Alvian Wira. Di panggung internasional, dunia mengenalnya sebagai Hades, Dokter Dewa, karena kemampuan medisnya luar biasa. Tapi setelah kembali ke Indonesia, dia hanya seorang dokter umum biasa yang mendirikan sebuah klinik kecil di pinggir kota.
Konflik kepemilikan tanah membawanya ke sebuah pernikahan dengan anak direktur rumah sakit terkenal, Clarissa Amartya. Dokter SpJP yang hanya ingin fokus dengan karirnya, tapi dipaksa menikah dengan ancaman mencabut izin prakteknya.
Clarissa yang dingin seperti kulkas, Alvian yang pecicilan dan suka menggoda. Dua kepribadian tinggal bersama, perlahan menumbuhkan perasaan.
Namun, ketika perasaan itu mulai tumbuh, masalah datang silih berganti, hingga mengungkap kebenaran tentang masa lalu Alvian. Tentang siapa dia sebenarnya, dan alasan kenapa dia menyembunyikan semuanya.
Apakah Clarissa bersedia menerima Alvian? Terlebih setelah mengetahui jika Alvian yang ia kenal selama ini, hanyalah topeng untuk menutupi identitas dan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayap perak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 : Pasien Kolaps
Klinik Aditya Medika, jam 20.10.
Alvian sekarang sedang menulis resep. Kebetulan pasien terakhir yang antre, anak demam, baru saja pulang. Mbak Sari beres-beres meja, memasukkan sisa perban ke laci.
Di luar, Kang Ujang dorong gerobak bakso, lewat. "Dok, udah mau tutup?"
"Belum, Kang. Cuma tutup pintunya aja, hujan soalnya, anginnya ngamuk," jawab Alvian.
"Ati-ati, Kang. Jalanannya licin," seru Mbak Sari yang baru kembali dari kamar mandi.
"Oke, siap."
Kang Ujang menjauh. Saat itu, tiba-tiba.
Bruak!
Suara orang jatuh. Keras. Tak jauh dari klinik.
Alvian dan Mbak Sari langsung lari keluar. Dipikir itu Kang Ujang, tapi bukan, itu bapak-bapak, kaos oblong, celana pendek, tergeletak di trotoar. Napasnya ngorok, muka pucat, bibir biru. Di sebelahnya tas kresek isinya kangkung berceceran.
"Pak! Pak!" Mbak Sari guncang bahu tetapi tidak ada respon.
Alvian berjongkok, melakukan cek nadi leher. Tapi tak ada. Napasnya sama sekali tidak ada, dan matanya terbalik.
"Henti jantung," gumam Alvian, lalu melirik jam tangannya yang sekarang menunjukkan waktu 20.13. "Mbak Sari, ambil ambu bag di laci dua. Telpon ambulans RS Sentral. Cepat."
Mbak Sari lari masuk. Tangannya gemetar tak karuan.
Alvian langsung dorong dagu bapak itu, membuka jalan napas. Napas bantu 2 kali, lalu tekan dadanya. Satu, dua, tiga. Kencang, dalam, tidak berhenti sampai keringatnya menetes.
Orang mulai berkumpul. Ibu-ibu, tukang ojek, anak-anak, bahkan Kang Ujang yang balik dengan meninggalkan gerobaknya di ujung jalan.
"Dok, dia nggak mati, kan?"
Mereka berbisik, tapi Alvian tidak punya waktu menjawab pertanyaan itu. Dia tak berhenti menekan, meski tangannya sudah terasa kebas dan kesemutan.
"..."
Dari ujung jalan yang lain, Mercy S-Class hitam bertahap menepi setelah melihat adanya kerumunan. Dia adalah Clarissa, yang baru saja pulang dari rumah sakit. Dia tidak turun. Juga tidak menurunkan kaca mobil. Bukan karena tidak peduli dengan keselamatan nyawa, tapi terpaku dengan kompresi yang dilakukan Alvian.
"Bagaimana mungkin seorang dokter klinik antah berantah memiliki teknik se-komplek itu?" batinnya.
Pada waktu yang sama Mbak Sari keluar dari klinik dengan membawa ambu bag. Dia berlari, menyerahkan itu kepada Alvian.
"Dok, ini!"
