Di dunia kultivasi yang luas, Xiao Chen adalah anomali—diturunkan dari langit dengan ketampanan dan kekuatan absolut tanpa batas. Dibesarkan di Hutan Sunyi oleh Qing Yan, ia tumbuh tanpa memahami asal-usulnya. Saat berusia 15 tahun, ia memulai perjalanan menjelajahi dunia, mengungkap misteri dirinya, menghadapi berbagai faksi, serta membangun hubungan dengan wanita dan kekuatan yang mengguncang tiga alam.
bonus langsung 10 episode pertama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noxalisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemunculan
Malam di perbatasan Benua Tengah biasanya sunyi.
Di atas Bukit Batu Patah—sebuah bukit tandus yang bahkan binatang buas pun jarang melintas—hanya ada angin dan rerumputan kering yang bergemerisik. Dari puncak bukit itu, orang bisa melihat Kota Kayangan Awan di kejauhan, lampu-lampunya yang redup berkelap-kelip seperti kunang-kunang yang lelah. Kota kecil itu dihuni oleh para kultivator tingkat rendah—kebanyakan Tahap Pemurnian Qi, beberapa yang paling kuat mencapai Tahap Pendirian Fondasi. Kehidupan di sana lambat, tenang, dan jarang diganggu oleh kejadian besar.
Malam ini berbeda.
Awalnya hanya getaran halus. Lalu tanah di puncak bukit mulai retak. Retakan-retakan kecil itu berpendar dengan cahaya keemasan, membentuk pola-pola aneh yang tidak pernah dilihat oleh siapa pun di Alam Fana. Udara berubah berat. Angin berhenti. Bahkan serangga-serangga malam terdiam.
Kemudian ruang itu sendiri terbelah.
Sebuah celah hitam menganga di udara, panjangnya sekitar tiga meter, ujung-ujungnya berkilau dengan cahaya keemasan yang sama. Dari dalam celah itu, gelombang energi murni menyembur keluar—begitu kuatnya hingga mengguncang tanah hingga radius puluhan kilometer. Kilatan cahaya membelah langit malam seperti sambaran petir raksasa.
Di Kota Kayangan Awan, orang-orang terbangun dari tidur dan kultivasi mereka. Para tetua klan bergegas keluar, jantung mereka berdebar kencang. Beberapa mengira ada binatang buas purba yang bangkit dari tidur panjangnya. Yang lain menduga ada harta karun surgawi yang jatuh dari langit. Hanya sedikit yang benar-benar berani bergerak menuju sumber getaran.
—
Lima belas menit setelah retakan muncul, tiga sosok tiba di puncak Bukit Batu Patah.
Yang pertama adalah seorang pria paruh baya berjubah abu-abu, wajahnya tegas dengan janggut tipis yang mulai memutih. Namanya Wei Zhen, Tetua dari Sekte Awan Kelabu—satu-satunya sekte kecil yang bermarkas di Kota Kayangan Awan. Kultivasinya berada di Tahap Pendirian Fondasi tingkat 7, yang tertinggi di kota itu.
Di belakangnya, dua muridnya mendarat dengan napas tersengal. Murid perempuan—seorang gadis berusia sekitar tujuh belas tahun dengan rambut cokelat diikat ekor kuda, jubah biru mudanya berkibar—menatap pemandangan di depan mereka dengan mata terbelalak. Namanya Wei Ling, putri Wei Zhen, dan kultivasinya baru mencapai Tahap Pemurnian Qi tingkat 8. Murid laki-laki di sampingnya, seorang pemuda berbadan kekar bernama Feng Mo, berada di Tahap Pemurnian Qi tingkat 9.
"Tetua... itu... apa itu?" suara Wei Ling bergetar.
Di depan mereka, retakan di ruang masih menganga. Tapi yang membuat mereka terpaku bukanlah retakan itu sendiri, melainkan apa yang ada di bawahnya.
Di tengah kawah hangus berdiameter lima meter, terbaring seorang pemuda.
Rambutnya putih seperti salju yang belum pernah tersentuh, panjang tergerai hingga ke pinggang, berpendar keperakan di bawah sinar bulan yang menerobos awan. Matanya ungu keemasan, bersinar lembut seperti dua galaksi mini yang berputar pelan. Wajahnya... sempurna tanpa cela, seolah diukir oleh tangan surgawi. Tubuhnya proporsional atletis di balik jubah putih sederhana yang terbuat dari bahan tidak dikenal—kainnya terlihat seperti sutra tapi berkilau dengan cahaya redup.
