Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh membuat Nina Safira kehilangan akal sehatnya. Dia datang ke sebuah bar berniat untuk menghibur diri, namun hal tak terduga terjadi, akibat kecerobohannya dia mabuk berat dan bermalam bersama pria asing di sebuah hotel. Bukannya menyelesaikan masalah tapi malah menambah masalah. Lantas tindakan apa yang diambil Nina setelah kehormatannya terenggut oleh pria yang belum dikenalnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Bukti Surat Cerai
"Pak Hermawan, apa yang membuat Anda meminta saya untuk menemui Anda di tempat ini? Apakah ada hal yang perlu dibahas?" tanya Wiryo yang datang ke cafe memenuhi permintaan dari Hermawan.
Hermawan manggut-manggut dan memintanya untuk duduk di tempat yang disediakan.
"Duduklah dulu Pak Wiryo," jawabnya lugas. "Memang ada hal penting yang ingin saya tanyakan sekaligus saya sampaikan kepada anda."
Dengan perasaannya yang cemas Wiryo menarik bangku yang ada di depan Hermawan berjarak dengan meja. Dia begitu yakin hal yang membuat Hermawan memintanya untuk bertemu tentu berkaitan dengan Widya, istrinya.
"Maaf kalau kedatangan saya tadi ke rumah Bapak sudah membuat kegaduhan di sana. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi."
Menyadari bahwa dirinya juga bersalah datang ke rumah orang dan langsung marah-marah apalagi Hermawan pemilik rumah masih belum datang dari tempatnya bekerja.
"Memang seharusnya begitu. Anda tidak perlu datang lagi ke rumah saya apalagi saya tidak ada di rumah. Jika hal itu terjadi lagi maka saya akan mengambil tindakan."
Wiryo terdiam dengan wajahnya menunduk. Sengaja Hermawan memberinya peringatan agar pria itu tidak mengulangi kecerobohannya lagi.
"Ini sebuah peringatan dari saya karena saya orangnya memang tidak suka berbasa-basi, pak Wiryo."
"B—baik Pak, Saya bisa mengerti," jawabnya lirih tak berani menatapnya.
"Satu lagi yang perlu Anda pahami. Setelah saya tahu permasalahan Anda datang ke rumah saya hanya ingin mengganggu istri saya, maka saya tekankan pada anda jangan coba main api dengan keluarga saya." Hermawan tidak akan lagi berbasa-basi untuk hal yang memang benar-benar harus diluruskan. Jika ia lengah maka hal-hal yang tidak diinginkan pasti akan terjadi. Sebagai pemimpin rumah tangga sekaligus pemimpin perusahaan besar ia harus memiliki jiwa yang tegas dan juga keras. "Istri saya juga mengadu pada saya mengenai Anda yang ingin menggugatnya. Apa benar seperti itu Pak Wiryo?"
Dengan meneguk ludah pria itu mendongak menatap tegas wajah Hermawan yang banyak melontarkan pertanyaan untuknya, dan pertanyaan itu memang sengaja ditunggunya.
" Iya, memang benar pak," jawabnya jujur. "Widya memang berstatus sebagai istri saya dan saya belum pernah menceraikannya. Saya juga tidak berniat untuk menceraikannya."
Hermawan menaikkan ujung bibirnya tersenyum devil. Sorot matanya begitu tajam dan buas seolah hendak mencengkramnya.
"Pemikiran yang bodoh! Bahkan di antara kalian sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi," bantahnya. "Widya hanyalah mantan istri anda, dan sekarang sudah sah menjadi istri saya. Jadi diantara kalian tidak ada ikatan apapun."
"Mana bisa begitu? Bahkan saya tidak pernah menceraikannya! Kalaupun dia menikah dengan anda pernikahan itu tidak akan sah!"
Wiryo berpikir untuk menggugat dermawan dan juga Widya atas pembodohan itu. Dia akan tunjukkan surat nikahnya karena dengan begitu dia bisa memanfaatkan situasi yang memanas untuk mendapatkan posisi di perusahaan. Intinya dia ingin Hermawan memberikan sedikit sahamnya untuk pengembangan perusahaannya yang makin meredup setelah kejadian perundungan di pesta itu.
"Siapa bilang pernikahan itu tidak sah? Anda bisa mengecek sendiri. Ini surat nikah saya, dan ini surat cerai yang dimiliki oleh istri saya."
Hermawan mengeluarkan surat nikah dan akte cerai milik Widya yang memang disiapkan sebelum kepergiannya menemui pria itu. Dia melemparkannya ke atas meja menunjukkannya pada pria itu.
"A—pa surat cerai?"
Tubuh Wiryo gemetaran melihat surat yang ditandatangani berdua. Padahal selama ini ia tak pernah merasa sudah menandatangani perjanjian perceraian dengan Widya.
