Tara dan Devan sudah menikah selama tiga tahun. Hanya Tara yang jatuh cinta di sini. Selama tiga tahun, Tara berusaha membuat Devan jatuh cinta. Apakah Tara berhasil saat ia tahu persis pernikahannya dengan Devan berbeda dengan pernikahan normal lainnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yesstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Tara membuka matanya perlahan. Kepalanya berdenyut nyeri. Seluruh tubuhnya sakit. Dia mengamati seluruh ruangan dengan tatapan samar.
“Aw,” rintih Tara pelan. Tara berusaha bangun dengan susah payah dan duduk bersandar pada sandaran ranjang.
Pintu ruangan terbuka. Tara menyipitkan matanya. Seorang pria langsung mendekati Tara dengan panik.
“Ya ampun. Kenapa kamu duduk? Tiduran lagi ya. Keadaan kamu lagi nggak baik-baik aja,” ucap pria itu menatap khawatir.
Tara menggeleng pelan sambil sesekali meringis karena kepalanya yang sakit akibat terkena benturan saat kecelakaan tadi.
“Kita ke rumah sakit ya. Kita harus memeriksakan keadaanmu, Ra,” ujar pria itu lagi saat melihat raut kesakitan dari wajah Tara.
Tara menggeleng lagi. “Jangan. Aku nggak papa.”
“Kamu yakin? Aku takut terjadi sesuatu sama kamu, Ra.” Tatapan pria itu begitu sendu, menatap tak tega pada wanita di depannya.
“Aku nggak papa. Terima kasih, Vid. Kamu udah nolongin aku,” ucap Tara mencoba tersenyum walau lemah.
David mengangguk. Ya. David lah yang sudah menolong Tara. David sedang di bengkel saat Tara tiba-tiba meneleponnya dan meminta bantuannya. Suara lirih dan bergetar Tara membuat David panik dan langsung menuju lokasi Tara.
Dan alangkah terkejutnya David saat melihat mobil Tara menabrak pinggiran jembatan. Tanpa pikir panjang, David langsung membuka pintu kemudi dan membawa Tara keluar dari sana.
Tara masih sadar walaupun lemah. David berniat membawa Tara ke rumah sakit, namun Tara menolaknya.
“Bawa aku kemanapun.. asal.. jangan ke rumah.. atau… rumah sakit,” ucap Tara pelan dan terbata. Setelah itu Tara tak sadarkan diri.
David yang bingung dan panik pun akhirnya menuruti permintaan Tara dan membawa Tara ke rumahnya.
“Minum dulu, Ra.” David menyodorkan gelas dan membantu Tara minum.
“Aku benar-benar khawatir, Ra. Apa nggak sebaiknya kita ke rumah sakit? Sebentar aja buat ngecek keadaan kamu.” David mencoba membujuk Tara. Walaupun tak ada luka parah, tapi tetap saja Tara baru saja mengalami kecelakaan. David takut ada luka di dalam tubuh sang mantan.
“Sekarang.. pasti polisi lagi nyari aku dan ngabarin Devan. Aku nggak ingin ketemu siapapun, Vid,” ucap Tara pelan menatap jendela di samping ranjangnya dengan tatapan lemah.
David ingin sekali bertanya banyak hal pada Tara, namun, melihat keadaan Tara, David tak tega dan rasanya waktunya belum tepat untuk menanyakan hal itu.
“Oke. Tapi kalau sampai besok pagi, keadaanmu masih seperti ini, kita ke klinik ya.”
Tara mengangguk pelan. “Ini dimana, Vid?”
“Di rumahku. Kamu aman disini. Nggak ada yang tahu rumah ini kecuali Vano,” jawab David mengerti kekhawatiran Tara.
David bisa menduga kalau hubungan keduanya pasti sedang dalam masalah dan Tara melarikan diri dari rumah hingga akhirnya kecelakaan. David bisa melihat bawah mata Tara yang sembab dan sedikit membengkak. Saat dia menolongnya pun, Tara masih meneteskan air mata. Entah karena menangisi tubuhnya yang sakit akibat kecelakaan atau hatinya yang tengah terluka.
“Siapa aja yang tinggal disini?”
“Nggak ada. Aku tinggal di rumah kedua orang tuaku. Dulu rumah ini aku jadikan tempat pelarianku.”
Tara mengangguk. Mengerti arti kata tempat pelarian yang dimaksud David. “Boleh aku tinggal disini sementara waktu?” Tara menatap David.
