Demi mengejar cinta masa kecilnya, Raynara rela meninggalkan statusnya sebagai putri mafia Meksiko. Ia menyamar menjadi babysitter sederhana di Jakarta dan bersekolah di tempat yang sama dengan sang pujaan hati.
Namun, dunianya seolah hancur mengetahui Deva telah dijodohkan dengan sahabatnya sendiri.
Sebuah insiden di hari pernikahan memaksa Rayna maju sebagai pengantin pengganti. Mimpi yang jadi nyata? Tidak. Bagi Deva, Rayna hanyalah gadis ambisius yang haus harta.
"Tugas kamu itu urus Chira, bukan urus hidupku. Jangan mentang-mentang kita satu sekolah dan sekarang kamu pakai cincin ini, kamu bisa atur aku. Di sekolah kita asing, di rumah kamu cuma pengganti yang mencuri posisi orang lain."
Di antara dinginnya sikap Deva dan tuntutan perjodohan di Meksiko, sanggupkah Rayna bertahan? Ataukah ia akan kembali menjadi ratu mafia yang tak punya hati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Abang Jelapah
Rayden bergeming selama beberapa detik, matanya menyipit tajam, mencoba mengais ingatan lama yang perlahan muncul ke permukaan.
Gadis tomboy itu… cara berdirinya… cara dia mengunyah permen karet dengan seenaknya.
Seorang remaja laki-laki keluar, wajahnya hampir identik, hanya saja auranya jauh lebih tenang.
Dan di situlah semuanya jelas terlihat.
“...Byan?” gumam Rayden pelan, hampir tak percaya.
Tatapannya pun kembali pada gadis di depan.
“Jadi kau… Cecilia?”
Cecilia menyeringai lebar, seolah baru saja memenangkan permainan.
“Akhirnya bocah bakteri ini ingat juga padaku!” Ia menepuk-nepuk tongkat bisbol di bahunya. “Gila sih, sepuluh tahun nggak ketemu, masih saja kelihatan jutek. Tapi…” ia menyipitkan mata, menatap Rayden dari atas ke bawah,
“Kau keren juga ya sekarang,” puji Cecilia membuat Rayden terdiam sepersekian detik.
Ada sesuatu yang aneh, pujian itu membuatnya salah tingkah. Ia berdeham pelan lalu cepat-cepat menarik kembali ekspresinya yang dingin.
“Jangan banyak omong. Minggir,” ujar Rayden serius.
Namun Cecilia malah makin mendekat satu langkah lalu ia membuang permen karetnya ke jalan dengan santai.
“Kalau nggak mau minggir? Kau mau apa?” ucap Cecilia tersenyum smirk.
Suasana langsung menegang. Namun sebelum situasi makin kacau, suara Byan memotong dengan tenang tapi tegas.
“Rayden.” Ia melangkah maju, berdiri di antara keduanya.
“Kami tidak datang untuk mencari masalah,” tambahnya.
Rayden meliriknya dingin. “Lalu?”
Byan menatapnya lurus. “Kami datang untuk meminta kesempatan.”
“Kesempatan?” ulang Rayden sinis.
“Untuk Deva.”
Nama itu membuat udara terasa lebih berat. Byan lalu melanjutkan lagi, suaranya rendah tapi penuh keyakinan, “Deva memang melakukan kesalahan. Tapi saat ini… dia benar-benar membutuhkan Rayna.”
Rayden tidak langsung menjawab. Tatapannya tajam, menilai, mengukur.
“Aku bersumpah,” lanjut Byan, kali ini lebih serius, “bahkan dengan nyawaku sendiri, aku tidak akan membiarkan Rayna disakiti lagi.”
Rayden mengalihkan pandangan… ke Cecilia. Gadis itu berdiri santai, tapi matanya tidak main-main.
Rayden mendecak pelan.
“Masih sama saja,” gumamnya.
“Hah?” Cecilia mengangkat alis.
“Bar-bar.”
Cecilia nyengir. “Daripada kau, dingin kayak kulkas rusak.”
Rayden ingin membalas tapi terdengar suara dari belakang. Rayna turun dari mobil. Begitu Cecilia melihatnya, tongkat bisbol langsung dibuang sembarangan. Ia berlari dan memeluk Rayna erat.
“RAYNAAA!”
Rayna terhuyung sedikit, tapi kemudian membalas pelukan itu. “Cecil…” lirihnya.
“Sialan kamu! Mau kabur ke Meksiko tanpa bilang-bilang lagi?!” suara Cecilia bergetar, setengah marah setengah lega.
“Aku masih merindukanmu lho, jangan pergi dulu!”
Rayna menggigit bibirnya, matanya mulai berkaca-kaca.
“Isabella juga…” lanjut Cecilia, suaranya melemah, “dia sudah menunggu kita di rumah sakit…”
Rayna menutup mata sesaat lalu perlahan menoleh ke arah Rayden. Tak ada kata. Tapi matanya berbicara.
Rayden menatap adiknya lama. Satu detik. Dua detik. Lalu ia menghela napas pelan.
“...Satu minggu.”
Semua orang langsung terdiam.
“Satu minggu saja,” ulangnya datar. “Tapi setelah itu, kau pulang bersamaku.”
Rayna mengangguk cepat, air matanya jatuh. Sementara Byan tersenyum tipis.
“Terima kasih, Ed. Aku yakin… Deva tidak akan menyia-nyiakan waktu ini,” ucap Byan merasa lega.
Rayden tidak menjawab. Ia hanya berbalik, berjalan menuju mobilnya karena entah mengapa tiba-tiba perutnya mules. Ia tidak bisa lama-lama. Ia harus mencari toilet sebelum ia mencret di jalan.
