"Tapi, aku tidak mencintai Papa," ucap Luna bergetar di depan pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya.
"Tidak masalah Luna, Papa yakin lambat laun kamu akan mencintai Papa."
Dikhianati Fauzan di hari pernikahan demi wanita lain membuat Luna hancur di hadapan semua tamu. Namun, saat dunianya runtuh, sang calon ayah mertua Mahendra justru mengulurkan tangan dan mengambil alih posisi mempelai pria. Mampukah pernikahan beda usia 25 vs 50 tahun ini menyembuhkan luka Luna, atau justru menjadi awal dari konflik baru yang lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Di depan lemari pakaian kayu jati yang menjulang tinggi, Luna berdiri mematung dengan jemari yang masih menyentuh bibirnya sendiri.
Jantung Luna berdetak kencang, bertalu-talu di dalam rongga dadanya dengan ritme yang tak beraturan.
Sentuhan hangat yang baru saja terjadi di ambang kamar mandi tadi benar-benar menjungkirbalikkan dunianya.
Baru pertama ia mendapatkan ciuman dari seorang lelaki seumur hidupnya.
Selama bertahun-tahun menjalin hubungan dengan Fauzan, hubungan mereka tidak pernah melangkah sejauh itu karena Fauzan yang selalu bersikap acuh tak acuh dan lebih sering mengabaikannya demi Mila. Namun di sini, di kamar ini, bersama pria paruh baya yang baru dua hari menjadi suaminya, Luna justru merasakan getaran hebat yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Luna menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba mengusir rona merah yang kembali menjalar di pipinya.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mulai memilih kemeja kerja katun premium berwarna biru dongker, lengkap dengan setelan jas hitam dan dasi sutra senada untuk suaminya.
Tak lama kemudian, suara gemercik air shower dari dalam kamar mandi berhenti.
Pintu kaca tebal itu terbuka, menampilkan sosok Mahendra yang keluar dengan handuk yang melilit pinggang tegapnya, menyisakan rambut hitamnya yang basah berantakan dan bulir-bulir air yang mengalir di atas dada bidang sixpack-nya.
Setelah selesai mandi, Mahendra melangkah mendekati lemari pakaian lalu memanggil istrinya dengan suara baritonnya yang berat.
"Luna, bantu aku memakaikan kemeja dan dasi."
Luna mengangguk samar. Ia melangkah mendekat dengan kepala tertunduk, mencoba memfokuskan matanya hanya pada kancing kemeja yang dipegangnya, bukan pada pahatan tubuh atletis suaminya.
Dengan telaten, jemari lentik Luna mulai mengancingkan satu per satu kemeja Mahendra dari bawah ke atas.
Karena perbedaan tinggi badan yang cukup jauh, Luna harus sedikit mendongak, sementara Mahendra merunduk, menatap lekat-lekat wajah cantik istrinya dari jarak yang sangat dekat.
Di tengah keheningan yang intim itu, Mahendra tiba-tiba berbisik rendah tepat di depan wajah Luna.
"Jadi, apa yang tidak bangun, hm?" tanya Mahendra penasaran.
Ia kembali mengungkit gumaman aneh Luna sebelum mandi tadi dengan kilat jenaka di sepasang mata tajamnya.
Luna yang sedang mengalungkan dasi di kerah kemeja Mahendra seketika menghentikan gerakan tangannya.
Wajahnya mendadak terasa terbakar karena malu yang luar biasa.
"Mas, sudah! Jangan bahas itu lagi," rajuk Luna dengan suara merajuk, mencoba menyembunyikan kepanikannya.
"Itu, maksudku alarm ponselku yang tidak bangun, Mas!" bohong Luna, mencari alasan paling tidak masuk akal yang terlintas di kepalanya.
Mahendra tertawa kecil—sebuah kekehan rendah yang begitu seksi hingga menggetarkan dada bidangnya yang menempel pada tubuh Luna.
Ia menggenggam pergelangan tangan Luna yang sedang memegangi simpul dasinya, memaksa istrinya untuk mendongak menatap matanya.
"Alarm? Alarm atau senjataku?" sindir Mahendra dengan nada menggoda yang sangat kental, sengaja merapatkan sedikit tubuhnya hingga Luna bisa merasakan kehangatan yang memancar dari tubuh pria matang di hadapannya itu.
Luna menelan salivanya dengan susah payah, benar-benar mati kutu di bawah tatapan mengintimidasi sang Don Juan.
Pipi merah mudanya kini sudah berubah menjadi merah padam yang sempurna.
Tidak ingin terjebak lebih lama dalam godaan suaminya yang berbahaya, Luna dengan cepat menyelesaikan simpul dasi Mahendra dengan sekali tarikan, lalu mundur satu langkah untuk menyelamatkan diri.
