Alya, seorang mahasiswi cerdas dan mandiri, dipaksa menerima perjodohan dengan dosennya sendiri.
Arka, pria dingin dan tegas yang menyimpan masa lalu kelam. Hubungan yang awalnya penuh penolakan berubah menjadi konflik batin, kecemburuan, dan rahasia yang perlahan terungkap.
Di antara kewajiban, harga diri, dan cinta yang tumbuh diam-diam, mereka harus memilih: bertahan dalam keterpaksaan, atau memperjuangkan perasaan yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noel_piss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Pagi itu, kampus kembali ramai. Suara mahasiswa bercampur dengan bunyi langkah kaki dan tawa. Alya melangkah pelan, mencoba menenangkan pikirannya. Ia sadar, hubungannya dengan Arka mulai berbeda dari dulu.
Tidak lagi sekadar keterpaksaan, tapi ada rasa nyaman yang tumbuh perlahan. Meski begitu, hatinya masih penuh ragu. Ia takut bila ia terlalu membuka diri, perasaan itu bisa disalahartikan.
Saat kuliah dimulai, Arka masuk dengan wajah tegas seperti biasa. Namun kali ini, ia duduk agak dekat dengan Alya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sekadar tatapan yang dalam membuat jantung Alya berdebar. Ia menunduk, menulis catatan sambil mencoba menenangkan diri.
Setelah kelas selesai, Arka menepuk bahu Alya lembut. “Alya, ikut aku sebentar. Aku ingin bicara,” katanya pelan.
Mereka berjalan ke taman kampus, di mana suasana lebih sepi. Pohon rindang menaungi jalan setapak, daun-daun jatuh perlahan. Udara sore sejuk, tapi hati Alya terasa panas karena campuran gugup dan penasaran.
“Alya, aku ingin kau tahu… aku menghargai kesabaranmu,” Arka memulai. “Aku tahu ini sulit, dan aku juga kadang bingung dengan perasaan sendiri. Tapi aku ingin kita belajar saling memahami, tanpa terburu-buru.”
Alya menunduk, menahan senyum. “Aku… aku juga ingin mencoba, Pak. Meski awalnya terpaksa, aku ingin belajar mengerti.”
Mereka duduk di bangku taman. Arka menatap Alya lama, seperti menunggu jawaban lebih dari sekadar kata-kata. Alya menarik napas dalam, perlahan menyadari satu hal: meski hubungan ini dimulai dengan keterpaksaan, ada rasa nyaman yang tak bisa ia abaikan.
Beberapa hari kemudian, Arka mengundang Alya ke rumahnya lagi. Orang tua Arka sudah menunggu dengan senyum hangat. Ibu Arka berkata lembut, “Alya, kami senang kau datang lagi. Semoga kau merasa nyaman.”
Alya tersenyum, hati terasa hangat. “Terima kasih, Ibu. Saya… merasa diterima di sini.”
Bapak Arka menambahkan, “Alya, jangan merasa terbebani. Kami hanya ingin kau bahagia. Jika kau bisa menerima keadaan ini, itu bagus. Tapi jangan memaksa dirimu sendiri.”
Alya menunduk, menahan senyum. Kata-kata itu membuatnya merasa dihargai, bukan sekadar dipaksa. Ia mulai menyadari bahwa perjodohan ini tidak harus membuatnya takut, tapi bisa menjadi jalan untuk memahami Arka lebih dalam.
Malam itu, Alya dan Arka duduk di ruang baca keluarga. Mereka membicarakan hal-hal ringan: buku favorit, film yang mereka suka, dan cerita masa kecil masing-masing. Arka mulai membuka sisi lembutnya, menceritakan pengalaman masa kecil dan keluarga yang membentuk dirinya menjadi tegas tapi peduli.
Alya perlahan merasa nyaman. Ia mulai melihat Arka bukan hanya sebagai dosen tegas, tapi sebagai pria yang mampu memperhatikan dan menghargai perasaan orang lain. Setiap senyum, setiap perhatian diam-diam yang Arka tunjukkan membuat Alya merasa dihargai.
Beberapa hari kemudian, komentar teman-teman di kampus kembali muncul. “Alya, kau benar-benar serius sama Pak Arka?”
“Kayaknya aneh ya, dijodohin gitu.”
Alya mencoba menenangkan diri. “Aku harus fokus pada diriku dan hubungan ini, bukan kata orang lain,” bisiknya dalam hati.
Di sisi lain, Arka tetap menunjukkan perhatian tanpa menekan. Ia sesekali menatap Alya, tersenyum tipis, atau mengangguk sebagai tanda pengertian. Hal-hal kecil itu membuat Alya merasa lebih tenang dan dihargai.
Malam harinya, Alya menatap langit dari jendela kamarnya. Ia menarik napas panjang. Ia sadar, hubungan ini masih penuh tantangan. Banyak hal yang harus ia hadapi: komentar teman, ekspektasi keluarga, dan keraguan hatinya sendiri.
Namun satu hal yang jelas: Arka peduli padanya secara tulus, meski diam-diam dan dengan caranya yang tegas. Alya mulai memahami bahwa perjodohan ini, meski awalnya dipaksakan, bisa menjadi awal dari sesuatu yang lebih indah jika mereka mau belajar menghargai dan mengerti satu sama lain.
Hari demi hari, kedekatan mereka semakin nyata. Mereka berbicara lebih panjang, tertawa lebih sering, dan saling memahami tanpa kata “cinta” yang diucapkan. Hanya ada perhatian, pengertian, dan kenyamanan yang tumbuh perlahan.
Pertemuan dengan orang tua Arka menjadi fondasi kuat. Alya merasa diterima, Arka belajar mengekspresikan perhatiannya, dan keduanya mulai merasakan satu hal: meski dimulai dengan keterpaksaan, hubungan ini memiliki peluang untuk berkembang menjadi nyata tentu jika mereka berdua mau menghargai dan mengerti hati masing-masing.
maaf lancang🙏🙏🙏