“Jaga dia, Byan,” katanya singkat, tanpa menoleh. Mesin mobil menyala dan kemudian menghilang dari pandangan mereka.
Rayna tampak masih berdiri di tempat, seolah belum percaya kakaknya akhirnya melepaskannya.
Cecilia menepuk bahu Rayna, “itu kakakmu barusan ngasih izin kan?” tanyanya masih tidak yakin.
Rayna mengangguk kecil di sela tangisnya.
“Iya…” Lalu ia memeluk Cecilia lagi.
“Aku senang banget… terima kasih kalian datang kemari,” ucap Rayna tersenyum lebar di balik wajahnya yang sendu. Namun ekspresi Rayna berubah sedikit saat ia menoleh pada Byan.
“Kak Byan…”
“Hm?”
“Deva… dia gimana?”
Byan menatapnya lembut.
“Dia kacau, Ray,” jawabnya jujur. “Tapi… justru karena itu dia butuh kamu sekarang.”
Rayna menunduk membayangkan keadaan Deva yang kacau tanpa dirinya. Namun belum sempat suasana kembali tenang, tiba-tiba saja, BRAK!
“ONTY LAYNAAAAAA!” Seorang gadis kecil berlari secepat kilat dari arah mobil di belakang mereka.
“CHIRA!” Rayna kaget.
Namun yang dipeluk justru Byan membuat semua melongo.
Chira mengerutkan kening merasa ada yang aneh. Perlahan mendongak lalu kaget melihat wajah yang bukan Rayna.
Cecilia langsung berkacak pinggang.
“Wah! Kecil-kecil udah genit sama kakakku ya?!”
Chira langsung mundur cepat. Ia cengengesan lalu pindah memeluk Rayna.
“Kilaiin tadi Onty Layna, hehehe…”
“Ih modus banget,” Cecilia menggeleng. “Masa yang tinggi kayak jerapah ini nggak kelihatan?” gerutunya gemas.
“Ya udah, maapin Chila ya Abang Jelapah, tadi itu ndak sengaja!” ucap Chira dengan kedipan mata.
“Heh, namanya Byan, B-Y-A-N! Bukan jerapah!” eja Cecilia mencubit gemas pipi tembem Chira.
Byan kembali tertawa dan Rayna ikut tertawa di sampingnya.
Tak lama kemudian, mereka masuk ke mobil.
“Ke rumah, Bang?” tanya Cecilia.
Byan menggeleng.
“Rumah sakit, kan kemarin Daddy bawa Deva ke rumah sakit sebelum ke Bandung,” ucap Byan sambil bersiap menyetir mobil.
Rayna gugup sedikit karena ia akan bertemu Deva lagi. Beberapa saat kemudian di lorong rumah sakit yang dingin dan sunyi itu terlihat seorang gadis berdiri dengan pakaian pasien.
Begitu ia menoleh, matanya langsung melebar.
“RAYNA?!”
“ISABELLA!”
Isabella berlari cepat.
Dan—BRAK!
Pelukan tiga arah terjadi begitu saja. Chira yang tak sempat menghindar pun langsung terjepit di tengah mereka.
“Ugh—! Sesak… sesak… Chila ndak bisa napas, tolongg!!” rengeknya.
Cecilia tertawa terbahak setelah pelukan lepas. “Aduh, maaf, nggak kelihatan sih. Tapi kamu nggak apa-apa, kan, boncel?” tawa Cecilia.
“Nih hidung Chila jadi penyek!” sentak Chira kesal.
“Waduh, tambah pesek dong itu hidungnya?” canda Isabella membuat Rayna tertawa di samping Byan yang hanya geleng-geleng kepala.
“Ihh, menyebalkan! Dasal tlio kompol. Selalu bikin Chila malah, hmp!” gerutu bocah lima tahun itu berjalan ke depan dengan gaya sok angkuhnya.
“Ehh, Chila, itu kamar mayat lho, bukan kamar Deva!” teriak Rayna sebelum tangan bocah cilik itu mendorong pintu di depannya.
Chira mendongak ke atas dan benar saja papan nama bertulis kamar jenazah. Bulu kuduknya meremang. Ia segera berlari kembali ke Rayna.
“Napa ndak bilang-bilang ke Chila?” ucap Chira takut.
“Makanya jangan jalan sendirian. Hampir nyasar, kan?” omel Rayna berkacak pinggang. Chira hanya cemberut, sementara Cecilia dan Isabella tersenyum menahan tawa.
Byan pun mengajak mereka ke arah ruang rawat Deva di mana Asha dan Cloe juga berada di sana, sedang menangani Deva yang memberontak ingin pulang. Namun begitu Rayna muncul di ambang pintu, Deva langsung diam.
Rayna cukup syok melihat keadaan suaminya yang benar-benar kacau. Lebih kacau dari yang ia bayangkan. Wajah Deva pucat dan matanya merah karena air mata yang sudah kering. Si Tuan Muda arogan itu kini tampak tak berdaya.
Detik kemudian, Deva berlari ke arah Rayna sehingga tiang infusnya jatuh tertarik. Pertama kali ia memeluk Rayna di depan semua orang. Pelukan yang begitu erat dan tulus seakan tak mau melepasnya lagi.
Asha yang melihat itu hanya mengepalkan tangan, menahan perih di dadanya yang terasa menyakitkan. sementara Cloe, ia diam-diam meraih jamari Isabella membuat gadis itu pun menoleh ke arahnya di mana Cloe mengulas senyum manisnya.
______
Akhirnya kumpul lagi tiga sekawan, sabar ya Asha, jodohmu nggak akan kemana-mana kok hehe...
Bersambung…………..
Mohon dukungannya, like, komen, vote supaya author semangat nulisnya. Terima kasih.
semangat update trs ya sampai tamat💪🤗