Kecelakaan pesawat mengakhiri hidup Aruna Maheswari— perempuan independent yang menolak akan adanya cinta dan pernikahan di hidupnya. Namun, saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh Sekar Calista Pranawijaya, seorang istri yang dibenci… dan memiliki dua suami.
Sekar dikenal sebagai perempuan temperamental yang membuat rumah tangganya berubah menjadi neraka. Dua pria yang seharusnya menjadi pelindungnya justru menunggu saat ia pergi dari hidup mereka.
Namun kini, wanita yang sama memilih diam.
Tidak marah. Tidak menuntut. Tidak meminta cinta.
Perubahan itu membuat segalanya terasa salah.
Karena di rumah penuh kebencian itu, bukan cinta yang paling berbahaya— melainkan rahasia di balik kematian Sekar, dan fakta bahwa istri yang mereka benci… telah berganti jiwa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sandri Ratuloly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32
******
Setelah kejadian Calista mengompol tadi di tubuh Arkana, kini keduanya sudah membersihkan diri dan tengah menuruni tangga menuju lantai bawah ke ruang makan.
"Malu banget! " Calista memukul pelan kepalanya seraya memejamkan mata saat ingatan saat ia mengompol tadi kembali terlintas di otaknya.
"Kenapa harus malu? Cuman perkara kamu ngompol saja, gak perlu malu atau kepikiran. Kita bahkan sudah berbuat lebih, bahkan kamu pernah ngompol di muka dan mulut aku. " Arkana menaik turunkan alisnya, mengelus lembut kepala Calista yang tadi wanita itu pukul.
"Yang itu beda! " sungut Calista kesal bercampur malu, kenapa harus nyambung ke area ranjang sih?!
"Sama aja, sama-sama keluar di tempat yang sama. " balas Arkana seraya mengecup cepat bibir manyun Calista.
"Damar kemana? Semalam bukannya dia tidur sama aku dikamar? " tanya Calista, ia baru mengingat soal Damar yang tidak ia temukan dikamar semalam dan tadi.
"Lagi kerja, gak tau kemana." jawab Arkana singkat, malas harus membahas tentang Damar.
"Dia ke kantor? Baru juga pulang, masa pergi lagi sih. " wajah Calista terlihat tertekuk sedih, padahal sudah senang sekali kedua suaminya pulang ke mansion. Calista jadinya tidak kesepian.
"Udah bangun? "
Calista yang tadinya menunduk sedih sontak mengangkat kepalanya saat mendengar suara seperti milik Damar.
"Damar? Kamu masih disini? Kirain aku kamu udah berangkat ke kantor. " Calista terlonjak kegirangan mendekati Damar yang sudah duduk di kursi meja makan, ia duduk disebelah Damar. Senyumnya merekah saat pipi kanannya mendapatkan ciuman dari Damar.
"Cuti dulu hari ini, masalah kemarin juga sudah diselesaikan, pekerjaan yang lain bisa aku selesaikan di disini. Masih kangen sama kamu, emang kamu gak kangen sama aku? "
"Kangen."
Arkana mencebik bibirnya melihat kemesraan dia orang disebelahnya ini, padahalkan ia juga mau, ia juga kangen sekali kepada Calista.
"Sayang ambilin makanan untuk suamimu ini dong. " pinta Arkana memecahkan kemesraan suami istri itu.
"Ah iya, kamu mau makan apa? Hari ini lauknya banyak ya, mungkin karena kalian berdua udah pulang ke mansion. " Calista beralih pada Arkana yang posisi duduknya disebelahnya bagian kiri.
"Kamu ambilin apa aja, sayang. Aku gak pilih pilih makanan. "
"Oke, kamu Damar mau sekalian aku ambilin makanannya? " Calista berdiri, mulai mengambil beberapa lauk makanan ke piring Arkana yang dipegangnya. Ia sekalian menawarkan diri pada Damar, kali saja pria itu mau ia layani mengambil makanan.
