NovelToon NovelToon
Sebait Doa, Sekeping Asa

Sebait Doa, Sekeping Asa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:848
Nilai: 5
Nama Author: Alvinoor

"Tuhan!, tidak banyak yang ku pinta, hanya kuatkan hati ku, bimbing langkahku, agar aku selalu sabar dan ikhlas dengan semua kehendak dan ketentuan mu ini".

Kisah perjuangan hidup seorang anak manusia, seorang remaja miskin, putra dari seorang penderita odgj bernama Kaenan.

Hinaan, caci maki, fitnah dan perundungan bahkan kekerasan fisik, sudah menjadi lauk makan sehari hari.

Meskipun hidup dalam kemiskinan dan tak punya siapa siapa, satu hal yang masih di yakini Kaenan, dia masih punya Allah dan doa doa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvinoor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Syafea mengalami dilema, ingin bicara jujur, tetapi takut, terus berdusta, hatinya seperti semakin terasa sakit karena rasa berdosa nya.

"kau nampak dekat sekali dengan nya" ujar Syafea menatap kearah gadis cantik itu.

"Kami bersama semenjak dia berusia dua tahunan, hingga sekarang, aku sangat menyayangi nya, mungkin hanya aku yang menyayangi nya di Dunia ini, disaat semua orang menghina, mengejek, mencaci maki nya, bahkan memfitnah keji demi untuk melihat dia disakiti, semua orang akan tertawa puas melihat dia menangis kesakitan, seolah olah dia pernah salah kepada Dunia ini, sehingga Dunia dengan begitu kejam menghakimi nya, mungkin dia aib bagi orang-orang kaya, anak dari seorang wanita gangguan jiwa, namun tahukan kau?, Bu Limah, meskipun gangguan jiwa, tetapi memiliki hati nurani yang sangat putih, cinta kasih yang tulus, dari pada orang orang kaya yang sok suci, padahal hati mereka penuh kotoran, dosa apa yang telah dia lakukan?, sehingga seisi Dunia jijik kepada nya, dia tidak pernah Mita dilahirkan oleh siapa?, dipelihara dan dibesarkan oleh siapa?, hanya Dunia terlampau kejam menghakimi nya!" lantang suara Aisyah disela Isak tangis nya.

"A… a… ak… aku" ....

Gagap suara Syafea, seakan tercekat di tenggorokan nya yang tiba-tiba terasa kering. Apa yang dikatakan oleh Aisyah, terasa seperti pedang tajam yang mengiris iris hati nya.

Air mata nya jatuh berderai tak lagi mampu dia tahan, dadanya terasa sesak.

"A… a… ap… pa kesalahan nya kepada ku?, sehingga kebencian seakan membutakan mata ku?, seorang anak muda berbadan kurus dan ringkih seperti itu, jangankan mengganggu ku, menatap mataku saja dia tidak berani, lalu kenapa aku selalu ingin melihat dia sengsara, sekarang setelah semua keinginan ku tercapai, apa aku puas?, apa aku bahagia?, oh langit, kenapa permainan nasib sekejam ini kepada ku?" Isak tangis Syafea.

Seorang dokter datang, berdiri menatap kearah tuan Irfan dan keluarga nya.

"Apa kalian mau menjenguk pasien?" tanya nya ramah.

"Kalau boleh dok!" sahut tuan Irfan.

"Boleh, tetapi dari luar ruangan saja, kalian bisa melihat lewat kaca, tetapi jangan ribut, ayo ikuti saya!" ajak dokter itu.

Mereka masuk kedalam ruangan yang cukup besar, dengan sebuah pintu di sisi kanan, dan ada sebuah jendela kaca besar.

Dibalik jendela kaca besar itu, terlihat tubuh Kaenan terbujur tanpa daya, dengan alat bantu nafas serta berbagai alat monitor terpasang di dada nya.

Saat menatap kearah Kaenan, tiba-tiba mata bu Shanty terbelalak melihat tanda Brahma di dada kanan Kaenan , sebuah tanda lahir berwarna merah darah, sangat mirip dengan gambar seekor burung Rajawali yang sedang menyambar mangsa.

Tanda lahir boleh sama, namun yang identik mungkin satu diantara satu milyar manusia.

