NovelToon NovelToon
MANTAN JENDERAL MENANTIKAN PERNIKAHAN

MANTAN JENDERAL MENANTIKAN PERNIKAHAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yorozuya Rin

Pada tahun kesembilan pemerintahan Huangdi, Jenderal Shen meninggal di Qi Huai. Kaisar saat itu memberinya gelar kehormatan anumerta sebagai Marquis Yongqing.

Pada bulan kedua belas tahun yang sama, Nona Shen kedua, yang telah menemani neneknya ke pegunungan untuk melakukan ritual Buddha selama lima tahun, kembali ke rumah. Hal pertama yang dihadapinya saat tiba adalah hukuman berlutut di aula leluhur.

Di aula leluhur, sesepuh keluarga Shen memarahinya, menyuruhnya untuk tidak bertindak sembrono di masa depan dan untuk dengan patuh menunggu para sesepuh mengatur pernikahan untuknya.

Perjalanan penantian pernikahan mantan jenderal pun dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yorozuya Rin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan di Aula Leluhur

Bab 2 : Bayangan di Aula Leluhur

Setelah Shen Mingyuan pergi, aula leluhur kembali sunyi.

Hanya suara bara dupa yang sesekali berderak halus, dan aroma cendana yang perlahan

memenuhi ruangan.

Di luar, salju turun makin deras, menutupi dunia dengan kesunyian

putih.

Shen Fuyan berpikir akhirnya, ia bisa mendapatkan sedikit ketenangan.

Namun harapan itu hanya bertahan sekejap.

Suara langkah kaki cepat terdengar dari luar.

Berbeda dengan langkah pelayan yang hati-hati, langkah ini lebih ringan, lebih terburu namun sengaja dibuat anggun.

Shen Fuyan menoleh.

Tirai tersibak.

Masuklah Selir Yang.

Ia telah berganti pakaian.

Jika sebelumnya ia tampil sederhana di hadapan Nyonya Tua, kini ia kembali pada

kebiasaannyabmencolok namun terencana.

Jepit rambut emas menjuntai di pelipisnya,

dihiasi mutiara yang bergetar setiap kali ia bergerak.

Ia mengenakan jaket lengan sempit

berwarna teratai pucat, dipadukan dengan jubah merah kesemek yang terang seperti api

di musim dingin.

Rok lipitnya berayun lembut, mengikuti langkahnya yang dibuat-buat.

Di belakangnya, Shen Shishi berjalan dengan wajah masam, jelas enggan berada di

tempat itu.

Saat tatapan mereka bertemu, Shen Shishi mengangkat dagunya, mendengus kecil.

“Hmph.”

Shen Fuyan tidak bereaksi.

Ia sudah mengenalnya sejak kecil.

Gadis itu tidak selalu seperti ini.

Selama lima tahun dirinya menghilang, Shen Shishi menjadi satu-satunya putri di

rumah utama.

Dimanjakan tanpa batas, dilindungi dari segala gosipntidak heran jika

kini sifatnya menjadi tajam dan manja.

Namun

Bukan itu yang menarik perhatian Shen Fuyan.

Melainkan ibunya.

Ah, tidak

Selir Yang.

Shen Fuyan tahu betul wanita itu bukanlah tipe yang mampu merencanakan sesuatu

yang besar.

Namun justru karena itu, setiap niatnya selalu tampak jelas.

Seperti sekarang.

Masuk dengan wajah cemas, alis berkerut seolah penuh perhatian…

Namun begitu memastikan Shen Mingyuan benar-benar pergi.

Topeng itu runtuh.

Langkahnya melambat.

Pinggulnya bergoyang ringan.

Sudut bibirnya terangkat tipis,

matanya memandang Shen Fuyan dengan jijik yang tak disembunyikan.

Ia melambaikan saputangan.“Pelayan, tunggu di luar.”

Pintu aula tertutup.

Hanya tersisa mereka bertiga.

Sunyi.

