NovelToon NovelToon
AKU YANG DIPANDANG HINA

AKU YANG DIPANDANG HINA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Penyesalan Keluarga / Penyelamat
Popularitas:173.8k
Nilai: 5
Nama Author: Cublik

Dimata publik, kehidupan wanita bernama Ayunda sangatlah sempurna. Karir cemerlang, ekonomi mapan, rupa menawan dengan senyum mempesona.

Namun dibalik itu semua, Ayunda memeluk lara seorang diri. Dipaksa bertanggung jawab atas dosa tidak pernah dilakukannya.

Sedari kecil, hidup Ayunda bak di neraka, diperlakukan semena-mena, haknya sebagai seorang anak dirampas.

Ketika dewasa, sekuat tenaga dia menyembunyikan identitasnya, serta melakukan hal besar demi memperjuangkan masa depan yang hampir direnggut paksa.

Rahasia apa yang coba disembunyikan oleh Ayunda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 02

‘Bohong kalau aku biasa saja karena sudah sangat terbiasa oleh cap Benalu yang melekat layaknya noda hitam pada baju putih. Tetap terasa menyakitkan di hati ini.’ Tangan kanannya meremas dada bagian atas.

Dasar benalu gak tahu diri! Kamu itu anak pelacur, pelakor perebut kebahagiaan keluargaku. Sudah untung aku sudi memungutmu dulu!

Ayunda tersentak kala mendengar suara orang mengobrol. Menyimpan lagi peralatan makeup, mengenyahkan kenangan menghujam jantung, kata-kata kejam ibu tirinya.

"Eh, ada bu Ayunda,” sapa wanita pertengahan usia dua puluhan, memakai setelan semi formal.

Ayunda membalas sapaan dengan senyum khasnya, melirik name tag, ternyata mereka bekerja di divisi Human Resources Development (HRD/Personalia).

“Saya duluan ya, keburu jam makan siang habis,” katanya setelah memastikan kalau bercak merah tertutup sempurna.

“Silahkan, Bu.”

Ayunda melangkah anggun keluar dari toilet berada di lantai lima, dekat dengan kafetaria kantor.

.

.

“Ayunda!” seru seseorang sambil melambaikan tangan.

Si wanita memiliki tinggi semampai 169 cm, paras cantik, dan berat badan ideal, menghampiri kedua gadis yang tidak lain adalah sahabatnya sedari masa kuliah.

“Ini aku ambilin satu porsi sop iga, sesuai pesanan mu.” Dwira atau yang di sapa Ira, mendorong baki makan siang sahabatnya.

“Trims, Ira. Untung kamu keluar duluan, kalau gak, mungkin cuma kebagian kuah sama bawang goreng,” selorohnya seraya duduk di bangku berbahan fiber.

“Lu tu kebiasaan, turun ke sini di jam udah padat pengunjung. Nyusahin kita-kita jadinya,” sindir Seila, terkenal bermulut tajam.

Ayunda tersenyum sungkan, meletakkan lagi sendok dan garpu yang tadi sudah dalam genggaman, lalu menatap gadis si pemilik mata bulat, bibir sensual. “Maaf ya, Sei. Habis mau gimana lagi, kerjaan aku gak bisa ditinggal gitu aja. Harus nunggu tuan Daksa keluar ruangan atau pesan makanan dulu.”

Ckk … Seila berdecak, kembali menikmati seporsi salad sayur.

“Udah, buruan makan gih. Jangan peduliin dia. Biasalah hari pertama pms,” Ira menghibur sahabatnya.

Ayunda mengangguk, mulai menyantap makanannya.

"Eh, Yunda … gimana tuan Daksa hari ini?” tanya Ira.

“Gimana apanya? Ya seperti biasa – duduk dibalik meja mengerjakan pekerjaannya,” jawab Ayunda lugas.

"Bukan itu yang ku maksud, tapi penampilannya.”

Ayunda meneguk jus Apel, baru menjawab pertanyaan pemilik rasa penasaran tingkat tinggi, terlebih bila menyangkut pimpinan mereka yang memang dielu-elukan para wanita satu perusahaan. “Penampilannya ya sama kayak biasanya. Setelan jas mahal, rapi, dan wangi.”

