Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.
Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.
Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.
Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.
Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:
Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.
Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-
Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 23
Langit di Aetherion Highlands tampak tenang.
Namun ketenangan itu—
hanya di permukaan.
Angin berhembus pelan di dataran tinggi.
Di sebuah tempat tinggi—
seorang pria berdiri.
Memegang busur.
Tatapannya mengarah jauh ke horizon.
Sagitta.
Wajahnya tenang.
Namun—
tidak sepenuhnya santai.
Langkah kaki terdengar.
Pelan.
Namun jelas.
Seseorang datang.
Tidak biasa.
Tidak menyembunyikan kehadirannya.
Sagitta tidak menoleh.
“Kau lama.”
Sunyi sejenak.
Lalu suara lain menjawab.
“Aku ingin memastikan sendiri.”
Aura tipis terasa.
Lebih halus.
Namun lebih dalam.
Magia.
Ia berhenti beberapa langkah di belakang Sagitta.
“Jadi itu benar.”
Sagitta menghela napas kecil.
“Apa?”
Magia menyipitkan mata.
“Patungmu di Heimdall.”
Sedikit jeda.
“…dihancurkan.”
Sunyi.
Angin berhembus.
Sagitta akhirnya menoleh.
Matanya tajam.
“Aku sudah tahu.”
Magia mengangkat alis.
“Begitu ya.”
Ia berjalan mendekat sedikit.
“Oleh seseorang…”
Nada suaranya menekan.
“…berambut putih.”
Sunyi.
Tatapan Sagitta mengeras.
Namun—
bukan karena takut.
Melainkan—
tersinggung.
“Berani sekali.”
Ia mencengkeram busurnya.
“…manusia…”
Magia tersenyum tipis.
“Aku rasa dia bukan manusia biasa.”
Sagitta melirik.
“Kau tahu sesuatu?”
Magia mengangkat bahu.
“Hanya teori.”
Sedikit jeda.
“…sepertinya manusia yang sudah berkultivasi lama.”
Sunyi.
Angin kembali berhembus.
Sagitta tersenyum tipis.
Namun—
senyum itu dingin.
“Menarik.”
Ia memutar busurnya pelan.
“…aku ingin melihatnya sendiri.”
Magia menatapnya.
“Hati-hati.”
Sagitta mendengus kecil.
“Aku tidak butuh peringatan.”
Namun—
ia tetap diam sejenak.
Seolah memikirkan sesuatu.
...----------------...
...----------------...
Jauh dari sana—
pagi tiba di Hutan Alfheim.
Cahaya matahari menembus dedaunan.
Udara segar.
Tenang.
Seolah tidak terjadi apa-apa semalam.
Grachius berdiri.
Siap pergi.
Daji di sampingnya.
Masih menatapnya sesekali.
Namun kali ini—
tidak banyak bicara.
Grachius melangkah.
Namun berhenti sejenak.
Menoleh ke belakang.
Para elf berdiri.
Beberapa masih terluka.
Namun sudah bisa berdiri.
Sylvia dan Karrie berada di depan.
Sunyi sejenak.
Grachius hanya mengangguk kecil.
“Aku pergi.”
Singkat.
Tanpa basa-basi.
Ia berbalik.
Mulai berjalan.
Daji mengikutinya.
Tanpa ragu.
Beberapa langkah—
lalu—
“GRAAAAAACHIUS!”
Suara keras terdengar.
Grachius tidak berhenti.
Namun sedikit melirik.
Dari belakang—
Sylvia berteriak.
“…TERIMA KASIH!”
Di sisi lain—
Karrie juga bersuara.
“…KAMI BERHUTANG PADAMU!”
Sunyi sejenak.
Langkah Grachius tidak berhenti.
Namun—
sudut bibirnya sedikit terangkat.
Hampir tidak terlihat.
Daji meliriknya.
"Dia...tersenyum?"
Namun Grachius tetap berjalan.
Meninggalkan Hutan Alfheim.
Menuju—
tujuan berikutnya.
Dan di tempat lain—
para dewa—
mulai menyadari.
Bahwa sesuatu—
sedang bergerak menuju mereka.
...----------------...
...----------------...
Semalam.
Setelah api hitam itu padam—
tidak ada yang langsung bergerak.
