Setelah lima tahun menikah, miliarder Axel Stone yakin bahwa istrinya, Olivia Stone, tidak mencintainya. Olivia juga yakin bahwa suaminya masih mencintai mantannya dan pernikahan mereka hanyalah pernikahan demi kepentingan semata. Axel menyerahkan surat gugatan cerai kepadanya, tetapi segera menyesali keputusan impulsifnya itu. Dalam upaya putus asa untuk memenangkan hatinya kembali, Axel menunda proses perceraian tersebut. Olivia, yang sudah muak dengan pertemuan-pertemuan suaminya dengan mantannya, memutuskan untuk tetap melanjutkan proses perceraian.
Apa yang akan dilakukan Axel ketika ia menyadari bahwa ia telah membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya? Akankah Olivia membuatnya membayar atas pengkhianatannya atau justru jatuh cinta padanya lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Minaaida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.12 Mabuk
Olivia .....
Diana mengundangku untuk hang out malam ini, apa kamu mau ikutan?" tanya Sonya saat aku sedang berbaring di pangkuannya.
Diana dulu adalah temanku tapi aku tidak terlalu dekat dengannya seperti kedekatan ku dengan Sonya. Pergi ke bar malam ini tampaknya bukan hal yang buruk untuk menghilangkan stres.
"Hmm, baiklah, aku ikut," jawabku tanpa ragu.
"Bagus, itu baru gadisku!" ucap Sonya menyemangatiku. Dia tersenyum ketika melihat aku bangkit dari tidurku. "Tunggu apa lagi, mari kita bersiap-siap." ujarnya sambil menarik tanganku.
Bentuk tubuhku dan tubuh Sonya pada dasarnya sama, kami sama bertubuh tinggi semampai. Jadi, aku memakai pakaian Sonya malam itu karena aku tidak membawa baju ganti. Saat ini kami berada di ruang ganti, sedang memiliki pakaian yang sesuai.
Tiba-tiba, Sonya melemparkan sebuah gaun hitam yang elegan. Itu adalah gaun hitam yang sempurna untuk keluar bareng teman-teman malam ini. Berikutnya, kami menghabiskan percakapan yang seru sambil berdandan bersama.
Untuk sesaat, aku seakan lupa dengan masalah suamiku yang terciduk bersama wanita lain. Beberapa saat kemudian, aku dan Sonya sudah siap untuk pergi. Kami berdua pergi dengan menggunakan taksi, karena rencananya kami akan menghabiskan malam ini dengan mabuk bersama. Maka tentu saja, kami berdua tak akan sanggup untuk mengemudikan mobil sampai ke rumah.
Tak beberapa lama kemudian, kami tiba di bar. Aku dan Sonya sudah sering kali datang ke tempat itu. Jadi, tentu saja penjaga pintu masuk sudah mengenal kami. Saat kami tiba, mereka langsung mengenali kami dan mempersilahkan kami masuk dengan sopan.
"Berikan aku minuman yang kuat. Malam ini, aku ingin mabuk!" seruku pada bartender saat kami duduk di bangku.
Mata Sonya terbelalak tetapi dia tidak protes sebab dia tahu aku sedang meredakan luka hatiku.
"Aku juga sama dengannya," ucap Sonya pada bartender. Bartender itu mengangguk sebelum dia pergi untuk menyiapkan pesanan kami.
Tak beberapa lama kemudian, bartender itu sudah menyajikan minuman yang kami pesan.
Tanpa ragu, aku langsung meraup gelas minuman itu dan meminumnya tanpa ragu. Aku tak tahu apa yang telah aku minum tapi aku menyukai sensasi rasanya yang membakar tenggorokanku, dan itulah yang aku butuhkan.
Setelah aku selesai, aku menarik tangan Sonya yang masih memegang minuman dan mengambilnya. Tanpa ragu, aku meneguk minuman itu sampai habis untuk kali kedua.
"Olivia!" Sonya berteriak protes namun aku tak peduli.
"Ayo kita pergi dari tempat ini. Ini sudah tidak baik bagimu." ajak Sonya. Mungkin dia menyadari aku akan menghabiskan malam ini dengan mabuk-mabukan. Namun aku menolaknya. "Kenapa harus pergi. Kita baru aja datang..?" ujarku sambil menggelengkan kepala.
"Lagian, kita nggak bisa pergi sekarang. Bukankah kita harus nunggu Diana?"
Aku merasa kepalaku mulai pusing. Aku menoleh pada bartender dan berkata, " Bisakah aku minta satu lagi, tapi buatkan yang lebih keras lagi." perintahku.
Sebelum bartender itu menjawab, Sonya sudah berdiri dan mencegahnya. Dia menarik tubuhku dan meletakkan tanganku di lehernya lalu memapahku keluar bar.
"Aku seharusnya tidak mengajakmu ke bar malam ini." ucap Sonya, suaranya dipenuhi rasa frustasi dan juga penyesalan. Aku hanya minum dua gelas tapi aku sudah mabuk.
Kamu berdua berdiri di depan bar menunggu taksi yang Sonya pesan. Aku merasa seperti sedang berhalusinasi saat kulihat sebuah mobil yang kukenal berhenti di depan kami.
