NovelToon NovelToon
Pernikahan Yang Tidak Diinginkan

Pernikahan Yang Tidak Diinginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Maullll

"Pernikahan yang Tidak Diinginkan" bercerita tentang Kirana Putri, seorang wanita muda yang cantik dan berhati lembut, yang terpaksa harus menikah dengan Arga Wijaya, seorang pengusaha sukses yang terkenal dingin, tegas, dan tak tersentuh.

Pernikahan ini bukanlah hasil dari cinta, melainkan sebuah perjanjian bisnis dan kewajiban keluarga untuk menyelamatkan perusahaan ayah Kirana dari kebangkrutan. Bagi Arga, pernikahan ini hanyalah formalitas dan cara untuk memenuhi keinginan orang tuanya, sementara bagi Kirana, ini adalah pengorbanan besar demi keluarganya.

Sejak hari pertama, rumah tangga mereka dipenuhi dengan kebekuan. Mereka hidup satu atap layaknya dua orang asing—saling menghormati tapi jauh dari kata dekat, sering bertengkar karena salah paham, dan masing-masing menyimpan perasaan terpaksa.

Namun, seiring berjalannya waktu, di tengah sikap dingin dan pertengkaran, benih-benih perhatian mulai tumbuh perlahan. Mereka mulai melihat sisi lain dari satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maullll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: BERITA BAHAGIA UNTUK KELUARGA

Pagi harinya, sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden jendela kamar. Suasana pagi di rumah Opa terasa sangat tenang dan sejuk.

Namun, bagi Arga dan Kirana, pagi ini terasa sangat berbeda. Jantung mereka berdegup kencang penuh antisipasi. Setelah sarapan ringan, mereka bergegas bersiap pergi ke klinik dokter kandungan terdekat yang sudah direkomendasikan.

"Sayang, kamu pakai jaket ini ya. Jangan sampai kedinginan," kata Arga sigap memakaikan jaket tebal ke tubuh isterinya, lalu ia membetulkan syal di leher Kirana dengan sangat hati-hati, seolah-olah Kirana adalah barang keramik paling mahal di dunia.

"Iya-iya... baru juga 5 minggu, masa udah diperlakukan kayak ratu sakit," jawab Kirana tertawa geli tapi hatinya berbunga-bunga.

"Harus gitu dong! Ini calon pangeran atau putri kesayangan kita nomor tiga! Aset berharga!" sahut Arga serius lalu menggandeng tangan isterinya menuju mobil.

Sesampainya di klinik, suasana hening dan bersih khas rumah sakit Eropa membuat suasana semakin terasa resmi. Setelah menunggu sebentar, giliran mereka masuk untuk pemeriksaan USG.

Saat alat USG diletakkan di perut rata Kirana, layar monitor pun menampilkan gambaran di dalam sana. Dan benar saja! Terlihat jelas sebuah titik kecil yang sedang tumbuh, lengkap dengan detak jantungnya yang terdengar sangat cepat dan kuat!

Tap... tap... tap... tap...

Suara itu terdengar begitu nyata dan hidup!

"Selamat ya Tuan dan Nyonya. Kelihatan jelas sekali kantung kehamilannya. Usianya sekitar 5-6 minggu. Kondisinya sangat kuat dan sehat," ucap dokter dengan senyum ramah.

Air mata Arga dan Kirana langsung menetes bersamaan. Mereka saling bergandengan tangan erat, menatap layar itu dengan takjub dan haru yang luar biasa.

"Lihat Sayang... dia ada... dia hidup..." bisik Arga parau, matanya tak lepas dari layar.

"Iya... dia ada di sana. Kecil banget," jawab Kirana terisak bahagia.

Mereka pun meminta foto hasil USG itu untuk dibawa pulang sebagai kenang-kenangan pertama bagi si kecil nomor tiga.

 

Sepulang dari klinik, mereka langsung menuju rumah. Rencananya, mereka akan memberitahu kabar bahagia ini kepada Opa, Oma, dan tentu saja Arka serta Aira.

Saat mereka sampai di ruang keluarga, semua orang sudah berkumpul. Opa duduk di kursi goyangnya di temani Oma, sementara Arka sedang membaca buku dan Aira sedang bermain boneka di karpet.

"Eh, kalian sudah balik. Gimana hasilnya? Kirana tidak sakit kan?" tanya Oma Maria khawatir.

Arga dan Kirana saling berpandangan, lalu tersenyum lebar.

"Alhamdulillah, semua baik-baik saja, Ma. Justru... kami punya kabar sangat menggembirakan buat semua," kata Arga bangga.

