NovelToon NovelToon
Perlindungan Terakhir (Zaman Es)

Perlindungan Terakhir (Zaman Es)

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Horror Thriller-Horror / Epik Petualangan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Thinkziam

Juni 2026
----
Aktivitas matahari menurun drastis. Zona es meluas dari kutub hingga mencapai Indonesia. Jakarta membeku dalam suhu minus belasan derajat, hukum dan negara runtuh, dan manusia saling berburu untuk bertahan hidup. Di tengah kiamat Es itulah Arka, seorang pemuda jenius tapi pemalas , mati dikhianati tunangannya sendiri. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Ia terbangun satu tahun sebelum bencana, dengan ingatan penuh akan enam bulan neraka yang telah ia lalui. Kini, dengan memanfaatkan pengetahuannya tentang masa depan, bisakah arka bertahan hidup di dunia tanpa hukum, di mana siapa kuat dia berkuasa saat ini ? ...

----

~ Jika waktu bisa mundur 1 tahun dari saat ini, Apa yg akan kamu lakukan? ~
----
@ThinkzIam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thinkziam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Tiga bulan sejak pintu bunker tertutup.

Tiga bulan yang terasa seperti tiga tahun. Di dalam, kehidupan berjalan dengan ritme yang membosankan. Bangun, makan, kerja, latihan, tidur. Ulang. Ulang. Ulang.

Di luar, dunia telah berubah menjadi tempat yang tidak bisa dikenali.

Arka berdiri di depan monitor kamera. Salju masih menutupi segalanya. Tumpukan di depan hotel sudah setinggi satu meter lebih. Mobil-mobil di jalan hanya berupa gundukan putih tanpa bentuk. Pohon-pohon di taman kota, yang dulu rindang, kini hanya kerangka beku yang menjulang.

Jakarta tidak lagi Jakarta.

Dia menekan tombol di radio komunikasi. Seminggu sekali, dia mencoba mencari sinyal. Selama tiga bulan, hanya statis yang dia dapatkan. Tapi hari ini berbeda.

“...mengimbau seluruh warga yang masih bertahan untuk tetap di dalam ruangan. Suhu di luar diprediksi akan terus turun hingga minus dua puluh derajat Celcius... Pemerintah telah membangun pusat evakuasi di beberapa titik... Bandara Soekarno-Hatta tidak lagi beroperasi... Listrik padam total sejak dua minggu lalu...”

Suara itu terputus-putus, di sela-sela desisan statis. Tapi cukup jelas untuk didengar.

Pratama yang berdiri di sampingnya mengerutkan dahi. “Itu siaran dari pemerintah?”

“Kelihatannya. Mungkin dari pemancar darurat.”

“...jalur evakuasi terakhir menuju Sumatra telah ditutup... Gelombang pasien rumah sakit yang kedinginan mencapai ribuan... Stok pangan di gudang Bulog diperkirakan hanya cukup untuk satu bulan ke depan...”

Siaran itu terputus. Statis kembali.

Arka mematikan radio. “Mereka masih berusaha.”

“Tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan,” kata Pratama. “Dunia sudah berubah.”

Di ruang utama, tim sedang makan siang. Sup sayur dari panen hidroponik minggu ini. Sedikit daging kaleng. Nasi yang mulai terasa hambar setelah berbulan-bulan.

Umar mengunyah perlahan. Matanya kosong. Dua minggu lalu, dia berhenti bertanya tentang keluarganya. Mungkin dia sudah menerima. Atau mungkin dia sudah menyerah.

Dewi menyuap makanannya dengan tenang. Dia yang paling stabil secara emosi. Arka curiga dia sudah melihat terlalu banyak kematian saat bekerja di IGD. Bunker ini, dengan semua keterbatasannya, mungkin terasa seperti surga baginya.

Wawan berbicara tentang efisiensi panel surya. Rina tentang jadwal panen. Semua normal. Terlalu normal.

Arka memutuskan untuk mengganggu rutinitas.

