Demi nafas Nonik, Santi OB miskin rela jual harga diri.
Demi warisan triliunan Opa Darwis, Dody CEO dingin butuh istri kontrak.
Satu tanda tangan di UGD, satu cap jempol Nonik yg sekarat.
Kontrak nikah 250 juta resmi dibuat.
Dia istri di atas kertas. Dia suami yg membeku.
Di antara mereka ada Nonik, bocah 5 tahun yang nyawanya jadi taruhan.
Bisakah hati sedingin es Dody luluh oleh tangis Santi?
Sementara Wati sang HRD dan Wandy sang tunangan siap menikam dari belakang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alya Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SANTI AMBIL PAKSA
MALAM DI RUMAH SAKIT K……
Santi berjalan gontai. Tubuhnya seolah-olah menyusut mengerdil karena pikirannya penuh dengan pertanyaan. Apa Sony bekamum tumbang waktu kecelakaan forklift 2 tahun lakamu. Masih terngiang-nging dipikirannya, mbah Tiwik berteriak kepadanya karena panik “Suami kau kecelakaan, San.” Mengingatnya sama saja menambal kembali lembaran yang sudah tersobek….kenangan kelam yang membuat dia merasa bersalah mengajak Sony ke kota S karena ibunya bu Ajeng tidak menyukai dirinya.
Sony lengkapnya Radenmas Marsono Kertono menyalahkan dirinya yang tidak mau serumah dengan ibunya, karena tidak betah dengan perlakuan ibunya memperlakukannya seperti pembantu.
“Kamu ini keturunan pembantu gak pantes jadi menantuku. Pantesnya jadi pembantuku, tukang bersih-bersih rumah. Sono bersihin lantai ini sampe bersih, kalau tidak awas.”
Pak Handoko yang akrab dipanggil Oom Gendut selakamu membelanya. Pasti kalau ada beliau bu Ajeng tidak akan berani memperlakukannya semena-mena. Dia tunduk pada tradisi bangsawan yang mengharuskannya tunduk pada suami, sang kepala kekamuarga yang berkuasa mutlak dalam kekamuarganya. Bibit, bebet dan bobot selakamu ditekankan terus oleh bu Ajeng bagaikan batu beban bagi dirinya. Bibit harus dari keturunan bangsawan. Bebet mempunyai harta yang melimpah. Bobot ada kualitas diri, nilai manusia, kualitas diri yang tinggi. Dia tidak memenuhi standarisasi menantu versi bu Ajeng.
Santi menggeleng-gelengkan kepalanya…..pening…..pusing……waktu dia nekad mau transit milik yang digagalkan Dody, dia mau muntah tidak tahan obat-obatan dalam ruang transaksi milik yang sempit dan penuh drama yang mencekam. Gudang tua berumur pukamuhan tahun ex-bangsa B yang dukamu pernah kuasai negara I tahun 30-an. Pengap…..panas….dia hampir pingsan kalau tidak dipekamuk Dody. Dody yang dukamu kaku,dingin bagai es sudah mulai mencair sedikit demi sedikit karena kelembutan Nonik, ketidakperdayaan dirinya,kemiskinannya paketan lengkap pendobrak hati yang membeku milik Dody Gumilang, CEO PT Gumilang Perkasa.
Santi membiarkan Dody menunggui Nonik yang sudah tidur karena obat tidur ringan karena dokter Bram takut memicu asma akut Nonik.
Terngiang-ngiang ditelinganya Ketika dokter Bram berkata.
“Maaf bu ini darurat, supaya Nonik tidak terlakamu merasakan sakit di jantung dan bronkitisnya karena akan memperparah keadaannya.”
Santi hanya menganggukkan kepalanya saja karena dia sendiri bingung harus menjawab apa karena tidak punya uang sama sekali untuk membayar perawatan Nonik. Kalau bukan karena pak Dody Gumilang dia tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi pada putri semata wayangnya.
Dia tidak melihat dua orang bermuka garang yang sedari tadi memperhatikan Gerak-geriknya dari kaca spion mobil besar hitam, bamber besar dengan pintu kokoh. Salah seorang berbisik-bisik pada temannya. Muka Codet karena mukanya garis melintang memanjang dimukanya karena main 11 tahun lakamu berebut seorang perempuan muda berinisial R yang jadi primadona di ruang istirahat tempat si Muka Codet menghabiskan malamnya dari pekerjaan rutinnya yang menghasilkan banyak uang baginya.
“Target siap.”
Bisik si Kerempeng tatoan di lengan kanannya dengan gambar ular hitam melingkar.
Si Muka Codet memberi tanda jempol pada si Kerempeng.
“Oke, target dikunci.”
