Siapa sangka pernikahan pura-pura antara Jeevan dan Valerie membuat mereka berdua benar-benar merasakan jatuh cinta sama lain. Dimulai Jeevan meminta Valerie untuk berpura-pura menjadi Maura calon istrinya yang akan dikenalkan kepada keluarganya, namun di saat yang bersamaan Maura pergi meninggalkan Jeevan keluar negri.
Situasi yang salah paham membuat Valerie terjebak di antara keluarga Jeevan dan terpaksa membuat kesepakatan bersama Jeevan untuk menjadi calon istrinya.
Namun ada satu alasan Valerie menerima pernikahan pura-pura, agar dirinya putus dengan Nathaniel kekasihnya saat itu. Sejak pertama bertemu, Jeevan sudah jatuh hati pada Valerie. Apalagi ketika tahu jika Valerie adalah cinta pertamanya sejak SMP. Mulai saat itu Jeevan terus mencoba membuat Valerie jatuh cinta kepadanya, sampai bisa menjadi miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Snow White, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arti Cinta
Suara Rania terdengar tertawa begitu sangat puas ketika sedang menelpon dengan Valerie. Setelah selesai memeriksa pasien, Rania menelepon Valerie ingin bertanya kabarnya saat ini karena kemarin baru saja fitting baju pengantin. Namun Rania mendapatkan cerita baru yang luar biasa membuatnya tertawa terbahak-bahak ketika tahu jika Jeevan mengirimkan begitu banyak food truck dan coffee truck ke rumahnya, entah ada berapa jumlahnya yang pasti lebih dari 10 membuat rumah Valerie padat dan sesak.
"Nggak usah ketawa lo," suara Valerie terdengar tidak bersahabat namun Rania masih senang menggodanya.
"Lagian lo berdua tuh marahan terus, memang marahan soal apa lagi sih?"
Tidak mungkin Valerie memberitahu Rania lewat telepon soal kejadian kemarin, dan Vale juga tidak ingin mengingat kejadian itu lagi. Jika mengingatnya ingin rasanya Valerie kembali menampar dan mencakar wajah Jeevan yang dengan mudahnya menciuum bibirnya. Sebisa mungkin Valerie menahan amarahnya agar tidak terpancing dengan pertanyaan Rania.
"Hal sepele," jawab Valerie berbohong.
"Kalau cuma hal sepele nggak mungkin dia sampai ngirim food truck sampe sebanyak itu, apalagi ngirim perhiasan sama baju-baju mahal."
Sebaiknya Vale menyudahi pembicaraannya dengan Rania karena lama-kelamaan pasti Rania akan mengetahuinya. Sekarang bagaimana caranya Valerie mengembalikan semua perhiasan dan baju-baju yang sudah dikirim oleh Jeevan kepadanya. Untuk saat ini Valerie tidak ingin bertemu dengan Jeevan, karena merasa marah dengan ucapannya kemarin.
Mendengar semua cerita Jeevan membuat Kenzie hanya bisa menggelengkan kepalanya, jujur jika Kenzie menjadi Valerie pasti sama akan marah kepadanya. Harus bagaimana lagi Kenzie memberitahu Jeevan untuk mulai mencintai seseorang dengan tulus, bukan hanya memikirkan perusahannya saja.
"Untung cuma ditampar aja, kenapa nggak sekalian dicakar muka lo," sungut Kenzie merasa kesal dan mulai emosi melihat sahabatnya yang sudah mulai kehilangan akal semenjak mengenal Vale.
Setelah selesai bercerita kepada Kenzie, wajah Jeevan terlihat lesu dan hanya bisa terdiam tapi tidak ada rasa menyesal terlihat diwajahnya.
