Deskripsi
The British Royal Family karya Moms Celina adalah novel roman kerajaan yang mengisahkan perjuangan cinta, pengorbanan, dan harapan kedua kalinya. Berlatar di istana megah Inggris, cerita ini mengikuti perjalanan Elizabeth yang harus menyeimbangkan hati dan tanggung jawab, serta Taylor yang harus memilih antara takhta dan orang yang dicintainya. Dengan alur yang menegangkan, adegan yang hangat, dan konflik yang menyentuh hati, novel ini cocok bagi pembaca yang menyukai kisah cinta yang melawan aturan, serta ikatan keluarga yang tak tergoyahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Celina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebohongan yang Terbakar di Dalam Api
Suasana menjadi hening seketika, begitu hening hingga suara angin yang berhembus di antara dinding gunung dan suara retakan kayu di dalam api unggun terdengar jelas di telinga setiap orang yang hadir. Semua mata tertuju pada sekelompok orang yang berpakaian hitam itu, menunggu untuk melihat apa yang akan mereka lakukan. Di hadapan mereka berdiri pemimpin kerajaan dengan wajah yang tenang dan mata yang tajam, memanggil mereka untuk membuka kedok mereka dan membuktikan kebenaran kata-kata mereka. Di sekeliling mereka berdiri ratusan orang rakyat yang memandang dengan penuh perhatian dan penasaran, siap untuk menilai siapa yang berbicara benar dan siapa yang berbicara bohong.
Orang-orang yang berpakaian hitam itu saling berpandangan satu sama lain di balik kain yang menutupi wajah mereka, dan di dalam hati mereka timbul rasa panik dan takut. Mereka adalah orang yang disewa dan diatur oleh sekelompok orang yang berniat mengacaukan keadaan, orang yang dibayar untuk menanamkan kebencian dan pertikaian di antara rakyat. Mereka berani meneriakkan kata-kata dan mengancam saat keributan mulai, tapi mereka tak berani untuk berdiri dan memperlihatkan wajah mereka, karena mereka tahu bahwa apa yang mereka katakan hanyalah kebohongan belaka, dan jika mereka terungkap, mereka akan dihukum sesuai dengan kesalahan yang mereka lakukan.
Melihat bahwa mereka tak berani maju dan tak berani membuka kedok mereka, suasana di antara rakyat perlahan mulai berubah. Awalnya mereka merasa ragu dan takut, karena kata-kata yang diteriakkan itu terdengar masuk akal dan menyentuh kekhawatiran yang sudah ada di dalam hati mereka selama ini. Tapi sekarang mereka melihat bahwa orang yang meneriakkan kata-kata itu tak berani berdiri dan membuktikan kebenarannya, sementara orang yang mereka tuduh berbicara dengan jujur dan berani menghadapi mereka dengan hati yang terbuka. Mata mereka mulai terbuka, dan mereka mulai mengerti bahwa apa yang mereka dengar hanyalah kebohongan yang dibuat untuk menipu mereka.
“Mereka tak berani berbicara dengan wajah mereka sendiri!” teriak salah satu penduduk yang berdiri di dekat pinggir kerumunan. “Mereka menyembunyikan wajah mereka karena mereka tahu mereka berbuat salah! Kata-kata mereka hanyalah kebohongan, dan mereka hanyalah orang yang berusaha menipu kita!”
Suara itu menjadi pemicu bagi yang lain, dan segera suara teriakan dan kemarahan mulai terdengar dari seluruh penjuru kerumunan. Rakyat yang tadinya ragu dan takut kini mulai marah, karena mereka sadar bahwa mereka telah dipermainkan dan ditipu oleh orang yang tak mereka kenal, orang yang berusaha membuat mereka membenci saudara mereka sendiri dan memecah belah negeri mereka. Mereka mulai maju selangkah demi selangkah mendekati orang-orang yang berpakaian hitam itu, wajah mereka penuh dengan kemarahan dan kekecewaan, dan mereka berteriak meminta agar orang-orang itu ditangkap dan diadili sesuai dengan hukum yang berlaku.
