Bismillah ....
14 tahun menikah tanpa dikarunia anak dan hari ini aku mendengar kabar jika suamiku menikah siri dengan selingkuhannya yang sudah memiliki anak darinya
Seluruh tubuhku mendadak bergetar nyaris limbung ke tanah. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.
Namun yang membuat dadaku lebih sakit lagi ternyata wanita yang dinikahi suamiku merupakan rekan kerjaku, perempuan yang dulunya selalu usil dengan kondisiku yang sudah puluhan tahun tidak bisa memberikan anak.
Di saat semua orang menuntutku menerima keadaan, aku memilih bertahan. Bukan untuk mengalah… tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah yang mereka kira.
Namun tanpa kusadari, perlahan ada hal lain yang mulai mengusik pikiranku. Mimpi-mimpi aneh, perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan, hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anak kecil yang memanggilku “Mama”.
Seolah… ada bagian dari hidupku yang selama ini disembunyikan.
Dan semakin aku bertahan di rumah itu, semakin banyak rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Naya tidak langsung mengajak pergi. Tangannya masih bertahan di bahu Adinda, tapi tatapannya kembali mengarah ke perawat itu—lebih tajam, lebih fokus.
“Bu,” ucapnya pelan, tapi jelas. “Kalau soal data Ibu gak bisa lanjut… kami paham.”
Wanita itu sedikit mengangguk, seolah lega.
“Tapi…” lanjut Naya, satu langkah maju. “Soal orang yang datang malam itu—itu bukan data, kan?”
Perawat itu terdiam. Naya tidak memberi jeda.
“Kami gak minta nama,” katanya lagi. “Cuma… ciri-ciri.”
Adinda ikut menatap, jantungnya kembali berdetak tidak teratur. Ini mungkin satu-satunya petunjuk nyata yang mereka punya.
Wanita itu menghela napas panjang. Tangannya saling menggenggam, jelas terlihat ia sedang berperang dengan dirinya sendiri.
“Kalau saya jawab…” suaranya pelan. “Kalian gak akan sebut nama saya di mana pun?”
“Enggak,” jawab Naya cepat. “Kami cuma butuh kebenaran.”
Beberapa detik berlalu, hingga akhirnya suster itu mulai berbicara.
“Wanita,” ucapnya perlahan.
Adinda dan Naya langsung fokus, mendengarkan seolah tidak mau melewatkan ucapan suster itu begitu saja.
“Usianya sekitar… hampir enam puluh waktu itu. Penampilannya rapi. Sangat terawat.” Tatapannya mulai kosong, seperti sedang menarik ingatan lama. “Bukan orang sembarangan.”
Naya sedikit menegang, matanya tak berkedip.
“Dia datang tidak sendiri,” lanjut wanita itu. “Beberapa orang. Seperti pengawal. Dan… ada satu pria yang terus bicara dengan dokter.”
“Dia yang ambil keputusan?” tanya Naya cepat.
Suster itu menggeleng. “Bukan. Semua tetap dari wanita itu.”
Adinda tanpa sadar melangkah maju. “Wajahnya… Ibu ingat?”
Perawat itu menatapnya lagi, lebih dalam.
“Tidak sepenuhnya,” jawabnya jujur. “Tapi… ada satu hal yang saya ingat jelas.”
Naya dan Adinda menunggu.
Wanita itu menunjuk pelipisnya sendiri. “Dia punya bekas luka kecil di sini. Tipis… tapi terlihat kalau diperhatikan.”
Dunia Adinda seolah berhenti.Tangannya langsung mencengkeram tasnya kuat.Bekas luka di pelipis, membuat pikirannya langsung menuju pada satu orang yang cukup dekat dengan dirinya.
“Dan…” lanjut wanita itu pelan. “Dia pakai parfum yang sangat kuat. Wangi khas. Sampai sekarang saya masih ingat.”
Hening sejenak, udara serasa sesak. Karena sesuatu di dalam diri Adinda… langsung runtuh. Langkahnya mundur satu dan matanya langsung membesar.
“Gak…” bisiknya lirih.
Naya langsung menoleh. “Din?”
Adinda menggeleng pelan. Tangannya naik ke pelipisnya sendiri, menyentuh bagian itu seolah memastikan sesuatu yang sudah ia tahu.
“Parfum itu…” suaranya mulai bergetar. “Aku ingat…”
Naya langsung fokus. “Siapa?”