David mengangguk dan tersenyum. “Ambil waktu sepuasmu untuk menenangkan diri disini. Aku nggak akan tinggal disini untuk menghargai kamu. Bagaimanapun kamu masih berstatus istri orang. Tapi, kalau kamu butuh apapun, kamu bisa hubungi aku ya.”
Tara mengangguk. “Terima kasih. Ehm, Vid, dimana ponselku?”
“Ada di aku. Mau aku ambilkan? Sepertinya ada di mobil.”
Tara menggeleng. “Bawa saja ponselku dan tolong ganti nomornya. Aku yakin sekarang Devan ataupun Bang Haris pasti lagi nyari aku dan nglacak keberadaanku.”
“Ponselmu mati, Ra.”
Tara mengangguk lega. “Tasku mana?”
“Aku tinggal tasmu di mobil itu. Aku hanya membawa ponselmu agar polisi atau suamimu tak tahu kalau kamu menghubungiku setelah kecelakaan itu.”
Tara mengangguk pelan. “Maaf membuatmu terlibat dalam masalahku, Vid. Aku cuma nggak tahu harus minta tolong ke siapa lagi. Aku nggak percaya pada siapapun termasuk Abangku sendiri.” Tatapan Tara meredup dan air mata kembali turun ke pipinya.
David menatap Tara prihatin. Ingin sekali memeluk dan memberi ketenangan pada Tara, namun dia sadar diri dengan statusnya. Seberapa dalam luka di hati Tara sampai Tara seperti ini dan tak ingin bertemu siapapun bahkan dengan kakaknya sendiri?
David menggenggam tangan Tara. “Aku udah bilang kan sama kamu, kalau kamu bisa menghubungiku kapanpun. Dua puluh empat jam ku, untukmu. Aku sama sekali nggak masalah kamu melibatkanku, Ra. Sejak aku melihatmu menangis sendirian di danau waktu itu, aku tahu kalau hati kamu sedang terluka. Dan mungkin ini ujung lelahmu menahan semua itu.”
Tara menatap tangannya yang digenggam David. Terasa hangat dan menenangkan. Tara tersenyum. “Kamu benar. Aku sedang lelah, Vid. Sangat lelah.”
“Iya aku tahu. Sekarang kamu istirahat ya. Istirahatkan jiwamu yang lelah itu. Nggak akan ada yang ganggu kamu disini. Kamu aman di rumahku, Ra,” ucap David tersenyum lembut.
Tara mengangguk. Kepalanya memang masih pusing. David membantunya untuk berbaring dan menarik selimut untuk menutupi tubuh Tara.
“Kamu istirahat ya. Jangan banyak gerak. Aku harus pergi sebentar. Tapi aku akan segera kembali,” ucap David terpaksa harus meninggalkan Tara karena ada pekerjaan penting di bengkel yang tadi dia tinggalkan untuk menolong Tara.
Tara mengangguk. “Kunci saja pintu rumahnya dari luar, Vid. Aku nggak akan kemana-mana.”
David mengangguk. Setelah Tara memejamkan matanya, David mengelus rambut Tara pelan dan beranjak keluar dari kamar.
***
“Lo mau cosplay jadi mayat hidup, hah?”
Devan menoleh dan menatap Haris datar. Sudah dua hari ini kegiatannya di rumah hanya melamun dan melamun saja. Untuk urusan makan, Haris sendiri yang harus turun tangan karena Devan sama sekali tak ada niat bergerak dari ranjangnya.
Haris melakukan itu semua bukan karena dia masih ada perasaan lebih pada Devan. Dia hanya kasihan melihat adik iparnya yang setiap hari terus melamun. Haris takut Devan jadi gila. Tara belum ketemu dan harus ditambah dengan merawat Devan. Haris benar-benar pusing sekarang.
“Kalau lo kayak gini terus, gimana kita bisa nemuin Tara? Gue pontang panting nyari dia. Sedangkan lo? Lo cuma nglamun nggak jelas. Nyesel boleh aja. Tapi itu nanti kalau kita udah bawa Tara pulang,” ujar Haris sambil duduk di depan meja rias. Haris melihat berbagai skincare milik adiknya dan tatapannya berubah sendu.
Tara masih belum ditemukan hingga hari ini. Dia menghilang tanpa jejak. Dia marah pada Devan, tapi mengapa dia menghindari Haris juga? Apa Haris sudah tak dianggap sebagai kakaknya lagi? Apa Tara juga kecewa dengan Haris?
“Tadi polisi ngabarin gue. Dia bilang ada saksi yang melihat Tara digendong sama seorang pria. Tapi saksi itu lupa nggak ambil foto mereka,” ucap Devan lirih.
Haris melihat Devan. “Siapa pria itu? Apa dia yang sudah menyelamatkan Tara?”