Ia lalu mengeluarkan foto hasil USG dari dalam amplop dan menunjukkannya kepada semua orang.

"Ini apa tuh, Ayah?" tanya Arka penasaran mendekat.

"Itu... itu adiknya Arka dan Aira, Nak," jawab Kirana lembut.

BRUK!!!

Suasana hening sejenak, lalu meledak menjadi kegembiraan!

"NA ONA ONA ONA?! ADA ADIK LAGI?!!" teriak Arka melompat-lompat kegirangan. "BENERAN?! DI PERUT IBU ADA BAYI LAGI?!"

"Iya sayang! Beneran!" sahut Arga bangga.

Aira yang masih kecil ikut berteriak heboh meski belum terlalu paham, tapi melihat kakak dan orang tuanya senang, dia ikut senang.

"ADIKKK!!! ADA ADIK BARUUU!!!" Aira langsung lari memeluk perut ibunya erat-erat. "Halo adik... Aira sayang adik!"

Opa dan Oma pun terlihat sangat bahagia dan terharu. Opa Johan mengusap air matanya yang keluar.

"Syukur alhamdulillah... keluarga Wijaya makin bertambah saja. Semoga anak ini tumbuh jadi anak yang sholeh dan membawa keberkahan," doa Opa dengan suara bergetar.

"Amin..." jawab semua orang serempak.

Malam itu makan malam menjadi perayaan kecil yang sangat hangat. Mereka bersulang dengan jus buah untuk merayakan kehadiran anggota baru.

"Kita kasih nama apa nih kalau dia cowok atau cewek?" tanya Oma sambil tersenyum.

"Kalau cowok, kita mau kasih nama Arfan Ganendra Wijaya. Kalau cewek Aurora Kirana Wijaya," jawab Arga.

"Indah sekali namanya," puji Oma.

 

Dua minggu berlalu dengan sangat cepat. Waktu mereka di Belanda sudah hampir habis. Kondisi Opa memang masih lemah, tapi melihat cucu dan cicitnya bahagia membuat semangat hidupnya kembali muncul. Dokter pun mengatakan kondisi Opa membaik secara drastis karena faktor kebahagiaan.

Hari keberangkatan pun tiba. Suasana haru menyelimuti perpisahan di depan pintu rumah besar itu.

"Kalian hati-hati di jalan ya. Jaga kesehatan Kirana dan anak-anak," pesan Oma sambil memeluk Kirana erat. "Kapan-kapan main lagi ya."

"Iya Oma. Opa sama Oma juga jaga kesehatan ya. Kami pasti sering telpon atau video call," jawab Kirana sedih.

Arga menyalami dan memeluk Opa erat-erat.

"Terima kasih untuk segalanya OPa. Terima kasih untuk kasih sayang dan warisan yang Opa berikan. Kami akan jaga semuanya dengan baik," kata Arga tulus.

Opa menepuk bahu cucunya. "Pergilah Nak. Bangun masa depanmu. Ingat, keluarga adalah segalanya."

Setelah saling mencium tangan dan pelukan perpisahan yang panjang, akhirnya keluarga Wijaya masuk ke dalam mobil menuju bandara.

Perjalanan pulang terasa sangat berbeda. Kali ini mereka membawa lebih banyak kenangan indah, lebih banyak harta, dan yang paling penting... membawa nyawa baru yang sedang tumbuh di dalam kandungan sang Ibu.

Di dalam pesawat yang terbang tinggi menuju Indonesia, Arka dan Aira tertidur pulas di kursi mereka.

Sementara itu, Arga menggenggam tangan Kirana, lalu ia menempelkan telinganya di bahu istrinya.

"Kita pulang ya Sayang. Pulang ke rumah kita, ke tanah air kita," bisik Arga lembut.

"Iya. Pulang dan siap menyambut anggota baru," jawab Kirana tersenyum lebar.

"... kamu sayang aku nggak?" tanya Arga tiba-tiba manja.

Kirana tertawa kecil. "Sayang banget dong. Sampai kapanpun."

"Sumpah?"

"Sumpah! Sejak dulu, sekarang, dan selamanya," jawab Kirana tegas.

Arga tersenyum puas, lalu mengecup kening isterinya. "I love you more than anything, Mrs. Wijaya."

"I love you too, Mr. Wijaya."

Perjalanan panjang mereka belum berakhir. Masih banyak cerita yang akan terukir di tanah air. Tentang tumbuh kembang si bayi nomor tiga, tentang masa depan Arka dan Aira, serta tentang perjalanan cinta mereka yang akan terus abadi selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!