"Kalau gue jadi Vale, pasti udah gue cakar muka lo. Seenaknya aja nyiuum orang dan ngajak nikah, terus punya anak dengan jaminan semua dibiayai sama lo? Hey! Apa lo lupa kalau Valerie anak orang kaya yang tajir melintir, uangnya nggak akan habis tujuh turunan! Kalau mau ngomong soal uang jangan sama dia, karena dia nggak butuh semuanya!" Kenzie yang tadinya terlihat sumringah karena izin pulang cepat mendadak sedikit pusing melihat kelakuan sahabatnya.
"Sumpah ini anak, udah gede kaya gini masih nggak ngerti juga," tambah Kenzie keheranan masih terus menata Jeevan yang masih terdiam membisu.
"Bukannya lo sendiri yang bilang lebih baik gue menikah dan punya anak? Terus apa gue salah bilang kaya gitu sama dia?" Jeevan terus mencari alasan dengan semua ucapannya yang dianggapnya benar oleh dirinya sendiri.
Memang benar yang diucapkan oleh Jericho dan Nino, jika berbicara dengan Jeevan tentang cinta dan perasaan yang tulus harus ekstra sabar karena Jeevan belum pernah merasakannya. Mungkin dulu ia pernah merasakan perasaan itu, tapi setelah seseorang yang sangat dicintainya pergi meninggalkannya dari sana Jeevan menjadi dingin. Ia tidak percaya dengan apa namanya cinta dan sebuah hubungan, baginya akan menyakiti satu sama lain.
"Nih anak pengen gue gampar bolak-balik jadinya," gerutu Kenzie semakin kesal dan tidak sabar berbicara dengan Jeevan.
Melihat Kenzie yang mulai emosi tidak membuat Jeevan merasa bersalah, ia masih terlihat tenang dengan mimik wajah yang datar sedikit melamun, entah apa yang sedang dipikirkan olehnya yang pasti Kenzie hanya ingin menampar wajahnya karena kesal.
"Kalau lo mau nikah dan punya anak, kenapa nggak sama Maura aja dari dulu? Selama hampir dua tahun lo sama dia pacaran, apa pernah dia dikenalin sama nyokap-bokap lo?" suara Kenzie mulai semakin meninggi dan mukanya semakin mulai memerah menahan amarahnya.
"Gue nggak yakin nikah sama dia," jawab Jeevan singkat tanpa merasa bersalah.
Kenzie tercengang mendengar ucapan Jeevan, apa dia salah dengar dengan apa yang baru saja diucapkan sahabatnya. Kenapa Jeevan bisa bilang kalau dia tidak yakin memiliki hubungan dengan Maura, padahal mereka sudah menghabiskan waktu hampir dua tahun lamanya? Jika memang Jeevan tidak yakin dengan Maura kenapa masih dilanjutkan?
"Sakit, nih anak," celetuk Kenzie keheranan mendengar ucapan Jeevan.
"Gue tahu kalau gue salah. Tapi gue juga nggak bisa nyakitin dia, ninggalin dia atau mutusin dia begitu aja." Jeevan mulai angkat bicara kenapa alasannya masih bertahan dengan Maura karena dirinya tidak bisa melukai hatinya.
"Terus sekarang apa bedanya kalau lo nikah sama Valerie? Lo akan nyakitin hati dia. Lo mau punya anak dari dia demi perusahaan? Meskipun kalian berdua nggak bercerai, tapi menikah harus karena cinta." Kenzie mulai bercerita dan Jeevan hanya terdiam membisu tidak banyak bicara hanya mendengarkan ucapan Kenzie saja.
"Lo bisa menjamin semuanya, facilites, power, money, position, throne, office, privileges buat anak lo. Tapi bukan itu yang dibutuhkan sama anak lo. Buat Valerie semua udah dia punya tapi satu yang nggak dia punya, yaitu 'Cinta'," papar Kenzie menjelaskan dan lagi-lagi Jeevan hanya terdiam.
