Menceritakan tentang Nathan, Fabian, dan Natalie, tiga orang sahabat yang saling menyayangi.
Nathan terlahir dari keluarga yang harmonis dari lahir. Keluarganya yang menyayanginya penuh dengan. kehangatan, tanpa tidak pernah memberikan kasih sayang kurang. Meskipun terlahir dari kalangan keluarga yang sederhana, keluarga mereka terkenal dengan keharmonisan dan kehangatan yang selalu hadir.
Fabian, seorang anak yang terlahir kaya sedari kecil. Ia berasal dari keluarga yang broken home. Kedua orang tuanya yang punya selingkuhan masing-masing, kerap. membuatnya kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Hidup berkelimang harta tak membuatnya benar-benar merasakan apa itu hidup tanpa kehadiran kedua orang tuanya.
Sedangkan Natalie, kehidupannya hampir sama dengan fabian. Bedanya ia di tinggal sendiri.
Persahabatan yang mereka jalin cukup erat. Hingga sering berjalannya waktu, dua jiwa yang saling buta arah bersatu menjadi sebuah takdir yang tak pernah tertulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hhj cute, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7
Saat ini, Fabian dan Natalie sedang goleran di atas karpet berbulu. Mereka menonton kartun sambil memakan snack yang Fabian dan Nathan bawa beberapa hari yang lalu.
"Ian, Lo nggak ada acara kan hari ini?" tanya Natalie di sela-sela nonton.
"Hm, kayaknya nggak ada sih," jawab Fabian tak yakin.
Tok … Tok … Tok …
"Siapa?"
Natalie mengedikkan bahunya. Ia berdiri untuk membuka pintu.
"Good morning, princess!"
Natalie speechless di tempatnya. Ia melihat Nathan yang datang ke rumahnya membawa rombongan. Kedua orang tua Nathan, kakek neneknya, bahkan adiknya Nathan berdiri tepat di belakangnya. Mereka datang beramai-ramai ke rumahnya dengan membawa bunga masing-masing di tangannya.
Pakaian yang mereka mereka gunakan sedikit cukup membuatnya terkejut. Bagaimana tidak? Kostum khas istana kerajaan, di mana Nathan pakai baju bak seorang pangeran. Sedangkan kedua orang tuanya, kakek, nenek, dan adiknya memakai baju pelayan dan prajurit. Orang yang melihat mereka pasti akan mengira kalau mereka merupakan keluarga bangsawan.
"Siapa, Nat?" tanya Fabian di belakangnya, yang entah kapan iaa berada di sana.
Karena tak mendapatkan jawaban, Fabian memilih untuk menyingkirkan tubuh Natalie. Fabian pun hanya mematung melihat apa yang sedang terjadi di depannya.
"Hello, apakah gue setampan itu sampai kalian terkesima dengan penampilan pangeran," ucap Nathan saat melihat kedua sahabatnya yang bengong di depan pintu.
"Hoek. Pede sakali anda," ujar Nara dengan ekspresi ingin muntah.
Jujur, Nara sudah muak dengan segala kenarsisan dan. Kepedean abangnya itu. Untung saudara, kalau nggak udah Nara buang tuh jelmaan ke danau.
"Khem. Silahkan masuk om, Tante, kakek, nenek, dan Nara," ucap Natalie saat sudah sadar dari lamunannya.
"Loh, loh, loh. Kenapa pangeran tampan ini tidak di suruh masuk juga, princess. Kenapa kamu tega dengan kakanda," lagak Nathan dengan dramatis.
Fabian dan Natalie merotasikan matanya malas. Dramatis sekali Nathan ini, pikir keduanya. Fabian mengapit leher Nathan, membawanya masuk ke dalam.
"Woy, woy, woy. Sakit leher pangeran!" teriaknya.
Di belakang, Natalie hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan keduanya.
......................
"Kami dengar dari Nathan kalau kamu sedang sakit. Apa benar itu. Natalie?" tanya bunda Nathan dengan lembut.
"Giliran sama Nata dan Ian aja lembut. Coba kalau sama anaknya, dah kayak reog," cibir Nathan dengan pelan.
"Buna denger ya, Nathan," peringkatnya.
"Hehehe. Peace, bunda." Nathan mengangkat kedua jarinya sambil cengengesan.
"Cuma demam biasa kok Tan. Ini juga aku baru pulang dari rumah sakit," kata Natalie.
"Orang tua kamu mana? Kok nggak keliatan dari tadi. Udah lama Tante nggak ketemu sama mereka."
"Mereka lagi ada urusan bisnis Tante. Jadi mereka nggak ada di rumah."
"Ohh, gitu."
Natalie hanya tersenyum canggung. Padahal dalam hatinya yang paling dalam, ia juga merindukan kedua orang tuanya itu. Sejak kepergian mereka, tak ada kabar sama sekali dari keduanya. Jangankan nelpon, hanya untuk membalas chatnya pun nggak pernah.
"Kamu emang nggak kesepian apa di rumah ini sendirian?" tanya nenek Nathan.
"Nggak kok nek. Masih ada bibi yang sering datang ke rumah untuk bersih-bersih.," jawab Natalie seadanya.
