NovelToon NovelToon
PRINCESS AZURA

PRINCESS AZURA

Status: sedang berlangsung
Genre:Aliansi Pernikahan / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:146.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mae_jer

Putri Azura dari kerajaan Utara, menikah dengan pangeran Xavier, putra Mahkota kerajaan Selatan. Xavier membenci Azura saat mengetahui wanita itu hanya memanfaatkannya demi pernikahan politik. Semua orang yang pernah dekat dengan Azura pun berpaling darinya dan menganggapnya wanita jahat yang haus akan kekuasaan.

Namun, apakah sang putri benar-benar jahat? Atau dia hanya menjadi boneka politik yang berusaha bertahan hidup?

Nanti akan terungkap bahwa di balik keanggunan dan kepintarannya, Princess Azura diam-diam melindungi Xavier dan orang-orang yang dia sayangi dari bahaya yang jauh lebih besar. Kebencian perlahan berubah jadi keraguan, hingga akhirnya kebenaran mengejutkan terkuak, kebenaran tentang betapa pahitnya kisah hidup Azura dan cintanya yang tulus terhadap Xavier.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Orion

"Putri."

Seorang laki-laki berbadan tegap, berusia sekitar 21 tahun membungkuk hormat pada Azura. Namanya Roel, mata-mata sekaligus penjaga putranya. Roel juga adalah putra dari mantan dokter pribadi ibunya yang sudah meninggal. Banyak rahasia tersembunyi yang Azura ketahui dari ibunda Roel. Mereka adalah orang-orang setia ibunya yang ingin dihabisi oleh ayah tirinya gara-gara menyimpan begitu banyak rahasia.

Beruntung ibu Roel masih bisa bertahan hidup dan kini bersembunyi di tempat yang aman. Tak ada seorang pun yang tahu wanita itu masih hidup selain dirinya dan orang-orang kepercayaannya. Azura juga belajar ilmu medis diam-diam dari wanita itu.

"Di mana putraku?" tanya Azura, sudah tidak sabar bertemu dengan anaknya. Terserah Xavier mau menuduhnya bersekongkol, merencakan perbuatan jahat, atau apapun itu. Dia hanya ingin melihat putranya sekarang.

"Di istana selir Evelin, penyihir itu."

Evelin adalah selir ayah tirinya yang diberikan tanggung jawab oleh sang raja menjaga Orion selama ia berada di Kerajaan Barat. Tapi ia tahu bagaimana brengseknya wanita itu yang suka menyiksa putranya diam-diam.

"Ayo ke sana sekarang." katanya dengan emosi tertahan.

"Putri, selir Evelin mengunci pangeran muda dan tidak membiarkan siapapun masuk ke kamar itu. Aku kesulitan menemui pangeran dari kemarin. Tapi mata-mata kita bilang pangeran muda bahkan tidak diberi minum air." lapor Roel.

Kedua tangan Azura mengepal kuat sekali. Ia tidak banyak bicara lagi. Hanya terus berjalan menuju istana selir Evelin. Langkah kaki Azura terdengar berat namun penuh ancaman saat ia dan Roel tiba di depan pintu kamar besar tempat putranya dikurung.

Dua pelayan wanita berpakaian rapi berdiri tegak menghadang di sana, wajah mereka menampakkan ekspresi meremehkan yang biasa ia terima selama bertahun-tahun menjadi putri tak diinginkan di istana ini. Begitu melihat Azura mendekat, salah satu pelayan itu mengangkat dagu dengan angkuh, menghalangi jalan dengan sikap yang sama sekali tidak hormat.

"Maaf putri, kamar ini adalah tempat tinggal pangeran muda Orion, bukan tempat sembarangan orang boleh masuk. Selir Evelin memberi perintah keras, tak ada siapa pun yang boleh melintas di sini," ucap pelayan itu dengan nada sinis, seolah wanita di hadapannya ini hanyalah debu tak berharga. Pelayan lainnya ikut tertawa kecil, menatap Azura dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan mengejek.

Di seluruh istana ini, memang begitulah kenyataannya. Tak ada satu pun yang menganggapnya seorang Putri Kerajaan. Bagi mereka, Azura hanyalah beban, anak dari istri pertama yang sudah mati dan dilupakan, wanita lemah yang tak punya kekuasaan maupun pelindung.

Dulu, Azura mungkin masih menunduk, masih menahan sakit hati dan air mata demi bertahan hidup. Demi dia dan anaknya tidak di bunuh. Dulu ia tak punya apa-apa, tak punya senjata untuk melawan kejahatan ayah tirinya maupun kebusukan wanita-wanita yang mengelilinginya.

