(Tokoh utama Pria+Wanita)
Raka Pradipta adalah seorang suami yang selama menikah hanya menjadi alat penghasil uang bagi keluarga istrinya, ia di paksa membiayai kehidupan seluruh keluarga istrinya. Tapi karena rasa cinta yang sangat besar Raka menjalani kehidupannya dengan sepenuh hati tanpa mengeluh sedikitpun. Namun, ketika sebuah kenyataan pahit menghantamnya, rasa sayang yang selama ini hanya ia simpan untuk istrinya lenyap seketika ketika istrinya lebih memilih berkhianat dengan seorang pria yang lebih segalanya darinya, Raka pun di paksa menceraikan sang istri lalu ia di usir tanpa hormat oleh keluarga istrinya itu.
Namun, tak ada yang menyangka jika Raka adalah seorang anak dari penguasa jaringan bisnis di negaranya, dan apakah identitas aslinya itu akan di ketahui keluarga mantan istrinya?
ayo simak cerita baru author yang satu ini, semoga para reader suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Semakin menegang
Tawa Farhan menggema cukup keras di antara lorong divisi yang mendadak sunyi, beberapa staf saling melirik dengan ekspresi tegang, sebagian bahkan refleks menundukkan kepala, jelas tidak nyaman melihat keberanian pria itu yang sudah melewati batas.
Farhan mengusap sudut bibirnya sambil masih terkekeh kecil, lalu menepuk pelan tangan Raka yang masih berada di pundaknya.
“Perusahaan lo?” ulangnya sambil menyeringai lebar. “Gila juga ya, ilusi lo makin parah. Baru ditinggal istri langsung ngaco kayak gini?”
Suasana langsung terasa semakin berat. Jack yang berdiri beberapa langkah di belakang menghela napas panjang sambil memijat pelipis, seolah mulai kehilangan kesabaran. Dua pengawal di sisi lift bahkan berdiri jauh lebih tegak, sorot mata mereka dingin menatap Farhan.
Namun Raka tetap tidak bereaksi, wajahnya tenang, sampai membuat beberapa staf mulai merasa merinding sendiri.
“Apa jabatanmu tadi?” tanya Raka tiba-tiba dengan nada datar.
Farhan mengangkat dagu sedikit. “Manager divisi operasional,” jawabnya penuh percaya diri. “Kenapa? Mau nitip lamaran?”
Beberapa orang refleks memejamkan mata singkat, Selina yang sejak tadi berdiri tak jauh dari belakang akhirnya menghela napas kecil sambil melipat tangan di dada. “Berani juga orang itu,” gumamnya pelan.
Raka mengangguk kecil seolah mencatat sesuatu.
“Manager divisi,” ulangnya santai. “Pantas saja cukup percaya diri.”
Farhan terkekeh kecil lagi. “Ya jelas. Beda kelas sama orang kayak lo.”
Kalimat itu baru saja selesai ketika suara langkah cepat terdengar dari arah koridor utama, seorang pria paruh baya dengan setelan mahal berjalan tergesa, wajahnya tampak sedikit tegang.
Direktur Operasional.
Begitu melihat sosok Raka berdiri di sana, pria itu langsung berhenti lalu menundukkan kepala hormat.
“Selamat pagi, Tuan muda,” ucapnya cepat. “Mohon maaf kami terlambat untuk menyambut anda.”
Hening beberapa saat, hingga wajah Farhan yang semula penuh ejekan langsung memucat, senyumnya menghilang begitu saja.
“A... apa?!” gumamnya pelan.
Belum selesai keterkejutannya, beberapa kepala divisi yang baru datang ikut menundukkan badan hampir bersamaan.
“Selamat pagi, Tuan muda.”
“Selamat datang kembali di Perusahaan.”
“Senang akhirnya Anda kembali.”
Udara di sekitar terasa seperti membeku, Farhan berdiri mematung, pandangannya bergerak cepat dari satu orang ke orang lain sebelum berhenti pada Raka yang masih berdiri santai di hadapannya.
Punggungnya mendadak terasa dingin, tatapan dingin Raka perlahan kembali padanya. “Kau tadi bertanya kenapa aku ada di sini,” ucapnya tenang. “Jawabannya sederhana.”
Raka berhenti sesaat, lalu merapikan sedikit manset kemejanya. “Karena tempat ini memang milikku.”
Deg.
Farhan refleks mundur setengah langkah, wajahnya kehilangan warna. “Ti-tidak mungkin...” gumamnya pelan.
Selina mengangkat alis kecil lalu mendecak pelan. “Lucu juga,” katanya santai. “Seorang manager tapi tidak kenal pewaris utama dari perusahaan tempatnya bekerja.”
Beberapa staf mulai menahan napas, jelas tidak berani bersuara, Jack melangkah maju kali ini, wajahnya terlihat merah padam menahan amarah.
“Pak Farhan,” ucapnya formal. “Mulai sekarang, saya sarankan Anda berhati-hati.”
Farhan membuka mulut, tetapi tidak ada suara keluar, tenggorokannya terasa mendadak kering, bayangan pertemuannya dengan Raka di kafe semalam langsung terlintas cepat di kepalanya, keringat dingin mulai terasa di pelipisnya.
Raka melirik jam tangannya sekilas lalu berkata dengan nada tetap tenang, “Aku tidak suka membuat keributan di pagi hari.”
