NovelToon NovelToon
Istri Kecil Uncle Dom (Kesempatan Kedua)

Istri Kecil Uncle Dom (Kesempatan Kedua)

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Selingkuh / Penyesalan Suami
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Prince Aurora

Sial! .

Lagi-lagi Dom dibuat menangis karena cinta.

Satu kali lagi pria itu berlutut, memohon maaf dan mengemis cinta kepada istri kecilnya. Namun, sebesar apa cinta yang dia tunjukkan, Bella tetap menggeleng dengan linangan air mata. Hukuman telah wanita itu jatuhkan sepenuh cinta.

"Bella, apakah pria brengsek sepertiku tidak layak untuk mendapatkan kesempatan kedua?" Gugu Dominic dengan suara bergetar.

Keduanya saling mencintai, namun Dom kembali terlena dengan masa lalunya, perselingkuhan pria itu dengan Sarah menjadikan boomerang hebat bagi bahtera rumah tangganya bersama Bella.

Bisakah Dom merebut kembali rasa cinta dan percaya istri kecilnya seperti semula?

"Aku begitu mencintaimu, Bella. Dan kau hampir membuat pria seksi ini menjadi gila!" Desis Dominic, saat cintanya kali ini tercampur dengan ambisi amarah dan gairah.


D O N ' T P L A G I A T ! ! !
H A P P Y R E A D I N G, S U G A R R E A D E R S ! !

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prince Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 — Dua Garis yang Mengubah Segalanya

Pagi itu udara di apartemen Livia terasa terlalu sunyi.

Bella duduk di tepi ranjang dengan kedua tangan saling menggenggam erat di atas pangkuannya. Tatapannya kosong, menatap satu titik di lantai, sementara pertanyaan Livia semalam masih terus berputar di kepalanya.

Telat datang bulan?

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun efeknya membuat malam Bella hampir tanpa tidur.

Ia mencoba menghitung.

Mengingat tanggal.

Mengingat minggu-minggu terakhir yang berantakan.

Hari-hari yang diisi dengan pertengkaran diam, kecemasan, rasa curiga, dan malam-malam panjang yang membuatnya kehilangan jejak waktu.

Namun semakin ia mencoba mengingat, semakin jelas semuanya.

Ia memang telat.

Sudah lebih dari dua minggu.

Jantung Bella berdegup lebih cepat.

Tangannya terasa dingin.

Pintu kamar diketuk pelan.

Livia masuk sambil membawa secangkir teh dan sebuah kantong kecil dari apotek.

Bella langsung menatap benda itu.

Livia menghela napas.

“Aku beli tadi pagi.”

Bella tidak bergerak.

Tatapannya tertuju pada kotak kecil berwarna putih di tangan sahabatnya.

Test pack.

Ruangan terasa semakin sempit.

Livia duduk di samping Bella, wajahnya lembut.

“Aku nggak mau bikin kamu panik,” katanya pelan, “tapi lebih baik kita tahu.”

Bella menunduk.

Tangannya perlahan meraih kotak itu.

Benda kecil yang terasa begitu ringan.

Namun mendadak seolah memikul beban seluruh hidupnya.

“Aku takut,” bisiknya.

Livia menggenggam tangannya.

“Takut itu wajar.”

Bella tersenyum tipis.

Senyum yang rapuh.

“Kalau benar… aku harus gimana?”

Livia tidak langsung menjawab.

Karena bahkan dirinya tahu, jawaban itu tidak sederhana.

Bella menarik napas panjang.

Lalu berdiri.

Langkahnya menuju kamar mandi terasa lebih berat dari langkah mana pun yang pernah ia ambil.

Waktu berjalan lambat.

Sangat lambat.

Bella berdiri di depan wastafel, test pack itu berada di atas meja kecil, dan tangannya gemetar hebat.

Ia bahkan nyaris menjatuhkannya.

Pikiran tentang Dominic, tentang hotel, tentang Diana, semuanya berputar menjadi satu.

Ia menutup mata sejenak.

Mencoba tenang.

Beberapa menit kemudian, ia menatap alat kecil itu.