“Besok kita keluar.”

Semua menoleh. Umar berhenti mengunyah. Dewi meletakkan sendok.

“Keluar?” tanya Umar.

“Ke stasiun. Lewat terowongan. Lihat keadaan.”

Pratama yang berdiri di belakang tidak terkehat. Dia sudah tahu. Mereka sudah membahasnya seminggu lalu.

“Aman?” tanya Dewi.

“Tidak ada yang tahu. Tapi kita tidak bisa terus bersembunyi di sini. Stok kita cukup untuk setahun. Tapi setelah itu? Kita butuh informasi. Butuh tahu apa yang terjadi di luar.”

Umar menelan ludah. “Saya ikut.”

“Tidak. Hanya saya dan Pratama. Kalian tetap di sini.”

“Kenapa?”

“Karena kalau terjadi sesuatu, kalian yang akan menjaga tempat ini.”

Umar terdiam. Tidak membantah.

Pagi itu, Arka berdiri di depan pintu darurat di ujung terowongan. Jaket tebal yang dulu dia beli di toko online, sepatu bot anti-selip, sarung tangan, kacamata salju. Semua persiapan yang terasa berlebihan tiga bulan lalu, kini menjadi kebutuhan.

Pratama di sampingnya, lengkap dengan perlengkapan serupa. Di pinggangnya, pistol terselip di balik jaket. Arka juga membawa satu.

“Kita buka perlahan,” kata Pratama.

Arka mengangguk. Dia mendorong gagang besi. Pintu darurat terbuka dengan bunyi berdecit panjang.

Udara dingin langsung menyambar. Bukan dingin biasa. Dingin yang menusuk tulang, yang membuat napas terasa seperti menghirup pecahan kaca. Suhu minus delapan belas derajat, menurut termometer kecil di pergelangan tangan Pratama.

Stasiun MRT Sudirman kosong.

Tidak ada lampu. Cahaya hanya dari senter yang mereka bawa. Es menutupi lantai, dinding, langit-langit. Pilar-pilar beton membeku, retak di beberapa tempat. Di sudut, tumpukan salju masuk dari celah ventilasi.

Arka berjalan perlahan. Suara sepatunya di atas es bergema di ruang yang sunyi.

“Ke mana?” bisik Pratama.

“Ke pintu keluar. Lihat luar sebentar.”

Mereka berjalan melewati gerbang otomatis yang macet setengah terbuka. Melewati loket yang kacanya pecah. Melewati eskalator yang membeku, anak-anak tangganya seperti sungai yang membatu.

Pintu keluar stasiun sudah tidak bisa dibuka. Salju menumpuk setinggi dua meter di depannya. Tapi dari sela-sela pintu, Arka bisa melihat ke luar.

Jakarta.

Gedung-gedung pencakar langit yang dulu menjulang, kini seperti tengkorak raksasa yang membeku. Kaca-kaca pecah, jatuh, menumpuk di bawah. Jalanan hilang di bawah selimut putih. Tidak ada suara. Tidak ada gerakan. Hanya putih yang sunyi.

Arka berdiri di sana, menatap.

Di kehidupan pertama, dia tidak sempat melihat Jakarta seperti ini. Dia terlalu sibuk bertahan, terlalu sibuk mencari makanan, terlalu sibuk melindungi apartemen. Sekarang dia bisa melihat. Sungguh. Dan dia tidak tahu harus merasa apa.

“Mas,” suara Pratama dari belakang. “Ada sesuatu.”

Arka menoleh. Pratama menunjuk ke lantai. Di antara es dan debu, ada jejak. Bukan jejak mereka. Jejak sepatu lain, yang sudah setengah tertutup es, tapi masih terlihat.

Bukan binatang. Manusia.

Arka berjongkok, memeriksa. “Kapan?”

“Mungkin seminggu yang lalu. Atau lebih. Sulit tahu.”

“Apakah mereka masuk ke terowongan?”