Lalu

“Nona Kedua,” suara Selir Yang lembut, hampir manis, “perjalanan jauh pasti

melelahkan. Mengapa tidak beristirahat? Mengapa malah berlutut di sini?”

Nada itu… terlalu dibuat.

Shen Fuyan bahkan tidak menoleh.

Tatapannya tetap pada pembakar dupa di depan papan leluhur.

“Bibi bisa menanyakannya pada Ayah,” jawabnya ringan.

Selir Yang tentu tidak berani.

Ia berpikir sejenak, lalu matanya berkilat seolah menemukan sesuatu.

“Ah… apakah karena urusan pernikahan?”

Tidak ada jawaban.

Ia tersenyum, lalu melanjutkan, pura-pura prihatin

“Memang sulit… Nona Kedua sudah berusia sembilan belas tahun, bukan?”

“Biasanya, gadis seusiamu sudah lama bertunangan. Bahkan tujuh belas saja sudah

dianggap terlambat…”

Ia menghela napas panjang.

“Sayang sekali, Nyonya Tua membawamu ke Gunung Zuowang selama bertahun-tahun.

Masa terbaikmu terlewat begitu saja.”

Kata-katanya lembut.

Namun seperti jarum.

Shen Fuyan akhirnya melirik.

Ia melihat dengan jelas alis yang pura-pura berkerut, namun sudut bibir yang tak

mampu menahan senyum.

Begitu kontras.

Begitu… menjijikkan.

Shen Fuyan mengubah posisinya.

Dari berlutut rapi

Menjadi duduk bersila.

Tidak sopan.

Tidak anggun.

Namun jauh lebih nyaman.

“Aku rasa…” katanya pelan, “Bibi seharusnya berterima kasih padaku.”

Selir Yang tertegun.

Lalu tertawa kecil, meremehkan.

“Terima kasih? Apa maksudmu?”

Shen Fuyan menatapnya lurus.

“Jika aku mengingatkan Nenek lebih awal, beliau pasti sudah kembali bersamaku.”

“Dan saat itu… bukan hanya aku yang akan dicarikan pasangan.”

Ia berhenti sejenak.

Lalu

“Ayah juga.”

Senyum Selir Yang membeku.

“Menurut Bibi,” lanjut Shen Fuyan santai, “bukankah seharusnya kau berterima kasih

padaku?”

Sunyi.

Salju di luar jatuh tanpa suara.

Wajah Selir Yang berubah.

Ia baru saja menyadari kemungkinan yang tak pernah ia pikirkan.

Namun Shen Fuyan belum selesai.“Sekarang Ayah sudah menyerahkan urusan pernikahanku pada Bibi Kedua,” katanya

ringan.

“Tapi Nenek… pasti punya rencana lain.”

Tatapannya dingin.

“Dan saat itu terjadi… apakah Bibi masih bisa hidup setenang sekarang?”

Setiap kata

Seperti pisau tipis.

Selir Yang terdiam, wajahnya tak mampu menyembunyikan kegelisahan.

Namun sebelum ia bisa bicara

“Cukup!”

Shen Shishi melangkah maju.

Wajahnya merah karena marah.

“Daripada mengurusi ibuku, lebih baik kau lihat dirimu sendiri!” bentaknya.

“Belum menikah di usia seperti itu, memalukan!”

“Aku bahkan tak berani bertemu orang luar karena punya kakak seperti kau!”

Shen Fuyan menoleh.

Tatapannya tenang.

Namun dingin.

“Benarkah?” suaranya lembut.

Shen Shishi menelan ludah namun tetap keras kepala.

“Tentu saja!”

Shen Fuyan tersenyum.

Tipis.

“Kalau begitu… kau harus berhati-hati, Saudari Keempat.”

Nada suaranya melambat.

“Selama aku belum menikah… maka itu bukan giliranmu.”

Wajah Shen Shishi berubah.

