Di kota yang kecil damai, sebuah pabrik mochi terkenal meluncurkan produk terbaru mereka yaitu mochi viral yang dalam sekejap menjadi sensasi di media sosial.
namun tidak ada yang tahu ,di balik manis itu tersimpan hal yang mengerikan.
shila menyaksikan sendiri bagaimana teman-teman nya yang makan mochi itu kejang-kejang dan hilang kendali. lalu berubah menjadi sesuatu yang bukan lagi manusia.
kota yang dulunya tenang berubah jadi neraka yang di penuhi oleh mereka.
terjebak di dalam sekolah dengan berapa teman nya yang selamat. shila harus mengambil keputusan :tetap sembunyi atau melarikan diri demi menemukan keluarga nya.
𝐊𝐚𝐦𝐮 𝐡𝐚𝐫𝐮𝐬 𝐭𝐞𝐫𝐮𝐬 𝐛𝐞𝐫𝐥𝐚𝐫𝐢... 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐭𝐮 𝐝𝐢 𝐚𝐧𝐭𝐚𝐫𝐚 𝐦𝐞𝐫𝐞𝐤𝐚!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ariyanteekk09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 25
"Kakek, ngapain bawa kami ke sini?" tanya Shila.
"Kakek akan membangkitkan apa yang ada di dalam tubuh kalian, sekaligus mengajarkan bagaimana cara mengendalikannya," ucap Kakek Hasan dengan tenang.
"Kalian fokuskan pikiran ke satu titik. Bayangkan kalian berada di tengah kumpulan zombie, lalu pikirkan apa yang harus kalian lakukan untuk menyelamatkan diri," lanjutnya sambil mengarahkan mereka perlahan.
Tiba-tiba, liontin mereka bertiga mengeluarkan cahaya terang. Dalam sekejap, ketiga anak itu berpindah ke suatu tempat asing yang gelap dan menyeramkan. Di sekeliling mereka, puluhan zombie mulai mendekat dengan geraman mengerikan.
Shila bukannya takut, justru terlihat tenang. Ada rasa panas menjalar di telapak tangannya. Seketika, busur dan panah muncul, dan ia langsung memanah para zombie yang mencoba mendekatinya.
"Astaghfirullah… banyak banget zombie ini. Gue harus cepat-cepat menghabisi mereka!" ujarnya, sambil terus menyerang. Di dalam hatinya, ia khawatir akan keselamatan suami dan adiknya.
Gibran pun tak kalah sigap. Dengan pedang di tangannya, ia menebas kepala para zombie satu per satu dengan gerakan cepat dan terarah. Sementara itu, Kenan menembak zombie dari kejauhan dengan akurat.
Meskipun usianya baru dua tahun, kemampuannya dalam menembak sangat luar biasa, seolah itu adalah insting alaminya.
Pertarungan semakin sengit.
Jumlah zombie yang terus berdatangan membuat mereka harus bekerja sama dan saling melindungi satu sama lain.
Di dunia nyata, Kakek Hasan terus memantau mereka dengan serius. Cahaya dari liontin itu masih bersinar terang, menjadi penghubung antara dua dunia.
"Anak-anak ini memang ditakdirkan untuk membasmi para zombie… Aku harus melindungi mereka, agar Rainal tidak mengetahui keberadaan dan kekuatan mereka," gumam Kakek Hasan dengan wajah penuh kekhawatiran.
Angin berhembus pelan, seakan menjadi saksi awal dari takdir besar yang sedang mulai terungkap.
Setelah para zombie itu berhasil dihabisi, ketiga anak tersebut pun kembali ke dunia nyata. Cahaya dari liontin mereka perlahan meredup.
Shila membuka mata. Ia langsung meringis pelan, tubuhnya terasa sangat pegal, seolah-olah ia benar-benar baru saja bertarung melawan ribuan zombie.
"Sayang, apa kamu juga merasakan tubuhmu pegal-pegal?" tanya Gibran sambil menghampiri istrinya dengan wajah khawatir.
"Merasakan banget, sayang. Aku bahkan seperti benar-benar membunuh ribuan zombie," jawab Shila sambil mengusap lengannya yang terasa nyeri.
"Kakek! Aku tadi menembak para zombie itu, dan mereka langsung mati, tidak bangun-bangun lagi!" cerita Kenan dengan penuh antusias, matanya berbinar bangga.
Gibran menatap Kakek Hasan dengan serius.
"Kek, itu tadi nyata atau cuma khayalan kami? Tapi kenapa tubuh kami rasanya sakit sekali?"
Kakek Hasan tersenyum tipis, lalu menatap mereka satu per satu.
"Itu bukan khayalan. Kalian benar-benar menghadapi para zombie itu. Hanya saja, jiwa kalian yang bertarung di dimensi lain. Tubuh kalian akan terbiasa nantinya," jelasnya dengan tenang.
Ia kemudian melanjutkan, "Boleh kakek tahu, senjata apa yang kalian gunakan saat melawan mereka?"
Shila mengangguk pelan.
"Aku menggunakan. panah, dan anak panahnya tidak pernah habis. Sedangkan Kenan menggunakan pistol, dan pelurunya juga tidak habis," jelas Shila.
Gibran ikut menambahkan,
"Kalau aku menggunakan pedang, Kek. Rasanya… sangat nyata. Bahkan terlalu nyata saat menebas kepala para zombie itu."
Kakek Hasan terlihat mengangguk puas, seolah sudah menduga semua itu.