Hanya diam.
Hutan kembali sunyi.
Namun suasananya—
berbeda.
Lebih berat.
Lebih dalam.
Para elf masih terpaku.
Menatap bekas hangus di tanah.
Sementara Grachius—
berdiri tenang.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Daji melirik ke sekeliling.
Lalu ke Grachius.
Lalu kembali ke para elf.
"Ini… canggung sekali."
Beberapa saat—
tidak ada yang berbicara.
Akhirnya—
salah satu elf duduk.
Lelah.
Yang lain menyusul.
Luka mulai terasa.
Realita mulai kembali.
Sylvia menarik napas panjang.
“Kita… kalah.”
Nada suaranya pelan.
Namun jujur.
Karrie mendengus kecil.
“Kalau bukan karena dia…”
Ia melirik ke arah Grachius.
Kalimatnya tidak selesai.
Namun semua mengerti.
Sunyi lagi.
Namun kali ini—
lebih ringan.
Daji mengangkat alis.
“Kalian biasanya seperti ini?”
Tidak ada yang menjawab.
Beberapa hanya melirik.
Masih lelah.
Masih berpikir.
Grachius akhirnya duduk kembali.
Santai.
Ia melihat ke arah mereka.
“Kalian bisa bertarung bersama.”
Sunyi.
Semua menoleh.
Karrie menyipitkan mata.
“Apa maksudmu?”
Grachius menjawab datar.
“Tadi.”
Ia menunjuk samar.
“…kalian tidak saling menyerang.”
“…kalian menyerang mereka.”
Sunyi.
Sylvia terdiam.
Karrie juga.
Beberapa elf saling melirik.
Grachius melanjutkan.
“Jadi kenapa tidak begitu saja?”
Sunyi.
Daji mengangkat alis.
"Dia serius?"
Grachius tetap tenang.
“Berhenti saling bermusuhan.”
“…hiduplah berdampingan.”
Sedikit jeda.
“…dan lindungi hutan ini bersama.”
Sunyi.
Kali ini—
lebih lama.
Tidak ada yang langsung menjawab.
Namun—
tidak ada yang menolak.
Karrie menyilangkan tangan.
Tatapannya tidak lagi tajam seperti sebelumnya.
“Kau pikir semudah itu?”
Grachius menatapnya.
“Tidak.”
Jawaban jujur.
“…tapi tadi kalian melakukannya.”
Sunyi.
Karrie terdiam.
Sylvia menunduk sedikit.
Mengingat.
Pertarungan tadi.
Mereka tidak berpikir tentang perbedaan.
Hanya—
melawan musuh yang sama.
Ia menghela napas pelan.
“Kami sudah lama bermusuhan.”
Grachius tidak menjawab.
Hanya menunggu.
Daji menyeringai kecil.
“Tapi kalian juga sudah lama tinggal di hutan yang sama.”
Semua meliriknya.
Daji mengangkat bahu.
“Hanya saja aneh.”
“…terus berselisih tapi tidak pergi.”
Sunyi.
Beberapa elf terlihat sedikit tersentak.
Karrie menghela napas kasar.
“Kami tidak pergi karena ini rumah kami.”
Sylvia menambahkan pelan.
“…dan kami menjaganya.”
Grachius mengangguk kecil.
“Maka jagalah bersama.”
Sunyi.
Kalimat itu—
sederhana.
Namun—
mengena.
Tidak ada keputusan langsung.
Tidak ada deklarasi besar.
Namun—
sesuatu berubah.
Sedikit.
Namun cukup.
Salah satu elf dari kedua kubu saling melirik.
Tidak lagi penuh kebencian.
Namun—
ragu.
Dan mungkin—
sedikit terbuka.
Daji menatap mereka.
Lalu tersenyum tipis.
"Dia tidak hanya kuat…"
"Dia juga mengubah sesuatu…"
Ia melirik Grachius.
Yang sudah kembali diam.
Seolah itu bukan hal besar.
Malam terus berjalan.
Dan di tengah Hutan Alfheim—
benih kecil—
ditanam.
Bukan oleh para pemimpin.
Bukan oleh perang.
Namun—
oleh seseorang—
yang bahkan tidak berniat melakukannya.