Perang dahsyat di Alam Kegelapan pecah, darah mengalir bagai sungai, dan takdir para makhluk abadi terguncang. Demi menyelamatkan nyawa putra tunggalnya dari kematian yang pasti, Raja Vampir membuat keputusan berat: ia melemparkan putranya, Liam, ke gerbang terlarang yang menghubungkan dunia kegelapan dengan dunia manusia. Di sana, sihirnya dibatasi, kekuatannya dikunci, dan ingatannya sedikit banyak dikaburkan — supaya dia bisa hidup tersembunyi, selamat dari musuh-musuh yang memburu garis keturunan kerajaan.
Terjatuh di tengah hutan belantara, Liam yang masih remaja ditemukan oleh sepasang suami istri tua yang hidup sangat sederhana dan miskin di pinggir desa. Tanpa tahu siapa anak itu sebenarnya, mereka menerimanya sebagai anak angkat dengan penuh kasih sayang. Bagi mereka, Liam adalah anugerah; bagi Liam, keluarga itu adalah satu-satunya tempat berlindung yang ia miliki.
Di rumah itu, ada satu sosok lagi yang mengisi hari-harinya: Seruni, anak kandung keluarga itu, seorang gadi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kepahiang Martin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANG BAYANG MULAI TERUNGKAP
Liam masih duduk diam di atas batu besar pipih itu, matanya yang hitam pekat menatap lurus ke air sungai yang jernih dan mengalir tenang membawa daun-daun kering hanyut menjauh. Tatapannya yang dingin dan kosong itu seolah menembus permukaan air, mencoba mencari jawaban di dalam pantulannya sendiri, mencoba menggali jauh ke dalam kepalanya yang kosong melompong itu siapa dirinya sebenarnya, dari mana asalnya, dan mengapa ia merasa berbeda dari semua makhluk hidup lain di sekitarnya. Namun, sekeras apa pun ia berusaha, tak ada satu pun bayangan yang terlintas, tak ada satu pun kenangan yang kembali hadir. Hanya kegelapan dan rasa dingin yang menusuk tulang yang selalu ada bersamanya, menemaninya setiap detik, seolah itu adalah satu-satunya identitas yang tersisa baginya.
Ia begitu tenggelam dalam kekosongan pikirannya, sampai ia tidak mendengar langkah kaki halus yang mendekat dari belakang. Tidak terdengar suara daun terinjak, tidak terdengar suara napas, namun naluri tajam yang tersembunyi di dalam darahnya—naluri purba makhluk malam yang belum ia ketahui—tiba-tiba berteriak keras di dalam kepalanya. Sebelum pikirannya sempat memproses apa yang terjadi, sebelum matanya sempat berkedip, tubuhnya sudah bergerak sendiri sepenuhnya secara otomatis, cepat, ganas, dan mematikan.
Saat tangan hangat itu menepuk pundaknya pelan—tangan milik Seruni yang ingin menyapanya—Liam berbalik secepat kilat. Tangannya yang panjang, kuat, dan dingin itu melayang menangkap leher gadis itu dengan cengkeraman besi, menekan keras, mengangkat sedikit tubuh Seruni sampai kakinya menjuntai di udara. Semuanya terjadi dalam sekejap mata, begitu cepat hingga Seruni bahkan tidak sempat berteriak atau menyadari bahaya yang mengancam nyawanya sendiri.
Wajah Liam saat itu bukan lagi wajah pemuda pendiam yang biasa mereka kenal. Matanya yang hitam pekat itu berubah sedikit, berkilat merah samar yang mengerikan, tatapannya tajam, kosong, dan penuh kewaspadaan mematikan, persis seperti binatang buas yang merasa terancam dan siap membunuh siapa pun yang mendekat. Napasnya memburu, dadanya naik turun cepat, urat-urat di lengannya menonjol menahan kekuatan besar yang mengalir tak terkendali.
Seruni terbelalak ketakutan, wajahnya perlahan berubah merah lalu pucat, udara di paru-parunya terjepit habis, suplai napasnya terputus sama sekali. Ia mencoba meronta pelan, tangannya memegangi pergelangan tangan Liam yang keras dan dingin seperti batu, berusaha melepaskan cengkeraman itu namun sia-sia. Kekuatan di tangan pemuda itu jauh melebihi apa pun yang pernah ia bayangkan. Rasa sakit dan takut menjalar ke seluruh tubuhnya, namun saat ia menatap mata Liam yang kosong itu, ia sadar pemuda itu bukan sedang marah atau ingin menyakitinya. Liam sedang tidak sadar, sedang dikendalikan oleh sesuatu yang asing di dalam dirinya sendiri.
Dengan sisa tenaga yang hampir habis, Seruni berusaha berbicara, suaranya keluar parau dan tersendat-sendat di antara sela-sela napas yang tak ada.
"Liam... Ini aku... Seruni..."
