"Ingat posisi kita, Elena. Di luar kita adalah pasangan sempurna, tapi di dalam rumah ini, kita adalah dua orang asing yang kebetulan berbagi satu atap. Jangan pernah lupakan itu."
Elena adalah CEO Luminous Beauty yang ambisius. Baginya, hidup adalah tentang citra dan kesempurnaan visual. Namun, sebuah pengkhianatan di dewan direksi memaksanya bersekutu dengan pria yang paling ia benci, Adrian ,
sang penguasa Arsa Food Group yang dingin dan praktis.
Namun, di balik kemewahan hidup mereka, ada rahasia gelap yang terkubur. Saat dinding kebencian mulai runtuh oleh sesuatu yang tak terduga, Elena menyadari bahwa Adrian mungkin bukan hanya rekan bisnis/suaminya, melainkan dalang di balik tragedi masa lalu keluarganya.
Di dunia mereka, cinta adalah kelemahan, dan pengkhianatan adalah strategi. Saat kontrak mulai melanggar logika hati, siapakah yang akan hancur lebih dulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanessa_Write, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Sang Penyusup di Lantai Dansa
Adrian tidak melepaskan sedetik pun pandangannya dari pria paruh baya yang berdiri kokoh di hadapan mereka. Senyum di wajah Adrian terlihat begitu ramah, hangat, dan sempurna bagi orang awam atau kilatan kamera wartawan yang sesekali memotret dari kejauhan.
Namun, Elena yang berada di sisi pria itu bisa merasakan hal yang sama sekali berbeda. Genggaman tangan Adrian di pinggang rampingnya mendadak mengerat, otot-otot lengan pria itu menegang keras di balik kain tuksedo mahalnya. Aura intimidasi Adrian mendadak naik berkali-kali lipat, memancarkan gelombang dominasi yang begitu pekat, menekan atmosfer di sekitar mereka hingga terasa dingin dan mencekam.
"Tuan Hendrawan," sahut Adrian akhirnya. Suaranya terdengar sangat santai, mengalir begitu tenang namun memiliki ketajaman sedingin es yang sanggup menguliti lawan bicaranya. "Aku benar-benar tidak menyangka akan melihat seorang komisaris utama dari bank investasi terbesar di Asia Tenggara sudi meluangkan waktu berharganya untuk menghadiri pesta lokal seperti ini. Sebuah kejutan sekaligus kehormatan yang luar biasa bagi kami."
Pria bernama Hendrawan itu terkekeh pelan. Suara tawanya terdengar sangat kering dan kaku, seolah-olah pujian dari Adrian hanyalah angin lalu yang tidak memiliki arti apa pun. Matanya yang sipit dan tajam kembali melirik sekilas, menatap penuh minat ke arah kalung permata biru safir yang melingkar indah di leher jenjang Elena. Menyadari arah pandang itu, Adrian dengan gerakan yang sangat halus dan protektif langsung menggeser posisi berdirinya, menempatkan tubuh tegapnya tepat di depan Elena untuk menghalangi pandangan pria paruh baya tersebut.
"Dunia bisnis bergerak jauh lebih cepat daripada yang kita duga, Tuan Arsa. Dan langkah merger yang baru saja kalian umumkan ke publik tadi siang... jujur saja, sedikit mengacaukan beberapa rencana besar yang sudah disusun dengan sangat rapi oleh rekan-rekan saya di balik layar," ucap Hendrawan. Nada bicaranya tetap terdengar santai, mengalun tanpa beban, namun setiap suku kata yang keluar dari mulutnya membawa bobot ancaman yang tidak lagi tersirat.
Hendrawan kemudian sedikit memiringkan tubuhnya, menatap Elena dari balik pundak Adrian dengan senyuman kaku yang tidak pernah mencapai matanya. "Nona Elena... Anda benar-benar mengingatkan saya pada mendiang ayah Anda, Alexander. Dia juga seorang pria yang sangat berani, penuh ambisi, dan selalu menolak untuk tunduk. Namun sayangnya, keberanian yang terlalu besar tanpa ukuran yang tepat, terkadang menuntun seseorang pada jalan gelap yang tidak memiliki ujung."