Pemuda itu tidak terluka. Tidak pingsan. Dia hanya... duduk di sana, satu kakinya tertekuk, satu tangannya bertumpu di lutut, menatap langit dengan ekspresi tenang. Seperti seseorang yang baru saja terjaga dari tidur panjang dan sedang menikmati pemandangan.
"Hati-hati," bisik Wei Zhen, tangannya sudah bersiap membentuk segel serangan. "Kita tidak tahu apa itu."
"Apa?" Feng Mo mengerutkan kening. "Maksud Tetua... apa itu? Benda?"
"Apa pun itu, dia muncul dari retakan ruang. Itu bukan hal normal. Bahkan kultivator Tahap Jiwa Baru Lahir pun tidak bisa merobek ruang."
Tapi sebelum Wei Zhen bisa mengambil langkah lebih jauh, pemuda itu menoleh.
Mata ungu keemasannya menatap mereka bertiga.
Dan ketiganya membeku.
—
Wei Ling adalah yang pertama merasakannya. Jantungnya berdebar—bukan karena takut, tapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Wajah pemuda itu... dia tidak bisa berkata-kata. Dia hanya berdiri di sana, mulutnya sedikit terbuka, pipinya mulai memerah tanpa bisa dia kendalikan.
Feng Mo merasakan hal yang aneh. Dia adalah pria paling tampan di Sekte Awan Kelabu—setidaknya itu yang selalu dikatakan para murid perempuan. Tapi saat melihat pemuda di depannya, dia merasa seperti... batu di pinggir jalan. Tidak ada bandingannya. Sama sekali tidak ada.
Wei Zhen, sebagai kultivator paling berpengalaman di antara mereka, adalah yang pertama sadar dari keterpanaan. Tapi bahkan dia pun harus mengakui—pemuda ini memiliki ketampanan yang tidak wajar. Bukan hanya wajahnya, tapi auranya. Hangat. Menenangkan. Agung. Seperti... seperti seorang kaisar yang sedang beristirahat.
"Kalian..." suara pemuda itu terdengar. Tenang. Dalam. Tapi tidak dingin—ada kehangatan di sana. "...bisa memberitahu di mana aku berada?"
Wei Zhen menarik napas panjang, memulihkan kendalinya. "Kau berada di Bukit Batu Patah, perbatasan Benua Tengah. Dekat Kota Kayangan Awan. Siapa kau? Dari mana asalmu? Mengapa kau... muncul dari retakan ruang?"
Pemuda itu mengerjapkan matanya. Lalu dia melihat ke bawah, ke tangannya sendiri. Seolah baru menyadari sesuatu, dia membuka telapak tangannya dan menatapnya.
"Aku..." Dia berhenti sejenak. "...Xiao Chen. Namaku Xiao Chen."
"Xiao Chen," ulang Wei Zhen. "Dari mana asalmu? Sekte mana?"
Xiao Chen menatapnya. Matanya jernih, tapi ada sesuatu di sana—bukan kebingungan, melainkan... pencarian. Seperti seseorang yang sedang mencoba mengingat sesuatu yang ada di ujung pikiran.
"Aku tidak tahu," jawabnya jujur. "Aku hanya... tahu namaku. Dan aku tahu..." Dia melihat sekeliling, ke bukit tandus, ke langit malam, ke lampu-lampu Kota Kayangan Awan di kejauhan. "...bahwa aku belum pernah berada di tempat ini sebelumnya."
"Kau tidak ingat?" Wei Ling tiba-tiba bersuara, suaranya sedikit lebih tinggi dari biasanya. Wajahnya masih merah. "Kau... kau tidak ingat apa pun?"
Xiao Chen menoleh padanya. Dan saat mata ungu keemasan itu menatapnya, Wei Ling merasa lututnya lemas. Dia bersyukur bisa tetap berdiri—itu sudah merupakan pencapaian besar.
"Aku ingat beberapa hal," kata Xiao Chen. "Aku ingat namaku. Aku ingat... bahwa aku berbeda." Dia mengangkat tangannya dan menatap telapaknya lagi. "Aku bisa merasakan kekuatan di dalam diriku. Tapi dari mana asalnya... dari mana asalku... itu yang tidak bisa kuingat."
