Satu Hari 5 Bab... bantu saya untuk terus berkarya😎😎
Di Kota Xiang, seorang jenius muda bernama Xiao Ba pernah dipuja sebagai harapan terbesar Keluarga Xiao karena memiliki Akar Spiritual Suci Tingkat 9, bakat langka yang bahkan sulit ditemukan dalam seribu tahun. Namun semuanya berubah ketika akar spiritualnya hancur secara misterius, membuatnya jatuh dari langit ke dasar kehinaan dalam semalam.
Dulu dipuji, kini dihina.
Dulu didekati, kini dijauhi.
Bahkan keluarga yang pernah memohon perjodohan dengannya datang untuk memutuskan hubungan sambil mempermalukannya di depan semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DafToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penderitaan Keluarga Xiao
Langit di atas Kota Beira mendadak gelap gulita seperti tirai hitam raksasa yang ditarik menutup seluruh cakrawala. Angin dari arah Laut Selatan berembus kencang membawa hawa asin yang menusuk tulang, sementara petir menyambar tanpa henti di atas Pelabuhan Tua yang biasanya ramai namun kini sunyi mencekam. Guntur menggelegar bersahutan seolah langit sendiri tengah meluapkan amarah yang sudah lama terpendam.
Di sebuah kamar sunyi di kediaman Keluarga Xiao yang berdiri megah di atas Bukit Karang, seorang lelaki tua berdiri dengan tubuh gemetar di depan sebuah ranjang batu yang dingin. Rambutnya putih acak-acakan, wajahnya basah bukan hanya oleh air mata, melainkan juga oleh darah dari luka-luka yang menganga di sekujur tubuhnya. Namun, ia sama sekali tidak peduli dengan kondisinya sendiri.
Yang ada di hadapannya jauh lebih menyakitkan dari luka fisik mana pun.
"Cucuku, kenapa ini harus menimpamu? Kenapa langit begitu kejam pada keluarga kita?" teriaknya parau, suaranya pecah menjadi isak tangis yang menyayat hati.
Tangannya yang keriput gemetar saat menyentuh tepi ranjang batu itu, tidak berani menyentuh tubuh sang cucu secara langsung seolah takut tubuh rapuh itu akan hancur bila disentuh.
Di atas ranjang batu tersebut terbaring seorang pemuda berusia empat belas tahun. Tubuhnya bersimbah darah yang sudah mengering di beberapa bagian, namun masih mengalir segar di bagian lainnya. Setiap embusan napasnya terdengar seperti jeritan kecil yang menyiksa, berat, tersengal, dan sangat lemah. Wajahnya pucat seperti kertas yang kehilangan seluruh warnanya. Matanya terpejam rapat, namun dari sudut matanya masih tampak bekas air mata yang telah mengering.
Meridian di seluruh tubuhnya terputus satu per satu seperti tali yang dirobek secara paksa. Beberapa tulangnya patah. Dan yang paling menghancurkan dari semuanya, dantian-nya, sumber seluruh kekuatan dan potensi seorang kultivator, telah hancur total. Dipastikan tidak bisa dipulihkan kembali.
Lelaki tua itu adalah Xiao Sun, Patriark Keluarga Xiao, terus bergumam dan menangis histeris di samping cucunya. Orang yang selama ini dikenal sebagai sosok paling teguh di Kota Beira kini tampak seperti daun kering yang siap gugur diterpa angin.
Langit pun seolah merasakan kesedihannya. Guntur terus bersahutan, semakin keras, semakin marah.
Pemuda yang terbaring hampir tanpa tanda kehidupan itu adalah Xiao Ba, Tuan Muda Keluarga Xiao, salah satu keluarga paling terpandang di Kota Beira, Provinsi Linchen, Kerajaan Ying, Benua Yancun.
Xiao Ba bukanlah pemuda biasa.
Ia terlahir ke dunia ini dengan membawa anugerah yang hampir mustahil dimiliki manusia, yaitu Tubuh Akar Spiritual Suci Tingkat 9. Sebuah bakat yang bahkan dalam rentang seribu tahun terakhir nyaris tidak pernah muncul di seluruh wilayah Kerajaan Ying. Para tetua dan cendekiawan keluarga kultivator mana pun akan berdecak kagum hanya dengan mendengar istilah itu disebut.
Pemilik tubuh semacam ini memiliki potensi yang tak terbatas. Jalur kultivasi yang bagi orang lain terasa seperti pendakian tebing terjal, bagi mereka bagaikan berjalan di atas jalan rata. Qi mengalir ke dalam tubuh mereka dengan mudah dan murni, tanpa hambatan, tanpa kotoran.
