Sebagai wedding planner, Cala Danendra percaya pada kisah bak dongeng. Namun, hidupnya berubah mencekam dalam semalam setelah ia tak sengaja merekam aksi pembunuhan di pesta kliennya.
Demi melindunginya dari kejaran pembunuh bayaran, kepolisian menawarkan solusi ekstrem: menyembunyikan Cala dalam ikatan pertunangan palsu dengan Dr. Ronan Maheswara, ahli forensik jenius yang dingin dan antisosial. Kini, Cala si perangkai romansa harus hidup di apartemen Ronan yang steril bagai ruang operasi, lengkap dengan aturan ketat dan foto TKP yang berserakan.
"Cinta itu hanyalah lonjakan hormon oksitosin dan reaksi kimiawi di otak yang akan memudar dalam waktu empat tahun," ucap Ronan datar tanpa mengalihkan pandangan dari mikroskopnya. "Dan tolong, sepatumu mengontaminasi karpetku."
Cala memutar bola matanya. "Kalau begitu, mari kita lihat reaksi kimiawi apa yang terjadi kalau aku nekat memelukmu sekarang, Dokter."
Namun, ketika ancaman maut semakin mendekat, batas antara sandiwara dan k
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Mata di Kafe
"Lepaskan tanganmu, Dokter. Pelayan toko sudah membungkus surat kelengkapannya," bisik Cala tajam dari sela giginya.
Ronan tidak langsung merespons. Pria itu masih menatap jemari Cala yang kini dihiasi cincin berlian platina. Perlahan, genggaman tangan dingin itu mengendur. Ronan menarik tangannya dan kembali memasukkannya ke dalam saku celana bahan abu-abunya. Wajahnya kembali sedingin bongkahan es.
"Terima kasih atas pelayanan kalian," ucap Ronan singkat pada pelayan butik.
Cala mengambil tas selempangnya dengan cepat. Mereka berdua melangkah keluar dari pintu kaca ganda butik perhiasan mewah itu. Udara jalanan kota yang panas langsung menyergap kulit mereka. Hiruk pikuk lalu lintas kendaraan bermotor menggeser alunan musik piano klasik di dalam butik tadi.
"Kita kembali ke apartemenmu sekarang? Tugasku menjadi manekin berjalan sudah selesai," tuntut Cala sambil mengelap keringat di pelipisnya.
Ronan menggeleng tegas. Matanya menyapu deretan bangunan komersial di sepanjang trotoar. Tatapannya terkunci pada sebuah bangunan dua lantai dengan kaca transparan berlogo biji kopi raksasa di seberang jalan.
"Kita masuk ke Kafe Aroma Hitam di seberang sana," perintah Ronan.
"Untuk apa? Aku mau pulang dan rebahan di sofamu yang keras itu. Kakiku lelah berjalan memakai sepatu hak tinggi ini."
"Durasi kita berada di tempat publik belum cukup untuk meyakinkan target," jelas Ronan tanpa menoleh. "Orang yang baru saja bertunangan tidak langsung pulang ke rumah. Mereka merayakannya dengan minum kopi, mengobrol, dan memamerkan cincin baru. Jalan sekarang."
Cala memutar bola matanya malas, namun ia tetap melangkah mengikuti pria tinggi besar di sampingnya. Mereka menyeberang jalan dan mendorong pintu kayu kafe tersebut. Lonceng kecil bergemerincing nyaring menyambut kedatangan mereka. Aroma biji kopi panggang dan roti mentega langsung memenuhi indra penciuman Cala, membuatnya sedikit merasa rileks.
Berbeda dengan Cala, postur tubuh Ronan justru semakin menegang. Pria itu menolak duduk di sofa empuk bagian tengah ruangan. Ia memilih meja sudut di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke arah jalan raya dan pintu masuk kafe. Posisi strategis untuk mengawasi seluruh pergerakan manusia di sekitarnya.
"Duduk di bagian dalam," perintah Ronan sambil menarik kursi kayu untuk Cala. Posisinya membuat punggung Cala membelakangi dinding kokoh.
