terlihat biasa saja. Meja dan kursi tersusun rapi dalam barisan, namun semuanya tertutup oleh lapisan debu tebal yang menandakan ruangan ini sudah lama tidak digunakan. Namun ada satu hal yang sangat mencolok dan membuat bulu kuduk Arga meremang.

Di pojok paling belakang, tepat di dekat jendela yang menghadap langsung ke arah pohon beringin besar di tengah lapangan, terdapat sebuah kursi yang terlihat sangat bersih. Tidak ada setitik debu pun yang menempel di sana. Seolah olah ada seseorang yang baru saja bangkit dari tempat itu hanya sedetik sebelum Arga masuk.

Dengan hati hati, Arga berdiri perlahan. Matanya tak lepas menatap kursi misterius itu. Rasa panas yang biasa ia rasakan di sekitar matanya kembali muncul, kali ini terasa lebih tajam dan perih. Itu adalah pertanda pasti bahwa ada energi supernatural yang sangat pekat dan kuat berkumpul di sudut ruangan tersebut.

"Siapa di sana?" tantang Arga dengan suara yang berusaha ia tegangkan. Suaranya bergema memantul dinding dinding kelas yang kosong.

Tidak ada jawaban yang terdengar. Namun perlahan lahan, debu halus yang menutupi permukaan meja tepat di depan kursi bersih itu mulai bergerak sendiri. Sebuah pulpen biasa yang tergeletak diam tiba tiba berdiri tegak seolah olah ada tangan tak kasat mata yang memegangnya erat erat. Dengan gerakan yang kaku dan kasar, pulpen itu mulai menggoreskan ujungnya ke atas meja kayu tersebut.

Srak... srak... srak...

Suara gesekan itu terdengar jelas di tengah keheningan. Arga memberanikan diri mendekat selangkah demi selangkah. Saat ia melihat jelas apa yang terukir di sana, jantungnya seakan berhenti berdetak sejenak. Terdapat sebuah nama yang ditulis dengan goresan kasar namun terbaca sangat jelas: RAKA.

"Raka? Kakak? Apakah kau di sana?" teriak Arga. Suaranya pecah, bercampur antara harapan yang membuncah dan ketakutan yang luar biasa.

Tiba tiba, kursi itu tersentak mundur dengan keras hingga menimbulkan bunyi gesekan yang nyaring memecah keheningan. Arga terkejut dan mundur beberapa langkah, namun pandangannya tetap terkunci pada area di atas kursi itu. Perlahan lahan, sebuah sosok bayangan mulai terbentuk dan menjadi semakin nyata di hadapannya.

Namun itu bukan Raka. Itu adalah sosok siswa laki laki dengan wajah yang hancur sebagian. Wajahnya tampak memar dan hancur seolah olah pernah terbentur aspal dengan kecepatan yang sangat tinggi. Seragam yang dikenakannya compang camping dan berlumuran noda darah yang sudah mengering berwarna kehitaman.

"Dia... tidak ada di sini lagi..." bisik sosok hantu itu. Suaranya terdengar sangat pelan dan serak, seperti desiran angin yang menerobos celah celah sempit.

"Di mana dia sekarang?! Apa yang sudah kalian lakukan pada kakakku?!" teriak Arga. Kali ini rasa takutnya mulai tergantikan oleh amarah yang membara. Ia tidak peduli lagi bahwa ia sedang berhadapan dengan makhluk halus.

Hantu itu tidak menjawab dengan kata kata. Ia hanya mengangkat tangannya yang kurus dan menunjuk lurus ke arah papan tulis hitam di depan kelas. Seolah ada kekuatan magis, tiba tiba muncul tulisan kapur putih yang bergerak sendiri membentuk sebuah peta atau denah sekolah. Di salah satu sudut peta itu, muncul tanda silang besar berwarna merah menyala. Arga langsung mengenali tempat itu. Itu adalah Gedung Sayap Barat, bagian paling tua dan angker di sekolah ini.