“Ya ampun, andai aku yang jadi asisten sekretaris. Gak perlu minum vitamin, tiap hari sudah nambah imun dengan hanya menatap ciptaan Tuhan nyaris sempurna itu.” Ira menepuk lembut tulang selangkanya, matanya berbinar.

“Bukannya di divisi customer service juga ganteng-ganteng ya cowoknya?”

“Itu yang bagian depan, menangani langsung para pelanggan. Lah aku paling belakang, mana tiap saat ada aja keluhan masuk lewat sambungan telepon perkara deterjen gak berbusa, pewangi kurang harum. Setelah tak cecar, konsumen baru ngaku – satu bungkus bubuk pencuci baju berat setengah kilogram untuk sebulan. Coba bayangkan, tu pelanggan punya anak empat ditambah dia dan suaminya,” adu Ira terlihat frustasi.

Ayunda terpingkal-pingkal, sahabatnya satu ini memang apa adanya.

"Sabar ya, nanti juga bakalan naik jabatan kalau sudah waktunya,” hibur Ayunda.

“Sepertinya sulit, karena kami masuk ke perusahaan ini murni, gak ada main dengan orang dalam,” tiba-tiba Seila berkomentar pedas, melirik sengit wanita yang duduk di seberangnya.

“Seila, lu bisa kagak, gak menyebalkan? Tiap datang bulan nyari ribut teros! Jangan dilihat hasilnya, tapi bayangin juga perjuangan Ayunda sampai bisa jadi asisten sekretaris. Lagian dia udah kerja tiga tahun, lah kita baru setahun. Masa mau disamakan,” hardik Ira, lama-lama geram juga.

Seila mendengus, lalu berdiri sambil mendorong bangku kebelakang agar memudahkan dia keluar, kemudian berlalu dengan langkah angkuh.

Ayunda menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku berwarna hijau muda.

“Jangan dipikirin, dia dari dulu memang rese banget jadi orang,” ujar Dwira.

“Aku gak apa-apa, sudah biasa mendapati kalimat menuduh, tatapan sinis. Wajar juga sih, soalnya belum lama disini sudah bisa merangkak naik sampai lantai tertinggi, 21.” Ayunda memeriksa jam tangan pada pergelangan tangan kiri.

“Rezeki orang sudah ditakar, gak bakalan tertukar. Kamu gak pernah mengeluh bukan berarti segala sesuatu berjalan lancar, cuma memang dirimu sedari dulu anti menunjukkan kesedihan, wajah murung,” bela Ira.

“Gak ada gunanya juga kan, mau cari simpati ke siapa coba?”

Ira mengangguk, matanya menyipit melihat jari manis sahabatnya, lalu menarik tangan Ayunda. “Masih aja kamu pakai cincin ini.”

“Kan kamu sendiri yang bilang sebagai perisai untuk melindungi diri dari pria hidung belang,” Ayunda terkikik geli, ikut melihat jari manis tangan kirinya yang tersemat cincin emas putih polos.

“Mujarab sih, semenjak aku pakai cincin ini dua tahun lalu, perlahan para pria berkurang jumlahnya yang mau mendekati. Mereka pikir aku sudah bertunangan, tidak sedikit pula berspekulasi telah menikah,” lanjutnya.

“Baguslah.” Ira melepaskan genggamannya. “Gak terbuang sia-sia ideku. Punyaku sudah tak jual, karenanya sulit mendapatkan pasangan.”

Ayunda dan Dwira sama-sama tertawa pelan, terlebih mengingat kala mereka ke toko perhiasan membeli cincin polos.

“Aku lebih nyaman menjaga jarak dari kaum Adam, bukan apa-apa sih, cuma suka risih kalau ada yang melakukan pendekatan berlebihan,” akunya jujur.

“Eh, kamu sudah dengar gosip terbaru gak?” Ira mengubah topik pembicaraan secepat kilat.

Kening Ayunda mengernyit, mencoba mengimbangi sahabatnya yang suka bertanya keluar konteks pembahasan sebelumnya. “Apa?”

“Santer terdengar kabar kalau model sekaligus aktris cantik Syafira Bekti mau menikah. Aku ragu tuan Daksa bersedia, palingan dipaksa,” suaranya lesu, raut murung.