"Kamu bertingkah seperti buronan yang sedang dikejar pembunuh bayaran," sindir Cala seraya menjatuhkan tubuhnya ke kursi. Ia meletakkan tasnya di atas meja dan langsung mengeluarkan laptop kesayangannya.
"Kamu yang sedang dikejar, bukan aku," balas Ronan sangat pelan. "Pesan minumanmu."
Seorang pramusaji datang membawa buku menu. Cala memesan minuman cokelat dingin manis kesukaannya, sementara Ronan memesan air mineral murni tanpa campuran apa pun. Setelah pramusaji itu pergi, Cala langsung menyalakan laptopnya dan mulai bekerja. Jemarinya menari lincah di atas papan ketik.
"Astaga! Kenapa vendor tenda ini keras kepala sekali!" seru Cala tiba-tiba, suaranya sedikit meninggi.
Ronan menendang pelan ujung sepatu Cala dari bawah meja. "Kendalikan volume suaramu. Perhatian publik adalah musuh kita sekarang."
"Tapi ini benar-benar membuat kepalaku mau pecah, Dokter!" Cala bersungut-sungut sambil memutar layar laptopnya ke arah Ronan. "Lihat foto ini! Klienku minta tenda warna biru laut terang untuk pesta kebun mereka. Dan vendor ini malah mengirim sampel kain warna biru gelap! Pesta pernikahan klienku akan terlihat seperti lokasi pemakaman elit kalau pakai warna ini!"
Ronan bahkan tidak melirik layar laptop itu sedikit pun. Matanya terus bergerak liar, memindai setiap pengunjung kafe satu per satu. Ia menghitung jarak meja mereka dengan pintu keluar darurat. Ia mengawasi seorang pria bertopi yang sedang mengetik pesan di sudut ruangan, lalu beralih menatap dua orang wanita yang tertawa keras di meja seberang.
"Masalah kain tenda bukan ancaman mematikan. Cari vendor lain," tanggap Ronan sangat datar.
"Tidak segampang itu!" Cala menarik kembali laptopnya, mulai mengetik balasan surel dengan penuh emosi. "Acaranya tinggal hitungan hari. Semua uang muka sudah masuk. Kalau aku membatalkan pesanan sekarang, reputasiku sebagai perencana pernikahan kelas atas akan hancur lebur."
"Reputasi tidak ada gunanya kalau jantungmu berhenti berdetak," potong Ronan tajam. "Kamu bisa ganti warna bunga dekorasi agar senada dengan tenda gelap itu. Mainkan kontras visual."
Cala menghentikan ketikannya. Ia menatap Ronan dengan pandangan meremehkan. "Tahu apa dokter ahli mayat sepertimu soal kontras warna dekorasi pernikahan? Kamu bahkan tidak bisa membedakan mana parfum mahal dan cairan pembersih lantai."
"Aku tahu bahwa warna biru gelap memantulkan lebih sedikit cahaya, membuat objek di sekitarnya terlihat lebih redup. Jika kamu menambah bunga berwarna putih terang, itu akan menarik fokus mata manusia dan menutupi kesalahan warna dasar tenda," jelas Ronan dengan bahasa analisisnya yang khas. "Itu ilusi optik dasar."
Cala terdiam sesaat. Saran pria kaku ini ternyata cukup masuk akal dan bisa dicoba. Ia menelan gengsinya dalam-dalam.
"Baiklah, idemu boleh juga. Akan kucoba negosiasi ulang dengan tim dekorasi." Cala kembali sibuk dengan layar laptopnya. "Ngomong-ngomong, sampai kapan kita harus duduk di sini? Punggungku sudah kebas."
"Sampai aku merasa aman," sahut Ronan singkat.
Pramusaji datang membawa pesanan mereka. Gelas kaca berisi minuman cokelat dingin diletakkan di depan Cala, dan sebotol air mineral diletakkan di depan Ronan.
