Bayu Rangga Alexander, seorang pengacara handal yang banyak memenangkan kasus persidangna di usianya yang masih terbilang muda. Semuanya terlihat sangat sempurna, jika saja dia bukan seorang cassanova.
Bermain wanita hanya untuk kepuasan semalam sudah biasa dia lakukan. Alasannya hanya satu, dia tidak pernah mau terikat dengan siapapun. Menganggap jika semua wanita hanya akan menginginkan hartanya, Bayu tidak percaya akan ketulusan cinta.
Hingga suatu malam seorang wanita beranjak naik ke atas ranjangnya, menemani malamnya, memuaskannya, tapi sama sekali tidak meminta bayaran, hal yang membuat Bayu merasa aneh hingga dia cukup penasaran.
Wanita bernama Viona itu menolak kehadirannya, menolak keras untuk tidur kembali dengan Bayu meski pria itu akan membayarnya mahal. Dia memilih untuk pergi dan tidak berurusan dengan Bayu lagi.
"Aku tidak meminta bayaran, karena aku sengaja memanfaatkanmu untuk tidur denganku. Jangan ganggu aku lagi!"
"Sial wanita itu berani sekali menolakku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alasah Tidak Masuk Akal
"Kamu sakit Vio? Wajahmu pucat"
Viona memegang pipinya sendiri ketika mendengar pertanyaan dari Pak Hermawan. Hari ini mereka siap untuk pergi rapat diluar. Viona memang selalu merasa ada yang lain dengan tubuhnya akhir-akhir ini, tapi masih merasa semuanya masih dalam batas wajar.
"Tidak papa Pak, saya hanya sedikit tidak enak badan. Mungkin hanya masuk angin"
"Kalau sakit sebaiknya jangan bekerja dulu, kamu bisa untuk istirahat"
Viona tersenyum tipis dan menggeleng pelan. "Tidak papa Pak, saya masih bisa bekerja kok"
Pak Hermawan mengangguk pelan, mereka sampai di depan Lobby dimana mobil sudah di siapkan oleh sopir Pak Hermawan. "Sabaiknya kamu periksa kalau badan kamu tidak enak, biar cepat diberi obat dan bisa cepat sehat kembali"
Viona mengangguk pelan, setelah menutup pintu mobil belakang, Viona segera masuk ke kursi penumpang sambil membuka ipad di tangannya. "Setelah pertemuan sore ini, Bapak akan bertemu dengan Pak Bayu"
Akhirnya setelah satu minggu menunggu, tadi pagi Ranti memberitahu jika sore ini Bayu bisa bertemu dengan Pak Hermawan. Meski harus melewati hal yang cukup membuatnya kesal, tapi Viona akhirnya bisa lega karena Bayu akhirnya mau bertemu dengan atasannya ini.
"Baiklah, kamu juga ikut ya"
Viona terdiam, sebenarnya dia tidak ingin bertemu dengan pria itu lagi. Setelah pertemuan terakhir kali, Viona hanya merasa sangat kesal dengan Bayu yang memandangnya rendah, meski memang sebenarnya semua itu terjadi juga karena Viona yang tidak berpikir lebih dulu sebelum berani naik ke atas ranjang seorang Bayu. Namun, semua yang sudah terjadi, tentunya tidak akan bisa di rubah kembali.
Rapat kali ini berjalan dengan lancar, Viona sudah menyiapkan materi dengan matang sehingga semuanya tidak ada kesalahan. Pak Hermawan dan rekan kerjanya juga terlihat cukup puas dengan cara kerja Viona. Dan sekarang adalah waktunya dia pergi menemui Bayu, meski dengan Pak Hermawan, tapi Viona tetap merasa gelisah tak menentu.
Sampai di Kantor Bayu, mereka langsung di jemput Ranti menuju ke ruangan Bayu. Saat sampai disana, Viona merasa tidak ingin untuk bertemu Bayu. Kejadian terakhir kali masih membuatnya kesal.
"Em Pak, sebaiknya saya menunggu disini saja. Ini kan urusan Bapak dan Pak Bayu ya"
"Tapi 'kan semua data untuk pemindahan aset ada di kamu, Vio. Jadi kamu harus ikut masuk, lagian kamu juga sebagai sekretaris saya"
Viona tersenyum masam, cukup bingung untuk menolaknya. Dan akhirnya dia tidak mungkin menolak, Viona ikut masuk ke dalam ruangan Bayu. Saat masuk, tatapan pria yang duduk di meja kerjanya itu seolah langsung tertuju padanya. Meski Viona mencoba untuk biasa saja, seperti tidak pernah ada masalah apapun yang terjadi dengan mereka.
"Selamat sore Tuan Bayu, sekali lagi terima kasih karena bersedia bertemu kembali" ucap Pak Hermawan sambil mengulurkan tangannya pada Bayu dengan senyuman ramah.
Bayu menjabat tangan Pak Hermawan dengan tersenyum tipis. Lalu mengarahkan tangannya sopan ke arah sofa. "Silahkan duduk dan kita bicarakan apa yang Pak Hermawan butuhkan dari saya"
Mereka duduk di sofa, Viona tetap berdiri di belakang Pak Hermawan dengan memegang ipad dan satu berkas. Memeluknya di dada. Pandangannya terus di alihkan agar tidak bersitatap dengan Bayu, masih ingat bagaimana ucapan pria itu dan apa yang dia ucapkan juga. Viona sadar jika waktu itu dia cukup berani berkata seperti itu pada Bayu.