"Apa Alex sudah berubah profesi jadi supir taksi?" ujarku sambil tertawa terbahak-bahak tanpa kendali. Lalu aku menoleh ke arah Sonya. "Atau kamu telah mengkhianati aku. Kamu menghubunginya, ya, agar dia datang menjemputku?"
"Olivia, sumpah, aku tidak pernah menghubungi Alex." Sonya berucap sambil menggelengkan kepalanya.
Pintu mobil terbuka dan Alex berjalan keluar dari dalam mobil. Jantungku berdetak kencang saat Alex berjalan menghampiri kami. "Apakah dia baik - baik saja?" tanyanya pada Sonya ketika dia melihat aku berdiri sempoyongan.
"Ya, dia hanya mabuk." jawab Sonya.
Alex mengambil alih tubuhku dari Sonya mereka kemudian bercakap-cakap tanpa menghiraukan keberadaanku.
"Sonya, jangan biarkan dia membawaku." aku mencoba melepaskan diri dari Alex namun pegangannya terlalu kuat.
"Aku akan menghubungimu besok." ucap Sonya, suaranya pecah di telan hingar bingar suara kendaraan sebelum tubuhnya menghilang masuk ke dalam bar meninggalkan aku sendiri bersama Alex.
Alex memapahku ke kursi belakang mobilnya. Aku tidak bisa memprotes lagi karena aku merasakan pusing dan tubuhku lemas, aku langsung ambruk di kursi belakang mobilnya.
"Bagaimana kamu bisa menemukan aku?" aku bertanya padanya, aku berusaha untuk tetap sadar.
Alex tak menjawab, dia hanya menatapku dengan tatapan bercampur frustrasi cemas. "Kenapa kamu membuat dirimu mabuk seperti ini, Olivia?" tanya Alex, suaranya nyaris seperti orang berbisik.
Aku ingin menjawabnya. Namun, sebelum aku sempat berucap, semuanya berubah gelap. Aku tidak sadarkan diri.
Keesokan paginya, aku terbangun dengan rasa sakit yang menyengat di kepalaku. Saat aku mencoba bangkit, kepalaku terasa berdenyut-denyut. Aku menoleh ke samping dan menemukan Alex yang sedang tertidur pulas di sampingku.
Aku sedikit bingung karena biasanya kami tidur terpisah beberapa malam belakang ini. Kejadian semalam masih samar-samar dalam ingatanku. Hal terakhir yang kuingat adalah saat aku melihat mobil Alex berhenti di depan bar.
"Akhirnya kamu bangun juga," ucap Alex, aku menoleh ke belakang dan menatapnya. Tadinya aku mengira dia masih tertidur nyenyak.
"Yeah,..." jawabku sambil menguap. "Apa yang terjadi semalam?" tanyaku lagi.
"Nggak ada, kamu tertidur sampai pagi ini." jawabnya. Dia bangkit dari tempat tidur. "Aku akan membuatkanmu sesuatu untuk meredakan mabuk."
Aku hanya mengangguk. "Oke, terimakasih." Aku memang membutuhkan sesuatu untuk menghilangkan rasa sakit di kepalaku. Aku sungguh tak tahan dengan rasa sakitnya.
Saya memilih tetap berada di dalam ruangan sementara Alex turun ke bawah. Aku memindai ke sekeliling ruangan untuk mencari ponselku. Untungnya ketemu. Ternyata ada di dalam laci. Buru-buru aku menyambar ponselku dan segera menekan nomor Sonya. Aku harus memberi tahunya bahwa aku baik - baik saja agar dia tak khawatir.
"Halo, selamat pagi," ucapku begitu telepon kami terhubung.
"Hai, pagi juga," balas Sonya dari seberang. Suaranya terdengar serak. Sepertinya dia juga baru bangun tidur.
"Sonya, aku pengen minta maaf soal semalam." ucapku lagi.
Sonya tertawa. "Is okay. Lagipula itu kan, bukan salahmu, Olivia." ujarnya.
"Semua itu ide aku yang ingin pergi ke bar," kata Sonya lagi, aku pun mengangguk, seolah-olah Sonya ada di depanku.
"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Sonya lagi.
"Selain sakit kepala ini, selebihnya aku baik-baik saja." jawabku sambil memijat kepalaku yang masih terasa sakit. "Lalu bagaimana denganmu? Apakah juga baik-baik saja?" tanyaku balik.
"Yeah, aku baik-baik saja. Aku dan Diana, berkumpul bersama beberapa orang teman yang datang ke bar itu semalam. Setelah itu, aku pulang ke rumah Jason." Cerita Sonya dan aku terkejut.
Jason adalah pacar Sonya yang putus-nyambung. Terakhir kali aku dengar, mereka sedang tidak akur. "Apakah kalian kembali bersama?" tanyaku tanpa dapat menyembunyikan rasa ingin tahuku.
Meskipun aku tidak bisa melihat Sonya, tapi aku bisa menebak, pasti saat ini Sonya sedang tersipu malu. "Tidak juga, saat itu aku mabuk lalu aku menelponnya, dan dia yang menjemputku. Nanti saja aku ceritain ke kamu."
"Oke, girl, kita bicara lagi nanti. Bye!" ucapku mengakhiri obrolan dan menutup telepon.