Aku memang memimpikan menjadi seorang IBU, tapi aku tidak pernah memimpikan menjadi seorang ISTRI.
Nayla Annaya, 24 tahun, memilih hidup sendiri tanpa hubungan asmara. Namun, tekanan keluarga untuk segera menikah membuat hidupnya mulai terasa tidak terkendali.
Di tengah usahanya melarikan diri sejenak bersama sahabat-sahabatnya, sebuah kejadian tak terduga di pusat perbelanjaan justru menjadi awal dari sesuatu yang tak terduga.
Karena terkadang, satu hari yang terlihat biasa saja bisa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Navy Ane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"foto keluarga"
Nayla memperhatikan Arkan yang sedang mengobrol dengan ayahnya dari kejauhan.
Tanpa sadar, ia teringat cerita semalam bersama Oma—tentang foto keluarga. Refleks, ia mengangkat kamera dan mengarahkannya pada mereka berdua.
Beberapa kali ia membidik dari sudut yang berbeda. Hingga tiba-tiba, gerakannya terhenti.
Tatapan ayah Arkan lurus mengarah padanya.
Tajam. Dalam. Seolah menyadari sejak awal bahwa dirinya sedang diperhatikan.
Nayla menelan ludah.
Jantungnya berdegup lebih cepat, tapi entah kenapa, ada dorongan aneh yang membuatnya tetap bertahan. Ia mengalihkan pandangan sejenak, lalu kembali fokus pada kameranya, berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Di sisi lain, Arkan yang menyadari arah pandangan ayahnya, ikut menoleh.
Dan menemukan Nayla.
Papah benar-benar naksir sama Kakak, batinnya polos.
Tanpa aba-aba, Arkan langsung bergelantungan di kaki ayahnya sambil tertawa lebar ke arah kamera.
Ayahnya sedikit terkejut, menunduk menatapnya dengan heran.
Dan di saat itulah—
klik.
Foto pertama tertangkap.
Arkan yang bergelantung, dan ayahnya… yang menatap Arkan.
Belum sempat suasana berubah, Arkan kehilangan pijakan.
Refleks, ia menarik Arkan naik dari tubuhnya, mengangkatnya ke udara.
Tawa Arkan pecah, kaki kecilnya mengayun bebas.
Dan di tengah momen itu—
klik.
Foto kedua.
Momen singkat yang terasa jauh lebih hangat.
Nayla tersenyum.
Senyum yang muncul begitu saja saat melihatnya.
Saat ia sedang menikmati hasil fotonya, suara nyaring tiba-tiba memecah fokusnya.
“Kakak!”
Nayla tersentak.
“Arkannn… kuping kakak mau budek tau,” gerutunya, cemberut.
“Kakak, tadi lihat enggak?” tanya Arkan dengan mata berbinar.
“Lihat apa?” Nayla menjawil hidungnya gemas.
“Tadi Arkan terbang! Begini!” Arkan memperagakannya dengan penuh semangat, tangannya terangkat, tubuhnya sedikit melompat kecil, diiringi tawa lepas.
“Oh ya? Kok bisa kamu terbang?” tanya Nayla, pura-pura heran, ikut terbawa suasana.
Belum sempat Arkan menjawab—
“Heeey!”
Suara Oma memotong dari kejauhan.
Nayla dan Arkan menoleh bersamaan.
Oma berjalan cepat ke arah mereka, diikuti beberapa pelayan dan Mbak Rani yang membawa berbagai peralatan.
“Kita akan sarapan di taman!” seru Oma dengan wajah cerah.
“Yeyyy! Horeee!” Arkan bersorak, lalu menarik tangan Nayla dan mengajaknya berputar-putar.
Tawa mereka pecah.
Oma ikut tertawa hangat melihat tingkah keduanya.
Di tengah keriuhan itu, satu hal tetap terasa sama—
Tatapan ayah Arkan.
Masih tertuju pada Nayla.
_
Tak lama, meja sarapan di taman sudah tertata rapi.
Nayla celingukan, matanya mencari seseorang.
Hm… kayaknya dia nggak bakal gabung, batinnya sedikit kecewa. Padahal aku sudah punya rencana.
Dari kejauhan, ia melihat ayah Arkan sedang berbicara dengan Kak Danu.
Seolah mengerti isi pikirannya, Oma tiba-tiba mendekat dan berbisik pelan,
“Urusannya cuma sedikit. Nanti juga ke sini.”
Nayla menoleh cepat.
Mata nya langsung berbinar.
Yesss…
Senyum kecil tak bisa ia sembunyikan.
Dan Oma
…mengetahuinya.
_
Ia berdiri tidak jauh dari meja, memperhatikan dengan tenang. Tatapannya sempat terarah ke sela-sela pohon hias—ke arah kamera kecil yang tersembunyi rapi di sana.
Namun ia tidak mengatakan apa-apa.
Hanya berjalan mendekat, lalu duduk perlahan di sisi meja.
“Arkan, makan dulu,” ucapnya lembut.
“Iya, Oma!”
Nayla ikut duduk di seberang Arkan.
Sekilas ia melirik ke depan.
Ayah Arkan masih bersama Kak Danu.
Belum ke sini.
Ada jeda kecil di dadanya.
Sebentar saja… datanglah…
Ia menunduk, merapikan posisi piring Arkan.
Tangannya bergerak pelan, seolah biasa saja—padahal ia sedang memastikan posisi mereka tetap berada dalam jangkauan kamera.
Oma memperhatikannya.