Xiao Sun menyayangi cucunya melebihi segalanya. Ia rela menghabiskan sumber daya keluarga yang tidak sedikit demi memastikan perjalanan kultivasi Xiao Ba berjalan sempurna. Pil kultivasi terbaik, teknik latihan paling langka, guru-guru dengan reputasi tinggi—semua itu disiapkan tanpa keberatan sedikit pun.
Xiao Ba adalah masa depan Keluarga Xiao. Xiao Ba adalah harapan satu-satunya.
Dan sebelum segalanya hancur, Xiao Ba membuktikan bahwa kepercayaan sang kakek tidak salah. Di usianya yang baru empat belas tahun, ia telah mencapai Alam Pengumpulan Qi Tingkat 7 Puncak, sebuah pencapaian yang membuat seluruh keluarga bangga dan membuat keluarga-keluarga lain di Kota Beira menatap dengan penuh kekaguman sekaligus kecemburuan.
Namun, justru bakat luar biasa itulah yang mengundang malapetaka.
Keluarga Xiao sejak awal menyadari bahwa Akar Spiritual Suci Tingkat 9 milik Xiao Ba adalah sesuatu yang harus dijaga kerahasiaannya. Di Kerajaan Ying, tubuh semacam itu ibarat permata paling berharga yang diletakkan di tengah jalan; siapa saja yang melihatnya pasti ingin mengambilnya.
Maka selama bertahun-tahun, informasi tentang bakat sejati Xiao Ba sengaja disembunyikan rapat-rapat dari dunia luar.
Namun, ada tangan-tangan kotor di dalam keluarga sendiri yang memilih mengkhianati darah mereka sendiri demi ambisi pribadi.
Penatua Kedua dan Penatua Kelima Keluarga Xiao, dua orang yang selama ini tersenyum di depan Xiao Sun namun menyimpan dengki di balik jubah mereka, sengaja membocorkan informasi itu. Melalui jaringan gelap yang mereka miliki, berita tentang Akar Spiritual Suci Tingkat 9 Xiao Ba sampai ke tangan Klan Cakar Hitam, sebuah organisasi gelap yang bermarkas di kawasan dermaga tersembunyi di balik Tebing Garam dan tidak segan-segan menjual informasi sekelas apa pun demi keuntungan.
Dan Klan Cakar Hitam menjualnya langsung ke istana Kerajaan Ying.
Tepat di hari perayaan ulang tahun Xiao Ba yang keempat belas—hari yang seharusnya menjadi perayaan, hari yang seharusnya dipenuhi tawa dan doa-doa baik—kediaman Keluarga Xiao tiba-tiba kedatangan rombongan dari istana. Bukan rombongan kecil. Bukan sekadar utusan biasa.
Rombongan itu dipimpin langsung oleh Raja Ying Lao sendiri.
Kehadiran sang raja bukan untuk memberikan selamat. Bukan untuk menganugerahkan penghargaan. Kehadirannya adalah sebuah kalimat perintah yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun.
Di hadapan seluruh anggota Keluarga Xiao yang berdiri mematung dalam ketakutan, Raja Ying Lao memerintahkan pencabutan akar spiritual Xiao Ba secara paksa. Tidak ada negosiasi. Tidak ada penawaran. Hanya perintah dingin yang terasa seperti vonis mati.
Akar Spiritual Suci Tingkat 9 itu kemudian ditanamkan ke dalam tubuh Putra Mahkota Ying Fanxhu, seorang pemuda yang selama ini hanya memiliki akar spiritual fana tingkat 9 yang biasa-biasa saja, jauh dari kata berbakat, namun kini mendapatkan anugerah orang lain secara cuma-cuma.
Tidak ada satu pun anggota Keluarga Xiao yang berani angkat bicara. Tidak ada yang berani mengangkat kepala. Bahkan Xiao Sun sendiri, sang Patriark yang selama ini ditakuti di seluruh Kota Beira, hanya bisa duduk lesu di kursi utama, menatap tanpa daya.
Akibat prosedur paksa yang kejam itu, tubuh Xiao Ba hancur dari dalam. Meridiannya terputus. Dantiannya lenyap. Tulang-tulangnya retak dan patah. Tubuh yang dulu memancarkan energi qi yang mengalir deras seperti sungai besar, kini tak ubahnya bejana kosong yang retak di mana-mana.
Berita tentang kehancuran Xiao Ba menyebar cepat ke seluruh penjuru kediaman Keluarga Xiao.
Di aula utama yang menghadap langsung ke Teluk Beira, suasana terasa berat seperti langit yang hendak runtuh. Seluruh anggota keluarga berkumpul, dari para penatua hingga anggota termuda. Wajah-wajah mereka berbeda-beda. Ada yang benar-benar berduka, matanya merah dan berkaca-kaca. Ada yang terlihat sedih namun datar, sekadar menunjukkan sikap yang layak. Dan ada pula beberapa yang dengan susah payah menyembunyikan senyum di balik ekspresi pura-pura mereka.
