NovelToon NovelToon
Bullet Train To Yesterday

Bullet Train To Yesterday

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Romansa Fantasi
Popularitas:391
Nilai: 5
Nama Author: AnaRo

Rain dan Ayyara adalah definisi manusia modern yang mandiri. Di usia kepala tiga, keduanya telah mencapai titik nyaman: karier yang stabil, gaya hidup childfree, dan prinsip teguh anti-pernikahan. Bagi mereka, cinta hanyalah distraksi yang mengancam kebebasan yang telah mereka bangun dengan susah payah.
​Namun, semesta memiliki rencana lain.
​Dalam perjalanan bisnis menggunakan kereta cepat, sebuah cahaya putih seterang kilat menghantam dan melemparkan kesadaran mereka ke masa tujuh belas tahun yang lalu.
Di tengah pencarian cara untuk kembali ke masa depan, sebuah pertanyaan mulai menghantui: Jika mereka berhasil memperbaiki masa lalu, apakah "kebebasan" di masa depan masih menjadi hal yang mereka inginkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnaRo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketenangan yang terlalu mencurigakan

Malam di ruang tengah rumah keluarga Ayyara biasanya hanya diisi oleh suara televisi yang menyala pelan, namun suasana mendadak berubah saat Cinta, si bungsu yang terkenal dengan jiwa detektifnya, terpaku pada layar ponsel. Ibu sedang melipat baju, sementara Bian—adik laki-laki Ayyara—asyik mengunyah camilan sembari bersandar di sofa.

​Jari Cinta bergerak lincah, melakukan scrolling tanpa henti pada sebuah unggahan foto perayaan ulang tahun yang sangat meriah. Akun Niko baru saja mengunggah puluhan foto, menandai Ayyara, Mili, dan beberapa akun lainnya.

​"Lho, ulang tahun siapa ini? Meriah banget," gumam Cinta. Awalnya ia hanya kagum pada dekorasinya, namun jiwa "intelijen" media sosialnya mulai bekerja saat ia menyadari sebuah pola dalam puluhan foto yang terunggah.

​"Bu... Mas Bian... Coba lihat deh," panggil Cinta dengan nada penuh selidik. Ia memperbesar salah satu foto. "Mbak Ara kok nempel terus sama cowok ini? Di foto pas potong kue ada, di foto bareng anak-anak kecil ada, bahkan pas lagi ketawa di pojokan juga mereka berdekatan terus."

​Ibu mendekat, mengenakan kacamata bacanya dengan rasa penasaran. "Mana? Yang pakai kemeja biru itu?"

​Cinta segera menelusuri daftar akun yang ditandai hingga ia berhenti pada sebuah profil bernama 'Rain'. "Ketemu! Namanya Rain. Liat deh fotonya, tatapannya ke Mbak Ara itu lho... nggak biasa.Akrab banget."

​Bian yang tadinya cuek, mendadak bangkit dari sandarannya. Ia merebut ponsel Cinta dan menyipitkan mata. Detik berikutnya, matanya membelalak kaget.

​"Lho! Ini kan Mas Rain!" seru Bian spontan.

​"Kamu kenal, Bian?" tanya Ibu, wajahnya mulai dihiasi senyum penuh harap.

​"Kenal, Bu! Dia itu kakak tingkat aku di kampus, dulu sering ketemu sesekali. Dan... tunggu dulu," Bian menepuk jidatnya sendiri. "Dia kan orang yang waktu itu pingsan bareng Mbak Ra! Yang katanya mereka kecapekan bareng itu, lho."

​Cinta langsung memekik kesenangan, hampir melompat dari karpet.

"Demi apa?! Jadi cowok yang pingsan bareng itu Mas Rain ini? Wah, fiks banget ini mah! Ini bukan sekadar teman kerja part-time kuliah, Bu. Ini mah namanya... takdir!"

​Ibu menutup mulutnya dengan tangan, raut wajahnya tampak sangat terkejut sekaligus lega. "Jadi, selama ini ara sudah punya calon tapi diam-diam saja? Pantas saja belakangan ini kalau pulang kerja telepon video call lebih cerah. Ibu pikir karena bonus kantor, ternyata karena 'bonus' hati."