Namun sekarang, segalanya berubah. Di dalam lipatan gaunnya tersimpan peta palsu yang didambakan Raja, dan di kini ia terikat status dengan Xavier, pria paling berkuasa dan ditakuti di Kerajaan Barat. Ia tahu betul sifat ayah tirinya. Gila kekuasaan, serakah, dan akan melakukan apa saja, bahkan membunuh sanak keluarganya sendiri, demi mendapatkan apa yang ia inginkan.

Raja takkan berani menyentuhnya sekarang, karena apa yang paling ia cari ada di tangan Azura. Azura memegang kendali penuh di sini, dan ia takkan lagi membiarkan siapa pun menginjak-injak harga dirinya, apalagi menyakiti darah dagingnya.

"Menyingkir," ucap Azura pelan namun dingin, matanya menatap tajam kedua wanita itu tanpa berkedip. Suaranya rendah tapi mengandung tekanan yang membuat bulu kuduk meremang.

"Kau tuli kah? Aku bilang minggir! Kau pikir siapa dirimu putri dia diingin..."

Belum sempat pelayan itu menyelesaikan kalimat angkuhnya, Azura bergerak sangat cepat, jauh lebih cepat dari yang bisa mereka tangkap mata. Ia menginjak kaki pelayan yang berbicara paling keras itu dengan sepatu bot kerasnya, menekan persendian jari-jari kaki wanita itu hingga terdengar erangan kesakitan. Belum sempat wanita itu menjerit, tangan Azura sudah bergerak lebih cepat.

PLAK!

Satu tamparan keras, sangat keras, mendarat tepat di pipi kanan pelayan itu dengan kekuatan penuh amarah yang dipendam bertahun-tahun. Suara tepakan itu bergema keras di lorong sepi itu. Tubuh pelayan itu terhuyung hebat, jatuh terjerembap ke lantai marmer dingin dengan pipi yang langsung memerah dan membengkak, matanya membelalak tak percaya akan apa yang baru saja terjadi.

Pelayan kedua yang tadi tertawa ikut maju untuk melawan, tapi ucapan Azura selanjutnya membuatnya ketakutan luar biasa.

"Roel, potong satu jarinya!" Perintahnya tanpa gentar. Ia bisa menjadi kejam pada siapa saja yang menyakiti putranya.

Roel maju, mengeluarkan pedang dari pinggangnya dengan kecepatan tinggi dan ...

"Arhgggkk!" Pelayan itu berteriak kesakitan luar biasa saat hari telunjuk putus.

Darah segar memancar ke lantai. Jeritan nyaring pelayan itu menggema memenuhi lorong istana yang hening. Wanita itu jatuh berlutut, tangan kanannya yang kini kehilangan satu jari dicengkeram erat dengan tangan kirinya, wajahnya pucat pasi dibasahi keringat dingin dan air mata kesakitan.

Pelayan pertama yang tadi dipukul hanya bisa menggigil hebat, merangkak mundur menjauh sambil menatap Azura dengan tatapan penuh ketakutan luar biasa. Wanita yang dulunya dianggap debu, wanita yang dulunya sering mereka permainkan dan hina, kini berdiri tegak dengan aura kejam dan dingin yang jauh lebih mengerikan daripada para penghuni istana ini.

Azura sama sekali tidak bergeming melihat darah yang mengalir deras itu. Wajahnya datar, namun matanya menyala penuh amarah yang membara, amarah yang tertumpuk bertahun-tahun lamanya.

"Itu baru permulaan," ucap Azura dingin, suaranya tenang namun menusuk luar biasa. Ia melangkah maju satu langkah, membuat kedua pelayan itu makin gemetar ketakutan.

"Kalian pikir kalian siapa? Berani-beraninya menghalangiku, berani-beraninya menyiksa putraku yang masih kecil? Kalian kira aku masih Azura yang dulu akan diam saja diperlakukan seperti sampah?"

Ia menunduk menatap pelayan yang jari telunjuknya terpotong itu dengan tatapan menghina.

"Simpan rasa sakit itu sebagai pelajaran. Dan ingat baik-baik, sampaikan pada nyonyamu, Evelin penyihir itu. Mulai hari ini, sehelai rambut pun yang jatuh dari kepala putraku, aku akan ambil seribu kali lipat darinya dan dari kalian semua. Aku tidak lagi bermain-main."

Tanpa menunggu jawaban atau permohonan maaf yang takkan ada gunanya itu, Azura mendorong pintu besar yang terkunci itu dengan keras hingga terbuka lebar dan membentur dinding di baliknya. Suara benturan keras itu disusul oleh pemandangan yang membuat darahnya mendidih seketika.

