Aletha merupahan remaja yang sangat senang akan dunia malam. Ia juga merupakan anak konglomerat yang terkenal di kota Metropolitan. Tapi kini dirinya harus di hadapkan dengan perjanjian kontrak dengan Danny yang sepertinya menguntungkan? atau malah merugikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooniecaa_moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan—12
Matahari semakin tinggi, tapi suasana di dalam kamar mewah itu mendadak mengayun ke arah yang berbeda. Aletha membalikkan tubuhnya menjadi telentang, menatap langit-langit kamar dengan sepasang matanya yang mendadak menerawang jauh. Tidak ada setitik pun air mata di sana, tidak ada raut wajah memelas yang meminta belas kasihan. Wajahnya tetap tenang, sedatar permukaan air dan sekeras batu karang.
"One day... kalau gue dikasih kesempatan buat ngerasain apa itu cinta, kayaknya gue bakal bahagia banget sih, Dan," ucap Aletha. Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya, terdengar sangat—membawa bobot yang berat.
Danny yang tadinya sedang menikmati momen malas-malasannya langsung tertegun. Ia menoleh cepat, sedikit kaget mendengar topik pembicaraan Aletha yang tiba-tiba bergeser menjadi agak kelam di pagi hari begini.
"Kenapa gitu?" tanya Danny, menatap samping wajah Aletha dengan kerutan di dahinya yang tegas.
Aletha terkekeh pendek. Nada tawanya tidak menyiratkan kesedihan, melainkan sebuah ironi yang tajam. Ia menopang kepalanya dengan satu tangan, lalu menoleh menatap Danny dengan senyuman tipis yang hambar.
"Ya, cinta kan kayak judi, Dan. Kalau nggak untung, ya rugi bandar," sahut Aletha enteng, seolah sedang membahas strategi bisnis di atas meja kerja.
Ia menjeda kalimatnya sebentar, mengambil napas dalam sebelum melanjutkan, "Semenjak nyokap meninggal, bokap gue jadi hilang arah dan nggak pernah di rumah lagi. Malah Om Pramoedya yang selama ini selalu repot ngurusin apa pun soal hidup gue. Jadi, ya... bisa dibilang gue emang nggak percaya sama yang namanya cinta."
Danny terdiam, mendengarkan dengan saksama tanpa menyela sepatah kata pun.
"Buktinya bokap gue," sambung Aletha, matanya berkilat tajam—bukan karena ingin menangis, melainkan karena ego besarnya yang menolak untuk terlihat lemah. "Beliau cuma cinta ke mendiang nyokap gue, tapi nggak ke gue sebagai anaknya. Seolah-olah hidup beliau ikut mati pas nyokap nggak ada. Beliau nggak pernah pulang lagi semenjak hari itu."
Aletha mendengus pelan, mengingat bagaimana rumah besar keluarganya terasa seperti kuburan yang megah. "Padahal, di awal-awal... gue juga masih sering duduk di ruang tamu, nungguin beliau pulang sampai larut malam. Makanya, daripada gue bego nungguin bokap yang nggak tahu kapan baliknya, gue lebih milih main di luar terus-terusan. Gue sewa penthouse, gue 'main' bareng anak-anak, gue habisin waktu di luar rumah biar otak gue nggak kosong. Toh, bokap gue kalau telepon juga sebatas formalitas tanya soal kuliah, nanya udah makan belum, sama mastiin uang belanjaan gue masih aman apa enggak."
Mendengar penuturan itu, Danny terpaku di tempatnya. Untuk pertama kalinya, ia melihat apa yang ada di balik topeng Aletha yang selama ini dipasang oleh gadis berusia 20 tahun di hadapannya. Aletha tidak sedang menangis atau merengek, gadis itu menceritakan kehancuran keluarganya dengan pembawaan yang sangat kuat, seolah sudah biasa dengan hal semacam inj—sebuah mekanisme pertahanan diri yang luar biasa kokoh untuk anak seumurannya.
