Seorang mahasiswi yang marah dengan akhir cerita novel yang baru dibelinya. Dalam novel diceritakan tokoh antagonis di novel, disalahpahami tunangan dan keluarganya sendiri gara-gara hasutan dan trik licik tokoh utama wanita, Audrey Hepburn.
Tapi sungguh sial saat sedang menancapkan charger laptop ke stop kontak, dirinya malah tersetrum dan bertransmigrasi menjadi Eleanor Sinclair. Dengan tekad bulat, ia memilih menjadi antagonis yang sesungguhnya, ia memilih target meningkatkan rasa kebencian semua tokoh hingga 100%. Hadiah dari pencapaian target misi dari sistem ini adalah uang senilai 100 juta dollar dan izin kembali ke dunia nyata. Namun, semuanya malah jadi kacau, tingkat kebencian tokoh utama pria dan keluarganya justru berkurang. Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ia bisa menyelesaikan misi, mendapatkan hadiah, dan kembali ke dunia nyata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Audrey Mengintai
Lorong rumah sakit di lantai lima masih terasa sunyi, namun suasana di depan kamar 505 sedikit berbeda. Audrey masih berdiri di sana. Ia tidak benar-benar pergi meninggalkan area rumah sakit setelah diusir oleh Margot. Tubuhnya bersandar pada dinding yang dilapisi cat putih mengilap, tepat di samping pintu kamar tersebut. Sesekali ia berjinjit dan menempelkan wajahnya pada kaca kecil di pintu, mengintip apa yang terjadi di dalam.
Beberapa perawat yang membawa nampan obat dan keluarga pasien lain yang melintas di koridor mulai berbisik-bisik saat melihat tingkah lakunya. Mereka menatap Audrey dengan pandangan heran karena seorang perempuan berpakaian mahal bertingkah seperti pengintai di tempat umum. Namun, tidak ada satu pun dari mereka yang berani menegur karena ekspresi wajah Audrey tampak sangat menyeramkan.
Di dalam ruangan, suasana justru terasa hangat. Eleanor duduk di pinggir ranjang Margot, sedang membuat lelucon. Margot tertawa hingga bahunya berguncang pelan, sementara Liam yang duduk di kursi hanya diam sambil memainkan ponselnya. Meski begitu, sudut bibir Liam sesekali terangkat, membentuk senyum tipis yang jarang ia perlihatkan kepada siapa pun. Ia tampak tidak peduli tapi mendengarkan semua percakapan Margot dan Eleanor.
Tiba-tiba, sebuah suara bergema di dalam kepala Eleanor. Itu adalah suara sistem yang datar dan tanpa emosi.
[Host, Anda seharusnya menjadi antagonis yang dibenci semua orang, bukan? Apakah Anda lupa dengan misi utama Anda di dunia ini?]
Eleanor tersentak sedikit. Ia hampir menjatuhkan gelas berisi air yang sedang ia pegang. "Argh! Aku lupa!" batin Eleanor dengan panik. "Tapi bagaimana caranya? Nenek Margot sangat baik padaku, dan dia sedang dalam kondisi sakit. Bagaimana mungkin aku bisa membuat orang tua yang sedang lemah ini marah padaku? Aku memang suka menjadi tokoh antagonis, tapi aku tidak mau menjadi pembunuh! Bagaimana kalau Nenek Margot sampai terkena serangan jantung karena kelakuanku?"
[Bukankah Host ingin segera menyelesaikan misi agar bisa kembali ke dunia asal?]
Eleanor mendengus di dalam pikirannya. "bukannya kamu sendiri yang bilang kalau aku tidak boleh membunuh tokoh yang ada di sini?"
[Itu hanya berlaku untuk tokoh utama saja. Lagipula Margot memang seharusnya meninggal di cerita aslinya]
"Ck, nanti saja aku membuat Nenek Margot marah kalau kondisinya sudah benar-benar pulih dan dia sudah keluar dari rumah sakit! Untuk sekarang, biarkan aku menjadi cucu menantu yang baik dulu.", pikir Eleanor.
