NovelToon NovelToon
Antara Ketulusan Dan Godaan Bos

Antara Ketulusan Dan Godaan Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:747
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

Demi melunasi utang almarhum ayahnya dan membiayai sekolah adiknya, Andra (23 tahun), seorang pemuda desa yang tampan dan bersahaja, nekat merantau ke Jakarta. Berbekal kejujuran dan ijazah SMK, ia diterima sebagai asisten administrasi di Apex Media, sebuah agensi periklanan papan atas yang gemerlap di kawasan Sudirman.
​Di sana, Andra berhadapan langsung dengan sang bos besar, Nadia (32 tahun), seorang wanita karier sukses yang perfeksionis. Di balik kemewahan hidupnya, Nadia menyimpan kesepian mendalam karena pernikahannya dengan seorang pengusaha kaya telah lama mendingin dan hambar.
​Di tengah belantara Jakarta yang penuh kepalsuan, ketulusan dan kepolosan Andra perlahan mencuri perhatian Nadia. Intensitas kerja hingga larut malam membuat batas profesional di antara atasan dan bawahan ini perlahan mengabur. Andra kini dihadapkan pada dilema moral terbesar dalam hidupnya: bertahan pada ketulusan prinsipnya demi keluarga di desa, atau menyerah pada godaan sang bos yang menawarkan keh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9: Pilihan di Ambang Batas

Malam semakin larut memayungi kota Jakarta. Di dalam ruang kerja lantai 17 Apex Media yang temaram, waktu seolah-olah membeku menjadi bentangan detik yang panjang dan menyiksa. Dekapan tak sengaja di atas sofa kulit itu tidak segera terurai. Detak jantung mereka yang berpacu cepat menjadi satu-satunya melodi yang memecah keheningan ruangan kedap suara itu.

Andra bisa merasakan kehangatan tubuh Nadia yang bersandar di dada bidangnya. Telapak tangannya yang kasar karena bertahun-tahun memegang cangkul dan mengangkut karung gabah, kini menyentuh kain sutra lembut yang membungkus bahu seorang wanita paling berkuasa di perusahaan ini. Aroma melati yang menguar dari rambut Nadia terasa begitu memabukkan, merayap masuk memenuhi rongga dada Andra dan mengacaukan seluruh nalar sehatnya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Andra dihadapkan pada sebuah pesona feminin yang begitu matang, anggun, sekaligus rapuh.

Nadia masih mendongak, menatap lurus ke dalam sepasang mata hitam Andra. Di jarak sedekat ini, ia bisa melihat gurat kecemasan sekaligus gejolak tertahan yang bermain di manik mata asistennya. Nadia tidak bergerak untuk menjauh. Kesepian yang menggerogoti batinnya selama bertahun-tahun, penolakan dingin dari suaminya, serta beban berat sebagai pemimpin seolah-olah menguap begitu saja ketika ia berada di dalam rengkuhan pemuda desa ini. Untuk beberapa detik yang krusial, Nadia tergoda untuk menyerahkan seluruh kerapuhannya pada ketulusan yang ditawarkan oleh Andra.

Bibir mereka terpisah hanya dalam hitungan sentimeter. Embusan napas hangat Andra yang memburu terasa menyapu permukaan kulit wajah Nadia, menciptakan sensasi mendebarkan yang membuat pertahanan batin wanita itu goyah. Sentuhan fisik yang begitu dekat ini menawarkan kehangatan yang nyata—sebuah kontras dari sangkar emas apartemen mewahnya yang selalu terasa dingin dan sunyi.

Namun, tepat di ambang batas sebelum sebuah kesalahan terlarang terjadi, sekelebat bayangan mendadak melintas di benak Andra.

Ia melihat wajah ibunya, Ibu Sumi, yang sedang duduk berselimut kain jarik di selasar rumah panggung mereka yang reyot, menatap malam dengan mata cekung penuh harap. Ia teringat suara parau ibunya di peron stasiun yang berkabut: "Ingat pesan Ibu, tetap jujur, jangan pernah ambil yang bukan hakmu. Restu Ibu itu modal paling besar buat kamu, Le." Lalu, wajah polos Sekar yang menangis semalaman karena takut kehilangan sosok pelindung juga ikut berputar di kepalanya.

Jangan pernah ambil yang bukan hakmu.

Untaian kalimat itu seketika bergema bagai dentuman gada yang menghantam kesadaran Andra. Wanita yang ada di dalam dekapannya saat ini adalah seorang istri orang lain. Dia adalah atasannya. Dia adalah sosok yang memberikan jalan bagi Andra untuk menyelamatkan keluarganya dari kemiskinan. Menyerah pada godaan malam ini berarti mengkhianati kepercayaan Mas Joko, merusak restu suci ibunya, dan menukar harga diri yang ia pertahankan mati-matian demi kesenangan semu yang akan menghancurkan masa depannya.