"Boleh, lauknya kamu ambilin apa aja. " kata Damar lembut seraya mengelus pinggang ramping Calista yang sekali kali ia remas dengan gemas.
"Tangan nakal! " Arkana menyentil punggung tangan Damar yang sibuk meremas pinggang Calista hingga turun sampai ke bawah.
"Terserah."
"Jangan berantem, kalian berdua ini sebenarnya ada masalah apa sih? Kalau ketemu pasti adu mulut dan tatap tatapan tajam begini. " lerai Calista, dia duduk ditempatnya agar tatap tatapan tajam dari dua suaminya itu berhenti.
Ia tidak mau pertemuan kembali mereka diisi dengan berantem tak jelas.
"Mukanya ngeselin. " ucap Arkana tanpa bersalah, dia mengecup pipi kiri Calista sebagai tanda terimakasih karena sudah mau melayaninya mengambil makanan untuknya.
Walau hanya hal kecil, Arkana begitu senang dan tersentuh. Akhirnya keinginannya dulu bisa ia rasakan sekarang.
Sedangkan Damar, ia tidak membalas. Tidak ambil pusing membalas Arkana yang memang terlihat begitu kekanakan kalau sudah berada di sekitaran Calista, padahal dulu Arkana terkenal begitu diam dan bermulut pedas kalau sudah menghadapi Calista dulu yang selalu mencari perhatiannya karena merupakan kembaran Atharva.
"Bagaimana urusan pekerjaan kalian sekarang, apa sudah membaik dan berjalan lancar? " tanya Calista memulai obrolan sembari sarapan pagi yang begitu terlambat.
"Sudah terselesaikan semuanya, perusahaan juga sudah mulai berjalan stabil. " jawab Damar, walau jawaban ini sudah ia berikan kemarin saat Calista bertanya— tak masalah, ia tau bahwa Calista ingin membuka obrolan saat ketiganya sudah kembali bertemu karena kesibukan Damar dan Arkana di perusahaan.
“Aku juga sudah menyelesaikan semuanya. Perusahaan keluargaku kini berjalan jauh lebih baik. Beberapa perusahaan yang sempat membatalkan kerja sama pun sudah kembali menandatangani kontrak proyek, yang rencananya akan dimulai besok.”
Ia menarik napas sejenak, lalu melanjutkan dengan nada yang sedikit lebih berat. “Sekarang aku jadi semakin sibuk. Hari-hariku ke depan sepertinya akan benar-benar tersita untuk mengurus dua perusahaan sekaligus.”
Bila dilihat secara detail, ada senyum kecil yang terbit di sudut bibir Arkana. Dan Damar melihat itu.
Walau tak begitu dekat dan akrab, Damar tau betul bahwa semua itu adalah keinginan dan rencana Arkana dari dulu.
Sepertinya rencana pria itu akan terselesaikan sebentar lagi, dan mungkin dirinya juga.
Apa semua ini akan berakhir nanti? Dan yang itu juga...?
******
Walau hari ini ia cuti kerja dari perusahaan, bukan berarti Arkana bisa bersantai ria di mansion. Tidak. Setelah menyelesaikan sarapan paginya yang sudah lewat waktu, pria itu justru kembali disibukkan dengan setumpuk pekerjaan yang seakan tak ada habisnya.
Belum lagi, tiba-tiba ia menerima laporan dari sekretaris keduanya di perusahaan keluarga—sebuah kabar yang langsung membuat dahinya berkerut. Ia harus menghadiri rapat dadakan secara online dengan salah satu perusahaan rekanan.
Padahal, sesuai kesepakatan awal, urusan ini seharusnya ditangani oleh Atharva.
"Senang sekali rasanya bisa bekerja sama dengan seseorang yang benar-benar memahami bidang ini. Saat pertama kali mendengar kabar yang beredar, saya tidak percaya bahwa orang yang bekerja di balik layar selama ini adalah Anda, Tuan Arkana. Namun, setelah saya bertemu langsung dengan saudara kembar Anda itu… saya akhirnya percaya dengan apa yang ramai dibicarakan belakangan ini."