Tiba-tiba tubuh bu Shanty ambruk jatuh kelantai, untung Aisyah yang berada didekat wanita itu cepat merangkul nya, jika tidak, tubuh bu Shanty akan terhempas dilantai.

Beberapa petugas segera membawa bu Shanty keatas Brankar untuk mendapatkan perawatan.

Tuan Irfan mendampingi istri nya yang pingsan setelah melihat Kaenan tadi.

Sedangkan Syafea, jatuh dengan dengkul menghantam lantai dan dahi nya ditempelkan ke kaca, air mata nya jatuh berderai.

Seandainya nya waktu bisa di putar ulang, ingin sekali rasanya dia memperbaiki sikap dan perilaku nya terhadap Kaenan. Namun segala nya sudah serba terlambat.

Beberapa saat kemudian, Bu Shanty siuman dari pingsan nya, yang pertama kali ditanyakan nya hanya Kae.

"Mas!, mana Kae?, aku seperti bermimpi melihat putra ku terbaring penuh darah, mana dia mas?" tanya wanita itu duduk diatas tempat tidurnya.

"Sudahlah!, kau istirahat saja dulu, jangan terlalu banyak pikiran" sahut tuan Irfan.

Didepan ruang UGD, terlihat Aisyah dan ummi Nazeha masih duduk di atas kursi ruang tunggu, saat pintu ruangan terbuka lebar, dan sebuah Brankar di dorong keluar.

Aisyah dan ummi Nazeha berdiri berbarengan, menatap kearah Kaenan yang sudah membuka mata nya, menatap kearah mereka.

Bukan ruang kelas satu, apalagi ruangan VVIP, hanya ruang kelas dua yang mampu Kiai Nuruddin siapkan untuk Kaenan.

Kini segala macam alat monitor sudah dilepaskan dari tubuh Kaenan, begitu juga dengan alat bantu nafas.

Air mata Aisyah kembali tumpah saat bersimpuh di sisi tempat tidur, menatap tubuh kurus ringkih itu terbaring tak berdaya.

"Bagai mana perasaan mu saat ini adik?" tanya Aisyah disela sedu sedan nya.

"Seluruh tubuh Kae seperti mati rasa kak, ba… bagai mana keadaan ibu?" tanya Kaenan lemah.

Aisyah tidak mampu menjawab pertanyaan dari anak muda itu, air matanya semakin banyak yang tumpah.

"Bersabarlah nak!, jangan pikirkan macam macam, pikirkan kesehatan mu saja dulu, kita hanya berusaha, namun segala keputusan berada di tangan Allah" suara ummi Nazeha lembut, membuat orang yang mendengarkan merasakan kedamaian di dalam hati nya.

Pintu ruang rawat inap kelas dua itu terbuka, tuan Irfan dan nyonya Shanty serta Syafea masuk kedalam ruangan itu.

Mata Kaenan membulat liar, dengan bibir pucat bergetar, saat melihat kedatangan ketiga manusia anak beranak itu.

"Sa… sa… sa… ya, tidak melakukan apa apa tu… tu… tuan!" suara Kaenan tergagap lemah, tubuh nya bergetar.

Tiba-tiba hati tuan Irfan terasa teramat perih, seperti di iris iris melihat penderitaan putra yang selama ini dia harapkan bertemu itu.

Tetapi saat ini, dia bertemu dengan putra nya, bukan sebagai seorang ayah yang di rindukan kehadiran nya oleh sang putra, tetapi sebagai seorang manusia yang telah menorehkan trauma psikis yang dalam dihati sang putra.

Mata nyonya Shanty hanya mengerjai bingung beberapa saat, hingga Syafea menyingkap selimut yang menutupi sebagian tubuh Kaenan, memperlihatkan tanda lahir di dada anak muda itu, barulah wanita cantik itu meraung menangis, berlutut di samping Brankar.

Tangan Kaenan bergerak lemah, menggapai tangan Aisyah.

"Kak!, aku tidak melakukan apa apa, demi Allah aku tidak melakukan apa apa! Suara nya memohon kepada Aisyah agar mempercayai nya.

"Tentu saja kau tidak melakukan kesalahan adik!, kau tidak salah, hanya nasib yang salah, terlahir pada saat dan tempat yang salah!" ucap Aisyah terasa menusuk kedalam liang telinga tuan Irfan dan Syafea.