Mereka menantikan moment yang tepat dengan melihat kiri-kanan dengan suasana rumah sakit K jam 10.30 malam. Saat yang tepat untuk melaksanakan rencana rapi yang sudah disusun dengan baik.
Si Muka Codet memberi tanda supaya membuka pintu mobil pelan-pelan Ketika di rasa target lengah tidak perhatian dengan sekelilingnya.
Sepi ….. malam ini benar-benar keberuntungan buat dua orang garang yang mau melaksanakan aksi mainnya dengan target Santi yang tidak menyadari bahaya yang mengintainya.
Mereka pelan-pelan merunduk. Mengendap. Menunggu moment yang tepat.mereka masih bersembunyi di pepohonan beringin yang kokoh di taman rumah sakit K karena pengalaman mereka yang berjibun dalam dunia kelam.
Jam 10.50.
Sepi sekali. Moment yang sudah ditunggu-tunggu dua muka garang itu untuk segera bertindak. Mereka sudah siap sedia buat Santi diam saja bila sempat berteriak supaya tidak mengundang orang untuk datang.
“Kamu tahu apa yang harus dilakukan. Target jangan sampai lepas.”
“siap 45….boss.”
Si Muka Codet mendengus kesal.
“Kamu tahu bayarannya gede. Tak ada kesempatan emas kedua.”
Si Kerempeng memberi tanda pada tangannya kode siap bertempur.
Dengan gerakan tiba-tiba secepat kilat mereka bergerak cepat. Tiba-tiba dunia Santi menjadi gelap, membawanya ke mobil besar hitam dan dengan cepat membuka pintu mobil belakang. Dengan tarikan kuat, mereka mendudukkan Santi dengan tangan si kerempeng memegangi Santi sedangkan si Muka Codet sudah didepan menyetir mobil.
Gerakan yang gesit. Tanpa keraguan. Tanpa ketakutan. Sejak lama mereka sudah kehilangan rasa itu karena sudah pengalaman berjibun menghiasi aksi banyak dunia kelam mereka lainnya.
Deru mobil meninggalkan asap pekat di belakang. Tak ada jejak tertinggal. Tak ada saksi mata. Semua buta.
LANTAI 3 RUANG MELATI TERCATAT DARURAT
Nonik tertidur dengan pulas. Tadi dokter Bram mewanti-wanti supaya ada yang menjaga Nonik paling tidak satu orang karena suster penjaga sibuk mengontrol pasien-pasien darurat lainnya.
“Pak Dody….Nonik ini pasien komplikasi akut jangan ditinggal-tinggal. Kami tidak bisa selalu memantau.”
Dody hanya menganggukkan kepalanya. Mukanya dingin sedingin hatinya karena pembekuan segala aset miliknya oleh opa Darwis. Sudah tidak punya apa-apa lagi. Habis-habisan. Rugi bandar.
Waktu itu dia pernah mengajak Nonik jalan-jalan supaya dapat menghirup udara kamuar tidak bau rumah sakit. Bau karbol dan obat. Bikin Nonik tambah sesak . jam mahalnya yang emas sudah tergadai dan kemungkinan tidak akan pernah dapat ditebusnya lagi. Jam mahal itu didapatnya waktu dia ulang tahun 25 tahun oleh opa Darwis yang berharap penuh kepadanya karena cucu satu-satunya. Tante Wati,, tidak punya anak. Anaknya, meninggal muda karena ketabrak kereta Ketika sedang lupa diri. Sepupunya itu tidak pernah akrab dengan dirinya sewaktu masih tinggal dengan tantenya.
Dia menunggu Santi menyusulnya setelah mereka sedikit bertengkar karena Dody bersikeras menyuruh Santi ke kamar ruangan sebentar menghirup udara kamar untuk menyegarkan pikirannya yang kusut karena banyak masalah yang menggelayut selama beberapa hari ini.
HP hitam miliknya berbunyi. Ada notif Wandy Tan. Muka Dody mengeras. Rahangnya gemeretuk kesal.
“Hallo sayang. Tidak kangen dengan aku.”
Muka cantik Wandy muncul di layar HP hitamnya tersenyum manis tetapi bagi Dody itu tak lebih dari seringai serigala yang melihat mangsa. Dirinya. Ya dirinya yang menjadi mangsa Wandy.
“Wandy mau apa kamu menghubungi aku. Belum puas kamu obrak-abrik hidup aku.”
“Oops…maaf sayang aku bikin kamu kesel ya.”
Dody segera mematikan panggilan video call itu sebelum Wandy sempat bicara banyak.
Dulu dia menerima saja bertunangannya dengan Wandy untuk menggoalkan kontrak perusahaan Lestari Global Pte Ltd milik keluarga Wandy Tan di negara S. Harga kontraknya milyaran rupiah. Benar-benar fantastis. Ketika itu, banyak mengundang polemik dikalangan masyarakat.