"Valerie nggak butuh itu semua, dia cuma butuh kasih sayang, perhatian, cinta dan waktu dari pasangannya. Dan kenapa dia menolak lo, karena dia nggak mau nanti anaknya tumbuh dan besar kaya dia. Gue paham bagaimana perasaannya. Sendirian, kesepian, itu nggak enak," cerita Kenzie mulai terdengar lirih dengan suara terbata-bata karena Kenzie mengalami apa yang Vale rasakan.
Sudah sewajarnya Kenzie berbicara seperti itu kepada Jeevan, karena dia tahu benar bagaimana perasaan sendirian tanpa seseorang di sampingnya. Bagaimana rasanya kekurangan kasih sayang, cinta dan perhatian. Mungkin Kenzie bisa memaklumi karena dirinya seorang anak yang tumbuh di panti asuhan, tapi bagi Valerie begitu menyakitkan saat masih ada kedua orang tuanya tapi Valerie kehilangan sosoknya.
"Jadi berhentilah minta Vale buat punya anak cuma demi perusahaan lo, karena menurut gue itu jahat," pinta Kenzie dengan tatapan sendu sedikit menyindir Jeevan.
Sebenarnya Jeevan juga tidak tahu knapa begitu berambisi ingin sekali mempunyai anak dari Valerie, apa ia masih terobsesi Namira yang mirip dengan Valerie. Tapi Jeevan juga tidak bisa menutup mata jika memang Valerie dan Namira adalah dua orang yang berbeda. Namun jauh dari lubuk hati Jeevan merasa jika Vale adalah cinta pertamanya, yaitu Namira.
"Jujur, gue juga nggak tahu kenapa begitu terobsesi sama dia. Gue merasakan hal aneh kalau didekatnya, dia bagaikan heroin buat gue karena kalau dia jauh dari jangkauan mata gue rasanya kaya orang sakau, dan kalau dia nggak ada rasanya gue nggak pernah tenang," cerita Jeevan tentang isi hatinya selama ini.
Apa mungkin ini yang namanya cinta atau hanya obsesi Jeevan semata karena kemiripan Valerie dengan Namira. Kebingungan Jeevan menjadi-jadi dan tidak bisa dihindari. Tapi Kenzie tahu jika Jeevan hanya terobsesi oleh Namira sehingga menganggap Valerie adalah sosok cinta pertamanya.
"Kalau memang lo mulai jatuh cinta sama dia, saran gue perbaiki dulu ini lo." Kenzie mengenalkan telapak tangannya dan memukul pelan dada Jeevan sambil berharap jika perasaan cinta di hati Jeevan kembali hadir.
"Masalah lo cuma di sini," tambah Kenzie lagi masih menunjuk dada Jeevan.
"Hati lo udah lama membeku dan separuhnya hilang entah kemana. Tapi kalau memang dia bisa menggetarkan kembali, belajarlah buat mencintai dia dengan tulus. Karena kalau lo bisa membuat cewek yang semasa hidupnya dipenuhi sama trauma jatuh cinta, luluhkan hatinya, taklukan egonya, perlakukan dia dengan sebaik-baiknya. Percayalah, bahwa lo akan dicintai dengan tulus tanpa batas," ucap Kenzie membuat Jeevan terhenyak dan sangat tersentuh dengan ucapannya.
Tatapannya masih kosong menatap entah ke mana, pikirannya kembali mulai kacau karena ucapan Kenzie. Memang benar Jeevan ada terlihat jahat jika memang berbuat seperti itu kepada Valerie. Dan Jeevan juga harus belajar mencintai dan membuka hatinya kepada perempuan lain. Dilahirkan dan dibesarkan penuh cinta tidak membuat Jeevan mudah jatuh cinta kepada perempuan termasuk Maura, tapi hanya dengan Valerie dia mempunyai perasaan lain.
"Gue rasa pembahasan sekarang cukup sekian, dan gue ke sini buat minta izin sama lo mau pulang duluan," pamit Kenzie sambil bangkit dari duduknya berjalan menuju pintu mengabaikan Jeevan yang masih terdiam membisu.
