NovelToon NovelToon
Gairah Suami Kakakku

Gairah Suami Kakakku

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / CEO / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

"Celah pintu itu hanya terbuka lima sentimeter. Namun, lima sentimeter itu cukup untuk menghancurkan pernikahan sepuluh tahun. Di dalam, lampu tidur berwarna jingga membingkai siluet dua tubuh yang saling membelit dengan penuh nafsu, acuh terhadap badai yang baru saja dimulai tepat di luar pintu kamar mereka."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Diabaikan dan Terlupakan

Diabaikan dan Terlupakan

​Sudah satu minggu sejak vonis mengerikan itu keluar, dan duniaku rasanya terbalik 180 derajat. Gavin yang biasanya menyerangku dengan tatapan predator, Gavin yang selalu mencuri kesempatan untuk menyudutkanku, kini seolah-olah menganggapku tidak ada.

​Dia sepenuhnya berubah menjadi "Suami Teladan".

​Setiap hari aku melihatnya di rumah sakit, duduk di samping ranjang Mbak Siska, menyuapinya dengan sabar, membacakan buku, atau sekadar menggenggam tangan kakakku sampai mereka tertidur. Tidak ada lagi kerlingan nakal. Tidak ada lagi pesan-pesan kotor di tengah malam.

​Dan entah kenapa, bukannya merasa lega, dadaku justru terasa sesak. Aku... aku cemburu pada kakakku sendiri yang sedang sakit.

​"Mas, ini aku bawakan kopi buat Mas Gavin," ucapku pelan saat mengunjungi ruang rawat sore itu.

​Gavin hanya menoleh sekilas, datar, dingin, dan profesional. "Taruh saja di sana, Arum. Terima kasih. Mbakmu baru saja tidur, jangan berisik."

​Hanya itu. Tanpa sentuhan di bawah meja, tanpa bisikan serak. Aku merasa seperti orang asing yang baru saja masuk ke kehidupan sempurna mereka. Aku berdiri mematung, menatap punggung tegapnya yang kini hanya fokus pada sosok Mbak Siska yang pucat. Rasa haus akan perhatiannya mulai membakar harga diriku.

​Esok Harinya - Di Koridor Kampus

​Aku berjalan dengan langkah gontai. Pikiranku masih tertuju pada dinginnya sikap Gavin semalam. Apa dia benar-benar sudah bertobat? Apa semua godaan itu hanya main-main baginya?

​"Rum! Bengong mulu lu, mau gue panggil mualaf biar lu sadar?" celetuk Bella yang tiba-tiba muncul bareng Tiara.

​"Mualaf apaan, Bel? Sadar dari apanya?" sahutku malas.

​"Sadar dari kegalauan lu lah! Liat tuh, pangeran pelindung lu udah nunggu di depan perpus," Tiara menunjuk Raka yang sedang berdiri menyandar di tembok sambil membawa dua cup cokelat panas.

​Aku menatap Raka. Luka di wajahnya sudah hilang, berganti dengan senyum tulus yang selalu berhasil membuatku merasa diinginkan. Mengingat Gavin yang mengabaikanku, tiba-tiba muncul keinginan liar dalam hatiku untuk melampiaskan semua rasa frustrasi ini.

​"Rak," sapaku sambil mendekat.

​"Hei, Rum. Gimana Mbak Siska?" Raka memberikan satu cup cokelat padaku.

​"Masih gitu-gitu aja. Gue... gue capek banget, Rak," ucapku, sengaja sedikit merapat pada tubuhnya. Aku ingin merasa dihargai. Aku ingin merasa 'panas' lagi, meski itu bukan dari Gavin.

​"Gue tau. Sini," Raka mengajakku ke area balkon belakang kampus yang tertutup tanaman rambat. Suasananya sepi, hanya ada suara angin sepoi-sepoi.

​Raka meletakkan cokelatnya, lalu memegang kedua bahuku. "Lu hebat, Rum. Lu kuat banget ngadepin semua ini. Kalau lu butuh sandaran, gue ada di sini."

​Raka mulai mendekat. Kali ini, aku tidak menghindar. Saat wajahnya hanya berjarak beberapa senti, aku justru sengaja memejamkan mata, menanti sentuhan yang bisa menghapus bayangan Gavin dari otakku. Aku ingin membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku tidak butuh Gavin.

​Tangan Raka mulai membelai pipiku, turun ke leherku—tempat yang dulu pernah ditandai Gavin. Aku bergidik, hampir saja terlena saat bibir Raka mulai menyentuh sudut bibirku dengan sangat lembut. Sangat manis, sangat berbeda dengan cara Gavin yang kasar.