Arkana tersenyum samar mendengar pujian yang dilayangkan untuknya, dan kata cemoohan diberikan kepada Atharva.
Ini yang ia inginkan sedari dulu, walau semuanya dimulai dari penuh pengorbanan kebohongan di dalamnya.
“Kembaran saya itu masih dalam tahap belajar, Pak Dani. Saya sendiri juga tidak sehebat yang Anda katakan—saya juga masih harus terus belajar,” ujar Arkana dengan nada rendah hati, meski terselip sindiran halus untuk Atharva.
“Anda terlalu merendah diri. Padahal, yang lebih dulu terjun ke dunia bisnis memang saudara kembar Anda, tapi dalam hal kemampuan… Anda benar-benar tidak ada tandingannya. Saya sangat kagum.”
Arkana berusaha keras menyembunyikan senyum miring yang hampir saja terbit di sudut bibirnya. Ini dia… tepat seperti yang ia inginkan.
Perlahan, tanpa terlihat mencolok, ia mulai menarik satu per satu orang agar berpihak kepadanya. Dari para investor yang menjalin kerja sama dengan perusahaan keluarga, hingga para karyawan yang selama ini hanya mengikuti arus—semuanya akan ia pengaruhi dengan caranya sendiri.
Ia akan menunjukkan, dengan bukti nyata, siapa yang benar-benar layak diandalkan. Siapa yang bekerja, dan siapa yang hanya menikmati hasil.
Dan ketika saat itu tiba—saat semua orang sudah berdiri di belakangnya—Arkana tidak akan ragu. Ia akan menyingkirkan Atharva… bahkan kedua orang tuanya sekalipun, dari posisi yang selama ini mereka kuasai.
Suasana rapat yang sempat hening kembali terusik oleh suara Pak Dani yang terdengar penuh keyakinan.
“Bukankah seharusnya perusahaan ini berada di tangan Anda, dibandingkan dengan saudara kembar Anda yang… tidak memberikan kontribusi berarti itu?”
Arkana menundukkan pandangannya sejenak, seolah mencerna ucapan tersebut. Padahal, di dalam hatinya, ia justru merasa puas.
Ia mengangkat wajahnya kembali, menampilkan ekspresi tenang yang nyaris tak terbaca.
“Saya rasa… setiap orang memiliki perannya masing-masing, Pak Dani,” jawabnya diplomatis, suaranya tetap rendah dan terkendali. “Saya hanya melakukan apa yang menjadi tanggung jawab saya.”
Namun, di balik kalimat sederhana itu, tersimpan ambisi yang jauh lebih besar.
Karena bagi Arkana, ini bukan lagi sekadar tentang pekerjaan.
Ini tentang mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi miliknya.
******
😒😒😒😒
lanjuut kak ,,
sad tu bukan berarti calista meninggal ,, buat dy menghilang aj ,,
Aruna di tubuh calista
apa kah arkana juga terlibat???
krn waktu damar kerjaa di kmr mereka arkana pun melihat apa yg di kerjakan damar ,,
ad sesuatu niih ,,
aaaaa kak author jgn di gantung dooonk ,, 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
makin seruuu niiih ,,
ad rahasia yg Blum terungkap niii ,, ap yg lgi di kerjakan damar😁😁😁🤭🤭🤭🤭
terkadang kesalahan org tua justru ank yg jd pelampiasan ,,
semangat trus arkana ,,
bukti ny skrang km sukses ,,
jgn yg aneh2 yx damar ,, 👍👍👍
next kak
waaaah Atharva km slah org ,,
dy buukan. sekar yg cengeng dn manjaaa ,,
dy arunaaa si ratu bisnis ,,
jgn maen maen ,, jgn maen maen ,, 🤭🤭🤭