"Mau ke mana lo?" tanya Jeevan yang sadar dengan kepergian Kenzie.
"Gue mau ada janji."
"Sama cewek itu lagi?" tebak Jeevan sedikit terlihat kesal ketika membahas tentang Rania.
"Iyups," angguk Kenzie.
"Nggak ada kerjaan banget sih dia pake nyuruh lo datang?"
"Biarin aja deh, anggap aja mau silaturahmi sama calon mertua, hahaha," canda Kenzie mencoba menghibur dirinya sendiri padahal ia tidak tahu apa yang sedang menunggunya.
Hari ini Kenzie sudah membuat janji dengan Rania untuk bertemu dengan kedua orang tuanya membahas tentang masalah kemarin, bagi Rania tidak perlu membawa Kenzie untuk menjelaskan kepada Biyan. Namun berbeda dengan papanya yaitu dr. Geonathan yang harus mendengarkan kata maaf dari Kenzie, meski bagi Rania itu sangat berlebihan.
"Cih, dasar kampret," gerutu Jeevan sambil tertawa ringan melihat kepergian sahabatnya lagi menghilang dari balik pintu.
Sibuknya IGD hari ini membuat Rania lupa dan sembarang meletakan ponselnya di mana saja. Ada kecelakaan beruntun terjadi dan satu-satunya rumah sakit terdekat adalah rumah sakit tempat Rania. Semua suster sibuk dengan pekerjaannya masih-masing begitu juga dengan Rania. Sampai tidak sadar jika sedari tadi ada yang meneleponnya.
Suara ponsel Rania mengganggu salah satu suster jaga yang sedang mengecek riwayat penyakit pasien, tidak jauh darinya ada ponsel milik Rania yang sepertinya lupa ditaruh di sana. Dari layar ponsel terlihat sangat jelas sebuah nama yang membuat suster itu kaget bukan main. Yang awalnya sedang fokus menatap layar laptop kini menjadi terpaku ke layar ponsel Rania. Terpampang jelas sebuah nama yang menarik perhatiannya yaitu 'My Husband'.
Suster itu terdiam sesaat melihatnya dengan mulut terbuka lebar dan kedua bola matanya membulat seperti hendak keluar dari tempatnya. Melihat temannya terdiam menatap sesuatu membuat salah satu suster yang lainnya keheranan. Ia yang baru selesai memeriksa pasien dibuat keheranan dengan temannya yang sedari tadi melamun menatap ponsel.
"Kenapa bengong?" tanya suster yang baru saja berambut pendek menghampiri temannya yang terdiam.
Suster itu tersentak saat temannya berambut pendek datang menghampirinya, dengan cepat ia memberitahukan kepadanya nama yang ada di ponsel Rania. Dan reaksi suster berambut pendek sama kagetnya. Mereka berdua menganggap jika telepon masuk dari dr. Biyan calon suami Rania seperti kabar yang beredar, namun nyatanya salah.
Telepon masuk ternyata dari Kenzie, saat Rania meminta nomor ponselnya dengan sengaja Kenzie menamai nomornya dengan sebutan 'My Husband' di ponsel Rania tanpa sepengetahuannya. Saat itu Rania tidak mengecek kembali nama kontak di ponselnya yang diberikan oleh Kenzie.
"Kenapa kalian berdua bisik-bisik?" tanya Rania menatap keheranan menghampiri kedua suster yang terlihat sedang berbisik sambil tertawa ringan seolah sedang membicarakan sesuatu yang serius.
Mengetahui kedatangan Rania membuat kedua suster terdiam sejenak menatapnya, mereka bertiga saling menatap satu sama lain. Kedua suster tadi masih terus tersenyum membuat Rania penasaran.
"Kalian kenapa sih?" tanya Rania lagi penasaran.
