Setelah 8 tahun pacaran, Nisa yang menunggu dilamar di hari anniversary, justru merima kenyataan pahit jika ia diputuskan oleh Sandi dengan alasan tak setara.
Tapi takdir seperti sedang mengajak bercanda, sebulan kemudian Sandi datang ke rumahnya untuk melamar. Namun bukan ia yang dilamar, melainkan Naina, sang adik yang lulusan S1 dan bekerja sebagai teler di salah satu bank swasta.
Disaat ia terpuruk, ada sosok yang tak sengaja hadir dalam kehidupannya. Sosok yang begitu baik dan humoris, tapi kadang menyebalkan. Dia adalah Januar, seoarang driver ojol.
"Kalau jodoh memang harus setara, kamu nikah sama aku aja, Mbak." Ajakan nikah Januar alias Ojan, hanya disenyumin saja oleh Nisa.
Tapi Ojan, pantang menyerah, ia terus mendekati Nisa, hingga akhirnya wanita itu luluh. Tapi satu kenyataan pahit, membuat Nisa kembali terpuruk. Ternyata selain seorang ojol, Ojan juga merupakan mahasiswa S2. Apakah sekali lagi, ia harus patah hati karena alasan kesetaraan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
"Nis, kamu dan Dinda datang ya, ke nikahan anak saya." Bu Intan yang duduk di kursi kerjanya, menyodorkan dua buah kartu undangan pada Nisa.
"Saya di undang, Bu." Nisa sedikit kaget, ia mengambil undangan di atas meja, membaca sekilas. Bu Intan adalah manager HRD, termasuk orang kelas atas di perusahaan, gak ekspek wanita di akan mengundangnya di acara nikahan putrinya.
"Iyalah. Kamu itu sudah saya anggap seperti saudara sendiri."
Hubungan Nisa dan Bu Intan memang lumayan dekat. Bu Intan suka sekali dengan semangat kerja Nisa yang tinggi dan profesionalistas nya. Awal-awal kerja dulu, beliau yang selalu mendorong Nisa untuk kuliah, agar nanti bisa punya jenjang karier, setidaknya menjadi staf. Bahkan dia bilang akan bantu nisa agar bisa menjadi staf disini. Tapi apalah daya, mimpi Nisa untuk kuliah, harus dikubur demi membantu biaya pendidikan Naina.
Mereka sering curhat bersama, bahkan saat rumah tangga Bu Intan gonjang-ganjing, Nisa lah yang menjadi tempat curhatnya. Selain bisa dipercaya, Nisa sering kali memberi masukan yang membuat ia bisa lebih kuat menghadapi cobannya.
Dengan dua buah undangan di tangan, Nisa meninggalkan ruangan Bu Intan. Sesampainya di pantry, menyerahkan salah satu undangan pada Dinda.
"Kita juga dapat, Nis?" Mata Dinda berbinar, ia membuka plastik, membaca detail undangan. Tadi dia melihat staf kantor rame membicarakan soal undangan tersebut.
"Iya, Din."
"Ini di hotel loh Nis." Dinda membaca lokasi acara.
"Namanya juga orang kaya, Din. Mantan suaminya Bu Intan kan pejabat, ya masa anaknya nikahan bangun tenda di depan rumah." Nisa mengambil segelas air dari dispenser, lalu membawanya ke meja untuk diminum sambil duduk.
Dinda menarik kursi, duduk di hadapan Nisa. "Haduh Nis, pasti yang datang orang kaya semua. Pakai outfit apa ya Nis, jadi bingung." Menggaruk-garuk kepala samai hijabnya miring.
"Ya pokoknya yang bersih, sopan, rapi."
"Nanti ke mall yuk Nis, nyari baju. Baju ku gak ada yang bagus, Nis."
"Lagak kamu Din, biasanya beli baju 35 an di pasar, pakai mau beli di emol." Nisa mencebikkan bibir.
