Agus adalah seorang pemuda yang hidup dalam jeratan ekonomi. Di rumahnya yang sederhana, ia harus berbagi beban dengan ayahnya, Marjuki, yang mulai sakit-sakitan, dan ibunya, Asmah, yang hanya bisa pasrah pada keadaan. Di tengah rasa sepi, Agus mengunduh sebuah aplikasi jodoh dan bertemu dengan Nor Rahma.
Bagi Agus, Rahma adalah sosok yang terlalu sempurna. Rahma memiliki pekerjaan tetap, pendidikan yang baik, dan paras yang menawan. Hubungan mereka yang bermula dari layar ponsel berlanjut ke arah yang lebih serius. Namun, tantangan muncul saat Rahma meminta bukti keseriusan berupa komitmen untuk melamar dan membangun masa depan yang stabil.
Agus terjepit. Di satu sisi, ia sangat mencintai Rahma. Di sisi lain, pendapatannya sebagai pekerja serabutan tidak pernah cukup untuk menabung, apalagi membiayai pernikahan yang layak. Keluarga Agus tidak memiliki simpanan sama sekali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 23
Lantai koridor IGD Rumah Sakit Umum Pusat ini begitu putih dan mengkilap, hingga Agus bisa melihat pantulan wajahnya yang kusam dan dipenuhi kerak semen saat ia menunduk. Setiap kali ia menggeser kaki kanannya, terdengar suara gesekan sandal jepitnya yang tipis di atas keramik. Di belakangnya, jejak-jejak abu-abu dari sisa debu gudang tertinggal, mengotori kebersihan lantai yang baru saja dipel. Agus merasa sangat sadar diri; ia merasa seperti sebuah noda besar di tengah ruangan yang serba steril ini.
Di depannya, meja administrasi berdiri kokoh. Petugas pria tadi masih menunggu jawaban, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu berlapis plastik itu dengan irama yang tidak sabar.
"Dua juta, Mas. Itu uang muka jaminan untuk pasien umum yang masuk kategori gawat darurat dan memerlukan perawatan intensif," petugas itu mengulangi kalimatnya, suaranya datar tanpa ada sedikit pun nada simpati. Matanya tetap tertuju pada monitor komputer yang menampilkan grafik dan data-data medis yang tidak Agus mengerti.
Agus menelan ludah. Tenggorokannya terasa sangat kering, seolah-olah tumpukan semen yang ia panggul seharian tadi kini menyumbat jalan napasnya. Angka dua juta rupiah itu terus berdengung di telinganya, lebih kencang daripada suara monitor jantung yang terdengar dari balik tirai IGD. Dua juta. Bagi Agus, angka itu bukan sekadar nominal; itu adalah tembok raksasa yang memisahkan bapaknya dari kesempatan untuk bertahan hidup.
"Pak... apakah tidak bisa kurang? Atau mungkin saya bisa jamin pakai KTP dulu? Saya janji akan cari uangnya besok pagi," suara Agus terdengar sangat kecil, nyaris menghilang di tengah kebisingan rumah sakit.
Petugas itu akhirnya mendongak, menatap Agus dengan tatapan yang dingin di balik kacamata beningnya. "Aturannya sudah begitu, Mas. Rumah sakit butuh jaminan biaya untuk obat-obatan dan tindakan medis yang mahal di ruang isolasi paru nanti. Kalau tidak ada uang muka, kami hanya bisa melakukan tindakan darurat di IGD ini saja. Tapi Bapak Anda butuh rontgen thorax segera dan mungkin bantuan ventilator kalau kondisinya terus menurun."
Agus merasakan lututnya benar-benar lemas. Ia mundur selangkah, menyeret kaki kirinya yang sudah tidak lagi ia rasakan keberadaannya karena mati rasa. Ia bersandar pada dinding koridor, membiarkan punggungnya merosot perlahan hingga ia terduduk di lantai. Kayu penyangganya tergeletak begitu saja di sampingnya. Ia tidak peduli lagi jika satpam akan menegurnya karena duduk di lantai.