"Ternyata dr. Rania sama dr. Biyan romantis banget ya," puji suster berambut pendek dengan senyum manis menggoda Rania.
Ucapan suster berambut pendek membuat Rania sedikit keheranan, kenapa mereka berdua bisa menebak jika Rania dan Biyan itu romantis? Padahal mereka berdua tidak pernah menunjukan keromantisannya di depan karyawan rumah sakit, staf dokter ataupun staf para suster. Mereka berdua begitu privasi menjaga hubungannya, jika disebut romantis tentu saja salah karena Biyan tidak pernah menunjukkan dirinya romantis kepada Rania.
"Romantis?" Rania mengulang ucapan suster berambut pendek dan ia membalasnya dengan anggukan kepala.
"Romantis apanya?" tanya Rania lagi masih penasaran.
"Iya, dr. Rania teryata romantis banget sampai nama kontak dr. Biyan di ponselnya dikasih nama 'My Husband'," jawabnya membuat Rania kaget mendengarnya.
Sepertinya Rania salah mendengar apa yang baru saja diucapkan suster jaga IGD, bagaimana bisa ia menebak dan berpikir seperti itu? Sedangkan Rania tidak pernah menyimpan nama kontak Biyan di ponselnya dengan sebutan 'My Husband'. Pasti ada kesalahan.
"My Husband?" Rania semakin tidak mengerti menatap kedua suster.
"Iya, tadi ada yang menelepon dr. Rania dan di layarnya namanya 'My Husband'. Pasti dokter Biyan, kan?"
Semakin penasaran akhirnya Rania mengambil ponsel miliknya dan segera mengeceknya. Benar saja ada panggilan tak terjawab di sana, apalagi Rania dibuat kaget melihat namanya di sana yaitu 'My Husband'. Siapa My Husband yang ada di dalam kontak ponselnya? Pikirannya melayang entah ke mana seolah sedang berusaha untuk mengingatnya.
Dan...ups, wajah Rania semakin terkejut setelah tahu siapa yang melakukannya, dia adalah Kenzie yang beberapa waktu lalu menyimpan nomor ponselnya. Rasa dongkol menyelimuti Rania karena Kenzie kembali membuat masalah, memang dia selalu senang membuat Rania marah.
Malam hari kota Jakarta diguyur hujan deras, jalanan sedikit lenggang. Langkah kakinya terus berjalan entah ke mana di bawah guyuran hujan deras. Bajunya mulai basah namun ia tidak menghiraukannya. Tatapan sendu dan kesedihan terlihat jelas di matanya, hatinya sakit dan sedih setelah bertemu dengan dr. Geonathan.
Hati Kenzie hancur ketika dr. Geonathan memperingatkan dirinya agar tidak dekat dengan putri bungsunya. Sebagai anak yang tidak tahu asal usulnya membuat Kenzie tidak lagi perlu mengenal Rania, selain harus meminta maaf ternyata dr. Geonathan sudah lebih dulu mencari tahu tentang dirinya.
Di depan Biyan, dr. Alan dan kedua orang tua Rania, Kenzie harus meminta maaf atas perbuatannya. Rasanya Kenzie seperti direndahkan di sana dan dr. Geonathan tidak henti-hentinya untuk mengingatkan siapa Kenzie. Tentunya baru kali ini selama hidupnya hati Kenzie sangat hancur, padahal sejak dulu selama tinggal bersama keluarga Sulthan Malik Syailendra, ia tidak pernah direndahkan seperti ini. Tapi sekarang rasanya seperti ingin mati saja.
"Ya, Tuhan. Siapa keluargaku sebenarnya? Di mana mereka? Apakah jika aku mempunyai keluarga yang kaya raya dan berada tidak akan pernah diinjak seperti ini?" Kenzie bicara dalam hati sambil menangis di bawah guyuran hujan yang begitu deras.
ku kasih bintang lima biar author nya tambah semangat lagi🤭💪