"Kae putra ku!, Kae putra ku!, ya Allah, aku yakin kau Kae ku" Isak tangis nyonya Shanty terasa menusuk hingga ke ulu hati, membuat ummi Nazeha turut terisak menangis.

Syafea memberanikan dirinya melangkah ke sisi Brankar, menegur dengan suara lirih, "adik!" hanya itu saja yang mampu terucap dari bibir nya.

"Ma… maaf kan saya nona!, maafkan saya, saya… saya tidak sengaja melakukan nya!" suara Kaenan bergetar.

"Maafkan papah Kae!, papah salah pada Kae!" suara tuan Irfan bergetar saat mengucapkan kata maaf, bola matanya berkaca kaca.

"Papah?, papah siapa?, dan tuan siapa?" tanya Kaenan gagap.

"Aku papah mu Kae, papah kandung mu!" ....

"Tidak!, tidak!, tuan pasti salah, pasti salah, Kae hanya anak seorang wanita gila, ya wanita gila!, kakak!, aku mau ketempat ibu!" ucap Kaenan lemah.

Tuan Irfan tertunduk pilu, kepedihan hati nya datang menerpa. Sesungguhnya siksaan yang paling besar itu bukan tubuh yang disakiti, tetapi hati yang terluka karena rasa penyesalan. Dan itu sekarang telah dirasakan oleh tuan Irfan dan Syafea.

Bertahun tahun mereka menahan kerinduan dalam kepingan asa yang masih tersisa. Namun saat pertemuan terjadi, mereka berdiri di sisi jurang yang berbeda, jurang yang mereka ciptakan sendiri. Orang yang mereka rindukan, meskipun sangat dekat, namun terasa sangat jauh, bagai bayang bayang fatamorgana, dekat namun tak tersentuh, jauh namun tak tergapai.

Tidak ada kata kata yang mampu Syafea ucapkan, semua membuncah menjadi sebuah penyesalan panjang. seandainya!, seandainya!, seandainya!, seandainya. Ya hanya itu yang ada di dalam hati gadis cantik itu. Namun seandainya yang sudah tidak ada memiliki makna lagi.

Satu satu nya wanita yang dekat di hati Kaenan hanya Aisyah seorang, gadis cantik yang menerima dirinya apa adanya semenjak dahulu, tanpa pernah mengungkit ungkit siapa diri nya.

Kaenan menatap kearah Aisyah yang duduk didekat kepala nya, "kak, aku tidak kenal mereka, aku bukan anak mereka kak!" ....

"Assalamualaikum!" Kiai Nuruddin muncul diambang pintu ruangan.

"Wa Alaikum salam!" sahut mereka semua secara berbarengan.

"Pak Irfan! Sekeluarga, biarkan dulu Kaenan dengan keadaan nya sekarang, luka selama bertahun tahun, tidak mungkin bisa di sembuhkan hanya dalam waktu beberapa hari saja, biarkan kami memberikan pengertian perlahan lahan kepada nya, insyaallah dia akan mau memahami nya, jadi saran saya, bersabarlah dahulu, jangan paksa dia menerima keadaan secepat ini, bukannya menerima, yang ada dia akan syok, tetapi yang penting buktikan jika kalian ber sungguh sungguh menyayangi nya" ujar Kiai Nuruddin memberikan pendapat nya.

"Kiai benar Syafea!, sembilan tahun waktu yang panjang, bukan waktu yang singkat, ditambah lagi kita memiliki banyak kesalahan kepada nya, rasanya sangat wajar jika Kae menolak keberadaan kita" ujar tuan Irfan bersedih, matanya berkaca kaca. Kesombongan dan keangkuhan nya selama ini sirna begitu saja.

Tuan Irfan, Kiai Nuruddin, dan Syafea duduk diluar ruangan, membicarakan langkah langkah kedepannya seperti apa.

Sementara di dalam ruangan, terlihat ummi Nazeha, Aisyah dan Bu Shanty, duduk bersimpuh di samping tempat tidur.

Bu Shanty, dengan berurai air mata, terus membelai rambut Kaenan.

"Nak!, ini ibu kandung mu, dia yang telah mengandung dan melahirkan diri mu, tanpa dia, kau bukan siapa siapa nak, kau harus belajar menerima nya sebagai ibu mu nak, ingat sorga itu di telapak kaki ibu, dan neraka pun begitu pula" ujar ummi Nazeha.

