Luka pengkhianatan ibu membuat hati Anandara membeku. Sinta adalah satu-satunya "rumah" baginya. Namun, kehadiran mahasiswa baru bernama Angga memicu badai. Anandara rela memendam cinta demi Sinta, menciptakan kebohongan dan permusuhan yang menyayat hati. Mampukah persahabatan mereka bertahan saat rahasia terkuak, dan dapatkah Dimas menyembuhkan luka Sinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Hati berkata cinta, tapi logika berteriak Sinta.
Malam telah larut, menelan kota dalam selimut kegelapan yang pekat. Di dalam mansion megah keluarga Dirga, keheningan berkuasa mutlak. Suara denting jarum jam dinding di kamar Anandara terdengar seperti detak jantung buatan yang dipaksakan berdetak di dalam sebuah ruangan yang hampa udara.
Anandara Arunika duduk di lantai balkon kamarnya, bersandar pada pilar batu pualam yang dingin. Angin malam musim kemarau berhembus menusuk tulang, mengibarkan rambut hitam panjangnya yang berantakan. Ia mengenakan gaun tidur sutra putih, menatap kosong ke arah kelap-kelip lampu kota di kejauhan yang terlihat seperti bintang-bintang yang jatuh dan hancur di atas tanah.
Hari ini adalah salah satu hari paling melelahkan dalam sembilan belas tahun hidupnya. Insiden tiga detik di kantin siang tadi telah menguras habis seluruh energi kehidupannya. Tiga detik di mana matanya dan mata Angga saling menelanjangi jiwa satu sama lain. Tiga detik di mana ia nyaris berteriak memohon Angga untuk menyelamatkannya dari penderitaan ini.
Namun, yang paling menghancurkan bukanlah tatapan Angga. Yang paling menghancurkan adalah senyum Sinta setelahnya. Senyum bahagia Sinta saat duduk di sebelah Angga adalah palu godam yang meremukkan sisa-sisa kewarasan Anandara.
Di dalam dadanya, sebuah peperangan purba sedang berkecamuk dengan sangat brutal, menyisakan medan pertempuran yang bersimbah darah. Peperangan antara dua entitas yang tidak akan pernah bisa berdamai.
Hatinya berkata cinta, tapi logikanya berteriak Sinta.
Hatinya, yang selama bertahun-tahun mati dan membeku, kini meronta-ronta memanggil nama pemuda bermata tajam itu. Hatinya menginginkan aroma peppermint itu, menginginkan suara bariton yang menenangkannya, menginginkan tatapan yang mampu menembus topeng keangkuhannya. Hatinya berteriak bahwa Angga adalah pria yang selama ini ia tunggu untuk menghancurkan trauma masa lalunya.
Tapi logikanya... logikanya yang tajam bak pisau bedah menyodorkan sebuah fakta yang tak terbantahkan: Sinta adalah nyawanya. Sinta adalah rumahnya saat ia tidak memiliki tempat berteduh. Sinta adalah gadis yang rela membuang masa depannya dan rela melompat dari atap sekolah bersamanya.
"Aku tidak bisa menjadi pengkhianat," rintih Anandara memecah kesunyian malam. Suaranya serak, tenggorokannya terasa perih karena terlalu banyak menelan isakan. "Aku tidak akan menjadi seperti ibuku yang membuang keluarganya demi cinta. Aku tidak akan mengorbankan Sinta. Tidak akan pernah."
Dengan tubuh yang bergetar hebat, Anandara memaksa dirinya berdiri. Ia melangkah gontai masuk kembali ke dalam kamarnya, menuju meja belajar kayu oak yang luas.
Ia membuka laci meja, mengeluarkan selembar kertas surat berkualitas tinggi berwarna krem gading dan sebuah pena tinta emas pemberian ayahnya. Ia duduk di kursi, menyalakan lampu meja yang temaram.
Malam ini, beban di dadanya sudah mencapai ambang batas ledakan. Jika ia tidak mengeluarkannya, ia merasa dadanya akan benar-benar terbelah dua. Nyonya Es yang tak pernah bisa mengutarakan perasaannya itu memutuskan untuk menuangkan seluruh kehancurannya ke atas selembar kertas kosong.
Tangan Anandara bergetar saat ujung pena itu menyentuh permukaan kertas. Air mata mulai menggenang di pelupuk mata hitam legamnya, membuat pandangannya mengabur. Satu tetes air mata jatuh, menciptakan noda basah di sudut kertas.