​"Ih, Mbak Ara pinter banget main petak umpet," Cinta tersenyum sembari kembali menelusuri foto-foto lain. "Lihat deh Bu, Mas Rain ini kelihatannya orangnya dewasa ya. Tipe-tipe pelindung gitu. Cocok banget sama Mbak Ra yang mandirinya kebangetan."

​"Kalau Mas Rain sih aku setuju seribu persen, Bu," tambah Bian dengan semangat. "Orangnya pintar, kalem, dan memang disegani di kampus dulu. Apalagi wajahnya, tipe gak mungkin gak dikenali. Enggak nyangka ternyata dia yang bisa nakhlukin Mbak Ara."

​Spekulasi pun mulai liar di ruang tengah itu. Mereka bertiga seolah sudah merencanakan skenario pernikahan di kepala masing-masing.

​"Nanti kalau dia telpon, jangan langsung ditanya, ya. Takut dia malu terus malah mogok cerita," pesan Ibu, meski binar matanya tak bisa menyembunyikan rasa bahagia. "Biarkan saja dulu. Yang penting kita sudah tahu kalau ara tidak sendirian lagi."

​"Tapi Bu, Cinta gatal banget pengen komen di fotonya!" keluh Cinta sembari tertawa gemas.

--

Tak terasa sudah seminggu berlalu sejak kabar rencana pernikahan Cinta menyeruak. Namun, ada satu hal yang mengusik ketenanganku: keluargaku sama sekali tidak mencoba menginterogasi statusku atau menjodohkanku dengan siapa pun.

Situasi ini terlalu tenang, bahkan terlalu damai untuk ukuran keluargaku yang biasanya heboh.

​Setiap hari aku sampai berkali-kali mengecek ponsel, meyakinkan diri bahwa ini bukan sekadar ketenangan sebelum badai. Apakah mereka sedang menyiapkan rencana yang lebih besar untukku? pikirku curiga. Rasa waspada itu terus membuntuti, membuatku tidak bisa benar-benar rileks.

​Setelah rapat panjang yang melelahkan usai, aku memutuskan turun ke kafe di lantai dasar untuk mencari asupan kafein. Pikiranku masih berkecamuk. Padahal, setiap kali aku melakukan video call dengan Ibu, aku sudah menyusun berbagai skenario jawaban jika ditanya soal pasangan. Tapi nyatanya? Nihil.

​"Melamun saja, Ra?"

​Aku tersentak hampir tersedak kopi saat sebuah suara menginterupsi. Ternyata Zayn. Ia berdiri di sana dengan nampan berisi beberapa gelas minuman, sepertinya sedang memesan untuk teman-teman di kantor barunya. Kami pun terlibat obrolan ringan yang mengalir begitu saja, tawa sesekali pecah di antara kepulan aroma kopi.

​Di sudut lain lobi, Rain baru saja melangkah masuk. Ia membawa beberapa dokumen urusan pekerjaan yang harus diantarkan ke kantor barunya di gedung ini. Langkahnya mendadak tertahan saat menangkap pemandangan di area kafe.

​Rain melihatku dan Zayn sedang berbincang akrab. Jauh lebih akrab dibandingkan saat pertemuan kencan buta yang canggung waktu itu. Seperti ada keraguan yang melintas di wajahnya untuk bergabung, hingga akhirnya ia memilih meluruskan niat untuk segera menuju kantor. Namun, bayangan keakraban kami telanjur memenuhi kepalanya. Sebelum aku sempat membuka mulut untuk mengajaknya bergabung.

--

​Ada gemuruh yang tertahan di dada Rain. Ia hanya tidak menyangka bahwa takdir akan membawanya kembali bersinggungan dengan Zayn—laki-laki yang di lini masa sebelumnya menjadi alasan Naila membatalkan pernikahan mereka.