Dan dunia seolah berhenti.

Dua garis.

Jelas.

Tidak samar.

Dua garis merah muda yang begitu nyata.

Bella membeku.

Untuk beberapa detik, ia tidak bisa bernapas.

Matanya terpaku.

Tangannya perlahan terangkat, mengambil benda itu, seolah berharap hasilnya berubah jika dilihat dari sudut lain.

Namun tetap sama.

Dua garis.

Ia hamil.

Tubuh Bella perlahan melemas.

Ia terduduk di lantai kamar mandi.

Punggungnya bersandar pada dinding dingin.

Tatapannya kosong.

Satu tangan menutup mulutnya.

Dan akhirnya…

Air mata yang selama ini ia tahan jatuh begitu saja.

Bukan tangis keras.

Bukan isakan.

Hanya air mata yang terus mengalir tanpa suara.

Karena semuanya datang di waktu yang salah.

Atau mungkin… waktu yang paling menyakitkan.

Livia mengetuk pintu pelan.

“Bella?”

Tidak ada jawaban.

“Bella, kamu oke?”

Pintu terbuka perlahan.

Dan begitu melihat wajah Bella yang basah oleh air mata, Livia langsung mengerti.

Tatapannya turun ke test pack di tangan Bella.

Dua garis.

Wajah Livia berubah.

“Oh, Bella…”

Ia segera mendekat, berlutut di depannya.

Bella menatap sahabatnya dengan mata merah.

“Aku hamil, Liv.”

Kalimat itu keluar pelan.

Hampir seperti bisikan.

Namun begitu diucapkan, rasanya menjadi lebih nyata.

Livia memeluknya erat.

Dan Bella akhirnya menangis dalam diam di pelukan sahabatnya.

“Kenapa harus sekarang…” bisiknya pecah.

Livia mengusap punggungnya lembut.

“Karena mungkin Tuhan kasih kamu alasan buat tetap kuat.”

Bella memejamkan mata.

Namun hatinya justru semakin sesak.

Karena alasan itu datang dari seseorang yang baru saja menghancurkannya.

Siang itu Bella duduk di dekat jendela apartemen.

Langit Australia tampak cerah, tapi hatinya jauh dari tenang.

Tangannya tanpa sadar menyentuh perutnya yang masih datar.

Masih belum terlihat apa-apa.

Masih terlalu dini.

Namun di sana…

Sudah ada kehidupan.

Buah dari cinta yang kini bercampur luka.

Ponselnya bergetar.

Nama Dominic muncul lagi.

Bella menatap layar cukup lama.

Beberapa panggilan tak terjawab sejak pagi.

Pesan-pesan baru terus masuk.

> Bella, kita harus bicara.

Aku ke rumah, kamu nggak ada.

Tolong jangan jauhi aku.

Please.

Bella mematikan layar.

Tangannya gemetar.

Ia tidak sanggup.

Belum.

Livia duduk di sebelahnya.

“Kamu mau bilang ke Dominic?”

Pertanyaan itu membuat Bella terdiam lama.

Sangat lama.

Ia menunduk, memandang tangannya yang masih menempel di perut.

“Enggak.”

Livia menoleh.

Bella melanjutkan, suaranya pelan tapi tegas.

“Belum.”

Tatapannya berubah.

Lebih tenang.

Lebih dingin.

“Aku nggak mau dia tahu sekarang.”

“Kenapa?”

Bella tersenyum tipis.

Senyum yang pahit.

“Karena aku nggak mau dia kembali hanya karena anak ini.”

Sunyi.

Kalimat itu menggantung di udara.

Livia menatapnya penuh iba.

Bella menarik napas.

“Kalau dia datang karena rasa bersalah, karena tanggung jawab, atau karena takut kehilangan pewaris…” Bella menggeleng pelan. “Aku nggak mau.”

Air matanya kembali turun.

“Aku mau dicintai sebagai Bella.”

Bukan sebagai ibu dari anak Dominic.

Bukan sebagai alasan untuk memperbaiki citra.

Hanya… sebagai dirinya.