“Jadi…” Shen Fuyan melanjutkan, matanya sedikit menyipit, “kalau aku menunda tiga

atau empat tahun lagi…”

Senyumnya berubah.

Lebih tajam.

“Bukankah kau akan menjadi wanita tua‟ bersamaku?”

Dunia seolah berhenti.

Shen Shishi tertegun.

Lalu panik.

“Tidak! Kau tidak berani!”

Shen Fuyan tertawa pelan.

“Aku tidak takut pada omongan orang,” katanya santai.

“Yang aku ingin tahu…”

Ia menatap lurus ke mata Shen Shishi.

“Apakah kau takut?”

Langkah Shen Shishi mundur tanpa sadar.

Ia ingat.

Semua orang mungkin lupa

Tapi dia tidak.

Gadis di depannya ini…

Pernah menyamar sebagai kakaknya di usia delapan tahun

Hanya untuk memukuli seseorang sampai berdarah.

Kalau hal seperti itu saja berani ia lakukan,

Apa lagi yang tidak?

Ketakutan mulai merayap.

Suasana berubah.

Dari mengejek

Menjadi tertekan.

Tepat saat itu

Suara langkah kaki lain terdengar.

Lebih berat.

Lebih tenang.

Seseorang masuk.

“Apa yang kalian lakukan di sini?”

Selir Yang dan Shen Shishi langsung menoleh.

“Tuan Muda Tertua…” suara mereka melemah.

Shen Chen berdiri di ambang pintu.

Tatapannya tajam.

Tanpa sadar, Shen Fuyan kembali berlutut rapi.

Menghela napas dalam hati.

Hari ini… aula leluhur benar-benar ramai.

Selir Yang segera mencari alasan dan pergi dengan tergesa, menarik Shen Shishi

sebelum gadis itu sempat mengadu.

Tak lama

Hanya tersisa dua orang.

Kakak dan adik.

Sunyi kembali turun.

Namun kali ini…

Lebih berat.

Shen Chen berdiri lama.

Seolah ingin bicara.

Namun tak tahu dari mana harus mulai.

Akhirnya “Kakak,” kata Shen Fuyan datar, “katakan saja.”

Shen Chen menghela napas panjang.

Lalu

“Kau tahu apa yang ingin kukatakan.”

Ia menatapnya.

“Kamp militer penuh pria.”

“Dengan melakukan hal seperti itu…”

“Apakah kau tidak sadar itu memalukan bagi keluarga kita?”

Kata “itu” menggantung di udara.

Tak pernah diucapkan.

Namun cukup jelas.

Shen Fuyan terdiam.

Lalu

Ia mengangkat kepala.

Tatapannya berubah.

Tidak lagi santai.

Tidak lagi main-main.

“Melindungi negara,” katanya pelan, “bukanlah hal yang memalukan.”

Tidak ada emosi berlebihan.

Tidak ada amarah.

Hanya fakta.

Sederhana.

Namun

Tak terbantahkan.

Shen Chen menatapnya.

Lama.

Meski ia berdiri, dan Shen Fuyan berlutut

Untuk sesaat…

Ia merasa seperti sedang dipandang dari tempat yang jauh lebih tinggi.

1
Nurhasanah
suka banget sama karakter cwek yg badas nggak menye2 🥰🥰🥰 lanjut thor
Nurhasanah
lanjut thor 🥰🥰🥰
Sri Yana
tolong perbanyak episode nya, ceritanya semakin menarik....
Zhou Yan: maaf ya othor hanya bisa up 1 ep sehari, karena othor punya 4 cerita on going, lumayan menguras emosi kalo harus up lebih dari 1 episode. /Sob/
Jadi selagi nunggu othor up cerita lagi, kakak bisa baca cerita on going othor lainnya ya, 🙏🤭🤭
total 1 replies
Nurhasanah
karya yg bagus di tunggu lanjutan nya 👍👍👍
Nurhasanah
lanjut thor ... makin seru 🥰🥰🥰
Mydar Diamond
lanjuutt 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!