Melihat bahwa keadaan sudah berbalik melawan mereka, dan melihat bahwa mereka sudah tak bisa lagi mempengaruhi pikiran rakyat, orang-orang yang berpakaian hitam itu akhirnya sadar bahwa mereka telah kalah. Mereka tak lagi berteriak dan mengancam, sebaliknya mereka berbalik dan berusaha melarikan diri menerobos masuk ke dalam kerumunan, berusaha untuk menghilang di antara bayang-bayang dan kegelapan malam agar tak tertangkap dan dihukum. Namun Kael dan para pengawal hutan sudah siap. Mereka telah mengawasi gerak-gerik mereka sejak awal, dan begitu orang-orang itu berusaha melarikan diri, mereka segera bergerak cepat dan menangkap mereka satu per satu sebelum mereka bisa mencapai pinggir kerumunan. Dalam waktu singkat, semua orang yang berpakaian hitam itu sudah terikat dan duduk di tanah di hadapan api unggun, kedok yang menutupi wajah mereka sudah dibuka, memperlihatkan wajah-wajah yang penuh dengan ketakutan dan keputusasaan.
Arlan berdiri dari tempat duduknya dan melangkah maju mendekati orang-orang yang tertangkap itu, wajah orang tua itu yang biasanya lembut dan ramah kini berubah menjadi keras dan penuh kemarahan. Dia menatap wajah mereka satu per satu dengan pandangan yang tajam dan menusuk, seolah dia bisa membaca setiap kebohongan dan kejahatan yang ada di dalam hati mereka.
“Siapa kalian?” tanya Arlan dengan suara yang dalam dan bergema, suaranya penuh dengan wibawa dan kemarahan yang membuat orang-orang itu gemetar ketakutan. “Dan siapa yang menyuruh kalian datang ke sini untuk menanamkan kebencian dan pertikaian di antara saudara sendiri? Siapa yang menyuruh kalian untuk menipu dan menakut-nakuti rakyat kami? Bicaralah, dan katakan kebenaran, jika kalian ingin mendapatkan sedikit belas kasihan dari kami!”
Orang-orang itu menundukkan kepala mereka, tubuh mereka gemetar hebat karena takut, dan mereka saling berpandangan satu sama lain dengan pandangan yang penuh keputusasaan. Mereka sadar bahwa sudah tak ada gunanya lagi berbohong, dan mereka sadar bahwa jika mereka ingin mendapatkan sedikit kesempatan untuk hidup, mereka harus berbicara jujur dan memberitahu siapa dalang di balik semua perbuatan jahat ini. Salah satu dari mereka, seorang laki-laki yang berusia sekitar tiga puluh tahun dengan wajah yang kasar dan mata yang tajam, akhirnya mengangkat wajahnya dan berbicara dengan suara yang bergetar dan terputus-putus.
“Kami... kami hanya orang yang disewa, Tuan,” katanya dengan suara yang hampir tak terdengar. “Kami tak tahu banyak hal, kami hanya diberi uang dan perintah untuk datang ke sini dan meneriakkan kata-kata itu, untuk membuat rakyat marah dan takut pada orang dari ibu kota. Orang yang menyewa kami adalah orang yang tinggal di daerah perbatasan selatan, orang yang memiliki banyak kekayaan dan kekuasaan, orang yang tak ingin melihat negeri ini bersatu dan damai. Mereka berkata bahwa jika kami berhasil membuat rakyat di sini bangkit dan melawan, mereka akan memberi kami lebih banyak uang dan kedudukan. Tapi mereka tak memberitahu kami mengapa mereka ingin melakukan hal ini, mereka hanya berkata bahwa mereka memiliki alasan mereka sendiri untuk membenci orang yang berkuasa di ibu kota.”
Mendengar pengakuan itu, semua orang yang hadir menjadi hening dan tertegun. Kini mereka akhirnya mengerti sepenuhnya apa yang terjadi. Selama ini keraguan dan kebencian yang tumbuh di dalam hati mereka bukanlah datang dari diri mereka sendiri, bukan datang dari perbedaan dan kesalahpahaman semata, tapi ditanamkan dan dipupuk oleh orang yang berniat jahat, orang yang hidup dalam kegelapan dan berusaha menghancurkan persatuan dan kedamaian negeri ini demi keuntungan dan ambisi mereka sendiri. Mereka sadar bahwa mereka telah dipermainkan seperti boneka, mereka sadar bahwa mereka telah hampir terjebak dalam perangkap yang dibuat oleh orang yang mereka tak kenal, dan mereka sadar bahwa jika bukan karena ketulusan dan kebijaksanaan pemimpin mereka, mereka mungkin sudah terperangkap dalam pertikaian dan perang saudara yang hanya akan membawa penderitaan dan kematian bagi mereka semua.