​Sejujurnya, Rain tidak ingin membawa dendam masa lalu ke masa sekarang. Ia ingin bersikap sebijak mungkin di lini masa ini. Namun, melihat Zayn mulai masuk ke dalam lingkaran kehidupan Ayyara, ada rasa kesal sekaligus protektif yang meledak di dalam dirinya. Ia tahu siapa Zayn, dan ia tidak ingin Ayyara berakhir dengan luka yang sama.

Rain melangkah masuk ke area kantor baru dengan rahang yang masih mengeras. Ia berusaha mengatur napas, menetralkan gemuruh di dadanya sebelum menyapa rekan-rekan setimnya yang sedang sibuk menata meja kerja.

​"Gimana? Sudah betah di gedung baru?" tanya Rain, mencoba membuka percakapan basa-basi sembari meletakkan dokumen yang dibawanya.

​Rekan-rekannya menghentikan aktivitas sejenak, lalu mulai menghujani Rain dengan cerita suka duka seminggu terakhir. Rain mendengarkan, namun pikirannya masih tertinggal di kafe bawah.

​"Tadi aku lihat Zayn di bawah, sedang di kafe," pancing Rain pelan, ingin tahu sejauh mana rekan-rekannya memperhatikan pergerakan pria itu.

​Salah satu temannya, Danu, langsung menimpali dengan tawa kecil.

"Oh, lagi sama cewek kantor sebelah ya? Akrab banget? Banyak ketawa?"

​Rain hanya mengangguk samar, memberikan ruang bagi Danu untuk lanjut bicara.

​"Wah, itu sih sudah pasti. Si Zayn dari hari pertama pindah ke sini memang sudah 'pasang radar' ke cewek kantor itu. Namanya Ayyara, kalau nggak salah," Danu menyandarkan punggung ke kursi, mulai bergosip.

"Memang sih, cewek itu elegan. Masih muda tapi pembawaannya beda, nggak pernah berlebihan kalau dandan, tapi modisnya dapet. Berkelaslah pokoknya."

​"Iya," timpal rekan yang lain, melirik Rain. "Kita-kita ini sudah didahului Zayn sampai nggak berani mau coba dekati. Padahal informasinya dia masih jomblo, lho."

​Rain terdiam. Informasi itu menghantamnya dengan cara yang aneh. Ia tahu betul siapa Zayn di kehidupan sebelumnya—pria yang memiliki pesona berbahaya bagi para wanita.

​"Zayn memang pintarlah kalau urusan cewek," lanjut Danu lagi. "Zaman kuliah saja mantannya si Devanka, dewi kampus itu. Sekarang? Dia sudah 'nempel' sama Nn. Ayyara, si pelobi handal dari kantor sebelah. Sepertinya Zayn memang seleranya tinggi."

​Mendengar nama Devanka atau "Dewi Kampus" disebut dalam konteks yang sama dengan Ayyara membuat tangan Rain mengepal di bawah meja. Namun, sebelum ia sempat bereaksi, salah satu rekan lain menyela dengan nada menantang.

​"Tapi sebenarnya, kalau ada yang tertarik sama Ayyara, dekati saja. Nggak masalah, kan? Buktinya sampai hari ini mereka belum ada pengumuman jadian. Belum ada 'janur kuning'. Lagipula, kemarin aku sudah berhasil dapat nomor ponselnya Ayyara pas kita habis makan siang bareng tim mereka."

​Suasana di ruangan itu mendadak terasa lebih dingin bagi Rain. Ia menyadari bahwa di lini masa ini, Ayyara adalah sosok yang bersinar dan diinginkan banyak orang. Persaingan ini bukan lagi soal dendam masa lalu dengan Zayn, tapi tentang bagaimana Rain harus bergerak sebelum Ayyara benar-benar menjauh karena hubungan baru nya.

Rain teringat akan Naila, mantan kekasihnya. Di lini masa ini, Zayn dan Naila sebenarnya adalah sahabat sejak kecil. Saat ini mereka terlihat sangat dekat, namun hanya sebatas sahabat karib tanpa menyadari benih cinta yang mulai tumbuh di hati masing-masing.