"Anda bisa mengeceknya sendiri. Ini bukan rekayasa ataupun palsu. Ini asli dari kantor sipil."
" T—tapi mana mungkin? Saya tidak pernah tanda tangan, dan itu artinya surat ini direkayasa. Saya tidak pernah menceraikan Widya. Kami bahkan baru bertemu dan itu di rumah anda."
Wiryo merasa dirinya telah dimanipulasi oleh Hermawan dan juga Widya. Ia berpikir Widya hidupnya sudah nyaman bersama orang yang memiliki kekuasaan, jadi dia sudah tidak membutuhkannya lalu bagaimana dengan anak yang dilahirkannya?
"Iya memang benar kalian baru bertemu dan itu di rumah saya," bantah Hermawan. "Kalau saja keluarga anda tidak membuat masalah dengan keluarga saya tentu kalian tidak akan pernah bertemu."
Hermawan puas membuat pria itu kebingungan bak cacing yang kepanasan. Ia benar-benar tidak akan pernah memaafkan orang yang sudah mengusik ketenangan di rumah tangganya.
"Bagi saya meminta tanda tangan dari anda tidaklah susah, pak Wiryo," cetusnya. "Semenjak anda meninggalkan istri anda di rumahnya yang ada di bantaran sungai, saya langsung menolong dan membiayai hidupnya. Saya menunggu niat baik anda sebagai suaminya tapi tak kunjung datang untuk menemuinya. Berhubung hidupnya sengsara dan tidak ada sanak saudara, saya bertekad untuk menikahinya, karena kebetulan saya sendiri juga seorang duda yang diceraikan oleh istri pertama saya."
Wiryo mengepalkan tangannya dengan raut wajah memerah. Ia benar-benar dibuat marah oleh sikap Hermawan yang telah tega membodohinya.
"Tapi bagaimana mungkin Pak Hermawan? Saya tidak pernah tanda tangan apapun apalagi tanda tangan perceraian. Tidak pernah ada orang datang menemui saya untuk meminta tanda tangan perceraian. Anda jangan coba-coba untuk membodohi saya! Saya tidak terima! Saya akan tuntut anda!"
Pria itu beranjak dengan telunjuknya mengarah pada Hermawan tapi Hermawan masih menanggapinya dengan tenang."
"Silakan saja kalau Anda berniat untuk menuntut saya dan juga istri saya Pak Wiryo, Saya tidak keberatan. Tapi jika tuntutan itu berbalik pada anda maka anda akan menyesal. Saya cukup mengatakan bahwa anda telah mentelantarkan istri anda demi wanita lain untuk mencapai tujuan. Kira-kira kalau dihitung dari pertama kali anda meninggalkan istri anda hingga sekarang sudah berapa banyak uang yang seharusnya Widya terima?"
Wiryo bungkam. Memang benar apa yang dikatakan oleh Hermawan, jika sampai Widya menuntut nafkah darinya, mungkin saham perusahaannya saja tidak akan cukup.
"Saya tidak pernah membodohi orang lain Pak waryo, tapi anda sendiri yang bodoh sudah menyia-nyiakan orang yang begitu tulus menyayangi anda. Anda meninggalkan orang yang begitu setia menemani anda dalam kondisi susah tapi anda malah mengkhianatinya. Sekarang Widya sudah bahagia dengan orang lain, dan Anda ingin mengusik kehidupannya? Jangan mimpi!"
Wiryo kembali mengecek surat perceraian yang kini ada di tangannya. Terpampang jelas ada tanda tangan miliknya dan ia merasa tidak pernah menceraikan Widya.
"Ini kok ada tanda tangan saya di sini? Bagaimana mungkin saya tanda tangan di sini sedangkan saya tidak pernah memegang surat ini."
Dengan tenang Hermawan menjawab. "Atas kesadaran anda sendiri Anda menandatanganinya. Bukankah delapan belas tahun yang lalu anda didatangi oleh seseorang yang meminta tanda tangan anda, dan tanpa berpikir anda langsung menandatanganinya? Apa anda masih mengingatnya?"
Wiryo diam mengingat-ingat kembali kapan ia menerima tamu untuk melakukan tanda tangan, seketika tubuhnya lemas. Dia mengingat kejadian delapan belas tahun yang lalu di mana ia tengah bahagia bersama keluarga barunya tiba-tiba ada seorang pria datang padanya dan meminta tanda tangannya, tanpa diketahui apa tujuan pria itu meminta tanda tangan darinya, dan ternyata itu surat perceraian yang sudah diatur oleh Hermawan.
"Pak Hermawan! Anda telah memanfaatkan kelemahan saya!"