Ruangan itu gelap, pengap, dan bau apek menusuk hidung. Tak ada satu pun jendela yang terbuka, udara di dalamnya terasa berat dan panas. Di sudut ruangan, di atas kasur tipis yang hanya dialasi kain kasar dan kotor, terlihat sosok kecil meringkuk kedinginan. Orion, putranya yang berusia tujuh tahun, tampak begitu kurus, pakaiannya kusam dan kotor, bibirnya kering pecah-pecah, dan kulitnya terasa panas jika dilihat dari jauh. Mata besar anak itu terpejam lemah, tubuhnya bergetar pelan karena demam dan kehausan.

"Orion!" jerit Azura parau, seketika amarahnya berubah menjadi rasa sakit hati luar biasa.

1
Ipehmom Rianrafa
lnjuut💪💪💪
kiya
harusnya xavier merampas kertas itu dan membacanya biar terkuak sedikit misteri azura
j4v4n3s w0m3n
lanjuttt ahhh 👍
j4v4n3s w0m3n
aduh azura.knp.gak cerita aja sih ...
Usagi tzukino
cieee yg marah istrinya di jelekin orang,
hanya aku yg boleh menghina istriku,KLW orang lain yg berani,siap² kupenggal,dlm hati pangeran Xavier, hanya aq yg dengar 😂😂😂😂😂
Soraya
mampir thor
van aurora
puas bgt part ini..arghh..gitu dong xavier
Hanima
👍👍👍
Hanima
/Sweat//Cry/
Ko
Rasainnn kau azura.. Xavier itu tulus menyayangi & merawat kau dlu tapi kau menipunya. Dasar wanita jahat. Lagian udh gak suci lg sbg istri pangeran mahkota..
Syifa Azhar
ana dan isol baiknya kalian laporkan keadaan azura pada pangeran Xavier biar bisa bantu selamatkan putranya😀💪
🌿🌺WINA🌸🌿
Pangeran xavier tidak rela istrinya dihina dan direndahkan, bagus pangeran xavier bela istrimu...pangeran xavier sampai mengancam elish kasih pelajaran...
dasar elish sok sok cantik dan caper didepan pangeran xavier, kegatelan elish pengen mendekati pangeran xavier..
yg ada pangeran xavier sangat jijik dan muak sama elish...

putri perdana menteri tutur katanya tidak bisa dijaga, berani menjelek2kan dan menghina putri azura...

putri azura tidak seburuk itu, putri azura pasti ada alasannya tiba-tiba menghilang.. lagi mencari kesempatan membebaskan putranya/melihat anaknya lagi sakit...

pangeran xavier sangat curiga gerak-gerik putri azura, dikira xavier merencanakan sesuatu mencelakainya...

kasian juga nasibnya putri azura anaknya disandera, diancam jadi mata-mata, dan pangeran xavier salahpaham pangeran memperlakukan putri sangat kasar dan kata-katanya bikin sakit hati....
wanti astuti
Mamposs loh elish... Makanya mulut tuh di jaga jangan kaya ember bocor nyerocoss aja terus luh
mimief
harga diri istrinya adalah muka sang suami bukan?
ga jeules ya vier
cuman cemburu 🤣🤣🤣🫣
🌿🌺WINA🌸🌿
Demi keselamatan anaknya, putri azura rela diperlukan kasar sama pangeran xavier... pangeran xavier makin marah dan emosi salahpaham, putri azura tidak mau berkata jujur...

putri azura sangat ketakutan dan khawatir takut terjadi sesuatu sama anaknya, klo kasih tahu pangeran xavier azura serba salah... raja utara sangat jahat dan licik, bisa melakukan apa aja demi ambisinya sampai tega sandera anaknya putri azura....

tapi putri azura gak mau jujur makin salahpaham pangeran xavier, yg ada kebencian dan merasa dikhianati pangeram xavier...

pangeran xavier tidak akan membiarkan putri azura menghilang dari hidupnya, masih jadi misterius anaknya azura apakah anaknya pangeran xavier....
Bunda Dzi'3
Ana Isol Hrsnya Klian Ceritakan ke Xavier menderitanya Azura Di kerajaan nya Sndri 😭
faridah ida
kereen̈ Xavier ...👍👍👍👍
walau sebel sama Azura tapi depan orang lain kamu harus tetap bela istri ....👍👍👍
Rina
perjalanan mereka kayaknya rumit Dan masih panjang.. semoga Ada kebahagiaan ya..
faridah ida
bener Xavier , maka nya kamu jangan percaya sama mulut Elish ..
faridah ida
bener2 nih sih Elish mulut nya jahat banget ,...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!