​Cup.

​Sentuhan bibir Raka mulai berpindah ke leherku. Aku mendesah pelan, mencoba menikmati kenyamanan ini. Aku mulai menarik kerah baju Raka, ingin dia lebih berani lagi—

​"ANJIIIIIRRRR! ARUM?! RAKA?!"

​Suara pekikan cempreng Bella memecah keheningan seperti bom atom. Aku dan Raka tersentak hebat, langsung melompat menjauh satu sama lain hingga cokelatku tumpah ke lantai.

​Bella dan Tiara berdiri di sana dengan mata melotot dan mulut menganga lebar. Tiara bahkan menjatuhkan tasnya.

​"Gila! Gue kira kalian lagi bahas laporan praktikum, ternyata lagi praktikum beneran!" seru Tiara sambil menutup mulutnya, tapi matanya tetap kepo maksimal.

​"Rum, gila lu ya! Di tempat umum begini?" Bella mendekat dengan muka shock tapi penuh seringai goda. "Pantesan lu pucet mulu, ternyata 'vitamin' lu dari Pak Ketua Senat toh!"

​Wajahku merah padam sampai ke telinga. "Nggak, Bel! Bukan gitu! Tadi cuma... tadi itu..."

​"Tadi itu apa? Tadi itu mouth-to-mouth pernapasan buatan?" Bella tertawa ngakak. "Gila, Raka! Gercep juga lu ya!"

​Raka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, wajahnya sama merahnya denganku. "Eh, sori... kita cuma... ah sudahlah. Gue balik ke ruang senat dulu ya. Rum, nanti gue chat." Raka langsung lari seribu langkah karena malu setengah mati.

​"Cieeee! Arum udah nggak polos lagi!" Tiara merangkul bahuku, menggoda habis-habisan. "Gimana rasanya, Rum? Enakan cokelatnya atau bibir Raka?"

​Aku hanya bisa menunduk, jantungku masih berpacu liar. Tapi di dalam hati, ada rasa hampa yang aneh. Ciuman Raka tadi... manis, tapi tidak ada api di sana. Tidak ada rasa 'berdosa' yang membuat bulu kudukku berdiri seperti saat Gavin menyentuhku.

​Malamnya, aku kembali ke rumah sakit. Aku masuk ke kamar Mbak Siska dengan perasaan bersalah karena kejadian dengan Raka tadi. Tapi pemandangan di dalam justru membuat darahku mendidih lagi.

​Gavin sedang berlutut di samping ranjang, mencium tangan Mbak Siska yang tertidur dengan begitu khidmat. Dia tampak sangat mencintai istrinya. Dia tampak sangat suci.

​"Mas Gavin," panggilku ketus.

​Gavin berdiri, menatapku datar. "Baru datang? Siska tadi menanyakanmu."

​"Iya, tadi ada urusan sama Raka," aku sengaja menekankan nama Raka sambil berjalan mendekatinya. Aku berdiri sangat dekat, hingga aku bisa mencium aroma maskulinnya yang kurindukan. "Raka... dia baik banget sama aku hari ini, Mas. Dia perhatian banget."

​Aku menunggu reaksi ledakan amarahnya. Aku menunggu dia mencengkeram lenganku dan bilang 'jangan dekat dengan dia'.

​Tapi Gavin hanya mengangguk pelan. "Bagus kalau ada yang menjagamu. Jadi aku bisa fokus mengurus Siska tanpa perlu khawatir soal kamu."

​Dia kemudian berjalan melewatinya begitu saja untuk mengambil selimut tambahan di lemari.

​Aku mematung. Hatiku hancur berkeping-keping. Dia benar-benar mengabaikanku. Dia benar-benar melepaskanku. Rasa cemburu ini berubah menjadi ambisi yang berbahaya. Jika dia tidak mau mengejarku lagi, maka akulah yang akan membuatnya berlutut kembali padaku.

​Aku akan menunjukkan padanya bahwa 'perhatian' Raka jauh lebih nyata daripada pertobatan palsunya.

1
gendiz
aseek, makasih ya, Akhirnya Arumi ada yang mau kawal juga 😊
Moms Shinbi
q kawal sampai semua happy end thor
Moms Shinbi
cerita akhirnya siska end so pasti.psangn selingkuh happy dong..


jngan y thor
gendiz: hmmm belum tentu🤭, lihat bab selanjutnya, sudah up tapi belum lolos review nih kayaknya, jadi belum bisa terbit
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!