Arumi tidak pernah menyangka bahwa hari paling membahagiakan bagi kakaknya, Siska, akan menjadi awal dari penjara tak kasat mata baginya. Tepat di hari pernikahan megah yang telah dirancang keluarga, Siska melarikan diri demi kekasih lamanya, meninggalkan hutang besar dan kehormatan keluarga yang dipertaruhkan.
Demi menyelamatkan wajah orang tua dan melunasi hutang budi, Arumi terpaksa menggantikan posisi sang kakak di pelaminan. Ia menikah dengan Adrian Pramoedya, seorang CEO muda yang dingin, kaku, dan menyimpan luka mendalam akibat pengkhianatan Siska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Siaga di Ambang Trimester Ketiga
Memasuki minggu ke-28, tubuh Arumi mulai memberikan sinyal-sinyal kelelahan yang tidak bisa lagi diabaikan dengan sekadar senyuman atau segelas teh jahe. Perutnya kini sudah bulat sempurna, menonjol dengan anggun di balik daster satin longgar yang menjadi seragam hariannya di rumah. Namun, seiring dengan berat badan janin yang bertambah, punggung Arumi mulai sering terasa seperti ditarik beban tak kasat mata, dan kakinya mulai membengkak jika ia terlalu lama duduk di depan laptop.
Adrian, yang selama ini dikenal sebagai CEO bertangan dingin yang mampu mengelola ribuan karyawan tanpa berkedip, kini bertransformasi menjadi sosok yang jauh lebih menegangkan: seorang suami "Siaga" (Siap Antar Jaga) yang tingkat protektifnya hampir menyentuh level obsesif.
"Mas, aku hanya ingin mengambil air minum di dapur, bukan mau mendaki Gunung Everest,"
protes Arumi saat Adrian tiba-tiba muncul dari ruang kerjanya dan langsung memegangi sikut Arumi saat istrinya itu baru saja berdiri dari sofa.
"Lantainya baru saja dipel, Arumi. Licin. Dan kamu sedang membawa beban sepuluh kilogram di depanmu. Biar aku yang ambilkan. Duduk,"
perintah Adrian, nada suaranya tidak menerima bantahan, namun matanya memancarkan kecemasan yang tulus.
Arumi menghela napas, kembali menjatuhkan dirinya ke sofa empuk. "Mas, kalau Mas begini terus sampai persalinan nanti, Mas bisa kena darah tinggi sendiri. Aku ini hamil, bukan sedang sakit parah."
Adrian kembali dari dapur membawa segelas air putih hangat dan sepiring kecil potongan buah kiwi. Ia berlutut di depan Arumi, meletakkan gelas itu di meja, lalu tanpa permisi meraih kaki Arumi dan meletakkannya di atas pangkuannya. Jemari panjang Adrian mulai memijat pergelangan kaki Arumi yang membengkak dengan gerakan lembut yang sangat terlatih.
"Dokter Maya bilang sirkulasi darahmu harus lancar, Arumi. Dan aku tidak mau mengambil risiko sekecil apa pun. Clara mungkin sudah pergi ke Singapura, tapi tantangan fisikmu baru saja dimulai," ujar Adrian tanpa mengalihkan pandangannya dari kaki istrinya.
Arumi menatap puncak kepala Adrian. Ada rasa haru yang menyeruak di dadanya. Pria ini, yang dulu menganggap pernikahan sebagai kontrak bisnis yang kaku, kini rela berlutut di lantai hanya untuk meredakan pegal di kakinya.
Tantangan terbesar Arumi di babak ini bukanlah Clara atau dewan komisaris, melainkan writer's block yang diperparah oleh hormon kehamilan. Ia sedang mencoba menyelesaikan bab krusial dalam novel keempatnya—bab di mana sang tokoh utama harus memilih antara memaafkan masa lalu atau memulai hidup baru. Namun, setiap kali ia duduk di depan layar, pikirannya justru melayang pada warna gorden kamar bayi atau daftar belanja popok.
"Kenapa sulit sekali?" keluh Arumi suatu sore di perpustakaan. Ia menyandarkan kepalanya di meja jati. "Dulu aku bisa menulis lima ribu kata sehari. Sekarang, menulis satu paragraf saja rasanya seperti menyusun skripsi."
Pandu, yang datang berkunjung untuk mengambil draf awal, hanya bisa tertawa kecil melihat penulis andalannya tampak tak berdaya di depan laptop.
"Itu namanya mommy brain, Rum. Fokusmu sedang terbagi secara alami. Tubuhmu sedang memprioritaskan pembuatan manusia, bukan pembuatan plot," ujar Pandu sambil menyeruput kopinya. "Lagipula, pembacamu bisa menunggu. Filmmu masih menduduki peringkat atas di layanan streaming. Santai saja."
"Aku tidak bisa santai, Ndu. Aku merasa seperti kehilangan jati diriku jika tidak menulis," aku Arumi jujur.
Tiba-tiba, Adrian masuk ke perpustakaan dengan wajah serius, membawa sebuah bantal ortopedi dan penyangga punggung. "Pandu, jangan terlalu lama mengajak Arumi bicara soal pekerjaan. Dia butuh istirahat setiap empat puluh menit. Dan Arumi, pakai ini. Postur dudukmu salah."
Pandu mengangkat kedua tangannya ke udara. "Oke, oke. Sepertinya 'Sersan Adrian' sudah mengambil alih. Aku pamit dulu sebelum aku dipecat sebagai agen karena dianggap mengganggu kesehatan ibu hamil."