"Ya biar bagus, Nis. Di hotel loh acaranya nanti. Acaranya Sabtu, nanti pulang kerja anterin aku ke mall ya, mumpung baru gajian, belum habis duitnya."
"Ok lah."
"Astaga, gara-gara undangan, jadi lupa kerjaan kan." Dinda buru-buru keluar, baru saja dia dipanggil Bu Mei, diminta merapikan ruangan meeting yang mau dipakai. Alvin sudah kesana duluan, cowok itu pasti ngomel-ngomel nanti karena dia datang lambat.
Nisa membaca detail undangan warna navy dengan tulisan gold tersebut. Acaranya beberapa hari lagi, di sebuah hotel mewah di Jakarta. Ia tersenyum getir saat membaca nama mempelai. Di belakang nama keduanya, tertulis gelar. Demikian pun dengan orang tua mereka, semua ada gelarnya. Apa yang seperti ini yang dimaksud setara?
Dulu, setiap membaca undangan, ia membayangkan namanya dan Sandi tercantum disana. Tak pernah kepikiran soal gelar, tapi mungkin Sandi berbeda. Laki-laki itu akan lebih percaya diri saat di undangan, di belakang nama calon istrinya juga tertera gelar.
"Bu Intan, bisa nitip ini gak?" Nisa menyodorkan map coklat berisi lamaran kerja milik Sandi. Demi kekasihnya bisa bekerja di perusahaan besar, ia sampai tak malu untuk meminta bantuan, jalur koneksi, orang dalam.
"Siapa yang mau kerja, Nis?"
"E... teman saya, Bu. Kriterianya insyaAllah sesuai dengan yang dibutuhkan perusahaan. Mungkin bisa Ibu pertimbangkan."
"Tapi kalau gak sesuai, saya gak bisa loloskan ya, Nis. Maaf."
"Iya Bu, gak papa." Baginya, yang penting Sandi ada kesempatan interview. Banyak sekali yang melamar disini, kepanggil interview saja, itu sudah bagus, sudah buka peluang besar. Urusan diterima atau tidak, itu tergantung kemampuan dan rezekinya Sandi.
Bisa dibilang, sedikit banyak Sandi bisa kerja disini, itu karena bantuan Nisa.
Pulang kerja, Nisa dan Dinda langsung otw menuju mall dekat kantor.
"Mahal-mahal ya, Nis." Dinda garuk-garuk kepala melihat harga gamis di sebuah butik. Gadis berhijab itu ingin membeli gamis pesta yang elegan, yang cocok untuk kondangan di hotel.
"Nyari yang sesuai sama kantong aja, Din. Dan yang kiranya bisa dipakai berulang. Kalau beli mahal-mahal, kepakainya cuma sekali, kan sayang." Ia membantu Dinda memilih baju. Buat kaum mendang mending kayak mereka, baju seharga 500 ribu sudah mahal pol.
"Kamu gak beli, Nis?"
"Aku udah ada sih, palingan pengen beli heels aja."
Mereka sampai pindah beberapa toko demi mendapatkan pakaian yang sesuai keinginan Dinda plus sesuai budget, di bawah 300 ribu.
Melewati sebuah coffee shop mahal, langkah Nisa terhenti. Ia melihat di dalam sana, laki-laki yang mirip sekali dengan Ojan, sedang nongkrong bersama beberapa orang laki-laki. Mereka terlihat menikmati kopi sambil membahas sesuatu, ada 2 buah laptop di atas meja mereka. Apa mungkin itu Ojan? Tapi dari tempat tongkrongan, penampilan, dan ada laptop juga, rasanya kurang sesuai untuk seseorang yang profesinya adalah ojol.
"Ada apa, Nis?"
"Enggak, gak ada apa-apa." Nisa lanjut jalan mencari toko sepatu.
Di toko sepatu, sambil milih-milih, dia kepikiran cowok di coffee shop tadi. Apa benar itu Ojan? Tapi sepertinya bukan, mungkin hanya mirip.