Dan ia mulai menulis.
Untuk Angga,
Aku tidak pernah tahu bagaimana caranya menulis surat cinta. Selama hidupku, cinta adalah sebuah kata yang paling aku benci. Cinta adalah racun yang menghancurkan keluargaku, mengubah ibuku menjadi monster, dan merampas masa kecilku. Aku bersumpah pada diriku sendiri untuk tidak pernah membiarkan racun itu masuk ke dalam tubuhku.
Lalu, kau datang.
Kau menabrakku di koridor hari itu. Kau menatapku dengan mata elangmu. Dan dalam hitungan detik, seluruh dinding titanium yang kubangun selama tujuh tahun hancur menjadi debu. Jantungku berdetak dengan cara yang membuatku sangat ketakutan. Aku takut, Angga. Aku sangat takut karena untuk pertama kalinya, aku merasa hidup kembali.
Tiga detik di kantin tadi siang... kau melihatnya, bukan? Kau melihat betapa hancurnya aku. Kau melihat topengku retak. Mata tajammu yang penuh kebingungan dan pengharapan itu menyiksaku, Angga. Rasanya sakit sekali saat aku harus memalingkan wajahku darimu. Rasanya seperti menyayat nadiku sendiri setiap kali aku harus memasang wajah dingin dan mengusirmu pergi.
Maafkan aku.
Maafkan aku karena telah meneriakimu di kelas. Maafkan aku karena menolakmu dengan sangat kejam. Maafkan aku karena mendorongmu menjauh dan memaksamu untuk bersama Sinta.
Ketahuilah, Angga... tidak ada satu pun kata makian yang keluar dari mulutku waktu itu yang benar. Aku tidak membencimu. Aku sangat, sangat mencintaimu.
Tapi cintaku ini adalah sebuah dosa. Cintaku ini adalah belati yang akan membunuh orang yang paling berharga dalam hidupku.
Sinta mencintaimu, Angga. Dia menatapmu dengan binar mata yang paling murni. Dan kau harus tahu, Sinta adalah malaikat yang telah menyelamatkan nyawaku berulang kali. Dia adalah rumahku saat dunia membuangku. Aku berhutang nyawa padanya. Jika aku harus memilih antara kebahagiaanku dan senyumannya, aku akan memilihnya seribu kali tanpa ragu.
Aku tidak bisa membiarkan hatiku menang, karena jika hatiku menang, aku akan berubah menjadi pengkhianat seperti ibuku. Logikaku mengatakan bahwa tempatmu adalah di samping Sinta. Dia hangat, dia ceria, dia sempurna untukmu. Sedangkan aku hanyalah ruang hampa yang penuh dengan trauma dan ketakutan.
Maka dari itu, bencilah aku, Angga. Teruslah menganggapku sebagai Nyonya Es yang tak punya hati. Jangan pernah mencari tahu kebenarannya. Jangan pernah menatapku lagi dengan tatapan yang bisa menghancurkan pertahananku.
Aku merelakanmu. Aku menyerahkan perasaanku ini untuk dibakar oleh waktu. Berbahagialah dengan Sinta. Tolong, jaga sahabatku.
Dari gadis yang mencintaimu dalam keheningan yang paling menyiksa,
Anandara.
Anandara meletakkan penanya. Tangan kanannya kram karena ia mencengkeram pena itu terlalu kuat. Lembar kertas krem gading itu kini dipenuhi oleh tulisan tangannya yang elegan, namun berantakan di beberapa bagian karena tertimpa tetesan air mata yang tak henti-hentinya jatuh.
Gadis itu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Isak tangisnya pecah mengiris keheningan malam. Surat ini adalah manifestasi dari seluruh jiwanya yang telanjang. Ini adalah kejujuran pertama dan terakhirnya tentang cinta. Membaca kembali kalimat-kalimat itu membuat realita terasa ribuan kali lebih menyakitkan. Ia benar-benar mencintai pemuda itu, dan ia benar-benar harus melepaskannya sebelum sempat menggenggamnya.
Anandara mengambil kertas itu dengan tangan yang gemetar. Ia melipatnya pelan-pelan menjadi dua bagian.
Ia membayangkan, bagaimana jika ia memberikan surat ini pada Angga? Bagaimana jika Angga membacanya? Apakah Angga akan memeluknya? Apakah Angga akan memilihnya?
Dan Sinta akan hancur, bisik iblis rasionalitas di kepalanya, menghapus semua fantasi indah itu seketika.