“Jadi selama ini kita telah dipermainkan oleh orang yang tak kita kenal,” kata salah satu tetua suku dengan suara yang berat dan penuh kekecewaan. “Mereka menggunakan ketidaktahuan dan kekhawatiran kita untuk tujuan jahat mereka sendiri, mereka membuat kita membenci saudara kita sendiri, dan mereka berusaha membuat kita saling membunuh satu sama lain hanya agar mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan. Sungguh kejahatan yang tak punya batas, sungguh kebohongan yang tak bisa dimaafkan.”
Taylor melangkah maju dan berdiri di hadapan semua orang, wajahnya tenang namun matanya menyala dengan tekad yang kuat. “Kalian melihat sendiri sekarang, saudaraku. Kalian melihat bagaimana kejahatan dan kebohongan bekerja. Mereka datang dengan wajah yang tersembunyi dan kata-kata yang manis, mereka berbicara tentang kebenaran dan keadilan, padahal di dalam hati mereka hanya ada keinginan untuk menghancurkan dan mengambil keuntungan. Tapi hari ini, di tempat ini, di bawah langit dan bintang di antara puncak gunung ini, kita telah melihat kebenaran dengan mata kepala kita sendiri. Kita telah melihat siapa yang datang dengan hati yang tulus dan siapa yang datang dengan hati yang penuh kejahatan. Kita telah melihat siapa yang ingin menyatukan kita dan siapa yang ingin memecah belah kita. Dan sekarang, setelah kabut dan kegelapan telah terangkat dari mata kita, tak ada lagi yang bisa memisahkan kita. Kita adalah saudara, kita adalah bagian dari darah dan daging negeri ini, dan tak ada kekuatan apa pun di dunia ini yang bisa memisahkan kita lagi.”
Suasana yang tadinya penuh dengan ketegangan dan kemarahan kini berubah menjadi suasana yang penuh dengan harapan dan persatuan. Rakyat yang tadinya ragu dan takut kini mulai berteriak sorak-sorai dengan suara yang keras dan penuh semangat, suara mereka bergema di antara dinding-dinding gunung dan membuat burung-burung di puncak pohon terbang ketakutan ke langit malam. Mereka berteriak menyatakan kesetiaan mereka, mereka berteriak menyatakan persahabatan mereka, dan mereka berteriak menyatakan bahwa mereka tak akan pernah lagi membiarkan kebohongan dan kejahatan memisahkan mereka dari saudara mereka di bagian lain negeri ini.
Elizabeth berdiri di samping suaminya, menatap pemandangan di hadapannya dengan mata yang berkaca-kaca karena haru dan kebahagiaan. Dia melihat bagaimana hati yang dulu tertutup dan dingin kini terbuka dan hangat, dia melihat bagaimana keraguan dan kecurigaan kini berubah menjadi kepercayaan dan persahabatan, dan dia merasa bahwa segala perjalanan yang berat dan bahaya yang mereka hadapi selama ini terasa sangat sepadan dengan apa yang mereka capai hari ini. Dia menoleh menatap suaminya, dan dia melihat wajah laki-laki itu bersinar dengan cahaya kebahagiaan dan kebanggaan, dan di dalam hatinya dia bersyukur karena dia telah diberikan kesempatan untuk berdiri di sisi laki-laki ini, untuk berbagi perjuangan dan kebahagiaan, dan untuk menjadi bagian dari perjalanan yang luar biasa ini.
Namun di saat kebahagiaan dan persatuan menyelimuti mereka semua, di saat mereka merasa bahwa mereka telah berhasil mengatasi segala rintangan dan bahaya, ada orang yang mengamati segala peristiwa ini dari kejauhan, dari tempat yang tersembunyi di antara celah-celah batu di lereng gunung yang tinggi. Orang itu adalah utusan dari orang yang berniat jahat yang tinggal di selatan, orang yang dikirim untuk mengawasi perjalanan mereka dan melaporkan apa yang terjadi. Dia melihat bagaimana rencana mereka hancur berkeping-keping, dia melihat bagaimana orang-orang yang mereka sewa gagal dalam tugas mereka, dan dia melihat bagaimana rakyat yang mereka harapkan akan bangkit dan memberontak kini justru bersatu lebih erat lagi dengan pemimpin kerajaan. Wajah orang itu dipenuhi dengan kemarahan dan kekecewaan yang tak terkatakan, dan dia segera berbalik dan melarikan diri ke dalam kegelapan malam, berusaha untuk kembali membawa kabar buruk ini pada tuannya, memberitahu mereka bahwa rencana mereka telah gagal dan bahwa mereka harus bertindak lebih cepat dan lebih kejam lagi jika mereka ingin mencapai tujuan mereka.