“Kemungkinan iya. Tapi gue ngira pria itu mengenal Tara. Karena jika dia nggak kenal Tara, harusnya dia ngehubungi kita. Ponsel Tara nggak ada di mobil. Polisi udah melacaknya tapi lokasi terakhirnya di tempat kecelakaan itu. Kemungkinan besar ponsel Tara sengaja dimatikan agar kita nggak tahu keberadaannya.”
Haris mengernyitkan dahi. “Hmm … seorang pria? Ciri-cirinya?”
“Dia tinggi. Dia membawa Tara ke mobilnya. Setelah itu mereka pergi. Kejadiannya begitu cepat jadi saksi itu nggak melihatnya dengan jelas.”
Haris memegang dagunya dan mulai berpikir siapa pria yang sudah membawa Tara. Hingga sebuah nama muncul begitu saja di kepalanya. Haris melihat Devan yang menatap kosong jendela kamarnya.
“Apa pria itu David?”
Devan sontak menoleh, terkejut. “David?”
“Iya. Pria tinggi yang dikenal Tara mungkin David,” ucap Haris ragu. Karena itu baru praduganya saja.
Devan menggeleng ragu. “Tapi mereka udah nggak berhubungan lagi sejak David keluar dari Tokoku tiga tahun lalu. Tapi Tara juga tak punya teman pria lain. Apa kamu yakin jika David yang membawa Tara?”
Haris mengedikkan bahu. “Aku cuma menduga aja.”
Devan mengembuskan napas berat. “Siapapun pria itu, gue yakin dia diminta Tara untuk menyembunyikan keberadaannya. Tara mungkin ingin menenangkan dirinya, Ris. Gue tahu Tara pasti sudah sangat kecewa dan benci sama gue.”
“Terus sekarang kita harus apa? Menghentikan pencarian?”
Devan mengangguk. “Gue tahu gimana Tara, Ris. Semakin kita berusaha nyari dia, dia bakal semakin sembunyi dari kita. Kita nggak tahu siapa yang udah nolongin dia. Tapi yang jelas orang itu pasti mantau keadaan luar dan ngasih informasi ke Tara kalau kita masih nyari dia. Itulah sebabnya Tara nggak mau keluar dari persembunyiannya. Semoga aja keadaan Tara baik-baik aja.”
Haris menghela napas pelan. Cukup masuk akal penjelasan Devan. “Jadi, kita minta polisi menghentikan pencarian juga?”
“Iya. Gue yakin, Tara pasti akan kembali cepat atau lambat. Dia masih bini gue. Dia nggak akan terlalu lama di luar sana. Apalagi jika benar dia lagi sama seorang pria. Tara wanita baik-baik. Gue yakin itu. Dia cuma butuh waktu buat nenangin dirinya. Toh polisi juga bilang kalau nggak ada rumah sakit yang menerima pasien kecelakaan di sekitar area sana.”
Haris mengembuskan napas. Dia merasa telah gagal menjadi seorang kakak. Tara bahkan sudah tak mempercayainya lagi sebagai tempat berlindung. Itu jelas terbukti karena sampai sekarang Tara juga tak menghubunginya.
“Terus rencana lo apa setelah dia kembali? Gue yakin nggak semudah itu Tara maafin lo setelah melihat kelakuan bejat lo.”
Devan mengangguk. “Gue bakal berusaha yakinin dia. Gue bakal berubah. Gue nggak mau kehilangan dia, Ris. Rumah ini, semuanya ada kenangan gue sama dia. Gue sadar sekarang kalau gue butuh Tara.”
Haris berdecih. “Tapi lo nggak boleh maksa adik gue lagi. Kalau adik gue nggak mau balik lagi sama lo, maka lo harus lepasin dia.”
Devan menatap Haris tajam. “Gue yakin Tara juga masih mencintai gue. Lo emang abangnya, tapi ini pernikahan gue sama dia. Lo nggak perlu ikut campur.”
Haris menaikkan satu alisnya dan tersenyum remeh. “Dari awal pernikahan kalian, gue udah ikut campur. Dan ingat satu hal. Lo udah nyakitin adik gue jadi otomatis lo harus siap nglepas adik gue dari ikatan memuakkan ini jika itu yang diinginkan Tara.”
Devan menyeringai. Tak ingin menjawab karena dia punya rencana sendiri untuk menahan Tara tetap berada di sampingnya setelah Tara pulang nanti. Devan tak akan melepas Tara walau harus melawan Haris atau siapapun juga. Baginya, Tara sudah menjadi miliknya sejak mereka menikah.
Bersambung …