Satu kalimat itu, nama itu, suara itu... seolah menjadi kunci yang memutar balikkan kesadaran Liam. Seperti tersengat listrik, kilatan merah di matanya perlahan memudar dan hilang kembali ke dalam kegelapan. Kewaspadaan ganas itu lenyap, digantikan kembali oleh tatapan kosong dan datar yang biasa. Ia menatap wajah pucat Seruni di hadapannya, menatap tangannya sendiri yang mencengkeram leher gadis itu dengan kuat, dan perlahan kesadaran penuh kembali merasuk ke dalam dirinya.
Tanpa kata lain, tangan Liam terbuka lebar seketika, melepaskan cengkeramannya. Seruni jatuh terhuyung ke belakang, terbatuk-batuk hebat sambil memegangi lehernya yang sakit dan meninggalkan bekas merah jelas. Ia menghirup udara segar sekuat tenaga, dadanya naik turun berusaha menyeimbangkan kembali napasnya yang kacau.
Liam berdiri diam di tempatnya, tubuhnya kaku, wajahnya kembali datar dan dingin tanpa ekspresi apa pun, namun matanya yang hitam itu menatap ke arah Seruni dengan pandangan yang sulit dimengerti. Hanya satu kata yang keluar dari bibirnya yang tipis, diucapkan dengan nada rendah, datar, dan dingin persis seperti biasa, tanpa nada menyesal yang berlebihan namun terdengar sangat berat.
"Maaf."
Seruni mengusap lehernya yang terasa perih, menatap pemuda itu dengan mata berkaca-kaca, campuran antara rasa takut, kaget, namun juga rasa iba yang mendalam. Ia tahu Liam tidak bermaksud begitu. Ia tahu ada sesuatu yang salah, ada sesuatu yang tersembunyi dalam diri anak angkat keluarganya ini, sesuatu yang berbahaya namun tak dimengerti oleh Liam sendiri.
"Tidak apa-apa..." jawab Seruni pelan sambil mengatur napasnya kembali, suaranya masih parau. "Aku salah juga... mendekat tanpa suara, mengejutkanmu. Maafkan aku juga, ya."
Liam tidak menjawab. Ia hanya diam, menunduk sedikit menatap tanah, seolah sedang meneliti telapak tangannya sendiri—tangan yang tadi nyaris merenggut nyawa satu-satunya orang yang paling baik dan perhatian padanya. Rasa dingin di dalam dadanya terasa makin menusuk, bercampur dengan rasa bingung yang makin besar. Kenapa aku begitu kuat? Kenapa aku bergerak secepat itu? Kenapa naluriku langsung ingin membunuh saat ada yang mendekat? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar kacau di kepalanya yang kosong.
"Ayo pulang," ucap Seruni pelan sambil tersenyum tipis berusaha menenangkan suasana, meski hatinya masih berdebar kencang. "Matahari sudah mau tenggelam, nanti Ayah Ibu khawatir kalau kita belum pulang."
Liam hanya mengangguk pelan. Ia berjalan di belakang Seruni dengan jarak agak jauh, langkahnya senyap dan tak bersuara seperti biasa. Sepanjang jalan pulang melewati pematang sawah yang mulai gelap, pikiran Liam tidak henti berputar. Ia ingat betul kekuatan yang meledak dari tubuhnya tadi. Ia ingat betul betapa mudahnya ia menahan gadis itu, betapa tajam dan berbahayanya naluri dirinya sendiri. Ia sadar, jika Seruni tidak memanggil namanya tepat waktu, mungkin saat ini gadis itu sudah tak bernyawa lagi di tangannya.
Pemikiran itu membuat sesuatu yang asing berdenyut pelan di dadanya. Bukan rasa takut pada orang lain, tapi rasa takut pada dirinya sendiri. Ia makhluk apa ini? Jika ia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, jika ia bisa melukai orang yang baik padanya hanya karena terkejut... maka ia berbahaya. Ia berbahaya bagi siapa saja yang ada di dekatnya, termasuk keluarga yang telah menerimanya dengan tulus.
Mereka sampai kembali ke gubuk kecil reyot tempat tinggalnya sekarang. Asap tipis sudah mengepul dari cerobong dapur, aroma masakan sederhana memenuhi udara sore itu. Pak Suryo dan Bu Lastri sedang duduk di beranda menunggu kedatangan mereka berdua.
"Kalian lama sekali di sungai, ada apa?" tanya Bu Lastri sambil bangkit berdiri melihat kedatangan mereka. Matanya menangkap bekas merah samar di leher Seruni dan wajah Liam yang lebih dingin dan kaku dari biasanya, namun ia tidak bertanya lebih lanjut, merasa ada hal yang sedang terjadi namun tidak pantas ditanya di momen itu.
"Tidak ada apa-apa, Ibu. Hanya duduk-duduk saja," jawab Seruni sambil tersenyum paksa, lalu masuk ke dalam rumah untuk bersiap makan malam.