Cala langsung meraih sedotan dan meminum cokelat dinginnya rakus. Rasa manis dan dingin itu mengalir membasahi tenggorokannya, sedikit meredakan kepenatan otaknya. Ia mengaduk-aduk es batu di dalam gelas hingga berbunyi nyaring.
"Kamu tidak minum?" tanya Cala melihat botol air Ronan yang masih tersegel rapat.
"Aku tidak mengonsumsi cairan dari tempat yang sanitasinya tidak bisa kuawasi secara langsung," jawab Ronan. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, melipat kedua lengan di atas meja.
Cala menggelengkan kepala tidak percaya. "Kamu bisa mati kehausan kalau terus bertingkah kaku begini."
"Tubuh manusia sanggup bertahan tanpa cairan selama tiga hari. Aku belum berada di tahap dehidrasi kritis."
Cala mengabaikan ocehan medis pria itu. Ia kembali memusatkan perhatian pada layar laptop. Ketegangan yang sempat menyiksa pikirannya mulai memudar, tergantikan oleh rutinitas kerja harian yang menuntut konsentrasi penuh.
Satu jam berlalu lambat. Pengunjung kafe mulai silih berganti. Pria bertopi di sudut ruangan sudah pergi, digantikan oleh sekelompok mahasiswa yang sibuk membuka buku tebal. Suasana kafe semakin bising oleh obrolan orang-orang.
Cala menguap lebar. Matanya mulai lelah menatap layar bercahaya. Ia merenggangkan kedua lengannya ke udara.
"Ini sudah cukup lama, Dokter. Targetmu pasti sudah melihat cincinku berkali-kali. Kita pulang sekarang," ajak Cala seraya mulai merapikan barang-barangnya.
Ronan tidak menjawab. Mata tajam pria itu mendadak terpaku pada satu titik di luar jendela kaca besar kafe. Rahangnya mengeras seketika. Tubuhnya yang tadi bersandar santai kini menegang sempurna layaknya predator yang bersiap menerkam mangsa.
"Ada apa?" tanya Cala bingung melihat perubahan drastis raut wajah pria di depannya. Ia baru saja hendak memutar kepala untuk melihat ke arah jalan raya.
"Jangan menoleh." Suara Ronan keluar berupa bisikan penuh ancaman. Sangat rendah dan mengintimidasi.
Cala membeku di tempat. Tangan kanannya berhenti bergerak tepat di atas layar laptop.
Ronan tiba-tiba bangkit dari kursinya. Gerakannya sangat cepat namun tidak menimbulkan suara gesekan kaki kursi sama sekali. Pria itu tidak berjalan menuju pintu keluar, melainkan melangkah memutari meja kayu tersebut.
Tanpa meminta izin atau memberikan aba-aba, Ronan menarik kursi kosong dan duduk tepat di sebelah Cala. Jarak aman yang sedari tadi dipertahankan pria itu kini lenyap sama sekali.
Cala membelalakkan matanya kaget. Ia nyaris berteriak protes karena pria gila kebersihan ini tiba-tiba melanggar batas privasi spasial yang sangat ia agung-agungkan sendiri.
Namun, sebelum Cala sempat membuka mulut, lengan kanan Ronan bergerak melingkari punggung Cala. Pria itu menarik pinggang Cala dengan erat dan sangat posesif, memaksa tubuh wanita itu menempel rapat pada bidang dada kemeja jasnya. Wangi cairan antiseptik dari tubuh Ronan seketika mendominasi indra penciuman Cala, menenggelamkan aroma kopi di ruangan itu.
Jantung Cala berdetak gila-gilaan seakan ingin menabrak tulang rusuk. Reaksi otot tubuh pria ini terlalu nyata dan bertenaga untuk ukuran sebuah sandiwara belaka.
Ronan menundukkan kepalanya perlahan, membiarkan bibirnya berada hanya beberapa milimeter dari daun telinga Cala. Hembusan napas hangat pria itu menyapu kulit leher Cala, memicu sensasi merinding luar biasa di sekujur tubuhnya.
Ronan berbisik di telinganya, "Tersenyumlah ke arahku. Ada lensa kamera dari arah jam tiga."