"Raka... dibawa ke sana..." lirih hantu itu. "Untuk menjadi bagian dari Pondasi. Tapi dengarkan baik baik, Arga..." sosok itu memberikan peringatan dengan nada yang sangat serius. "Setiap langkah kakimu di sekolah ini selalu diawasi. Mereka tidak suka murid yang memiliki kemampuan khusus seperti kau. Mereka membenci mereka yang punya Mata."

Belum sempat Arga melontarkan pertanyaan lebih lanjut, kedamaian di ruangan itu hancur total. Pintu kayu di belakangnya digedor dari luar dengan kekuatan yang sangat dahsyat.

BRAK! BRAK! BRAK!

Bentakan itu sangat keras hingga membuat pintu itu bergetar hebat dan mulai terlihat retak. Makhluk makhluk mengerikan yang mengejarnya sejak tadi akhirnya berhasil mencium keberadaannya.

"Berikan buku absennya! Serahkan buku absennya!" teriak suara suara parau dan kasar dari balik pintu.

Arga panik dan segera menoleh kembali ke arah pojok kelas, berharap bisa meminta bantuan lagi. Namun sosok hantu tadi sudah lenyap tanpa bekas. Yang tertinggal di atas meja hanyalah sebuah kunci kecil berwarna perak yang berkilauan. Tanpa pikir panjang, Arga menyambar benda itu dan menyimpannya cepat cepat ke dalam saku celananya.

"Arga! Lari ke arah langit-langit!"

Suara itu terdengar lagi, namun kali ini bukan suara hantu. Suaranya terdengar sangat nyata, jernih, dan jelas berasal dari manusia. Arga menoleh ke arah jendela. Di sana, berdiri seorang siswi di atas langkan sempit lantai dua. Gadis itu memiliki rambut yang dikuncir kuda dan mengenakan jaket kulit di atas seragam sekolahnya. Ia melambaikan tangan memberi isyarat agar Arga segera mendekat.

"Cepat masuk! Atau kau akan jadi makan malam mereka malam ini!" teriak gadis itu lagi dengan nada mendesak.

Arga tidak punya waktu untuk berpikir dua kali. Ia berlari secepat kilat menuju jendela, melompat ke atas meja, dan meraih tangan yang diulurkan gadis itu tepat pada saat yang bersamaan. Pintu kayu di belakangnya hancur lebur berkeping keping. Puluhan sosok bayangan tanpa wajah berkerumun masuk menyerbu ke dalam kelas. Namun mereka terlambat. Arga sudah berhasil ditarik keluar oleh gadis misterius itu ke luar gedung.

Mereka berdua kini merayap di sepanjang tepi langkan yang sangat sempit. Mereka bergerak dengan hati hati dalam kegelapan menuju arah atap gedung. Angin malam bertiup sangat kencang dan dingin hingga menusuk sampai ke tulang sumsum, tapi adrenalin yang memacu tubuh Arga membuatnya tetap waspada dan terjaga. Setelah berhasil mencapai balkon di lantai tiga yang terlihat lebih aman dan tersembunyi, barulah gadis itu melepaskan cengkeraman tangannya pada lengan Arga.

"Siapa kau sebenarnya?" tanya Arga sambil terengah engah menahan lelah.

Gadis itu menyeka keringat yang membasahi dahinya lalu memberikan senyum tipis yang terlihat dingin namun tenang. "Namaku Lintang. Aku anggota Osis Malam. Dan kau tahu tidak Arga, kau baru saja melakukan kesalahan terbesar dalam hidupmu dengan masuk ke sini tepat pada jam ketiga belas."

Lintang lalu menunjuk sebuah lencana kecil berwarna perak yang menempel di kerah bajunya. Lencana itu bergambar bulan sabit berwarna merah darah. "Kalau kau memang serius ingin mencari kakakmu, syarat utamanya cuma satu. Kau harus tetap hidup. Dan untuk bisa bertahan hidup di tempat yang mengerikan ini, kau pasti butuh bantuan kami."