Suasana makan malam malam itu terasa lebih hening dari biasanya. Liam duduk di ujung meja, memakan makanannya dengan gerakan terukur dan diam seperti biasa, namun matanya yang tajam sesekali melirik ke arah Pak Suryo dan Bu Lastri, lalu ke arah Seruni yang duduk di seberangnya. Ia menatap mereka dengan pandangan yang dalam, seolah sedang menghafal wajah mereka, seolah sedang memikirkan cara agar ia tidak pernah menyakiti mereka selamanya.
Setelah makan selesai dan semua beres, Liam tidak langsung pergi ke sudut ruangan untuk diam seperti biasa. Ia berdiri di depan Pak Suryo yang sedang mengisap pipa kayu di beranda, wajahnya tetap datar dan dingin, namun ada ketegasan yang belum pernah ada sebelumnya di tatapannya.
"Ayah," panggil Liam dengan suara rendah dan berat.
Pak Suryo menoleh, sedikit terkejut karena jarang sekali Liam yang memulai pembicaraan duluan. "Ada apa, Le? Ada yang kau inginkan?"
Liam diam sejenak, menyusun kata-kata di kepalanya yang terbatas itu. Ia harus bicara, ia harus meminta hal ini demi keselamatan mereka semua.
"Aku... aku berbahaya," ucap Liam lurus dan jujur, tanpa basa-basi. "Tadi di sungai... aku hampir menyakiti Seruni. Aku tidak ingat apa-apa, tidak ingat siapa aku, tapi tubuhku... kuat, bergerak sendiri, berbahaya. Aku tidak bisa mengendalikannya."
Pak Suryo meletakkan pipanya, menatap wajah anak angkatnya itu dengan serius namun lembut. "Liam... itu kecelakaan. Kami tahu kau tidak bermaksud jahat. Itu bukan salahmu."
"Meski begitu... aku tidak mau melukai kalian," potong Liam cepat, matanya menatap tajam ke mata Pak Suryo. "Aku ingin bisa mengendalikan diri. Aku ingin tahu cara menahan kekuatan ini. Aku ingin bisa membela diri, tapi tidak menyerang orang lain."
Liam berhenti bicara sejenak, lalu mengucapkan permintaan yang sudah ia putuskan sejak berjalan pulang tadi.
"Ayah... di ujung desa sana, di bukit kecil itu... ada padepokan tempat belajar ilmu silat, kan? Aku dengar orang-orang bicara. Aku ingin Ayah mengizinkan aku masuk ke sana. Aku ingin masuk belajar di padepokan itu. Aku ingin belajar mengendalikan tubuhku, belajar membela diri dengan benar, belajar kapan harus menggunakan tenaga dan kapan harus menahannya. Aku tidak mau jadi ancaman buat keluarga ini."
Ucapan itu diucapkan dengan nada datar namun penuh tekad yang kuat. Seruni yang mendengar dari dalam pintu terkejut bukan main, sama seperti kedua orang tuanya. Tak pernah mereka duga pemuda yang biasanya pasif dan diam ini punya keinginan sekuat itu demi kebaikan bersama.
Pak Suryo menghela napas panjang, menatap wajah Liam yang tampan namun misterius itu dalam-dalam. Ia sadar anak ini bukan anak biasa, dan keinginannya ini adalah langkah terbaik yang bisa diambil Liam saat ini.
"Baik, Le," jawab Pak Suryo pelan namun tegas. "Kalau itu keinginanmu, dan itu demi kebaikanmu dan kami semua... besok pagi-pagi sekali Ayah akan mengantarmu ke sana. Kau boleh masuk belajar di padepokan itu. Belajarlah yang benar, kendalikan apa yang ada di dalam dirimu. Jadilah kuat, tapi jadilah kuat untuk melindungi, bukan untuk menyakiti."
Liam mengangguk pelan, satu-satunya respon yang ia berikan. Di balik wajah dingin dan datarnya itu, ada rasa lega yang samar terasa di hatinya. Setidaknya, dengan masuk ke padepokan itu, ia punya cara untuk menjaga jarak antara kekuatan berbahayanya dan keluarga yang ia sayangi—meski ia belum paham benar apa arti rasa sayang itu sendiri.
Ia berjalan kembali ke sudut ruangannya, berbaring di atas alas tidur jerami sederhananya, menatap langit-langit rumah yang terbuat dari anyaman bambu. Di dalam kegelapan malam yang hening itu, Liam kembali bertanya-tanya pada dirinya sendiri: Siapa aku sebenarnya? Kenapa kekuatannya begitu besar dan berbahaya? Dan apa yang akan terjadi saat aku belajar mengendalikannya nanti?
Namun untuk saat ini, satu hal yang pasti: ia akan masuk ke padepokan itu. Ia akan belajar. Ia akan berusaha menjadi makhluk yang bisa hidup damai di antara manusia, meski darah yang mengalir di tubuhnya adalah darah abadi yang berasal dari dunia kegelapan yang telah ia lupakan.