Di kursi tunggu yang tidak jauh dari sana, ibu agus duduk termenung. Ibunya tidak menangis lagi, namun tatapannya kosong menatap pintu kaca IGD yang tertutup. Agus tahu, ibunya bahkan tidak berani bertanya berapa biaya yang dibutuhkan. Ketakutan akan angka telah melumpuhkan keberanian ibunya.
Agus merogoh saku celananya, mengeluarkan ponselnya yang layarnya retak melintang. Ia menekan tombol power berkali-kali, berharap ada sisa daya satu persen saja untuk sekadar mengirim pesan singkat. Namun, layar itu tetap hitam pekat, sedingin lantai yang ia duduki. Ponsel itu telah mati total.
Dengan matinya ponsel itu, Agus merasa dunianya benar-benar terputus. Ia tidak bisa menghubungi Nor Rahma. Ia tidak bisa melihat wajah Rahma di foto profilnya yang biasanya menjadi satu-satunya kekuatannya saat ia lelah memikul semen. Ia merasa sangat terisolasi. Di tengah kota yang lampunya terang benderang ini, di dalam gedung yang penuh dengan peralatan medis canggih ini, Agus merasa seperti terdampar di tengah lautan tanpa kompas.
Ia membayangkan Nor Rahma saat ini. Apakah Rahma sedang menangis karena pesannya tidak dibalas? Ataukah Rahma mulai berpikir bahwa Agus adalah laki-laki yang tidak bertanggung jawab, yang menghilang setelah mendapatkan perhatiannya? Rasa sakit di hatinya saat memikirkan Rahma terasa jauh lebih perih daripada luka gores di pundaknya.
"Mas Agus..."
Suara lembut memanggilnya. Agus mendongak dan melihat Lukman berdiri di depannya. Teman baiknya itu membawa dua botol air mineral dan sebungkus roti murahan.
"Minum dulu, Gus. Wajahmu sudah putih semua seperti tembok," ucap Lukman sambil menyodorkan air minum.
Agus menerima botol itu, namun tangannya bergetar hebat saat mencoba membuka tutupnya. Lukman membantunya membuka tutup botol itu. Agus meminumnya dengan rakus, air dingin itu terasa membasahi kerongkongannya yang berdebu, namun tidak bisa mendinginkan kepalanya yang panas oleh pikiran.
"Man... mereka minta dua juta buat uang muka," bisik Agus setelah napasnya agak tenang.
Lukman tertegun. Ia duduk di lantai di samping Agus, mengabaikan tatapan beberapa perawat yang lewat. "Dua juta? Astaga... Dari mana kita dapat uang sebanyak itu malam-malam begini, Gus?"
"Aku tidak tahu, Man. Pak RT sudah kasih seratus lima puluh ribu. Pak Kumis kasih dua puluh ribu. Itu saja aku sudah harus mengemis sambil menahan malu. Dua juta itu... itu hampir sama dengan upahku kerja tiga bulan tanpa makan," ucap Agus, suaranya bergetar menahan tangis.
"Bagaimana kalau kamu hubungi orang-orang di gudang? Teman-teman yang lain?" saran Lukman.
Agus menggeleng lemah. "HP-ku mati, Man. Mati total. Dan lagipula, siapa di gudang yang punya uang menganggur dua juta? Semuanya kuli harian. Paling banyak mereka punya simpanan lima puluh ribu buat beli bensin besok pagi."
Lukman terdiam. Ia merogoh dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar uang sepuluh ribuan dan lima ribuan. "Aku cuma ada segini, Gus. Buat bensin motor balik ke desa besok."
Agus menyingkirkan tangan Lukman dengan halus. "Jangan, Man. Simpan saja buat bensinmu. Kamu sudah bantu terlalu banyak hari ini."
Keheningan kembali menyelimuti mereka di koridor yang dingin itu. Bau klorin yang tajam dan suara langkah kaki petugas medis yang terburu-buru menciptakan suasana yang sangat menekan. Agus melihat ke arah tirai IGD nomor 4, tempat bapaknya sedang diperiksa. Melalui celah tirai yang sedikit terbuka, ia melihat seorang dokter sedang memasang alat ke dada bapaknya yang kurus. Tubuh bapaknya tampak sangat rapuh di atas ranjang yang tinggi itu.