"Mas, sudah. Ayo kita sarapan!" seru Luna salah tingkah, berbalik badan dengan cepat dan langsung melangkah lebar menuju pintu kamar demi menghindari tawa renyah Mahendra yang kembali pecah menikmati kepanikan istri kecilnya pagi ini.
Tepat sebelum jemari Luna berhasil menyentuh knop pintu kamar, sebuah lengan kekar mendadak terjulur dari belakang, menahan daun pintu kayu jati itu dengan kokoh.
Tubuh tegap Mahendra seketika mengurung Luna dari belakang, mengembuskan aroma parfum maskulin bercampur aroma sabun yang segar di pucuk kepala gadis itu.
"Jawab dulu, Sayang, atau aku tidak sarapan pagi ini," bisik Mahendra rendah tepat di samping telinga Luna.
Nada suaranya terdengar begitu manja namun penuh dengan tuntutan yang tak bisa ditolak.
Luna memejamkan matanya, menghela napas panjang menahan debaran dadanya yang kian menggila.
Ia tahu persis watak suaminya ini; jika seorang Mahendra Dirgantara sudah mengeluarkan titahnya, maka tidak akan ada satu orang pun yang bisa lolos sebelum keinginannya terpenuhi.
Melihat tidak ada celah lagi untuk melarikan diri, Luna akhirnya menyerah.
Ia membalikkan tubuhnya perlahan, menyandarkan punggungnya pada pintu kamar, lalu mendongak menatap wajah matang suaminya dengan gurat pasrah.
"M-mas, tadi pagi waktu aku di dapur membuat kopi, Mila mendatangi aku,"
Ia memulai ceritanya dengan suara yang hampir menyerupai bisikan.
Mahendra menaikkan sebelah alisnya yang tebal, menyimak dengan saksama tanpa memotong kalimat istrinya.
Dengan pipi yang kian memerah, Luna akhirnya menceritakan semuanya yang dikatakan oleh Mila di dapur tadi.
Tentang ejekan bahwa Mahendra menikahinya hanya karena butuh pelayan, hingga kalimat fatal mengenai usia suaminya yang sudah berkepala lima, yang dituduh sudah impoten dan tidak bisa 'bangun' lagi.
Mendengar penuturan jujur dari istri kecilnya, rahang Mahendra seketika mengeras selama beberapa detik, sebelum akhirnya tatapan matanya berubah menjadi sangat intens dan dalam.
Ada kilat berbahaya yang mendadak terpancar dari sepasang manik mata tajam sang Don Juan.
"Dan kamu percaya?" tanya Mahendra dengan nada suara yang mendadak merendah, terdengar begitu seksi sekaligus mengintimidasi.
"Atau, kita buktikan sekarang?" lanjutnya penuh tantangan.
Ceklek!
Bersamaan dengan untaian kalimat itu, jemari kekar Mahendra bergerak turun ke pinggangnya.
Dengan satu gerakan yang sangat santai namun tegas, ia membuka ikat pinggang kulit mewahnya hingga menimbulkan bunyi ketukan logam yang nyaring di dalam keheningan kamar.
"Mas...!" pekik Luna tertahan, matanya membelalak sempurna karena syok yang luar biasa.
Ia reflek menutup wajahnya yang terasa terbakar dengan kedua telapak tangan, mengira suaminya benar-benar akan nekat melakukan 'pembuktian' ekstrem di pagi hari sebelum jam kantor dimulai.
Melihat reaksi kepanikan Luna yang begitu polos dan menggemaskan, Mahendra tidak bisa lagi menahan diri.
Detik berikutnya, Mahendra tertawa terbahak-bahak.
Suara tawa baritonnya yang renyah dan lepas menggema di seluruh penjuru kamar mewah itu.
Ia menghentikan tangannya yang memegangi ikat pinggang, lalu menjitak pelan puncak kepala Luna yang masih tertutup tangan.
"Ayo kita sarapan, Sayang. Kamu seperti udang rebus," goda Mahendra di sela-sela sisa tawanya.
Ia merapikan kembali letak ikat pinggangnya, lalu meraih jemari Luna untuk dituntun keluar dari kamar.
Luna perlahan menurunkan tangannya dari wajah, mengerucutkan bibirnya kesal karena menyadari dirinya baru saja dikerjai habis-habisan oleh suaminya yang berusia lima puluh tahun namun memiliki energi yang tak kalah menjebak dari pria muda di luar sana.
terimakasih thor dah double up 🙏❤️
bener" y si Kunti mil", beuh gertakkan doang ga kena, liat aja ntar klo Mahendra sehat ....abis kau.
kan sudah buang Azura anda faizan
biar duo Kunti, satu kuyang tdk meremehkan mu lagi