Abram adalah pemuda yang baik hati dan suka membantu, tapi sejak ia mengalami penyakit kulit, semua masyarakat menjauh. Hingga akhirnya ia di usir dari tempat tersebut dan pingsan di pinggir jalan setelah kesandung sebuah batu krikil aneh.
Tapi hari itu, ada seseorang menemukannya dan ia di bawa ke rumah sakit, sayangnya nyawanya tak tergolong lagi.
Tapi batu kerikil itu terkena darah Abram dan menjadikan Abra sehat kembali dan menjadi dia tabib dewa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
...Happy Reading...
...⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️⛹️♀️...
Abram mengikuti langkah Dokter Rahmat menyusuri koridor tempat pasien berada.
"Ada sesuatu yang berbeda dengan kasus ini. Saya sudah puluhan tahun berkecimpung di dunia kedokteran, tapi ini yang pertama kalinya saya menemui kondisi seperti ini," ujar Dokter Rahmat sambil mengeluarkan kunci dari saku jubahnya
Mereka berhenti di depan pintu dengan tulisan besar "RUANGAN ISOLASI - KHUSUS KASUS TAK TERDIAGNOSA".
Setelah kunci di putar, pintu terbuka perlahan, membawa mereka ke dalam ruangan yang sedikit hangat, sepertinya menjaga agar tubuh pasien tetap hangat.
Di tengah ruangan, sebuah brankar putih bersih, di atasnya terbaring seorang perempuan dengan rambut hitam yang kusut menutupi dahinya.
Tubuhnya terlihat lemas, namun tidak ada selang apapun yang di pasang di tubuhnya, tidak ada alat monitor detak jantung, tidak ada masker oksigen, bahkan tidak ada infus yang mengalir ke pembuluh darahnya.
Wajahnya sangat pucat, hampir seperti kain kapas yang direndam air dingin, tapi nafasnya tetap mengalir dengan lemah. Mesin monitor di sisi brankar hanya menunjukkan garis lurus yang stabil, tidak ada indikasi gangguan pada sistem pernapasan atau jantungnya.
"Ini pasiennya, namanya Sinta. Sudah dua minggu ia berada di sini. Keluarganya bilang sudah mengunjungi sembilan rumah sakit di seluruh kota, mulai dari Meda hingga Pale, tapi tidak ada satu pun tes medis yang bisa mendeteksi penyebab kelemahan tubuhnya. Hasil darah, CT scan, MRI, semua menunjukkan kondisi tubuhnya normal. Mereka bilang ini adalah rumah sakit terakhir yang mereka datangi. Jika tidak ada perubahan di sini, mereka akan membawanya pulang dan merawatnya dengan cara tradisional yang mereka punya di kampung," kata Dokter Rahmat sambil menarik kursi plastik ke dekat brankar.
Abram mengangguk, matanya tetap terpaku pada wajah perempuan yang terbaring itu.
Ia merasakan getaran yang lembut datang dari arah tubuhnya, sebuah getaran yang tidak bisa dirasakan oleh alat medis apa pun.
Ia pun memejamkan mata sejenak, fokus menyelaraskan energi dalam dirinya dengan lingkungan sekitar.
Saat matanya terbuka kembali, ada cahaya samar berwarna kuning muncul di pandangannya, mengelilingi seluruh tubuh Sinta dengan pola yang terlihat berkumpul di bagian perutnya.
"Saya rasa pantas saja alat medis tidak bisa mendeteksinya, Dokter. Yang mengganggu tubuhnya bukanlah penyakit medis yang di kenal di ilmu kedokteran, tapi sebuah energi yang mengendap di dalam tubuhnya yang tidak bisa keluar. Energi itu seperti genangan air yang membeku, jika tidak dilepaskan, ia akan terus mengambil kekuatan tubuhnya hingga ia tidak bisa lagi bangun."
Dokter Rahmat mengangkat alisnya, bingung dengan penjelasan Abram.
"Begitu ya? Jadi... apakah kamu bisa menyembuhkannya?" tanyanya dengan nada penasaran.
Dokter Rahman tahu jika Pria muda ini memiliki kemampuan khusus dan sudah menemukan penyebabnya meskipun ia tidak yakin itu
Abram terdiam sejenak, tangannya secara tidak sadar menyentuh giok kuning yang tergantung di dadanya.
"Aku tidak tahu, Dokter. Sampai saat ini, aku hanya bisa merasakan keberadaan energi semacam ini, belum pernah aku mencoba untuk menyembuhkan pada tubuh seseorang," kata Abram dengan ragu.
di tunggu kelanjutannya