Dengan sisa-sisa kekuatan moral dan tekad yang ia miliki, Andra menarik napas dalam-dalam. Ia melonggarkan cengkeraman tangan di bahu Nadia secara perlahan, lalu bergerak mundur beberapa sentimeter, memutus kontak fisik di antara mereka dengan sangat halus namun tegas.

Andra menundukkan heads dalam-dalam, menatap karpet abu-abu di bawah kakinya. Napasnya masih sedikit memburu, dan tangannya yang diletakkan di atas lutut tampak mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

"Maaf... Maafkan saya, Mbak Nadia," ujar Andra dengan nada suara yang bergetar rendah, sarat akan penyesalan yang mendalam. "Saya... saya sudah sangat lancang. Tidak seharusnya saya bertindak seperti ini kepada Ibu." Andra secara refleks kembali menggunakan panggilan formal 'Ibu', sebuah upaya bawah sadar untuk menarik kembali benteng profesionalisme yang sempat runtuh.

Nadia tertegun di posisinya. Kehilangan kehangatan mendadak dari tubuh Andra membuatnya merasa dingin seketika. Namun, melihat bagaimana Andra menunduk dengan rasa bersalah yang teramat sangat, kesadaran Nadia pun perlahan-lahan kembali pulih. Ia menyadari apa yang baru saja hampir mereka lakukan. Sisi liarnya sempat mengambil alih, namun keluhuran budi pemuda di hadapannya ini justru bertindak sebagai rem yang menyelamatkan mereka berdua dari jurang kehancuran.

Nadia menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya sendiri yang masih berantakan. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan di dekat telinga, lalu membetulkan posisi duduknya agar kembali tegak. Rasa malu sempat merayap di pipinya, namun rasa kagumnya pada Andra justru melesat semakin tinggi. Pemuda ini benar-benar memegang teguh prinsipnya. Di tengah situasi di mana pria lain mungkin akan mengambil kesempatan, Andra justru memilih mundur demi menjaga kehormatan mereka berdua.

"Tidak, Andra," kata Nadia, suaranya terdengar agak serak namun perlahan kembali tenang. "Kamu tidak salah. Saya yang kehilangan kendali karena terlalu lelah. Terima kasih karena sudah... mengingatkan saya."

Suasana di dalam ruangan itu kembali diliputi keheningan, namun kali ini bukan lagi keheningan yang penuh gairah terlarang, melainkan keheningan yang sarat akan rasa hormat yang baru. Jarak satu meter di atas sofa itu kembali tercipta, terasa seperti jurang pemisah yang kokoh namun aman.

Andra mengangkat wajahnya perlahan, meskipun ia masih enggan menatap langsung ke dalam mata Nadia. "Berkas anggaran ini sudah selesai saya periksa dan input, Bu. Jika tidak ada hal lain yang perlu direvisi, saya mohon izin untuk merapikan meja depan dan pulang ke kontrakan."

Nadia menatap profil samping wajah Andra yang tegas. Ia bisa melihat sisa-sisa ketegangan di sana, namun keteduhan mata hitam pemuda itu telah kembali. "Iya, Andra. Silakan. Hari ini kamu sudah bekerja sangat keras. Laporan ini sudah lebih dari cukup untuk presentasi besok pagi."

Andra berdiri dari sofa, membungkuk hormat, lalu mengambil kantong plastik berisi kotak bekal kosong miliknya di atas meja. Setiap gerakannya dilakukan dengan penuh sopan santun, seolah-olah ia ingin memastikan bahwa semua batasan yang sempat mengabur tadi telah terpasang kembali dengan rapat.

Saat Andra berjalan menuju pintu kaca, langkahnya terasa mantap. Di dalam hatinya, ada rasa lega yang luar biasa. Ia berhasil melewati ujian pertamanya di kota besar ini. Ia tidak menukar doa ibunya dengan godaan sesaat.

Nadia memperhatikan punggung tegap itu hingga menghilang di balik pintu yang bergeser menutup. Ruang kerjanya kini terasa kembali luas, sepi, dan dingin. Namun, ada satu hal yang Nadia tahu pasti di dalam batinnya: Andra bukan sekadar asisten biasa. Ketulusan pemuda itu adalah sesuatu yang nyata, dan penolakannya malam ini justru membuat Nadia merasa semakin terikat oleh pesona kepolosan yang langka itu. Wanita itu tersenyum tipis, merapatkan sisa saputangan putih milik Andra yang masih berada di dalam genggamannya, menyimpan secuil kehangatan dari malam yang hampir meruntuhkan segalanya.

1
Master Haki
terbaik dan bikin penasaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!