Tanpa membuang banyak waktu Alvian langsung memasangnya ke muka bapak. Memencetnya, terus menekan lagi. Gantian. Pencet, tekan. Pencet, tekan.
Tujuh menit kemudian, bapak itu batuk. Napas, tapi pelan. Nadi leher terasa, tapi itu juga lemah.
Alvian berhenti tekan. Cek napasnya, "Aman! Nyawanya tudak terancam." Dia angkat jempol ke Mbak Sari. Mbak Sari terharu sampai mau menangis.
Tepat saat itu ambulans RS Sentral datang. Sirine kencang, dua perawat turun membawa brankar.
"Pasien henti jantung, udah balik napas spontan jam 17:18," lapor Alvian cepet. "Nadi ada. Bawa IGD. Bilang dr. Clarissa yang jaga."
Perawat mengangguk paham. Mereka menaikkan pasien ke brankar, memasukkannya ke ambulans.
Wiu wiu wiu... Ambulans pergi.
Orang-orang tepuk tangan. "Hidup Dokter Dewa!" "Hebat, Dok!"
Alvian hanya terseyum sambil duduk di trotoar. Napasnya masih ngos-ngosan, sementara kaosnya basah karena keringat.
"Mantab, Dok. Kalau bukan Dokter yang turun tangan ...." Kang Ujang mengacungkan jempol.
"Sudah tugas, Kang."
__
Jam 21.05. Rumah Pondok Indah.
Klinik sudah tutup. Alvian baru mandi dan ganti kaos. Dia selonjoran di sofa, meregangkan tubuh yang pegal-pegal.
Dari lantai 2, Clarissa turun mau ambil air putih di dispenser lantai 1. Dia melewati lakban di anak tangga ke-7 tanpa rasa bersalah, tanpa menengok, tanpa menyapa.
Batas yang bisa dilewati olehnya, tapi tidak mungkin bagi Alvian. Saat mau kembali, Clarissa berhenti di tangga. Membuka mulutnya, "Tadi aku dengar ada yang kolaps di depan klinik. Bagaimana keadaannya?"
Alvian duduk. "Iya, selamat. Sadar dan langsung dirujuk ke rumah sakit."
Clarissa diem 1 detik. "Oh." Terus naik lagi sampai terdengar suara, "Cklek" tanda pintu kamar dikunci.
Alvian garuk kepala, senyum sendiri. "Oh," tirunya pelan. Tersenyum lagi sebelum lanjut selonjoran, sambil siulan kecil.
Di kamar, Clarissa lepas jas. Duduk di meja kerja, membuka laptop. Bukan kerja, tapi membuka folder. Nama folder, "Klinik - Laporan Insiden". Isinya kosong. Dia klik new document, mulai mengetik.
20.10. Pasien laki-laki, 50-an. Henti jantung di depan klinik.
Penolong: dr. Alvian Wira.
Tindakan: RJP (7 menit)
Hasil: Balik napas spontan. Rujuk RS Sentral.
Catatan: Teknik kompresi sesuai. Keputusan tepat. Tidak panik.
Save. Nama file: 12-05-2026. Tutup laptop.
Dia berjalan ke jendela karena mendengar suara musik. Lihat ke bawah, ternyata itu Alvian yang sekarang joget joget tidak jelas di tepi kolam renang.
Clarissa mendesis, lalu menutup gorden. Kembali ke meja, membuka jurnal kardiologi.
Tapi beberapa saat kemudian matanya kembali lagi ke laptop yang sudah tertutup. Menatap serius, lalu membuka laci, mengambil 2 tiket seminar Bali. Dipegang, satu miliknya, satu lagi masih kosong.
"Haruskah ...."
"Tidak!"
Dia menaruhnya lagi, menutup laci dengan kencang.
___
Di bawah, Alvian sudah selesai melepaskan penat. Duduk di kursi teras, melihat lakban di tangga. Sudah kusam maksimal, bahkan ujungnya sudah mengelupas.
Dia rogoh saku, menemukan cutter. "Jika itu lepas, bukankah tidak ada yang menahanku lagi?"
Senyum jahat muncul, tapi kemudian bayangan Clarissa muncul dengan mata melotot yang membuat Alvian sontak menyingkirkan pikiran-pikiran jahat itu.
"Nasib-nasib, suami takut istri."