"Nis, kamu nyari heels yang berapa senti?" Dinda memperhatikan satu persatu heels di toko tersebut. Harganya lumayan menguras isi kantong.
"Mau yang 7 sentian aja." Fokus Nisa pada heels warna nude atau cream, sesuai warna bajunya.
"Nih bagus Nis." Dinda menujukan sebuah sepatu warna hitam yang sangat elegan.
"Ketinggian Din, takut malah jatuh dan bikin malu."
Pilihan Nisa akhirnya jatuh pada ankle strap heels warna nude yang senada dengan pakaiannya di rumah. Lumayan tinggi, 7 centi lebih, tapi pas dia coba, masih bisalah buat jalan.
"Boncos ya Nis, belanja di mall." Dinda menyeruput es tehnya. Bukan di mall, keduanya makan di warung penyetan pinggir jalan, milih yang lebih ekonomis setelah keluar uang banyak di mall tadi. "Gamisku tadi, kalau dibelikan gamis di pasar, bisa dapat 3, bisa lebih juga malahan."
"Gak papa lah, Din. Sesekali bolehlah, punya barang mahal. Udah, gak usah dipikirin, mending makan." Nisa menikmati ayam penyetnya yang bisa dibilang enak meski harga terjangkau. Mungkin di pinggir jalan seperti ini, sewanya murah, beda dengan di mall, jadi karena itu, harga makanannya beda juga.
Malam hari, seperti biasa, Nisa chatingan dengan Ojan. Sesuatu yang sekarang mulai jadi kebiasaan mereka sebelum tidur.
[ Mbak, aku VC ya, kangen ]
Belum juga Nisa mengiyakan, Ojan sudah langsung menelepon.
"MasyaAllah, makin cantik aja calonku."
"Calon apa nih?" Nisa tertawa cekikikan.
"Tauk, calon apa. Kalau jadi calon ibu dari anak-anakku, mau gak?"
"Heleh, hobi kamu Jan, gombal mulu."
"Emang kamu gak mau, jadi calon ibu dari anakku?"
"Eh Jan, tadi sore aku ngeliat orang mirip kamu di mall? Kamu di mall sore tadi? Eh, entahlah sih, bukan kamu kek nya."
Ojan cuma nyengir. Untung Nisa langsung memutuskan sendiri, bukan menunggu jawabannya. Sebenarnya gak mau menyembunyikan identitas di depan Nisa, tapi awal kenal, dia emang pas ngojol, terus Nisa juga gak pernah nanya soal keluarganya. Nanti tiba-tiba ngomong kalau dia anak pemilik perusahaan, dikira ngibul lagi.
"Mbak."
Nisa menoleh saat pintu kamarnya dibuka dari luar, Naina melongokkan kepala ke dalam.
"Katanya kamu nyari aku, ada apa?"
"Mau pinjem tas. Nanti aja, habis ini aku ke kamar kamu."
Naina kembali menutup pintu.
"Mau kemana nyari pinjeman tas?" tanya Ojan.
"Mau jadi TKW."
"What! Beneran, Mbak?" Ojan syok, mulutnya menganga lebar.
"Hahaha, becanda. Mau kondangan."
"Kondangan aja, ngapain pinjem tas? Emang gak punya tas?"
"Ada sih, tapi gak ada yang warna cream, padahal maunya pakai itu."
"Oh..."
"Ya udah ya Jan, aku mau ke kamar adikku dulu."
"Yah...aku masih kangen loh, Mbak."
"Halah, kamu ngibul mulu, hobi gombal."
"Besok aku anter jemput ya, Mbak?"
"Gak usah."
"Pasti trauma ya, takut kayak kemarin?"
"Enggak juga sih, cuma gak mau ngerepotin."
"Ya Allah Mbak, aku malah pengen direpotin kamu loh. Please ya Mbak, besok aku anter jemput."
"Ya udah deh."
🤣🤣🤣