Elena merasakan tenggorokannya mendadak kering kerontang. Kata 'jalan gelap' itu seolah merujuk langsung pada nasib misterius ayahnya sepuluh tahun lalu. Namun, Elena menolak untuk terlihat lemah atau gemetar di depan pria ini. Sebagai seorang CEO yang membawa nama besar Luminous Beauty, ia menarik napas dalam-dalam, menegakkan bahunya dengan keanggunan seorang ratu, dan membalas tatapan mengintimidasi dari Hendrawan dengan sepasang mata indahnya yang kini menatap tajam tanpa rasa takut sedikit pun.
"Terima kasih atas perhatian dan pujiannya yang sangat berharga, Tuan Hendrawan," jawab Elena dengan suara yang jernih, tegas, dan berwibawa. "Namun, mendiang ayahku selalu mengajariku satu hal yang sangat penting sebelum beliau pergi: jalan gelap yang tidak memiliki ujung hanya berlaku bagi mereka yang berjalan dalam ketakutan dan tanpa arah. Sedangkan aku... aku berdiri di sini bersama suamiku, tahu persis ke mana langkah kaki kami akan tertuju. Dan merger ini baru merupakan awal kecil dari perjalanan panjang yang akan kami tempuh."
Hendrawan tampak sedikit terkejut mendengar jawaban yang begitu berani dan diplomatis dari Elena. Senyum kakunya sempat memudar selama satu detik penuh, digantikan oleh kerutan tipis di dahinya sebelum akhirnya ia mengangguk-angguk pelan, seolah sedang menilai dan mengagumi kualitas dari mangsa baru yang ada di depannya. "Menarik. Sangat menarik. Rupanya 'Putri Kecil' Alexander tidak hanya mewarisi perusahaan ayahnya, tetapi juga sudah tumbuh menjadi seorang wanita yang memiliki taring yang cukup tajam."
Mendengar frasa 'Putri Kecil' keluar dari mulut Hendrawan, darah Elena seketika berdesir hebat. Seluruh tubuhnya menegang. Itu adalah panggilan khusus yang hanya digunakan oleh ayahnya di dalam rumah, panggilan yang sama dengan yang tertulis di balik mawar hitam misterius semalam. Ini adalah bukti mutlak dan tak terbantahkan bahwa pria di hadapan mereka ini, atau setidaknya organisasi gelap 'Syndicate' yang berdiri di belakangnya, terlibat langsung dalam konspirasi hilangnya sang ayah sepuluh tahun yang lalu.
"Tuan Hendrawan," potong Adrian dengan tegas, memutus konfrontasi tatap mata antara Elena dan pria tua itu. Suara bariton Adrian kini merendah, berubah menjadi sebuah nada ancaman yang sangat nyata dan berbahaya. "Pesta malam ini diatur dengan sangat indah oleh Tuan Wijaya, dan aku secara pribadi tidak suka jika ada tamu lain yang mencoba merusak suasana hati istriku dengan membawakan cerita-cerita masa lalu yang sudah basi dan tidak relevan lagi. Jika rekan-rekan di belakangmu merasa terganggu atau terusik dengan keputusan merger perusahaan kami, katakan pada mereka untuk menghadapi aku secara jantan di papan bursa besok pagi. Bukan dengan cara mengirimkan pesan kekanak-kanakan yang menakutkan pelayan di pintu gudang distribusiku."
Hendrawan tidak menunjukkan reaksi panik sedikit pun. Ia hanya tersenyum tipis, menolak untuk membantah maupun membenarkan tuduhan langsung dari Adrian mengenai sabotase kebakaran gudang semalam. "Nikmati malam mewah kalian yang indah ini, Tuan dan Nyonya Arsa. Namun selalu ingat satu pesan saya: di atas lantai dansa yang dilapisi marmer licin ini, satu langkah kaki yang salah atau terlalu terburu-buru bisa membuat kalian berdua terpeleset dan terjatuh bersama. Dan terkadang, kejatuhan dari tempat yang sangat tinggi seperti posisi kalian sekarang... bisa berakibat sangat fatal bagi nyawa kalian."
Dengan gerakan membungkuk hormat yang sangat formal dan penuh kepalsuan, Hendrawan berbalik. Tubuh paruh bayanya dengan cepat menyusup dan menghilang di balik kerumunan tamu VVIP yang sedang asyik mengobrol, meninggalkan Adrian dan Elena dalam keheningan yang luar biasa tegang di sudut ballroom yang megah itu.