Dan untuk pertama kalinya, Bella merasa keputusan mulai terbentuk di dalam dirinya.

Perlahan.

Namun pasti.

Malam itu Dominic berdiri di depan apartemen Livia lagi.

Namun kali ini pintu tidak dibuka.

Ia mengetuk beberapa kali.

Tidak ada jawaban.

Ponselnya terus mencoba menghubungi Bella.

Tetap tidak diangkat.

Dominic menyandarkan kepalanya pada pintu.

Rasa frustasi, takut, dan kehilangan bercampur menjadi satu.

Ia belum tahu.

Bahwa di balik pintu itu…

Ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang mengubah hidup mereka.

Dan Bella…

Sudah mulai memikirkan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Pergi.

Jauh.

Membawa anaknya.

Sendiri.

END BAB 14 🔥😭

1
Soraya
lanjut
mimief
kadang ga ngerti ya
.di otak para pelakor itu
dia cantik
dia sukses
tapi malah terobsesi sama milik orang lain
dan bodohnya para pria itu membuka pintu hati nya lebar"
mimief
🥹🥹🥹🥹🥹🥹🥹
aku bacanya ga nafas thor
mimief
jangan lemah...
ayo semangat bella
mimief
aku juga setuju lah Thor
cape sama orang yg belum selesai sama masa lalunya
kita akan selalu sendirian
terabaikan
dan...bukan sesuatu yg jadi prioritas
dia datang hanya kewajiban 🥹
mimief
hami yaa🥹🥹🥹
mimief
itu dia..
sebenarnya air mata bukan lah tanda kita lemah
tapi memberikan ijin buat tubuh kita mengeluarkan semua rasa
nangis aja..
yg kenceng.
tapi.....untuk saat ini aja
setelah nya kita bergerak maju ke masa depan
mimief
yah begitulah semua lelaki
mereka kan selalu merasa di zona nyamannya
merasa kita akan ditempat dan rasa yg sama
walaupun apapun yg terjadi
tapi mereka lupa semua asalnya dr mereka 🥹🥹
mimief
hiks....hiks.
kok aku yg emosi ya Thor
liat Diana yg ga tau malu
eh..mang lupa ya
pelakor mang semuanya ga tau malu🥹🥹
mimief
kau berharap apa dom...
lelah itu sesuatu yg nyata tapi tida berasa🥹🥹
mimief
🥹🥹🥹🥹🥹🥹🥹
mimief
ya...tidak perlu mempertahankan yg ga mau bertahan buat kita🥹🥹
mimief: jujurly,aku si mau nya pisah
kita liat aja si dom ini
bener bener mau berubah atau tidak.
tapi Thor.... perselingkuhan itu seperti sakit kangker yg diam diam menyakiti kita dr dalam.
tak terlihat tapi sakitnya nyata.
walaupun mereka kembali lagi.
rasa itu ga akan sama...
ketidakpercayaan , curiga akan memberikan rasa sakit yg lebih🥹
total 2 replies
mimief
nyesek nya Ampe nembus layar Thor 🥹🥹
mimief
ya ampun aku Ampe ga nafas bacanya thor
ini...memang dr awal seperti ada yg salah bukan?🥹🥹🥹
mimief: 🥹🥹🥹🥹🥹
total 2 replies
Soraya
lanjut thor
Isn't Aurora!!💫: tetep stay yaaa🤭😍
total 1 replies
Soraya
knp dobel thor
Isn't Aurora!!💫: iyaa maaf aku salah upload, makasi udah diingetin 😊
total 1 replies
Soraya
lebih baik kmu pergi Bella
Isn't Aurora!!💫: setuju bella pergi? 🤭
total 1 replies
sri
lanjut thor👍👍
Isn't Aurora!!💫: tunggu yaaa😍
total 2 replies
Soraya
penasaran lanjut thor
Isn't Aurora!!💫: di tunggu update an nya yaaaaa😍
total 1 replies
Soraya
ku mampir thor
Isn't Aurora!!💫: ihhh makasi😭😭 semoga betah yaaaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!