Seorang CEO dimata masyarakat adalah jabatan bergengsi, penuh gelimpang harta. Tahta,harta dan wanita. Tetapi bagi Dody hanyalah pertunjukan yang penuh sandiwara yang membosankan. Dia harus selalu tampil dengan sempurna bagaikan pangeran di negeri dongeng, sempurna dan mempesona.
Dody menengok jam di HP-nya. Jam 10.30. Kenapa Santi tidak muncul. Biasanya dia tidak betah berlama-lama meninggalkan anaknya yang disayanginya.
“Oke, San..aku tunggu kamu sampai lima menit lagi.”
Menit demi menit berlalu. Santi belum juga menunjukkan batang hidungnya. Dody mengusap keringat di dahinya. Dia mengernyitkan keningnya. Berpikir tidak mungkin Sinta tidak merasa khawatir dengan anaknya.
TING.
HP-nya berbunyi. Terkirim pesan. Nomor tidak dikenal. Pesan.
“Cepat selamatkan Sinta. Dia dalam bahaya.”
Mendapat pesan itu, hati Dody menjadi tidak karuan. Siapa barusan yang mengirim pesan. Mengapa nadanya seperti menunjukkan ancaman.
“Hei, kamu jangan diam saja. Cari istrimu.”
Segera Dody minta tolong salah satu suster yang menjaga ruangan kamar untuk sering-sering memantau Nonik. Dia mau mencari Santi.
Dengan perkataan permohonan yang singkat. Memohon suster penjaga tidak lengah karena Nonik kondisi parah karena penyakit gabungan jantung bawaan dan asma akut menahun.
TEMPAT TERSEMBUNYI-GUDANG BARANG
Santi menengok sekeliling tempat dia diambil paksa oleh dua orang tidak dikenal. Yang satu mukanya codet dan satunya lagi kerempeng lengan kanannya ada tattoo ular hitam.
“Hello, nyonya sudah bangun dari tidur….enak ya tidurnya…”
Si Kerempeng tertawa tergelak.
“Siii…siii….siiaapppa kalian……”
Santi ketakutan. Baru lihat orangnya saja menakutkan. Ketika dengar suaranya tambah takut…..
“Jangan takut nyonya. Aku tidak mau makan…”
Santi meringkuk di pojokan ruangan yang pengap penuh barang-barang tidak terpakai.
Dia sedih karena terpisah dari anak tersayangnya dan…..pak Dody. Ambil paksa. Ya ambil paksa.
TING
Si Muka Codet ambil HP di sakunya. Senyumnya merekah. Dia kelihatan membalas pesan yang masuk dengan notasi.
“Sudah siap. Aman 100 persen.”
Si Muka Codet memberi tanda pada si Kerempeng.
“Bawa target….”
Santi pandangannya menjadi gelap, serasa berada di ruangan sempit tanpa cahaya terang. Hitam….hitam.
RUANG VIP-LANTAI 7 GEDUNG ANGKASA
Wati sedang video call. Kelihatan si Muka Codet ketawa senang.
“Beres bu. 100 persen done.”
Wati menganggukkan kepalanya. Wanita setengah baya itu mendengus Ketika video call berubah ke mode siaganya. Big Boss. Wandy Tan melihat kepadanya dengan serius.
“Bagaimana. Beres.”
“Target terkunci.”
“Oke. Aku hubungi lagi. Aku siapkan transferan 200 juta.”
“Siap bu.”
Wati tampak senang sumringah di mukanya. Terbayang uang 200 juta cair tanpa kerja terlalu keras sudah tersedia.
Wati menyapu ruangan dengan matanya. Penuh dengan warna cerah bagaikan berada di negeri Pelangi. Kursi warna putih yang sengaja dia letakkan supaya dikala penat dia dapat duduk bersantai melepas penat. Meja direksi jati tua buatan pabrik Jati Meubel dari kota JP. Pabrik Jati Meubel termasuk pemasuk loyal PT Lestari Global Lte Ltd tetapi tidak sebesar PT Gumilang Perkasa yang pemasok terbesar ekspor meubel, handycraft yang pemasarannya mengalir deras .
Gedung ini milik properti PT Lestari Global Lte Ltd. Wandy selaku pemiliknya ke sini untuk program-program bisnis dengan perusahaan-perusahaan kecil dibawah kendali PT Lestari Global Lte Ltd. Samarannya PT Angkasa Bestari co kesannya pemilik propertinya perusahaan Angkasa Bestari yang sebenarnya dibawah kendali PT Lestari Global Lte Ltd. Hanya beberapa perusahaan besar lepas dari target, salah satunya PT Gumilang Perkasa milik Gumilang group yang susah dikendalikan.
