Biru Hermawan, pewaris takhta perusahaan raksasa, menyimpan "bom waktu" di dadanya: kondisi jantung lemah yang mengancam nyawa dan ambisinya. Demi mengamankan posisi sebagai CEO, ia harus memenuhi syarat kakeknya untuk menikah. Di sisi lain, Selena, seorang penulis novel populer yang muak dengan tekanan pernikahan, terjepit dalam realitas yang membosankan.
Keduanya sepakat dalam pernikahan kontrak dengan satu aturan mutlak: "Dilarang Jatuh Cinta."
Tinggal satu atap, Selena berjuang menyembunyikan identitas penulisnya, sementara Biru mati-matian menutupi rasa sakit yang menyerang setiap malam. Namun, saat tembok pembatas mulai terkikis oleh kepedulian, mereka terjebak dalam dilema mematikan. Akankah gairah yang mulai tumbuh menjadi obat bagi kesepian mereka, atau justru menjadi pemicu detak jantung terakhir yang mengakhiri kisah mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Pengkhianatan Paling Dingin
Cakra menerjang pintu kamar tepat saat Biru merosot dari kepala ranjang, tangan kanannya mencengkeram dada kiri dengan sangat kuat hingga kuku-kukunya memutih. Wajah Biru yang beberapa menit lalu kemerahan karena gairah, kini berubah menjadi seputih kertas, dengan keringat dingin yang mengucur deras membasahi seprai.
"Tuan! Bertahanlah!" Cakra dengan sigap menyampirkan jubah mandi ke tubuh Biru dan membantunya berdiri. Ia tidak membuang waktu untuk memakai sepatu atau merapikan diri. Fokusnya hanya satu: membawa Biru ke tim medis darurat yang sudah bersiaga di vila sebelah sebelum jantung itu benar-benar berhenti.
Biru mencoba mengatur napasnya yang pendek dan tersendat. Rasa nyeri itu bukan lagi sekadar cubitan, melainkan seperti jantungnya sedang diperas oleh tangan raksasa. Pandangannya mulai mengabur, namun ia sempat melirik ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup, di mana suara gemericik air masih terdengar.
"Jangan... jangan beri tahu Selena," bisik Biru parau, suaranya nyaris hilang ditelan rasa sakit yang luar biasa.
Cakra tidak menjawab. Ia setengah menggendong tubuh Biru yang mulai melemah keluar melalui pintu samping vila yang terhubung langsung dengan akses ambulans pribadi. Ia tahu, setiap detik sangat berharga. Jika ia berhenti untuk berpamitan atau menjelaskan pada Selena, ia mungkin akan kehilangan Biru selamanya.
Hanya dalam hitungan menit, ambulans itu melesat meninggalkan kompleks vila dengan sirine yang tidak dinyalakan agar tidak menimbulkan kegaduhan, namun dengan kecepatan yang mematikan.
Di dalam kamar mandi, Selena akhirnya mematikan pancuran air. Ia mengeringkan tubuhnya dengan handuk, tersenyum kecil mengingat kejadian luar biasa tadi. Ia membayangkan akan keluar dan menemukan Biru yang sedang menunggunya dengan tatapan intens itu lagi.
Namun, saat ia membuka pintu kamar mandi, ia hanya menemukan kesunyian yang mencekam. Kamar itu kosong. Ranjang masih berantakan, gelas air Biru masih sudah kosong, namun pria itu telah menghilang tanpa jejak.
"Mas Biru?" panggil Selena, perasaannya tiba-tiba tidak enak. Ia melihat ponsel Biru yang tertinggal di nakas, namun pemiliknya sudah tidak ada.
"Mas?" panggil Selena seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Di atas seprei, sisa percintaan mereka yang ganas masih tersisa.
Selena segera berpakaian dengan terburu-buru, entah kenapa ia begitu khawatir karena suaminya tidak ada di dalam kamar padahal ini sudah dini hari.
"Mas?" kembali ia memanggil saat k keluar dari kamar, namun keadaan sangat sepi. Semua orang sudah tidur.
Selena merasa dikhianati. Cakra pun tak ada. Dua pria itu menghilang secara bersamaan tanpa ada pesan sedikit pun padanya.
Langkah Selena bergetar saat menyusuri koridor vila yang luas dan sunyi.
Cahaya lampu temaram yang tadinya terasa romantis, kini berubah menjadi mencekam, seolah-olah setiap bayangan di dinding sedang menertawakan kenaifannya.
Ia merapatkan piyama sutranya, mencoba mengusir rasa dingin yang bukan berasal dari pendingin ruangan, melainkan dari rasa cemas yang mulai menggerogoti dadanya.
"Mas Biru! Cakra!" suaranya menggema di ruang tengah yang kosong, namun hanya keheningan yang menjawab.
Ia kembali ke kamar, menatap nanar pada seprei yang masih berantakan. Di sana, di atas kain yang menjadi saksi bisu betapa Biru memujanya beberapa menit lalu, Selena menemukan kenyataan pahit bahwa pria itu pergi begitu saja.
Rasa hangat yang tadi memenuhi batinnya kini menguap, berganti dengan rasa sesak yang menyesakkan.
"Kenapa? Setelah semua yang terjadi malam ini... setelah tiga ronde itu, kamu pergi begitu saja?" gumamnya dengan suara bergetar.
Air mata kemarahan mulai menggenang. Selena merasa seperti sebuah properti yang baru saja habis digunakan lalu ditinggalkan begitu saja saat sang pemilik merasa bosan.
Selena teringat bagaimana Biru memanggilnya "sayang" dan bagaimana pria itu memohon padanya untuk tidak berhenti. Semuanya terasa seperti kebohongan besar sekarang.
Ia mencoba menyalakan ponsel Biru yang tertinggal, namun benda itu terkunci rapat.
Selena melempar ponsel itu kembali ke atas kasur dengan perasaan frustrasi. Logikanya mencoba mencari alasan—mungkin ada urusan bisnis mendadak? Tapi Cakra? Asisten setia itu pun tak meninggalkan catatan satu kata pun untuknya.
"Dasar pengecut," bisik Selena tajam, meski hatinya sebenarnya lebih terasa patah daripada marah.
Selena berjalan menuju balkon, menatap kegelapan pantai Uluwatu di bawah sana. Ia tidak tahu bahwa saat ini, di jalanan yang sunyi, ambulans yang membawa suaminya sedang melaju dalam kecepatan penuh.
Ia tidak tahu bahwa 'pengkhianatan' yang ia rasakan sebenarnya adalah upaya terakhir Cakra untuk menyembunyikan wajah pucat pasi Biru yang sedang meregang nyawa.
Bagi Selena, malam ini bukan lagi tentang cinta, melainkan tentang pengkhianatan yang paling dingin di tengah sisa-sisa gairah yang masih membekas di tubuhnya. Ia duduk di tepi ranjang yang dingin, sendirian, menunggu jawaban yang mungkin tidak akan pernah datang.
***
jin ouch jin sentuh itu selena...