“Tidak. Jejaknya menuju ke pintu darurat di sisi lain.”

Arka berdiri. “Kita lihat.”

Mereka berjalan menyusuri stasiun. Di ujung barat, ada pintu darurat lain. Jejak-jejak itu berakhir di sana. Pintu terbuka sedikit. Di baliknya, kegelapan.

Pratama mendorong pintu pelan-pelan. Suara gesekan logam bergema. Di balik pintu, lorong sempit yang menghubungkan ke gedung perkantoran di atas.

Arka melihat ke dalam. Gelap. Dingin. Sunyi.

“Ada yang tinggal di atas sana,” bisik Pratama.

“Atau dulu pernah ada.”

“Kita lihat?”

Arka berpikir. Risikonya besar. Mereka tidak tahu siapa yang ada di atas. Berapa banyak. Apakah mereka bersahabat atau tidak.

Tapi ini kesempatan. Informasi tentang dunia di atas.

“Tidak hari ini,” kata Arka. “Kita siapkan dulu. Nanti kita kembali.”

Mereka kembali ke bunker dengan informasi yang cukup. Jakarta mati. Suhu minus belasan. Stasiun MRT beku. Dan ada orang lain. Manusia lain yang masih bertahan.

Malam itu, Arka duduk di ruang kontrol. Dia membuka radio lagi.

“...bagi warga yang masih berada di wilayah Jakarta dan sekitarnya, pemerintah mengimbau untuk menuju pusat evakuasi di kawasan Monas. Di sana tersedia tenda darurat dan pasokan pangan terbatas... Untuk informasi lebih lanjut, tetap pantau frekuensi ini setiap pukul delapan pagi dan delapan malam...”

Siaran itu terputus. Statis kembali.

Monas. Masih beroperasi. Tapi dengan pasokan terbatas.

Arka mematikan radio. Dia melihat monitor kamera. Tidak ada gerakan. Hanya putih.

Besok, pikirnya. Besok kita lihat siapa yang tinggal di atas.

Dia berdiri, berjalan ke ranjang, dan berbaring. Tidak tidur. Menunggu. Mendengarkan. Di luar, angin meraung. Di dalam, mesin ventilasi berputar pelan.

Dan di suatu tempat di atas sana, di antara gedung-gedung yang membeku, manusia lain mungkin sedang melakukan hal yang sama. Menunggu. Mendengarkan. Bertahan.

1
Nadja 🎀
hm... seru jg tp ulang² ttg bunker ? tp gpp semangat ya nulisnya!
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Gak bisa tidur... 😁
Jack Strom
Hmmm 🤔
Jack Strom
Tikus² got... 😁
Jack Strom
Ih... Ngeri aku!!! 😁
Jack Strom
Wow... 😁
Jack Strom
Waduh... Mengerikan!!! 😁
Jack Strom
Wow... Mulai merinding nih... 😁
Jack Strom
Mantap... 😁
Jack Strom
Seru cok!!! 😁
Jack Strom
Semangat... Cemangat!!! 😁
Jack Strom
Oh... Gitu!!! 😁
Jack Strom
🤔 Jika fisik Arka lebih kuat, Jika Arka punya skill bertahan hidup, jika Arka secepatnya menikahi Sari, jika Sari tidak kelaparan, jika Andre dan Toni tidak jumpa dengan Sari... Mungkin ceritanya beda, mungkin Sari tidak mengkhianati Arka... Mungkin!!? 🤔
Sudahlah... Siapa yang tau jalan pemikiran sang Author??? 😁
Jack Strom
Jika statnya beda, mungkin kejadiannya berbeda juga... 😁
Jack Strom
💪💪💪 SEMANGAT!!! 😁
Jack Strom
Jejak di atas salju tertinggal... 😁
erlang2402
macam kenal alur nya
Thinkziam: Hmm.. novel/manga sejenis emng banyak.. kk.
total 1 replies
Mauizatul Hasanah
coba dulu
alan32439
manarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!