Wandy minta Wati mengawasi propertinya. Jangan sampai Dody tahu ini property miliknya, karena dia bisa curiga kalau buat rencana-rencana tidak masuk akal. Gedung angkasa bernilai milyaran rupiah karena untuk mengelola bisnis keluarga Tan pemilik PT Lestari Global Lte Ltd.
Penuh dedikasi. Itu omong kosong. Apa itu dedikasi. Sebuah kata asing yang tidak masuk di kepalanya. Yang ada …..uang…..uang…..uang…… Tidak ada uang, dia tidak bisa melepas penat, bersukaria bahagia. Untuk apa sedih.kegembiraan. ya kegembiraan yang ceria. Wati mengangkat gelas minum cairan kuning pekatnya sambil berucap
“Cisss…”
TOK…..TOK…..TOK……
“Masuk.”
Si Muka Codet berdiri tertegun.
“kamu duduk disitu. Ya disitu.”
Tidak ada kursi. Hanya 1 kursi saja yang diduduki bu Wati.
“Target.”
“Eksekusi.”
Si Muka Codet pamit undur diri.
RUANGAN B-PELABUHAN T
Orang gemuk itu menyambut kedatangan si Muka Codet dan si Kerempeng dengan kegembiraan. Terbayang keuntungan besar yang didapat karena menerima target yang mahal. Bagi hasil 50:50 untuk kerja keras mereka kirim target ke negeri K.
“Kapal siap boss.”
“Oke.”
Santi masih merasa gelap. Berada di ruangan gelap itu tidak enak. Dia pernah berada di ruangan gelap ditinggal sendirian. Begitu penuh sepi tidak ada perhatian. Si Kerempeng tampak meraba sakunya. HP-nya bunyi notasi.
“Target angkut.”
“Oke boss. Laksanakan.”
Santi merasa tubuhnya seperti berayun-ayun karena seharian ini hanya makan pisang dan minum jus wortel, itupun karena Pak Dody memaksanya untuk memakannya.
Terdengar deru mesin kapal mendekat. Kapal Litona besar berbendera negara A sebagai samaran yang cerdik dari pemilik kapal yang sering disewa untuk angkut banyak target yang menguntungkan ke negeri K yang eksotis.
Banyak target sudah dikumpulkan. Semakin banyak target semakin menguntungkan. Dari buritan kapal, dibalik tiang pengawas, mister Chow ketawa lepas melambai-lambaikan tangan penuh gembira.
Mister Chow orang tegap mantan keamanan negara K yang disersi Ketika main antara K dengan negara KU yang ramai diperbincangkan di media massa. Hidup penuh aneka yang mewarnai hidup mister Chow. Pengalamannya berjibun dalam dunia kelam menghasilkan uang ratusan juta yang merupakan pekerjaannya yang sekarang.
“Bagaimana,,,,sekarang ?”
“Oke lanjut boss.”
Banyak target dimuat di kapal Litona termasuk yang dibawa si Kerempeng. Santi agak sempoyongan, mau muntah-muntah karena perutnya tidak enak efek kurang makan tiga hari. Makan seadanya saja karena fokusnya pada Nonik.
Mister memandang Santi. Dia menolong Santi berdiri ketika hampir saja jatuh dari tangga kapal. Santi memandang sekilas mister Chow.
Ketika ada anak buahnya mau bawa paksa Santi kedalam tingkap dasar kapal yang lebih luas dan lega, tangan mister Chow menepis dan memberi tanda supaya anak buahnya pergi saja urus target-target yang sudah masuk.
“Siapa nama kamu.”
“Santi.”
Walau mister Chow tidak begitu tahu bahasa negara I tetapi dia terbiasa ada di beberapa daerah di negara I dalam pelayarannya sehingga mempelajari beberapa dialek di beberapa daerah negara I. Walaupun hanya sekedar menyapa, menegur dan memperingatkan. Anak-anak buah yang ikut dengannya dari berbagai negara yang penuh masalah, sehingga demi perut mereka rela menjadi anak buahnya untuk menghidupi anak istri di rumah.
Santi boleh beristirahat di ruang khusus kapal untuk perawatan kesehatan karena dia kelihatan sakit dan lemas badannya.
Mister Chow turun untuk menyelesaikan transaksi membawa target yang sudah disepakati bersama 60:40. Dia hanya dapat 40 persen dari keuntungan bagi hasil sedangkan orang-orang itu 60 persen dengan dibagi beberapa orang lagi seperti dirinya yang berbagi juga dengan anak buahnya yang sudah dianggap bagian keluarganya sendiri.
“Pak Dody……Nonik…..dimana……aku.”
Mulut Santi komat-kamit kemudian jatuh terkulai di lantai kapal.
Bersambung