Liam yang duduk tidak jauh dari sana kembali mendengar potongan suara hati Eleanor. Ia menatap Eleanor dengan pandangan yang sulit diartikan. "Rupanya kau masih punya hati nurani juga," pikir Liam. "Tapi kenapa dia begitu berambisi ingin dibenci? Bukankah hidup akan jauh lebih mudah jika disukai banyak orang?"
Eleanor kemudian berdeham, berusaha mengalihkan perhatiannya dari gangguan sistem. "Oh iya, Liam, apa yang dikatakan dokter mengenai penyakit Nenek pagi ini?"
Liam menegakkan posisi duduknya. Wajahnya kembali serius. "Kondisi Nenek terus menurun jika dibandingkan dengan hasil pemeriksaan terakhir bulan lalu. Karena itu, aku mendatangkan dokter lain, seorang spesialis pengobatan tradisional untuk melakukan pemeriksaan tambahan. Dokter itu meminta untuk memeriksa semua jenis obat, suplemen, bahkan makanan yang dikonsumsi Nenek di rumah selama sebulan terakhir."
"Lalu, apa hasilnya? Apakah ada yang salah?" tanya Eleanor dengan nada ingin tahu.
"Sebenarnya tidak ada masalah dengan kualitas bahan yang dikonsumsi Nenek," jawab Liam sambil menyilangkan kakinya. "Hanya saja, ramuan herbal yang selama ini dikonsumsi Nenek ternyata memiliki efek samping yang terlalu kuat jika dikombinasikan dengan obat dari dokter dalam satu waktu, terutama pada kondisi tubuh Nenek yang sedang lemah. Jadi, untuk sementara waktu, semua ramuan herbal yang dibelikan oleh Paman tidak akan diberikan lagi kepada Nenek."
Eleanor tertegun mendengar penjelasan itu. "Kenapa cepat sekali masalah ini ketahuan?" pikirnya. "Padahal dalam alur cerita yang seharusnya, semua ini tidak akan terbongkar bahkan sampai Nenek Margot meninggal dunia. Kenapa alurnya berubah drastis? Apa mungkin Liam menjadi semakin pintar setelah beberapa waktu sering bergaul denganku?"
"Pft!" Liam tiba-tiba menyemburkan sedikit air yang baru saja ia sesap.
Margot menoleh dengan kaget. "Kenapa, Liam?"
"Tidak, Nek. Tidak ada apa-apa. Aku hanya tersedak air," jawab Liam dengan cepat. Ia segera mengambil tisu dan mengelap sisa air di dagunya, lalu bergegas meminum air lagi untuk menutupi rasa canggungnya. "Untuk makan siang nanti, Nenek ingin makan apa? Aku akan memesankannya sekarang."
Mereka bertiga kemudian berdiskusi mengenai menu makan siang sambil menunggu pesanan dari aplikasi pengantaran makanan. Margot bersikeras agar Eleanor ikut makan bersamanya sebelum pulang. Eleanor tentu saja setuju dan sengaja memesan berbagai menu paling mahal dari restoran bintang lima untuk melihat reaksi Liam. Namun, rencananya gagal total. Bagi keluarga Parker yang kekayaannya sulit dihitung, harga makanan tersebut sama sekali tidak berpengaruh pada saldo rekening Liam. Liam justru memesankannya lebih banyak untuk Eleanor, ia bermaksud mengerjai Eleanor dan akan memaksanya menghabiskan semuanya.
Waktu menunjukkan pukul 13.30 saat makan siang selesai. Cahaya matahari di luar jendela tampak sangat terik, menciptakan hawa panas yang bahkan terasa sampai ke balik kaca ruang VIP. Eleanor berpamitan kepada Margot karena ia harus kembali sekarang.
"Liam, antarkan Eleanor pulang sampai ke rumahnya," perintah Margot dengan suara lembut.
Eleanor mengucapkan salam dan berpamitan lalu bergegas keluar. Perutnya terasa sangat penuh, dia ingin segera bergerak untuk membakar kalori di tubuhnya.