Elisa pikir hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupnya, karena laki-laki yang dia idamkan akan menikahinya. setelah mereka melakukan ta'aruf sebelumnya. Tapi bak disambar petir adiknya datang dan mengatakan jika calon suaminya mengatakan pernikahannya dibatalkan dulu. Tanpa alasan yang pasti.
Elisa merasa malu dan dikhianati, sampai seorang dokter datang dan mengatakan siap menikah dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Lilis duduk dengan kepala sedikit menunduk, fokus pada piringnya, sementara Arka sesekali berdehem kecil, mencoba mencari topik untuk mencairkan suasana yang kaku.
"Gimana tadi ngajarnya? Seru?" tanya Arka akhirnya, memecah keheningan.
Lilis mendongak sedikit, matanya bertemu dengan tatapan Arka sebelum ia kembali beralih ke nasi di piringnya.
"Seru, Mas. Namanya juga ngajar anak kecil, ada saja tingkahnya yang bikin ketawa," jawab Lilis.
Arka mengangguk-angguk kecil, menyuap sesendok nasi. "Kamu sudah berapa lama ngajar?" lanjut Arka lagi.
"Baru satu tahun, Mas. Sejak lulus kuliah, langsung mengabdi di sana," sahut Lilis jujur.
"Ohhh..." Arka hanya ber-oh singkat.
"Paketnya... belum kamu buka?" tanya Arka lagi, mencoba memperpanjang obrolan.
Lilis menggeleng pelan. "Belum, Mas. Aku tunggu Mas saja yang buka. Nggak enak kalau aku lancang buka duluan."
Arka menggeleng kecil. "Bukan. Itu furniture buat kamar kita. Kemarin aku lihat di kamar masih ada sudut yang kosong, jadi aku pesan itu," jelasnya.
Setelah menyelesaikan makan malam, Arka bangkit dan mulai mendekati kotak besar tersebut. Ia tampak sedikit kesulitan saat mencoba menggesernya karena ukurannya yang cukup menyita ruang.
"Lis, bisa bantu Mas sebentar?" pinta Arka.
Lilis segera beranjak dari kursinya dan mendekat. "Bisa, Mas. Diangkat ke mana?"
Mereka berdua memegang sisi kotak yang berbeda. Lilis sempat terkejut saat merasakan beban dari kotak tersebut yang cukup solid. "Berat banget ya, Mas?" ucap Lilis sambil berusaha menyeimbangkan pegangannya.
"Iya, ini sofa. Di kamar kita kan belum ada sofa buat santai. Kita buka di kamar saja ya, biar nggak susah mindahinnya nanti kalau sudah dirakit," sahut Arka sambil memberi aba-aba untuk mulai mengangkat.
"Oh, sofa... pantas saja lumayan berat," gumam Lilis.
Pelan-pelan, mereka berdua membawa kotak itu menaiki tangga menuju kamar utama. Meski harus berhenti sejenak untuk mengatur napas, ada rasa kebersamaan yang unik saat mereka bekerja sama menata isi rumah baru itu. Sesampainya di dalam kamar, Arka segera mengambil pemotong lakban, sementara Lilis memperhatikan dengan rasa antusias.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan yang cukup keras dari arah pintu depan.
Tok! Tok! Tok!
Arka melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan malam lewat.
"Siapa yang datang malam-malam begini?" sahut Arka dengan dahi berkerut, suaranya terdengar heran.
Lilis yang sedang merapikan letak jilbabnya segera beranjak. "Biar aku saja yang buka, Mas. Mungkin tetangga atau ada keperluan mendadak," tawarnya lembut.
Lilis sudah melangkah menuju pintu kamar saat suara Arka kembali terdengar.
"Tunggu, Lis."
Lilis menoleh. Arka menatapnya lekat sambil menunjuk ke arah wajahnya. "Jangan lupa cadarnya dipakai."
"Iya, Mas. Sebentar," jawab Lilis pelan. Ia segera mengambil kain cadarnya yang tersampir di meja rias dan memasangnya dengan teliti.
Begitu pintu terbuka, tubuhnya membeku. Sosok laki-laki yang berdiri di sana adalah Rama laki-laki yang dengan teganya membatalkan pernikahan mereka di saat semua persiapan sudah matang, meninggalkannya dalam luka dan malu.
"Mau ngapain anda ke sini? Dan dari mana anda tahu rumah saya?" tanya Lilis dengan nada dingin.
Rama tampak berantakan, matanya menatap Lilis dengan tatapan memohon yang justru terlihat memuakkan. "Itu nggak penting, Lis. Aku cuma mau minta maaf. Aku menyesal... Aku sadar aku nggak bisa kehilangan kamu. Kamu ikut aku ya sekarang."
"Buat apa?" Lilis bertanya sinis.
"Kita nikah. Bukannya kamu sudah menerima lamaran saya sejak awal? Ayo kita lanjutkan," ucap Rama tanpa dosa.