Namun meski bahaya masih mengintai di tempat yang jauh, meski musuh masih bersembunyi di dalam kegelapan, di tempat ini di antara puncak gunung, di tengah-tengah api unggun yang menyala terang, hati mereka dipenuhi dengan kebahagiaan dan kedamaian yang sulit digoyahkan. Mereka telah berhasil melewati ujian terbesar mereka, mereka telah berhasil membuktikan kebenaran di hadapan mata semua orang, dan mereka telah berhasil menyatukan hati-hati yang terpisah menjadi satu ikatan yang kuat dan tak tergoyahkan.
Malam itu berakhir dengan perayaan yang penuh dengan sukacita. Musik dimainkan dengan gembira, tarian dilakukan dengan semangat, dan tawa serta nyanyian bergema di antara lembah dan gunung sampai larut malam. Api unggun menyala semakin terang, menerangi wajah-wajah yang berseri-seri dan mata yang berkilau dengan harapan baru, seolah-olah cahaya itu adalah cahaya kebenaran dan persatuan yang telah berhasil mengusir kegelapan dan kebohongan dari tanah itu.
Namun mereka semua sadar di dalam hati mereka bahwa ini hanyalah awal dari perjalanan yang panjang. Mereka telah berhasil mengatasi masalah di wilayah utara, mereka telah berhasil membangun kepercayaan dan persahabatan dengan rakyat di sana, tapi mereka tahu bahwa masih ada masalah dan bahaya yang menanti mereka di tempat lain. Mereka tahu bahwa orang yang berniat jahat yang bersembunyi di tempat gelap takkan berhenti hanya karena mereka gagal kali ini. Mereka tahu bahwa orang-orang itu akan merencanakan rencana lain yang lebih berbahaya dan lebih licik, berusaha dengan segala cara untuk menghancurkan kedamaian dan persatuan yang telah mereka bangun dengan susah payah.
Namun satu hal yang mereka yakini sepenuh hati: selama mereka berjalan bersama-sama, selama mereka berpegang pada kebenaran dan kebaikan, dan selama mereka membawa kasih sayang dan persatuan di dalam hati mereka, tak ada kekuatan apa pun di dunia ini yang bisa mengalahkan mereka. Mereka telah melewati hutan dan gunung, mereka telah melewati kabut dan kegelapan, mereka telah melewati kebohongan dan pertikaian, dan mereka telah keluar sebagai orang yang lebih kuat, lebih bijaksana, dan lebih bersatu dari sebelumnya.
Matahari terbit keesokan harinya dengan cahaya yang terang dan hangat, menyinari puncak-puncak gunung yang tertutup salju dan lembah yang dipenuhi dengan permukiman penduduk. Udara terasa segar dan bersih, dan angin yang berhembus membawa kabar baik dan harapan baru. Hari ini adalah hari yang baru, hari di mana lembaran baru dalam sejarah negeri mereka telah dibuka, hari di mana saudara-saudara yang terpisah telah bersatu kembali, dan hari di mana kebenaran akhirnya menang atas kebohongan dan kejahatan.
Namun di tempat yang jauh di selatan, di dalam ruangan yang gelap dan tertutup, sekelompok orang berkumpul di sekitar meja besar dengan wajah yang penuh dengan kemarahan dan kekecewaan. Mereka telah mendengar kabar tentang kegagalan rencana mereka di wilayah utara, mereka telah mendengar bagaimana orang yang mereka sewa gagal dalam tugas mereka, dan mereka telah mendengar bagaimana rakyat di sana justru bersatu lebih erat lagi dengan pemimpin kerajaan. Mata mereka menyala dengan api kemarahan dan ambisi yang membara, dan mereka berjanji di dalam hati mereka bahwa mereka takkan membiarkan hal ini berlangsung terus. Jika rencana halus mereka gagal, maka mereka akan menggunakan cara yang kasar dan berbahaya. Jika mereka tak bisa memecah belah dari dalam, maka mereka akan menyerang dari luar. Dan mereka berjanji bahwa tak lama lagi, negeri ini akan tenggelam dalam darah dan pertikaian, dan kekuasaan akan jatuh ke tangan mereka seperti yang mereka dambakan selama ini.
Bahaya belum berakhir, dan perjuangan mereka masih panjang. Namun di antara puncak gunung yang tinggi, di tengah-tengah orang-orang yang telah bersatu dalam kepercayaan dan persahabatan, hati mereka dipenuhi dengan kekuatan dan tekad yang takkan pernah bisa dihancurkan oleh apa pun atau siapa pun.