"Kalau kamu merasa kesepian, kamu bisa kok main ke rumah kita. Rumah kita selalu terbuka untuk kamu dan Fabian," kata nenek.
Natalie terenyuh. Ia terharu dengan perkataan nenek Nathan. Meskipun kadang tingkah mereka di luar prediksi, tapi mereka selalu baik kepadanya. Tak sekali dua kali mereka memperlakukannya dan. Fabian seperti ini. Bahkan, ia selalu merasa hangat saat bersama mereka.
"Kamu udah makan, nak?"
"Udah kok Tante."
Bunda Nathan melirik ke arah jam dinding, di mana waktu makan. Siang hampir tiba. Ia berdiri di ikuti oleh ibu mertuanya.
"Sebentar lagi udah waktunya makan siang. Bagaimana kalau kita masak?" tawar bunda Nathan.
"Boleh. Kebetulan tadi cuman masak nasi goreng."
Mereka pun berjalan beriringan menuju dapur. Sedangkan di sisi lain, para lelaki sedang bermain catur di belakang rumah Natalie. Sebenarnya yang mengusulkan ide ini adalah ayah Nathan. Kebetulan di bagasi mobil saat mengambil bunga ia menemukan papan catur. Jadilah mereka bermain catur sekarang.
"Ayo ayah. Ayah pasti bisa ngalahin kakek," ujar Nathan menyemangati ayahnya.
"Ayo kek, semangat."
Fabian duduk di tanah, mengelus kucing yang ada di pangkuannya. Jika kalian bertanya kucing ini punya siapa? Ya jelas punya Natalie. Kebetulan Natalie sangat menyukai makhluk berbulu halus itu. Bahkan di rumahnya ada 10 kucing yang di peliharanya. Ada berbagai macam spesies kucing di rumah ini. Tapi yang paling ia suka adalah kucing oren yang sekarang ada di pangkuannya.
"Kalian cium bau sesuatu nggak?" ucap Nathan sambil berdiri dari duduknya.
Ia mengendus-endus aroma wangi yang menyebar sampai belakang. Ia memejamkan matanya, hidungnya sibuk menghirup aroma wangi itu. Berjalan mengikuti aroma itu berasal.
Hingga kakinya menginjakkan area dapur. Ia melihat tiga orang, wanita dan perempuan kesayangannya yang sedang memasak di dapur. Seketika ia tersenyum jahil, saat sebuah rencana muncul di otaknya.
Nathan berjalan pelan, mengendap-endap seperti maling. Kakinya berjinjit. Langkah kakinya nyaris tak ada suara. ia melihat situasi sekitar. Saat di rasa tak ada yang menyadari kedatangannya, Nathan berdiri di belakang mereka.
"Dor!!" kejutnya.
Plak!
Bugh!
Tamparan dan pukulan manis mendarat telat di kepalanya. Nathan mengusap-usap kepalanya yang sakit akibat pukulan mereka.
"Sakit tau," ucapnya.
Di belakang, Fabian terbahak-bahak melihat seluruh kejadian. Ia menertawakan nasib Nathan yang sesuai dengan dugaannya.
"Makanya jangan jahil," kata Natalie sambil menutup mulutnya menahan tawa.
"Bunda. Lihat tuh, Ian sama Nata ketawain Nathan," adu Nathan pada bundanya.
Bibirnya maju beberapa centi dengan wajah cemberutnya. Bunda Nathan yang gemas dengan tingkahnya pun semakin menarik bibir anaknya ke depan.
"Makanya jangan jahil. Udah sana, kamu panggilin ayah dan kakek. Terus Nara bangunin juga. Kita makan siang bareng-bareng di sini," perintahnya pada anak sulungnya itu.
Nathan berjalan dengan lesu mengikuti perintah bundanya. Sepanjang jalan ia hanya diam sambil mengerucutkan bibirnya.
"Fabian, Natalie."
"Iya Tan/iya Tan," jawab keduanya kompak.
"Kalian nggak sekolah, tadi?"
Keduanya menggeleng kompak. Heran dengn pertanyaan bunda Nathan. Karena bukan hanya mereka berdua saja yang bolos sekolah, Nathan pun sama. Ya, meskipun Nathan bilangnya ada acara keluarga.
"Kenapa?"
"Eee, kita …," ucap Natalie gugup.
"K-kita abis nganterin kucing Natalie lahiran. I-iya, habis nganterin kucing lahiran, " jawab Fabian spontan yang seketika di pelototi Natalie.
"Alesan macam apa itu," batin Natalie.
"Em, iya Tan. Kita habis anterin kucing aku yang mau lahiran. Kan kasian kalau nggak di anterin ke rumah sakit. Nanti kalau lahiran sendiri, nggak ada yang bantu urusin kalau aku sekolah," timpal Natalie.
Tangannya diam-diam mencubit paha Fabian yang ada di sampingnya. Membuat sang empu meringis.
"Ohh, gitu." Bunda Nathan manggut-manggut percaya dengan alasan keduanya.
Diam-diam, keduanya menghela napas lega saat tak di kasih pertanyaan lebih lanjut. Bisa-bisa kebongkar semua alasan yang mereka susun rapi-rapi.
.
.
.