"Itu adalah senjata yang tersembunyi di dalam liontin kalian. Kalian sudah berhasil membangkitkannya. Nantinya, senjata itu akan muncul setiap kali kalian membutuhkannya," ujar Kakek Hasan.
Shila menatap liontin di lehernya, lalu kembali menatap sang kakek.
"Jadi… cukup dengan fokus, senjata kami bisa keluar dengan sendirinya?"
"Benar," jawab Kakek Hasan singkat, namun penuh makna.
Suasana mendadak hening. Ketiganya saling bertatapan, menyadari bahwa kehidupan mereka tidak akan pernah sama lagi.
Di sudut lain, Kakek Hasan mengepalkan tangannya pelan.
"Semakin cepat mereka berkembang… semakin besar pula kemungkinan Rainal merasakannya…" gumamnya dalam hati, dengan raut wajah yang mulai dipenuhi kekhawatiran.
kembali berhembus pelan, seakan membawa pertanda bahwa ujian yang lebih besar sudah menunggu di depan.
********
Semakin hari, para zombie itu semakin ganas. Kini mereka tidak hanya keluar pada malam hari, melainkan juga mulai berkeliaran di pagi hari.
Ibu kota telah porak-poranda akibat serangan mereka. Di berbagai sudut kota, terlihat tubuh manusia yang tidak lagi utuh. Sebagian lainnya bahkan berubah menjadi zombie, menambah jumlah pasukan mengerikan itu.
Warga yang masih selamat berusaha melarikan diri. Dengan wajah penuh ketakutan dan putus asa, mereka meninggalkan rumah dan harta benda demi menyelamatkan nyawa.
Di tempat lain, Rainal terus memantau para zombie buatannya melalui layar laptop. Peta kota yang ditampilkan menunjukkan penyebaran zombie yang semakin luas.
Ia tersenyum puas, matanya berbinar penuh ambisi.
"Kenapa sampai sekarang Abah Hasan itu tidak juga keluar, Mas? Apa dia tidak berani?" tanya Teguh sambil memperhatikan layar.
Rainal terkekeh pelan.
"Itu tidak mungkin, Teguh. Mas yakin dia sedang menyusun rencana untuk membasmi para zombie. Tapi itu percuma saja," ujarnya dengan nada sombong.
Ia menyandarkan tubuhnya dengan santai, lalu melanjutkan,
"Zombie buatan Mas ini tidak mempan terhadap senjata apa pun."
Teguh mengernyit, tampak ragu.
"Masa tidak ada sama sekali, Mas?"
Rainal menggeleng pelan, senyumnya semakin lebar.
"Tidak ada. Hanya Mas yang bisa memusnahkan mereka."
Ia berhenti sejenak, lalu menatap layar dengan tatapan tajam.
"Memang dulu pernah ada ramalan… katanya akan muncul tiga anak yang bisa memusnahkan mereka," lanjutnya dengan nada meremehkan.
Rainal tertawa kecil.
"Tapi mana buktinya? Sampai sekarang pun mereka tidak pernah muncul."
Di balik kesombongannya, tanpa ia sadari, sesuatu mulai bergerak.
Tiga anak yang dimaksud dalam ramalan itu… perlahan mulai menunjukkan kekuatannya.
Dan saat waktu itu tiba, keseimbangan akan berubah.
Rainal masih menatap layar laptopnya dengan penuh kepuasan. Sementara itu, Teguh terlihat diam, seolah memikirkan sesuatu.
Melihat itu, Rainal melirik ke arah adiknya dengan senyum tipis yang mengandung sindiran.
"Kenapa diam saja, Teguh? Apa kamu masih ragu dengan kemampuan Mas?" tanyanya dengan nada merendahkan.
Teguh menggeleng cepat.
"Bukan begitu, Mas. Aku cuma berpikir… kalau saja aku juga bisa membuat zombie yang lebih sempurna dari mas , mungkin aku bisa membantu lebih banyak."
Rainal langsung tertawa kecil, namun terdengar sinis.
"Membuat zombie lebih sempurna dari mas?" ulangnya. "Teguh… Teguh… tidak semua orang punya kemampuan seperti Mas."
Teguh terdiam, tangannya mengepal pelan.
Rainal bangkit dari duduknya, lalu berjalan mendekati Teguh. Tatapannya tajam, penuh kesombongan.
"Zombie yang kamu buat dulu itu bahkan tidak bisa bertahan lama. Baru kena serangan sedikit saja sudah hancur," lanjut Rainal tanpa ragu menyakiti perasaan adiknya.
"bahkan sekarang zombie buatan mu dan kota mu sudah rata jadi tanah".
Teguh menunduk, rahangnya mengeras menahan emosi.
"Aku masih belajar, Mas…"
"Belajar?" potong Rainal cepat. "Dunia ini tidak menunggu orang yang masih belajar, Teguh. Lihat sekarang—kota sudah hancur karena ciptaan Mas, bukan milikmu."
Ucapan itu terasa seperti tamparan keras.
Rainal kemudian kembali menatap layar laptopnya, seolah-olah pembicaraan itu sudah tidak penting lagi.
"Kalau kamu tidak bisa membuat sesuatu yang sempurna, lebih baik jangan ikut campur," ucapnya dingin.
Teguh menatap punggung kakaknya dengan perasaan campur aduk marah, kecewa, tapi juga terluka.
teguh tidak terima dengan hinaan yang mas nya berikan.. dia harus melebihi mas nya gimana pun caranya.