Setelah Pandu pergi, Adrian duduk di kursi di samping Arumi. Ia menutup laptop istrinya dengan lembut.
"Mas, aku belum selesai!" protes Arumi.
"Tulisanmu tidak akan lari ke mana-mana, Arumi. Tapi kesehatanmu dan Abimanyu adalah prioritas nomor satu. Sekarang, kita akan melakukan latihan pernapasan yang diajarkan di kelas prenatal kemarin."
Arumi mendengus, namun ia tidak bisa menahan tawa saat melihat Adrian mencoba menirukan gaya instruktur senam hamil dengan wajah yang sangat formal. "Mas benar-benar lucu kalau sedang panik begini."
Meski Adrian sangat protektif, Arumi tetaplah wanita yang mandiri. Suatu hari, saat Adrian sedang menghadiri rapat penting yang tidak bisa ditinggalkan, Arumi merasa ada sesuatu yang tidak beres di area pinggangnya. Rasa nyeri yang tajam datang dan pergi. Awalnya ia mengira itu hanya kontraksi palsu (Braxton Hicks), namun polanya terasa terlalu teratur.
Ia tidak ingin langsung menelepon Adrian dan membuatnya mengacaukan rapat triliunan rupiah itu. Arumi menelepon Siska.
"Kak, aku merasa mulas. Tapi ini masih minggu ke-30. Terlalu dini, kan?" tanya Arumi, suaranya sedikit bergetar.
Siska, yang kini sudah jauh lebih tenang dan berpengalaman dalam urusan domestik, langsung memberikan instruksi. "Tenang, Rum. Atur napas. Aku akan hubungi dokter Maya dan aku langsung ke rumahmu. Jangan panik. Dan satu lagi... segera beri tahu Adrian. Dia akan jauh lebih marah jika tahu kamu menyembunyikan ini darinya."
Benar saja, saat Adrian tiba di rumah sakit satu jam kemudian—masih mengenakan setelan jas lengkap dan napas yang terengah-engah—wajahnya pucat pasi. Ia langsung menghampiri bed tempat Arumi berbaring di ruang observasi.
"Kenapa tidak langsung telepon aku?" suara Adrian terdengar seperti bisikan yang penuh luka.
"Aku bisa meninggalkan rapat itu dalam sedetik."
"Aku tidak ingin membuatmu khawatir, Mas. Ternyata ini hanya kelelahan otot rahim karena aku terlalu banyak duduk menulis kemarin," ujar Arumi, menggenggam tangan Adrian yang gemetar.
Dokter Maya masuk dan mengonfirmasi bahwa Arumi memang butuh bed rest total selama dua minggu ke depan. "Tidak ada laptop, tidak ada rapat, tidak ada stres. Hanya istirahat dan makan bergizi. Janinnya baik-baik saja, tapi dia memberi sinyal bahwa ibunya butuh jeda."
Masa bed rest dua minggu itu menjadi momen paling intim bagi mereka. Adrian memindahkan meja kerjanya ke dalam kamar agar ia bisa memantau Arumi sambil bekerja. Ia membacakan novel-novel klasik untuk Arumi setiap malam, dan mereka mulai membicarakan hal-hal yang lebih dalam dari sekadar bisnis atau karier.
"Arumi," panggil Adrian suatu malam saat lampu kamar sudah diredupkan.
"Ya, Mas?"
"Terima kasih sudah bertahan sejauh ini. Aku tahu menjadi istriku bukan hal yang mudah. Dari kontrak gila itu, masalah dengan Siska, sampai gangguan dari Clara... kamu melewati semuanya tanpa mengeluh."
Arumi memiringkan tubuhnya, menatap profil samping Adrian yang kokoh. "Aku tidak pernah menyesal, Mas. Karena lewat semua drama itu, aku menemukan kekuatanku sendiri. Dan aku menemukanmu. Pria yang rela belajar senam hamil demi istrinya."
Adrian tersenyum, lalu mengecup tangan Arumi.
"Aku hanya ingin menjadi ayah yang berbeda dari ayahku. Aku ingin Abimanyu tumbuh di rumah yang penuh cinta, bukan sekadar rumah yang penuh aturan."
Masa-masa sulit di trimester ketiga ini justru semakin mengukuhkan bahwa mereka bukan lagi dua orang yang terikat perjanjian hitam di atas putih. Mereka adalah satu kesatuan yang saling menguatkan di titik terlemah sekalipun. Arumi menyadari bahwa kedewasaan bukan hanya soal menghadapi musuh dari luar, tapi juga soal belajar mendengarkan tubuh sendiri dan membiarkan orang yang kita cintai menjaga kita.
Di minggu ke-32, Arumi sudah diperbolehkan beraktivitas ringan kembali. Ia membuka laptopnya, namun kali ini bukan untuk menulis fiksi. Ia mulai menuliskan surat untuk Abimanyu di masa depan, menceritakan betapa paniknya ayahnya saat pertama kali ia menendang, dan betapa indahnya perjalanan mereka menuju hari kelahirannya.
hari ini ditutup dengan pemandangan sore hari di balkon rumah mereka. Adrian sedang memasangkan kaus kaki hangat ke kaki Arumi, sementara di radio terdengar lagu klasik yang lembut. Badai dari luar sudah tidak ada lagi, yang tersisa hanyalah penantian manis menuju kehadiran sang pejuang kecil.