Ayunda menggelengkan kepalanya, menatap lucu sang sahabat fans garis keras tuan Daksa Wangsa. “Ya baguslah, mereka kan sudah satu tahun bertunangan. Mungkin udah waktunya menikah, sama-sama dewasa juga.”

“Kamu bukannya menghibur, malah manasin. Kalau mereka cepat-cepat nikah, rasanya tak lagi sama kala mengagumi ketampanan serta kegagahan tuan Daksa, seperti berat banget dosanya sebab dia telah menjadi seorang suami,” Ira menelungkupkan wajahnya pada lipatan lengan.

“Terima kenyataan biar kamu gak melulu hidup dalam dunia khayalan. Sudah ya, aku mau naik ke atas lagi. Takutnya mbak Yusniar sudah pulang dari makan siang bersama suaminya.” Ayunda beranjak.

“Di mana kucari pengganti seperti tuan Daksa. Sudah tampan, gagah, bahu bidang, punggung pas dijadikan sandaran, gilanya lagi dia seorang hartawan keturunan konglomerat. Akhh!” Dwira memekik tertahan, ikutan berdiri.

Ayunda cuma bisa tertawa sambil melangkah menuju lift. Bersiap menghabiskan waktu kerja tinggal tiga jam lagi.

***

Sangat berat baginya keluar dari dalam mobil ketika sudah berada di halaman luas hunian mewah keluarga Guntara.

Setelah lima menit, Ayunda keluar juga. Dia sudah berganti pakaian kerja dengan dress selutut, rambut sepunggungnya di gerai. Melangkah anggun menuju teras berpilar tinggi.

Belum juga menjejakkan kaki di teras, sebuah suara sudah menyambut dengan kalimat sarkas.

“Mobil baru? Berhasil ini ceritanya jual diri ke laki-laki berduit? Pepatah memang tak pernah salah tentang … buah jatuh tak jauh dari pohonnya, ya?”

.

.

Bersambung.

1
Y.S Meliana
hajjarrr aja langsung lah 😎
Y.S Meliana
nah bnr pak iyan, keliatan'y aja ayunda lemah y 😏 asli'y wowww
Y.S Meliana
ooowh 😄😄😄 pastilah bobol
Tuty Tsusy
ga tau kenapa kok feeling aku lari nya ke dwira y🙏 yg jahat ke Ayunda, merasa iri dengan kehidupan Ayunda yang segala nya nampak berjalan dengan mudah membuat dwira jadi jahat, mungkin sikap cerianya itu hanya topeng supaya ga kliatan niat terselubungnya
Y.S Meliana
ayolah ayunda, jgn marah terussss 😟
Neng Nosita
mungkinkah Yusniar udah tahu ya ttg Ayunda dengan daksa?
Anonim
Bantu Nda situasinya sulit Daksa
tersebar ft tak senonoh
Anonim
Yunda mengapa jalan itu yang kau pilih menjadi istri simpsnan yang nasibnya tidak jelas
Seharusnya ambil sikap menjauh dari Daksa yg sudah punya tunangan
Bang Fay
sdh bolak balik cek belum update nih
bunda fafa
bener2 lidah tak bertulang ini..enak kali menghujat orang tanpa memastikan dulu kebenarannya 🤦
bunda fafa
dasar curang 🤣🤣jalan ninja si daksa begitu rupanya untuk menjerat yunda
bunda fafa
kira2 di sabotase daksa gak ya
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
dwira!!?? kan dia yg ngomong pake pelampung
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
ihh si daksa nackal deh. jd pengen uyel2
nunik rahyuni
ulah siapa lg hayo...pasti kelg durjana itu..
bunda fafa
hahaha Budi pekerti patut diteladani 🤣🤣🤣ngakak guling2 aku🤣
bunda fafa
sudah suruh pulang itu ya jelas di usir pii sapiii..oon banget sih jd artis🤣🤦
Siti Mamahe Kaila Izana
Dengar tuh CEO Daksa Sedang bersabdaa..
hati hati kalian
Siti Mamahe Kaila Izana
Kita Emak emak Readers kak Cublik tau semua lho daksaaa 🤣🤣🤣🤛🏼🤛🏼💥💥
Atieh Natalia
ayunda bakalan gak bisa tenang ini menghadapi gosip, soal nya ibu hamil susah d tebak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!