Agus teringat masa kecilnya. Bapaknya dulu adalah orang yang sangat kuat. Bapaknya bisa memikul dua keranjang besar hasil panen padi melintasi pematang sawah yang licin tanpa pernah mengeluh. Sekarang, laki-laki perkasa itu harus bergantung pada selang plastik dan belas kasihan administrasi rumah sakit.
"Aku harus cari jalan, Man," ucap Agus tiba-tiba. Ia mencoba berdiri menggunakan kayu penyangganya.
"Mau ke mana, Gus? Kakimu itu sudah bengkak biru begitu!" Lukman menahan lengan Agus.
"Aku tidak tahu mau ke mana. Tapi aku tidak bisa cuma duduk di sini sambil lihat Bapak sesak napas. Aku harus cari telepon umum atau apa saja untuk hubungi Pak Jono atau siapa pun," Agus bersikeras.
Ia mulai melangkah menyusuri koridor rumah sakit yang panjang. Setiap langkahnya adalah perjuangan melawan rasa sakit fisik dan mental. Ia melewati deretan kursi tunggu yang dipenuhi orang-orang dengan berbagai macam penderitaan. Ada yang tertidur dengan alas kardus, ada yang sedang berdoa dengan khusyuk, dan ada yang hanya menatap kosong ke arah langit-langit.
Agus menyadari, rumah sakit ini adalah tempat di mana semua orang setara dalam hal penderitaan, namun tetap terpisah oleh tebalnya dompet. Ia merasa sangat terasing. Pakaian kuli panggulnya yang kotor seolah menjadi label yang meneriakkan bahwa ia tidak layak berada di sini.
Saat ia sampai di dekat pintu keluar gedung IGD, ia melihat sebuah stopkontak di dekat bangku satpam. Matanya berbinar. Ia teringat ia membawa kabel charger di dalam tas kainnya yang kusam. Jika ia bisa menghidupkan ponselnya, setidaknya ia bisa mencoba menghubungi beberapa kontak yang mungkin bisa membantunya.
Dengan langkah yang diseret, ia mendekati satpam yang sedang berjaga. "Pak... boleh saya numpang ngecas HP sebentar? HP saya mati, saya butuh hubungi keluarga untuk urusan administrasi."
Satpam itu melihat ke arah Agus dengan tatapan menyelidik. Ia melihat baju Agus yang penuh debu semen dan kakinya yang dibebat kain kusam. "Maaf, Mas. Tidak boleh. Nanti ditegur pimpinan kalau colokan di sini dipakai buat umum. Cari saja di kantin belakang, mungkin ada."
Harapan kecil itu padam seketika. Agus hanya bisa mengangguk pelan, rasa kecewanya sudah berada di titik jenuh hingga ia tidak sanggup lagi untuk memohon. Ia berbalik, kembali ke arah ruang tunggu koridor IGD.
Di tengah jalan, ia berhenti di depan sebuah jendela kaca besar yang menghadap ke arah jalan raya kota. Di kejauhan, lampu-lampu gedung perkantoran dan hotel berbintang masih menyala terang. Kota ini begitu mewah, begitu megah, namun terasa sangat kejam bagi orang seperti dirinya. Di salah satu titik cahaya itu, mungkin Nor Rahma sedang tertidur, atau mungkin sedang mengkhawatirkannya.
Agus menempelkan keningnya pada kaca jendela yang dingin. Di dalam hatinya, ia berbisik lirih pada Nor Rahma. "Rahma... aku tidak tahu apakah aku masih punya hari esok bersamamu. Malam ini, harga diriku sedang bertarung dengan dua juta rupiah untuk nyawa bapakku."
Agus memejamkan mata, membiarkan satu tetes air mata jatuh melewati pipinya yang kusam, meninggalkan jejak di tengah kerak debu semen yang mulai mengering. Ia kembali ke kursi tunggu, duduk di samping ibunya yang masih terdiam, sementara waktu di jam dinding rumah sakit terus berjalan, merayap menuju tengah malam yang akan menentukan nasib bapaknya.