Elena mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan di dalam dadanya. Kakinya mendadak terasa sedikit lemas, seolah seluruh tenaganya baru saja terkuras habis hanya untuk menghadapi pria itu. Ia menyandarkan sedikit bobot tubuhnya pada lengan Adrian. "Adrian... dia tahu soal panggilan itu. Dia benar-benar bagian dari mereka yang melenyapkan ayahku."
"Aku tahu, Elena. Aku tahu," jawab Adrian singkat, suaranya melembut namun matanya tetap menatap tajam ke arah kerumunan tempat Hendrawan menghilang, memastikan pria itu tidak kembali lagi. Adrian lalu mengalihkan pandangannya pada Elena, menatap istrinya dengan sorot mata yang dipenuhi kecemasan mendalam yang coba ia sembunyikan di balik wajah datarnya. "Dia adalah salah satu dari tiga petinggi inti 'The Syndicate' di negara ini. Kedatangannya malam ini bukan untuk merayakan atau sekadar memberi selamat atas merger kita, tetapi untuk memastikan apakah kita berdua benar-benar memegang kunci rahasia yang ditinggalkan oleh Alexander."
Adrian merapatkan posisi tubuhnya pada Elena, mempersempit jarak di antara mereka berdua, lalu berbisik dengan sangat intim di dekat telinga Elena. "Musik waltz baru saja dimulai oleh orkestra, Elena. Pegang tanganku dengan erat. Kita akan berjalan ke tengah lantai dansa sekarang juga. Seluruh pasang mata di ruangan ini, termasuk mata-mata mereka, sedang mengawasi setiap gerak-gerik kita. Kita tidak boleh menunjukkan sedikit pun celah atau rasa takut setelah diancam seperti tadi."
Elena mengangguk pelan, memercayakan dirinya sepenuhnya pada pria di sampingnya. Ia meletakkan tangan kirinya di atas bahu tegap Adrian yang kokoh, sementara tangan kanannya digenggam dengan sangat erat oleh jemari tangan Adrian yang besar dan hangat. Adrian melingkarkan tangan kirinya di pinggang ramping Elena, menarik tubuh wanita itu mendekat hingga jarak di antara dada mereka terkikis habis, menyatukan ritme napas mereka yang sama-sama memburu.
Di bawah kilatan megah lampu gantung kristal Swarovski yang memantulkan cahaya keemasan, dan di hadapan ratusan pasang mata pengusaha serta pejabat paling berpengaruh di negeri ini, Adrian membawa Elena bergerak dengan anggun, melangkah maju mundur mengikuti irama musik klasik yang mengalun memenuhi ruangan. Gerakan dansa mereka berdua begitu harmonis, mengalir tanpa cela bagaikan dua angsa di atas air, membuat mereka tampak seperti sepasang pengantin baru yang sedang benar-benar dimabuk cinta yang luar biasa dalam.
Namun, di balik keindahan gaun malam sutra merah marun dan kemewahan tuksedo hitam itu, mereka berdua sadar betul; setiap langkah kaki yang mereka ambil di atas lantai dansa malam ini adalah langkah berisiko tinggi di atas papan catur yang dikelilingi oleh bahaya maut yang siap menerkam kapan saja.
Saat irama musik berputar dan Adrian membawa tubuh Elena berputar di tengah lantai, pria itu menunduk, menatap langsung ke dalam manik mata indah Elena dengan kesungguhan yang belum pernah Elena lihat sebelumnya. "Tetaplah berada di sisiku, Elena. Apa pun yang akan terjadi setelah malam ini selesai, jangan pernah sekali pun melepaskan genggaman tanganmu dariku."
Dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan kontrak mereka dimulai, Elena menjawab tatapan itu bukan karena tuntutan bisnis, melainkan karena getaran aneh yang mendadak meledak di dalam dadanya. "Aku tidak akan pernah melepaskannya, Adrian. Tidak akan pernah."
Di tengah riuh rendah tepuk tangan para tamu yang mengagumi keserasian mereka, di balik senyuman indah yang mereka pamerkan pada dunia, aliansi mereka kini telah mengikat sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar saham perusahaan. Mereka telah mengikat takdir, nyawa, dan sekeping hati yang mulai goyah di tengah badai konspirasi yang mengerikan.
.........BERSAMBUNG.........