Adinda tidak langsung menjawab.
Matanya kosong, tapi penuh. Potongan-potongan itu datang tanpa diundang—cara wanita itu berjalan, suara langkahnya, aroma yang selalu tertinggal setiap kali ia lewat. Dan bekas luka kecil itu. Yang dulu… sering ia lihat.
“Din…” suara Naya lebih tegas sekarang.
Adinda menelan ludah, Bibirnya bergetar. Namun akhirnya—
“Itu…” suaranya nyaris tidak terdengar.
Ia menutup matanya sebentar, seolah mencoba menolak. Tapi tidak bisa.
“…ibu tiriku.”
Deg.
Semua orang terperangah. Kalimat itu jatuh begitu saja, tapi dampaknya seperti menghantam sesuatu yang selama ini terkunci rapat di dalam diri Adinda.
Naya langsung membeku. “Apa?” tanyanya refleks, seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja ia dengar.
Adinda membuka matanya perlahan. Air matanya sudah jatuh tanpa bisa ia tahan lagi. Wajahnya pucat, napasnya tidak teratur, seperti seseorang yang baru saja dipaksa melihat sesuatu yang tidak siap ia terima.
“Dia…” suaranya bergetar, nyaris pecah. “Dia punya bekas luka di situ… dan parfumnya… sama…”
Tangannya gemetar hebat sekarang. Jari-jarinya mencengkeram ujung bajunya dengan kuat, seolah itu satu-satunya hal yang bisa membuatnya tetap berdiri.
“Dan usianya…” ia menelan pelan, mencoba menenangkan dirinya sendiri, meskipun gagal. “Waktu itu… memang sekitar itu.”
Naya menatapnya tidak percaya. Wajahnya berubah serius, bahkan ada sedikit keterkejutan yang tidak bisa ia sembunyikan.
“Tapi… dia kan—”
“Sudah meninggal,” potong Adinda pelan, tanpa menunggu Naya menyelesaikan kalimatnya.
Sunyi yang kali ini terasa lebih dalam. Lebih berat. Seolah udara di sekitar mereka ikut menahan napas.
“Tapi kejadian ini lima tahun lalu…” lanjut Adinda lirih, suaranya semakin pelan. “Dan waktu itu… dia masih ada.”
Naya tidak bisa langsung menjawab. Otaknya bekerja cepat, mencoba menyusun potongan-potongan yang sejak tadi mereka kumpulkan.
Wanita berkuasa. Operasi darurat. Data dihapus. Bayi tanpa identitas. Dan sekarang—ibu tiri Adinda. Semuanya terasa terlalu rapi, tepat dan sudah pasti disengaja.
Adinda memegang kepalanya, napasnya semakin berat. Ada tekanan yang tidak bisa ia jelaskan, seperti sesuatu di dalam dirinya berusaha keluar, tapi tertahan di satu titik yang sama.
“Aku gak ingat bagian itu…” ucapnya pelan, hampir seperti mengaku pada dirinya sendiri. “Aku gak ingat hamil… gak ingat melahirkan…”
Air matanya jatuh lagi, kali ini lebih deras.
“Tapi aku ingat dia…”
Kalimat itu justru terasa lebih menyakitkan. Karena artinya jelas—bukan semua ingatannya hilang.
Hanya bagian itu saja. Bagian paling penting. Bagian yang seharusnya tidak mungkin dilupakan oleh seorang perempuan.
Naya akhirnya mendekat, menggenggam bahu Adinda lebih kuat, mencoba menahan agar perempuan itu tidak benar-benar runtuh di tempat.
“Din… ini bukan hal kecil,” ucapnya pelan tapi tegas.
Adinda mengangguk pelan, meski matanya masih kosong, namun mencoba untuk tidak bingung dan takut. Karena untuk kali ini ada sesuatu yang mulai berubah. Sesuatu yang lebih tajam.
“Kalau benar dia…” bisiknya, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. “…berarti ini semua memang direncanakan.”
Naya menatapnya dalam. Ia tidak menyangkal. Karena semua yang mereka temukan memang mengarah ke sana.
Dan untuk pertama kalinya, mereka tidak lagi berdiri di posisi yang sama seperti sebelumnya.
Mereka tidak lagi sekadar mencari jawaban. Tapi mulai membongkar sesuatu.
Bersambung ....