Diam.
Mengerti.
Namun tidak mengganggu.
“Ini sayurnya jangan dipilih-pilih,” ujar Oma santai, seolah menutupi suasana.
Arkan cemberut sedikit.
“Hehe… iya Oma.”
Nayla tersenyum kecil, tapi matanya kembali melirik ke depan.
Masih belum datang.
Sedikit kecewa.
Namun ia cepat menahannya.
Langkah kaki itu akhirnya terdengar.
Pelan.
Mendekat.
Nayla tidak langsung menoleh.
Jantungnya justru lebih dulu bereaksi.
“…Belum selesai?”
Suara itu.
Nayla menoleh.
Ayah Arkan sudah berdiri di sana.
Oma mengangkat pandangannya sekilas.
Lalu… hanya tersenyum tipis.
“Duduk saja. Sekalian makan,” ucapnya ringan.
Tidak memaksa.
Tapi cukup jelas.
Pria itu terdiam sejenak, lalu menarik kursi di sisi Arkan.
Duduk.
Arkan langsung berseri-seri.
“Papah! Makan sama Arkan!”
Tidak ada jawaban panjang.
Namun ia tetap di sana.
Dan itu cukup.
Nayla menunduk pelan.
Senyum kecil muncul di bibirnya—hangat,
Di depannya sekarang—
Arkan.
Ayahnya.
Dan Oma.
Lengkap.
Ia hanya memperhatikan sebentar.
Diam-diam.
Seolah takut merusak momen itu.
Seperti keluarga…
Bisiknya dalam hati.
Ia tidak ikut masuk ke dalamnya.
Tidak mencoba mendekat.
Hanya… menyaksikan.
Sementara di balik daun-daun hijau,
kamera kecil itu merekam semuanya.
Dan Oma—
kali ini menoleh sekilas ke arah Nayla.
Tatapannya lembut.
Seolah berkata tanpa suara:
Aku tahu dan terimakasih
Namun ia tetap diam.
Membiarkan momen itu berlangsung…
**
Setelah momen indah itu, Arkan kembali ke rutinitasnya.
Kemarin seharusnya menjadi jadwal les membaca dan menulis. Namun, karena ajakan ayahnya yang tidak seperti biasanya—mengajak Arkan pergi ke pantai—jadwal itu pun diliburkan.
Dan hari ini…
Pukul sembilan pagi, seperti biasa, Arkan sedang mengikuti les matematika di ruang belajarnya.
Ruang itu tidak terlalu besar, namun terasa hangat dan rapi.
Sinar matahari pagi masuk melalui jendela lebar di sisi kanan, menembus tirai tipis berwarna krem. Cahaya itu jatuh lembut ke lantai, menciptakan suasana tenang yang kontras dengan riuhnya dunia luar.
Di tengah ruangan, sebuah meja kecil berwarna putih berdiri sederhana, ditemani kursi mungil yang pas untuk tubuh Arkan. Di atas meja, buku-buku bergambar tersusun rapi—beberapa terbuka, menampilkan angka dan ilustrasi berwarna cerah.
Di sudut ruangan, rak rendah dipenuhi buku cerita, puzzle, dan balok susun. Beberapa mainan tampak sedikit berantakan—jejak dari kebiasaan lama yang belum sepenuhnya hilang.
Sebuah papan tulis kecil menempel di dinding, penuh coretan angka dan huruf. Ada angka 3 yang sedikit terbalik, garis-garis yang belum rapi—usaha kecil yang jujur.
Di lantai, karpet lembut berwarna pastel membentang, memberi ruang bagi Arkan untuk duduk santai saat ia mulai bosan.
Udara terasa bersih, dengan aroma samar buku dan kayu.
Dan di tengah semua itu—
Arkan duduk tenang di kursinya.
Punggungnya tegak.
Tangannya rapi di atas meja.
Sesuatu yang dulu hampir tidak pernah terlihat.
Sesekali, matanya melirik ke arah pintu.
Di sana, Nayla duduk di kursi tunggu, diam, memperhatikan.
Dulu, di waktu seperti ini, ruangan itu pasti sudah dipenuhi suara langkah kaki Arkan.
Berlari ke sana kemari.
Menyembunyikan buku.
Atau sengaja menjahili gurunya hanya untuk mendengar tawa sendiri.
Dan ia memang tertawa.
Lepas.
Seolah belajar hanyalah permainan baginya.
Namun hari ini berbeda.
Arkan tidak bergerak dari kursinya.
Tidak berlari.
Tidak menjahili.
Ia hanya duduk… dan menunggu.
Dengan senyum kecil yang tak bisa ia sembunyikan.
“Miss, ayo mulai. Arkan mau belajar.”
Suaranya terdengar penuh semangat.
Miss Anna tersentak.
Ia menatap Arkan beberapa detik, seolah memastikan apa yang ia lihat benar-benar nyata.
Anak yang biasanya menggerutu, berteriak, bahkan berusaha mengusirnya—
kini justru meminta pelajaran segera dimulai.
Arkan kembali melirik ke arah pintu.
Ke arah Nayla.
Senyumnya melebar sedikit.
Dan di saat itu—
Miss Anna mengerti.
Bukan buku.
Bukan pelajaran.
Bukan juga angka-angka di meja itu—
yang membuat Arkan duduk setenang ini.
Melainkan…
gadis yang sejak tadi diam di sana.
Yang hanya tersenyum.
Namun cukup untuk membuat seorang anak kecil…
ingin menjadi lebih baik.