Tatapannya turun lurus ke arah ID card Farhan.
“Tapi aku juga tidak bisa mempertahankan orang yang merasa jabatan kecilnya bisa menghina dan merendahkan sembarangan orang.”
Suasana di lorong utama itu berubah semakin menyesakkan. Tidak ada satu pun suara terdengar selain dengung pendingin ruangan dan napas pelan beberapa staf yang jelas mulai gugup.
Farhan berdiri kaku di tempatnya, jemarinya tanpa sadar mengepal kuat di sisi tubuh. Wajah percaya dirinya yang tadi begitu besar kini perlahan runtuh, digantikan kebingungan bercampur panik yang sulit disembunyikan.
“Tu-tunggu...” ucapnya terbata sambil berusaha tertawa kecil, meski terdengar jelas dipaksakan. “Ini pasti hanya salah paham, kan? Maksud saya tadi cuma bercanda.”
Tidak ada yang menjawab, Raka bahkan tidak langsung memandangnya, pria itu hanya merapikan ujung manset sekali lagi sebelum mengangkat kepala perlahan.
Namun justru ketenangan itulah yang membuat tengkuk Farhan terasa dingin.
“Bercanda?” ulang Raka datar.
Farhan buru-buru mengangguk cepat. “Iya, saya tidak tahu kalau Anda...” suaranya mengecil sendiri. “Kalau Anda Tuan muda Pradipta.”
Sudut bibir Selina bergerak kecil, bukan senyum, lebih seperti rasa geli yang ditahan. “Menarik sekali,” ucapnya santai sambil melipat tangan di dada. “Jadi kalau tahu Tuan Muda Pradipta hanya orang biasa saja, kau bisa hina seenaknya?”
Kalimat itu membuat wajah Farhan semakin pucat, beberapa kepala divisi saling melirik kecil, jelas mulai menjaga jarak secara halus.
Tidak ada orang bodoh yang ingin ikut terseret dalam masalah seperti ini, Raka akhirnya melangkah satu langkah lebih dekat, jarak di antara mereka kini tidak sampai satu meter.
“Farhan,” ucapnya pelan, membaca nama di kartu identitas pria itu.
Farhan refleks menegakkan tubuh. “Saya bisa jelaskan...”
“Aku tidak terlalu tertarik pada sebuah penjelasan,” potong Raka tenang.
Raka memasukkan satu tangan ke saku celana, ekspresinya tetap datar seolah pembicaraan ini bahkan tidak cukup penting untuk memengaruhi suasana hatinya.
“Tapi aku cukup tertarik pada satu hal,” lanjutnya. “Bagaimana seseorang dengan posisi manager bisa berbicara seperti preman jalanan di lingkungan kerjanya.”
Direktur Operasional yang berdiri tak jauh langsung menundukkan kepala sedikit, wajahnya ikut menegang.
Karena satu hal yang ia tahu pasti, Raka Pradipta bukan lah tipe orang yang banyak bicara saat sudah mengambil keputusan.
Farhan menelan ludah keras. “Sa-saya minta maaf, Tuan muda,” ucapnya cepat. “Saya benar-benar tidak tahu siapa anda.”
“Kau benar,” jawab Raka singkat.
Farhan langsung mengangkat kepala sedikit, secercah harapan muncul di wajahnya. Namun kalimat berikutnya membuat darah di tubuhnya terasa hilang begitu saja.
“Kau memang tidak tahu siapa aku,” ujar Raka datar. “Tapi yang lebih bermasalah adalah caramu saat memperlakukan orang lain.”
Deg.
Farhan langsung terdiam, kalimat itu menghantam dirinya, membuat rasa malu dan penyesalan mulai menghinggapinya.
Jack melangkah maju satu langkah, kali ini menyerahkan sebuah tablet pada Raka.
“Data evaluasi kinerja divisi operasional, Tuan muda,” ucapnya singkat.
Raka menerima tablet itu lalu mengusap layar sebentar, tatapannya bergerak cepat.
“Hm.”
Farhan langsung merasa sesuatu tidak beres, Raka menoleh pada Direktur Operasional.
“Target tiga kuartal terakhir tidak tercapai,” ucapnya santai. “Anggaran membengkak, tingkat komplain naik, rotasi staf buruk.”
Direktur itu langsung menunduk sedikit lebih dalam. “Beberapa evaluasi memang masih berjalan, Tuan muda.”
Raka mengangguk kecil, lalu tatapannya kembali berhenti tepat di wajah Farhan.
“Menarik,” katanya tenang. “Percaya diri sangat besar, tapi hasil kerjamu biasa saja.”
Farhan hanya bisa menelan ludah, tanpa sanggup mengatakan apapun lagi seakan lidahnya terasa kelu.
kite cuhi2 waktu bace
masih sj menyalahkan raka
pdhal! sjk nikah raka jd sapi perah di kel rasti, tp msh tetep diam sj
Hati hati Doni mending ditabung saja, kalau perlu deposito kan.
hati 2 lo ilang, lagian raka bukannya kasih ATM sj lbh simpel ya, ni dion pergi2 bw uang banyak lo, takutnya di smbil. nenek. lampir
siap2 ya farhan km nanggung hutang jel rasti🤣🤣🤣puyeng puyeng deck km