Anandara membuka laci meja riasnya, mengambil sebuah korek api gas berwarna perak milik ayahnya yang sering tertinggal. Ia berjalan kembali menuju balkon kamarnya.
Angin malam kembali menyapanya, lebih dingin dan lebih menusuk dari sebelumnya. Langit sama sekali tidak berbintang, pekat dan kelam, seolah semesta sedang mempersiapkan panggung pemakaman untuk perasaannya.
Anandara berdiri di tepi balkon. Ia memegang ujung surat itu dengan tangan kirinya. Tangan kanannya memantik korek api.
Ctek.
Api kecil berwarna biru dan jingga menyala, menari-nari tertiup angin.
Anandara menatap surat di tangannya. Surat yang berisi detak jantungnya, rasa sakitnya, dan cinta pertamanya yang dipaksa gugur sebelum mekar. Ia memejamkan mata, membiarkan satu air mata terakhir jatuh membasahi pipinya.
"Selamat tinggal, Angga," bisiknya parau, suaranya hilang ditelan angin malam.
Ia mendekatkan nyala api itu ke ujung kertas krem gading.
Api dengan rakus langsung melahap kertas mahal tersebut. Warna krem perlahan berubah menjadi cokelat hangus, lalu menjadi hitam. Kata demi kata yang ia tulis dengan darah dan air mata, kini termakan oleh lidah api yang membara. Kata 'cinta', kata 'maaf', kata 'Sinta', semuanya melebur dalam panas yang menyengat.
Anandara tidak melepaskan kertas itu. Ia membiarkan api merambat naik, membakar tulisannya perlahan-lahan. Ia merasakan hawa panas dari api itu menyengat kulit jari-jarinya, namun rasa sakit di kulitnya sama sekali tidak bisa menandingi rasa sakit di dalam dadanya. Ia ingin merasakan pembakaran ini. Ia ingin memastikan bahwa perasaannya benar-benar mati.
Ketika api nyaris menyentuh ujung jarinya, Anandara melepaskan sisa kertas itu.
Kertas yang terbakar itu melayang di udara, masih menyala selama beberapa detik, sebelum akhirnya hancur menjadi abu yang rapuh. Angin malam yang kencang langsung menyambar abu hitam tersebut, menerbangkannya ke segala penjuru, membawanya pergi menjauh dari balkon mansion yang megah itu.
Abunya beterbangan, menari di udara malam yang gelap. Bersama dengan abu itu, terbang pula perasaannya yang tak berbalas. Harapannya. Angan-angannya tentang sebuah pelukan dari pemuda bermata tajam itu. Semuanya lenyap. Tidak ada bukti yang tersisa. Tidak ada jejak yang ditinggalkan.
Di dunia nyata, esok hari, tidak akan ada yang tahu bahwa Anandara Arunika pernah menulis surat cinta. Tidak akan ada yang tahu bahwa hatinya pernah berdetak gila untuk Angga Raditya. Surat itu tidak akan pernah terkirim, dan perasaannya akan menjadi rahasia abadi yang ikut terkubur dalam hembusan angin malam.
Anandara berdiri mematung di balkon. Ia menatap ke arah gelapnya langit malam, melihat sisa-sisa abu yang menghilang ditelan kegelapan.
Tangisannya telah berhenti. Air matanya telah mengering, meninggalkan jejak lengket di pipinya yang dingin. Saat ia membalikkan badannya untuk kembali masuk ke dalam kamar, ada sesuatu yang berubah secara fundamental di dalam diri gadis itu.
Sinar kehidupan dan kerentanan yang sempat memancar di matanya selama beberapa hari terakhir telah mati sepenuhnya. Mata hitam legam itu kini benar-benar menjadi dua buah batu obsidian yang kelam, kosong, dan sedingin gletser. Tidak ada lagi keraguan. Tidak ada lagi air mata.
Nyonya Es itu telah kembali, jauh lebih beku dan lebih kejam dari sebelumnya.
Ia telah membakar hatinya sendiri hingga menjadi abu. Mulai esok hari, dan hari-hari setelahnya, ia akan memastikan bahwa Sinta dan Angga bersatu, sekalipun ia harus berjalan di atas pecahan kaca untuk memuluskan jalan mereka. Hatinya mungkin mati berdarah mengatakan cinta, tapi logikanya akan terus memastikan nama Sinta yang menjadi pemenangnya.
pengamat Senja_