Arga menatap kunci perak kecil yang ada di genggamannya, lalu kembali menatap wajah Lintang. "Osis Malam? Jadi rumor rumor yang beredar selama ini itu benar adanya?"

"Rumor itu terdengar jauh lebih menarik dan manis kalau dibandingkan dengan kenyataan pahit yang sebenarnya, Anak Baru," jawab Lintang datar. Matanya lalu menatap ke bawah, ke arah lapangan sekolah di mana ratusan sosok hantu kini berkumpul dan bergerak gelisah. "Sekarang tidak ada waktu banyak. Ikut aku. Ketua Osis sudah menunggu kedatanganmu di Markas. Dan ingat satu peraturan penting. Jangan sekali kali menoleh ke belakang, apa pun yang kau dengar atau rasakan."

Arga menganggukkan kepala tanda mengerti. Ia siap melangkah mengikuti jejak Lintang masuk ke dalam lorong yang lebih gelap. Namun tepat saat kakinya hendak melangkah, sebuah suara yang sangat ia kenal dan rindukan terdengar memanggil namanya dari arah belakang mereka, dari dalam kegelapan koridor.

"Arga... tolong aku... tolongkan Kakak..."

Itu adalah suara Raka. Suara kakaknya sendiri. Arga membeku seketika di tempatnya. Logikanya mengatakan bahwa itu pasti jebakan atau ilusi, tapi hatinya berteriak keras memaksanya untuk segera menoleh dan memastikan.

Merasakan perubahan pada tubuh Arga, Lintang langsung mencengkeram bahu temannya itu dengan sangat kuat. "Jangan bergerak! Jangan menoleh! Itu bukan dia. Itu adalah The Mimic, peniru ulung. Kalau kau sampai menoleh ke sana, jiwamu akan langsung dicabut dan hilang selamanya."

Arga memejamkan matanya sangat erat hingga terasa perih. Ia mengepalkan tangannya kuat kuat hingga kuku kukunya menusuk dan melukai telapak tangannya sendiri. Dengan hati yang sangat berat dan penuh perlawanan batin, ia memaksakan kakinya untuk terus berjalan maju mengikuti Lintang. Ia meninggalkan suara panggilan dan rintihan kakaknya yang terus bergema di lorong tanpa ujung itu.

Petualangan mengerikan di Sekolah Hantu ini baru saja benar benar dimulai. Dan Arga mulai sadar bahwa di tempat yang salah ini, mencari sebuah kebenaran adalah sesuatu yang sangat mahal harganya. Bahkan seringkali harus dibayar dengan nyawa sendiri.

1
cintanya ningning
jadi tu jahat atau baik ya?
papi junkyung: yg mana ka?
total 1 replies
Xiao Juan
lanjutt lagi
rimaa~~~°
lanjut lagi thor
Cleo
masi harus berjuang lagi di pintu berikutnya wkwk, semangat arga💪
Cleo
lanjut lagi dong, up 2 tor sehari hehe, maap ngelunjak🤭🙏
papi junkyung
keren mom ceritanya
Sartika Monik
mana lagi lanjutannya,,duh padahal lagi penasaran banget bun haha🤭
cintanya ningning
lanjuttt
yeol
lagi dungg tor, tadi update di fb langsung ke sini haha
Fimela Angelia
duh masi gantung banget ni
Koo Eun Tak
next thor
Cleo
lanjut💪
Cleo
widih kata katanya bagus, resonansi indigo mutlak/Drool/
Fimela Angelia
cepetan update huhu/Sob//Sob/
Fimela Angelia
ini ya tangan perak yang dimaksud di blurb nya
Xiao Juan
lanjutinn author semangat kutunggu crazy up mu
Xiao Juan
fantasi banget hahaha keren keren tor🤭
Koo Eun Tak
lanjut lanjut
Cleo
gantung banget tor/Frown/
papi junkyung
mana lagi ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!