Tawa hambar lolos dari balik cadar Lilis. "Menikah denganmu? Nggak salah? Anda sudah gila ya! Setelah membatalkan pernikahan secara sepihak, mempermalukan saya dan keluarga saya, sekarang anda datang lagi tanpa rasa malu?"
"Lis... kamu kok ngomongnya kasar gitu? Ya, aku memang salah. Tapi itu semua ada alasannya, Lis. Istri pertamaku mau melahirkan saat itu, jadi aku harus menemaninya. Aku bingung, aku nggak mau menyakiti dia di saat bertaruh nyawa," bela Rama.
Darah Lilis mendidih mendengar alasan itu. Amarah yang selama ini ia pendam meledak seketika.
"Alasan? Kamu bilang itu alasan?" suara Lilis meninggi, tubuhnya bergetar hebat karena emosi.
"Kamu menipu saya dari awal! Kamu tidak pernah bilang kalau kamu sudah punya istri! Kamu membuat saya menjadi calon perusak rumah tangga orang secara tidak langsung, lalu kamu mencampakkan saya begitu saja seperti barang rongsokan di depan orang tua saya! Di mana hati nuranimu, Rama?!"
Rama justru melangkah maju, mencoba meraih tangan Lilis yang segera ditarik menjauh dengan jijik.
"Lis, kamu jangan egois. Kamu kan wanita berilmu, kamu pasti sudah belajar kalau poligami itu diperbolehkan dalam agama kita. Harusnya kamu mengerti posisi aku sebagai suami dan calon ayah saat itu. Aku tetap mau bertanggung jawab menjadikanmu yang kedua," ucap Rama.
"Poligami?!" Lilis berteriak, air mata kemarahan mulai menggenang.
"Poligami itu didasari kejujuran dan keterbukaan sejak awal, bukan penipuan! Kamu datang ke rumah saya sebagai bujangan, bukan sebagai suami orang! Pergi dari sini sekarang! Sebelum saya panggil keamanan komplek!"
"Lis, dengar dulu....."
"Pergi!" seru Lilis lantang.
Lilis tidak menyadari bahwa di belakangnya, Arka sudah berdiri dengan wajah yang sangat gelap. Rahang suaminya itu mengeras, tangannya mengepal kuat mendengar setiap kata yang keluar dari mulut laki-laki asing di depan pintu mereka. Arka melangkah maju, menyejajarkan posisinya dengan Lilis.
"Pergi dari rumah saya sekarang," ucap Arka.
Rama tersentak, ia menatap Arka dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan meremehkan.
"Lis! Dia siapa? Kamu tinggal berdua dengan lelaki yang bukan mahrammu? Kamu sudah melangkah sejauh ini? Di mana kehormatanmu?"
"Jangan asal ngomong anda!" bentak Arka, suaranya menggelegar.
"Dia istri saya. Istri sah saya."
Rama tertegun sejenak, namun egonya yang tinggi membuat ia justru tertawa sinis. "Istri? Oh, jadi kamu laki-laki yang mengambil kesempatan di tengah luka Lilis? Kalau gitu, ceraikan Lilis sekarang! Dia lebih berhak hidup dengan saya. Saya lebih paham agama daripada kamu, saya tahu bagaimana memuliakan wanita berilmu seperti dia!"
Mendengar kata-kata itu, kesabaran Arka habis. Rahangnya mengeras, urat-urat di lehernya menonjol. Ia melangkah satu langkah besar ke depan hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Rama.
"Paham agama, katamu?" Arka mencengkeram kerah baju Rama dengan sangat kuat hingga laki-laki itu berjinjit.
"Laki-laki yang paham agama tidak akan menipu wanita. Laki-laki yang paham agama tidak akan mempermalukan sebuah keluarga dengan membatalkan pernikahan sepihak!"
"Lepas...."
"Pergi, atau saya buat wajahmu tidak bisa dikenali lagi!" Arka mengangkat kepalan tangannya, nyaris melayangkan pukulan telak ke rahang Rama. Napas Arka memburu, amarahnya sudah di ubun-ubun.
"Mas, sudah! Mas Arka, jangan!"
Arka mengatur napasnya yang berat. Ia menghentakkan cengkeramannya pada kerah baju Rama hingga laki-laki itu terhuyung ke belakang dan hampir terjatuh ke lantai teras.
"Sekali lagi kamu menginjakkan kaki di sini, atau menyebut nama istri saya dengan mulut kotormu itu, saya tidak akan segan-segan menyeretmu ke kantor polisi. Pergi!" usir Arka.
Rama yang melihat kemarahan besar di mata Arka akhirnya merasa ngeri. Dengan wajah pucat dan langkah seribu, ia segera berlari menuju mobilnya dan pergi meninggalkan komplek tersebut dengan terburu-buru.
Arka berbalik, menatap Lilis yang menunduk dalam. Tanpa berkata-kata, ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri demi istrinya.