Kaenan hanya diam, sambil menggelengkan kepala nya perlahan, hati belum bisa menerima kenyataan yang ada.

"Ibu ku bagai mana ummi?" hanya pertanyaan itu yang ada di kepala Kaenan saat ini. Tiba-tiba saja dia merindukan wanita gangguan jiwa berhati malaikat itu lagi.

Bayangan hari hari terakhir bersama ibu nya terbayang kembali, bagai mana otak wanita itu tiba-tiba sembuh tanpa sebab apapun.

Bagai mana dia tidur dalam dekapan seorang ibu yang seutuh nya. Petuah serta nasehat yang diberikan wanita itu untuk nya.

Tiba-tiba dada Kaenan terasa sesak, air mata nya luruh tak terbendung lagi.

"Ibu!… ibu!… Kae kangen ibu, Kae ingin di peluk ibu lagi!" bisik nya parau.

...****************...

1
Was pray
langkahmu masih panjang kae ! tapi semua harus dirajut sejak dini, sepotong baju butuh beberapa proses untuk mewujudkannya, mulai dari seirat dipintal menjadi benang, benang ditenun menjadi kain baru kain dijahit menjadi baju, jadi semua butuh ikhtiar untuk mewujudkannya, berdoa tanpa usaha berarti pemalas, berusaha tanpa doa berarti sombong, jadi ikhtiar dan doa harus berjalan beriringan, benang tak akan jadi baju jika hanya diam tanpa mau dirajut demikian juga cinta dan cita2 kae
Hentri Gunawan
bagus dan buat pelajaran
Was pray
kapan kaenan mau hidup damai? waktu miskin diinjak injak oleh ortunya sendiri, setelah diketahui kae anak orang kaya bukan makin tenang hidup kae malah tambah runyam, diperalat oleh keluarga ortunya demi harta
Was pray
harta adalah fitnah yg mempirak porandakan segalanya, harta bisa menjadi barokah tapi juga gak laknat jika ditangan yg serakah
Was pray
memaafkan belum tentu harus menerima kehadirannya kyai! takdir anak dan orangtua kandung memang tidak bisa diubah kyai, mengakui tidak harus menerima, durhaka itu jika si anak gak mau mengakui kalau dia orangtuanya kemudian berbuat dholim kepadanya , tidak berbakti terhadap kedua orangtuanya yg Sholeh/Sholehah, juga jika kamu diposisi kaenan apakah yg kau katakan sanggup kau lakukan kyai Nurudin? ceramah itu mudah melaksanakan apa yg diceramahkan itu yg belum tentu bisa
Was pray
kelurga pak Irfan yg waras akal budinya cuma Bu shanty, pak Irfan hanya kebetulan darahnya mengalir di tubuh kaenan, syafea bukan kakak kaenan hanya takdir yg membuat keduanya terpaksa lahir dari ibu dan bapak yg sama, orang2 seperti gak pantas dapat gelar ayah dan kakak kandung, luka hati dan penderitaan yg disebabkan oleh sosok orang yg terpasang berkedudukan jadi ayah dan kakak kandung lebih dalam lukanya dan tak kan hilang selamanya , pak Irfan syafea lebih rendah dari binang babi yg najis dan haram
Was pray
nasib tragis tahfid. Al-Qur'an , hilang dari orangtuanya sampai2 ortunya gak nyadar, biasanya ortu akan ada ikatan batin dengan anak kandungnya sendiri,ini ortu apaan sih pak Irfan itu?disiksa ortu dan kakak kandung sendiri. cek cek cerita tragis bagi umat muslim yg taat beibadah
Was pray
yah MC nya lemah .. apagunya IQ tinggi tapi gak ada nyali untuk membela diri, umat Islam memang diajarkan untuk selalu welas asih terhadap sesama, mengalah demi kebaikan tapi ya jangan keterlaluan dengan pasrah menerima nasib ketika dilecehkan dan direndahkan oleh orang tanpa sedikitpun membela diri, lama2 mati konyol tuh kaenan, miskin harta gak apa2 tapi Islam tetap mengajarkan umatnya untuk membela diri jika itu sudah melati batas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!