"Pihak Kerajaan Ying sudah kelewatan! Ini tidak bisa diterima begitu saja!" teriak Penatua Ketiga, wajahnya merah padam menahan amarah.
"Betul! Kita harus membalaskan penderitaan Tuan Muda Xiao Ba!" sambung Penatua Keempat dengan nada yang sama berapi-api.
Namun, suara-suara itu segera dipadamkan.
Penatua Pertama, Xiao Xuanzhu, orang terkuat kedua di Keluarga Xiao setelah sang Patriark, berdiri perlahan dari kursinya. Tanpa berkata banyak, ia melepaskan aura Prajurit Surgawi Tingkat 7 Puncak yang langsung menekan seluruh ruangan seperti gunung yang tiba-tiba jatuh dari langit.
"Diam semuanya. Untuk sementara, biarkan masalah ini dulu sampai Patriark mengambil keputusan."
Ruangan kembali sunyi.
Xiao Sun tidak mendengarkan semua itu. Ia sudah bangkit dari kursinya jauh sebelum Xiao Xuanzhu berbicara, berjalan keluar meninggalkan aula dengan langkah gontai. Punggungnya yang dulu selalu tegak kini tampak membungkuk, seolah menanggung beban yang terlalu besar untuk ditopang oleh satu pasang bahu saja.
Di luar aula, di teras besar yang menghadap ke Teluk Beira yang kini diterpa hujan deras, ia berdiri sendirian di bawah langit yang masih terus menangis.
"Apa yang harus kukatakan pada ayah dan ibu Xiao Ba saat mereka kembali nanti?" gumamnya pelan, suaranya hilang ditelan suara hujan dan deburan ombak dari teluk di bawah Bukit Karang.
Sementara itu, jauh dari kesedihan dan air mata yang mengisi kediaman Keluarga Xiao, di sebuah ruangan tertutup yang lampunya menyala redup, dua sosok duduk berhadapan dengan ekspresi yang sangat berbeda dari suasana duka di luar.
Penatua Kedua dan Penatua Kelima berkumpul kembali di kediaman Penatua Kedua, jauh dari telinga orang lain. Di atas meja di antara mereka terdapat cangkir teh yang mengepulkan asap harum, begitu tenang, begitu kontras dengan kekacauan yang tengah terjadi.
"Apa yang harus kita lakukan berikutnya?" tanya Penatua Kelima, jarinya mengetuk-ngetuk meja perlahan sambil mengangkat cangkir tehnya.
"Untuk sementara, jangan lakukan apa pun dulu," jawab Penatua Kedua, bibirnya melengkung membentuk senyum yang tidak menyentuh matanya sama sekali. "Langkah pertama sudah berjalan sesuai rencana. Tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menjalankan langkah berikutnya."
"Hahaha, tidak perlu waktu lama lagi," tawa Penatua Kelima pelan. "Orang tua itu pasti akan menyerah dengan sendirinya dan menyerahkan kursi pewaris Keluarga Xiao kepada garis keturunan kita."
Xiao Tian, cucu Penatua Kedua yang selama ini selalu berdiri di bawah bayang-bayang Xiao Ba, ikut tersanung mendengar percakapan itu. Ada kilatan ambisi yang terang di matanya.
"Kakek dan Penatua Kelima memang luar biasa. Bahkan tanpa perlu mengotori tangan sendiri, Xiao Ba sudah tersingkir."
Xiao Tian memandang ke arah jendela. Di luar, hujan masih turun deras membasahi atap-atap Kota Tua Beira yang tersusun rapi di lereng Bukit Karang.
Sebelum tragedi ini, ia hanya berada di Alam Pengumpulan Qi Tingkat 4 Menengah, jauh tertinggal dari Xiao Ba yang sudah di Tingkat 7 Puncak. Namun kini, dengan hancurnya dantian sang rival, posisi jenius pertama Keluarga Xiao secara otomatis jatuh ke tangannya.
Tanpa perjuangan. Tanpa pengorbanan.
Semua berkat pengkhianatan yang dirancang dengan rapi.
Dan di atas ranjang batu yang dingin itu, Xiao Ba masih terbaring.
Tubuhnya hancur. Kekuatannya lenyap. Masa depannya menurut semua orang telah berakhir bahkan sebelum benar-benar dimulai.
Namun, napasnya masih ada.
Tipis. Lemah. Hampir tidak terdengar.
Tapi nyata.
Seolah ada sesuatu jauh di dalam diri pemuda itu, di tempat yang bahkan kehancuran dantian tidak bisa menjangkaunya—yang menolak untuk padam. Sesuatu yang diam-diam menyala, perlahan namun pasti, seperti bara yang tersisa di bawah abu.
Langit boleh kejam. Takdir boleh menghancurkan. Pengkhianat boleh tersenyum puas.
pertahankan👌