Danny mengerti sekarang. Rasa candu Aletha untuk mengendalikan keinginannya, selalu memegang kendali atas segala hal... semuanya bersumber dari satu titik— rasa trauma karena diabaikan oleh cinta pertamanya, yaitu ayahnya sendiri. Karena pernah berada di posisi "menunggu tanpa kepastian", Aletha bersumpah tidak akan pernah mau menjadi pihak yang lemah lagi. Dialah yang harus mengatur papan permainan.
Danny mengembus napas perlahan, lalu menggeser posisi duduknya menjadi lebih dekat ke arah Aletha. Ego dingin sang CEO melunak, digantikan oleh sebuah rasa empati yang mendalam terhadap ketangguhan mental gadis di depannya.
"Jadi... itu alasan lo selalu pengen pegang kendali di setiap situasi?" tanya Danny dengan suara baritonnya yang tenang, mencoba menyelami isi kepala Aletha lebih dalam.
Pertanyaan Aletha barusan menggantung di udara kamar yang sepi. Danny tidak langsung menjawab. Ia justru terpaku, menatap lekat-lekat ke arah sepasang mata Aletha yang menatapnya tanpa kedipan, tanpa kerapuhan.
Di dalam kepala Danny, sebuah pemikiran tiba-tiba melintas begitu saja secara spontan. Untuk pertama kalinya, sang CEO Dirgantara Group yang biasanya menilai perempuan dari fungsionalitas dan status sosial, kini melihat Aletha dari sudut pandang yang sangat berbeda.
‘Keknya... Aletha juga nggak terlalu buruk,’ batin Danny, ada desiran aneh yang menggelitik egonya. ‘Dilihat-lihat, dia ini oke banget. Kuat, mandiri, dan nggak klemar-klemer kayak cewek kebanyakan.’
Aletha yang menyadari perubahan raut wajah Danny langsung menaikkan sebelah alisnya. Ia melambaikan tangannya sekilas di depan wajah pria itu.
"Ngapain bengong?" tegur Aletha, memecah lamunan Danny.
Danny berdeham pelan, buru-buru membuang pandangan sesaat untuk menyembunyikan keterkejutannya atas pikirannya sendiri. Ia kembali menatap Aletha, kali ini dengan sorot mata yang lebih hangat namun tetap terkesan santai.
"Kalau gitu, lo sering-sering aja main ke sini," ujar Danny," Mama sama Papa sering di rumah kok. Lo boleh main atau ngobrol sama mereka. Lagian... bentar lagi kita juga bakal satu rumah, kan?"
Mendengar ajakan spontan itu, Aletha tidak langsung tersanjung. Sebaliknya, ia justru melepaskan tawa hambar, sebuah tawa yang langsung membentengi dirinya dari kehangatan keluarga orang lain.
"Aneh lo, Dan," sahut Aletha, mendengus geli sembari membetulkan posisi tidurnya. "Masa gue harus spend time di keluarga orang lain? Aneh rasanya. Nggak enak juga tau, gue ngerasa kayak orang asing yang tiba-tiba nyusup ke kebahagiaan orang."
Danny memperhatikan cara Aletha menarik diri dengan cepat. Sisi lain gadis itu tampaknya langsung siaga begitu ditawari sebuah "kenyamanan sebuah rumah"—sesuatu yang selama ini hilang dari hidupnya.
"Lo bukan orang asing," balas Danny tenang, menantang benteng pertahanan Aletha. "Di depan hukum dan di depan nyokap-bokap gue sebulan lagi, lo itu istri gue. Jadi, berhenti ngerasa nggak enak."
Aletha hanya tersenyum tipis, menolak untuk kalah argumen. "Istri kontrak, Danny. Jangan lupa pakai kata 'kontrak'-nya."
Meskipun mulutnya berkata demikian, di dalam hati Aletha, ada sebuah alarm yang berbunyi kecil. Danny Atonio perlahan-lahan mulai membuka pintu wilayah pribadinya lebar-lebar untuknya. Skenario permainan ini berjalan sangat mulus, bahkan terlalu mulus sampai-sampai batas antara siapa yang menjebak dan siapa yang terjebak kini mulai terasa mengabur di antara mereka berdua.