Rain tahu dari ingatannya di masa depan, bahwa kelak ketika mereka berdua melanjutkan pendidikan dan bekerja di luar negeri, barulah mereka akan menyadari bahwa mereka sadar saling mencintai. Rain hanya tidak ingin Ayyara menjadi "persinggahan" Zayn sementara takdir Zayn sebenarnya sudah tertulis bersama Naila. Ia tak ingin Ayyara berakhir dengan rasa sakit yang sama seperti yang pernah ia rasakan.

--

Kantin gedung perkantoran siang itu penuh sesak. Udara dipenuhi aroma sedap tumisan dan riuh rendah obrolan karyawan yang melepas penat. Rain melangkah masuk bersama Danu dan beberapa rekan timnya. Matanya secara refleks memindai ruangan, dan dalam hitungan detik, ia menemukan sosok yang dicarinya.

​Di sebuah meja panjang dekat jendela, Ayyara sedang duduk dikelilingi rekan kantornya. Di sana ada Mili yang sedang tertawa lebar, dan tentu saja, ada Zayn.

​"Eh, itu tim kantor sebelah. Gabung saja yuk, kursinya masih banyak yang kosong," ajak Danu tanpa dosa.

​Rain sempat tertegun sejenak. Ia melihat Zayn sedang mencondongkan tubuh ke arah Ayyara, membisikkan sesuatu yang membuat Ayyara tersenyum simpul—sebuah pemandangan yang sanggup menyulut api cemburu bagi laki-laki mana pun. Namun, Rain menarik napas panjang. Sebagai pria yang secara mental sudah berusia 34 tahun, ia tahu bahwa mengedepankan ego hanya akan merusak suasana.

​"Boleh," jawab Rain tenang. Suaranya rendah dan stabil, tanpa ada nada keberatan sedikit pun.

​Saat mereka mendekat, Mili adalah yang pertama menyadari kehadiran mereka. "Lho, Mas Rain! Gabung sini, Mas!"

​Ayyara menoleh, sedikit terkejut namun matanya memancarkan binar lega yang tak bisa disembunyikan. "Rain? Kamu di sini juga?"

​"Iya, Ra. Kebetulan Danu mengajak makan di sini," jawab Rain sembari menarik kursi tepat di seberang Ayyara. Ia memberikan anggukan sopan kepada Zayn dan rekan Ayyara lainnya.

"Siang, semuanya."

​Zayn membalas dengan senyum ramah, meski ada sedikit kilat persaingan di matanya. "Siang, Rain. Wah, tim kantor baru makin kompak ya."

​Sepanjang makan siang, Rain menunjukkan kedewasaannya. Ia tidak mencoba mendominasi pembicaraan atau menunjukkan gestur posesif yang kekanak-kanakan. Saat Zayn mencoba pamer tentang betapa seringnya ia dan Ayyara makan siang bersama, Rain hanya menanggapi dengan senyum tipis yang bijak.

​"Baguslah kalau kalian cepat akrab." ujar Rain santai sembari menyuap makanannya.

​Sikap Rain yang sangat tenang justru membuat Zayn sedikit salah tingkah.

Rain tidak menunjukkan rasa kesal sedikit pun saat melihat Zayn menggeser gelas minum Ayyara agar tidak tumpah; ia justru membalasnya dengan ucapan terima kasih yang tulus atas nama kesopanan.

​Ayyara memperhatikan itu semua. Ia bisa merasakan perbedaan energi antara Zayn yang tampak berusaha keras menarik perhatiannya, dengan Rain yang duduk dengan tenang, memancarkan aura laki-laki matang yang sudah selesai dengan urusan egonya sendiri.

​Bagi Rain, ia tidak perlu beradu argumen atau pamer kedekatan di depan umum.

​"Terima kasih untuk makan siangnya, semuanya. Kami harus kembali duluan karena ada beberapa berkas yang harus segera diproses," ucap Rain saat selesai, berdiri dengan sikap yang sangat berwibawa.

Sebelum melangkah pergi, ia menatap Ayyara tepat di matanya—sebuah tatapan yang teduh namun penuh arti. "Sampai ketemu nanti, Ra."

​ayyara melambaikan tangan singkat, wajahnya tersenyum ramah.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!