Dia terdiam, lalu menambahkan dengan nada yang hampir seperti bisikan, "Menarik."
Wei Zhen dan kedua muridnya saling bertukar pandang. Situasi ini di luar dugaan mereka. Mereka datang mengharapkan binatang buas atau harta karun, bukan seorang pemuda misterius dengan ketampanan surgawi dan amnesia parsial.
"Kau..." Wei Zhen memulai, memilih kata-katanya dengan hati-hati, "...apakah kau terluka? Apakah kau membutuhkan bantuan?"
Xiao Chen tersenyum. Dan senyum itu... entah bagaimana membuat langit malam terasa lebih terang.
"Aku baik-baik saja," katanya. "Tapi aku menghargai tawaranmu. Bisakah kau memberitahu di mana aku bisa belajar tentang dunia ini? Aku ingin tahu lebih banyak."
—
Feng Mo—yang selama ini diam—tiba-tiba melangkah maju. "Tunggu dulu. Kau bilang kau tidak ingat asalmu, tapi kau tidak terluka, dan kau muncul dari retakan ruang. Itu..." Dia menelan ludah. "Itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan oleh kultivator biasa."
Xiao Chen memandangnya dengan rasa ingin tahu yang tulus. "Kultivator. Apa itu?"
Ketiganya membeku lagi.
"Kau... tidak tahu apa itu kultivator?" suara Wei Ling hampir tidak terdengar.
"Aku pernah mendengar kata itu," jawab Xiao Chen. "Tapi aku tidak tahu artinya. Bisakah kau menjelaskannya?"
Wei Zhen menatap pemuda itu dengan saksama. Tidak ada kebohongan di matanya. Tidak ada tipuan. Hanya ketidaktahuan yang tulus—dan rasa ingin tahu yang besar. Dan untuk alasan yang tidak bisa dijelaskan oleh kultivasinya yang berpengalaman, Wei Zhen merasa bahwa pemuda ini tidak berbahaya.
Atau mungkin justru sebaliknya—dia adalah makhluk paling berbahaya yang pernah ada, dan justru karena itulah dia tidak perlu berpura-pura.
"Aku Wei Zhen, Tetua dari Sekte Awan Kelabu," katanya akhirnya, memutuskan untuk bersikap sopan. "Ini putriku, Wei Ling, dan muridku, Feng Mo. Kami datang karena merasakan getaran dari retakan ruang yang kau sebabkan."
"Aku tidak bermaksud menyebabkannya," kata Xiao Chen. "Atau mungkin aku menyebabkannya. Aku tidak tahu." Dia bangkit berdiri dengan gerakan yang begitu mulus—seperti air mengalir. Jubah putihnya berkibar lembut diterpa angin malam. "Tapi aku minta maaf jika aku mengganggu."
Saat dia berdiri, Wei Ling bisa melihat dengan jelas betapa sempurnanya postur tubuhnya. Tinggi. Tegap. Tapi tidak mengintimidasi—justru... melindungi. Seperti pohon besar yang rindang.
Dia memalingkan wajahnya. Pipinya terasa seperti terbakar.
"Tidak... tidak apa-apa," gumamnya.
Xiao Chen berjalan ke arah mereka. Setiap langkahnya ringan, hampir tanpa suara, seolah tanah itu sendiri yang menyesuaikan diri dengan kehadirannya.
"Aku ingin bertanya sesuatu," katanya, berhenti di depan Wei Zhen. "Kau bilang kau adalah Tetua dari sebuah sekte. Apakah sekte itu tempat di mana orang belajar tentang dunia? Tentang... kultivasi?"
Wei Zhen mengangguk perlahan. "Ya. Sekte adalah tempat para kultivator berkumpul, belajar, dan meningkatkan diri."
"Kalau begitu..." Mata ungu keemasan Xiao Chen berbinar dengan rasa ingin tahu. "Bolehkah aku mengunjungi sektemu? Aku ingin belajar."
Wei Ling hampir tersedak udara.
Feng Mo membelalakkan matanya.
Dan Wei Zhen... Wei Zhen merasa bahwa jawaban untuk permintaan ini akan mengubah segalanya.