Untung saja dia tidak melaporkan aku ya, secara aku berbicara begitu lantang dan terlalu berani. Sementara dia 'kan pengacara terkenal yang handal menangani kasus apapun.
Viona melipat bibirnya, menghindari rasa gugup di hatinya. Wajahnya menunduk, tidak mau menatap pria yang duduk tepat di depannya itu, berseberangan dengan Pak Hermawan.
"Jadi, saya ingin Tuan Bayu menjadi pengacara saya untuk pemindahan nama aset pada anak-anak saya. Saya merasa sudah tua, dan sudah saatnya memberikan semuanya pada anak-anak dengan adil agar mereka tidak merasa di beda-bedakan" ucap Pak Hermawan sambil tersenyum.
"Baiklah, saya akan bantu. Kalau boleh tahu dimana berkasnya?"
Pak Hermawan menengadahkan tangannya ke arah belakang, meminta Viona untuk menyerahkan berkasnya. "Vio, mana berkasnya? Vio... Viona?"
Viona mengerjap pelan, dia terlalu larut dalam pikirannya sampai tidak fokus. Dia segera bergerak untuk menyerahkan berkas di tangannya pada Pak Hermawan.
"Maaf, Pak"
"Kamu melamun? Kenapa?"
Viona menggeleng pelan sambil tersenyum. "Tidak papa Pak, hanya sedikit mengantuk saja"
Bayu fokus membaca berkasnya, tapi sesekali matanya mencuri pandang pada Viona. Sebenarnya dia sudah memahami berkasnya, namun ada sesuatu yang perlu dia pastikan.
"Pak Hermawan, saya butuh sekretaris anda untuk berada disini dulu. Saya butuh bantuan untuk menjelaskan beberapa hal"
Viona langsung menatapnya dengan kaget. Tidak ... ini bukan yang dia inginkan. Kenapa Bayu harus memintanya tetap disini, apa dia belum puas mengatainya waktu itu?
"Em, saya-"
"Baik Tuan, tidak papa. Viona, kamu bisa 'kan? Saya juga harus segera pulang, istri saya menunggu untuk di jemput di salon"
Viona tersenyum masam, dia sudah siap untuk menolak, tapi apalah daya jika seperti ini keadaannya. Melihat sekilas senyuman licik dan penuh kemenangan dari pria di depannya itu.
"Baik Pak" ucapnya dengan lemah, bahunya lemas seketika.
Sebenarnya dia mau apalagi berurusan denganku?
Setelah Pak Hermawan pergi, ruangan terasa lebih hening. Viona masih berdiri kaku di tempatnya, menunggu Bayu berbicara ingin meminta penjelasan apa tentang berkas itu.
"Duduklah, kali ini kita fokus pada pekerjaan. Aku tidak akan membahas hal yang diluar pekerjaan"
Viona sedikit bernapas lega mendengar itu, meski sebenarnya masih cukup was-was, dia tidak sepenuhnya percaya pada Bayu. Viona duduk di sofa tempat Pak Hermawan tadi. Masih diam menunggu.
"Jadi, bagian ini Pak Hermawan ingin Perusahaan utama diberikan tanggungjawabnya pada anak bungsunya, dan perusahaan cabang di Luar Kota diberikan pada istrinya Rendi?"
Viona mengerjap pelan, mengetahui Bayu mengenal Rendi awalnya cukup membuatnya terkejut, sampai teringat jika dulu Rendi adalah junior Bayu saat kuliah, membuatnya tentu akan saling mengenal, apalagi sekarang Rendi menikah dengan Raisa anaknya Pak Hermawan.
"Iya, seperti itu"
Bayu mengangguk pelan, lalu dia menatap Viona yang duduk dengan tegang di depannya. Sejauh ini Bayu masih begitu penasaran kenapa Viona bisa berani sekali berbicara seperti itu padanya.
"Ranti sudah transfer uangnya?"
Viona menggerakan bola matanya, sudah bersangka baik jika Bayu tidak akan membahas apapun tentang apa yang pernah terjadi diantara mereka, tapi tetap di bahas.
"Ya, dan semoga setelah ini kamu tidak mengganggu saya lagi. Saya hanya ingin hidup tenang, jika kamu menganggap saya sama dengan setiap wanita yang kamu tiduri, maka saya terima. Meski melakukan itu karena saya ada alasan"
"Agar kau bisa bercerai dengan suamimu? Haha... Kau pikir aku percaya dengan alasan aneh itu? Alasan itu tidak masuk akal"
Viona menggigit bibirnya, semua orang mungkin tidak akan ada yang percaya tentang ceritanya itu. Namun, Viona tidak akan bisa lepas dari suaminya jika bukan dia yang ingin menceraikannya, karena sebenarnya Dani ingin mempunyai dua istri, dia ingin menikahi Tari tanpa menceraikannya.
"Terserah padamu mau percaya atau tidak, tapi itulah kenyataannya"
Bersambung
di tunggu up nya thor 🙏
nnt panggil pengasuh bu Aminah, panggil viona, ibu.