Rumah mewah di tengah hutan yang di akui kepemilikan nya oleh sepasang suami istri , karena rumah mewah itu memiliki banyak kamar dan dekat dengan tempat wisata akhir nya mereka sewakan untuk para wisatawan yang ingin menginap dengan harga murah tapi pemandangan alam sekitar mampu memanjakan mata .
Tanpa di sadari sepasang suami istri itu jika tak gratis untuk bisa memiliki rumah mewah itu .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zulia Almanshur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Di Datangi Anak Kecil
Bu Wati yang masih terkejut sebab tidak lagi mendapati perempuan itu di dapur semakin pucat wajah nya .
Bahkan wajan dan peralatan masak yang telah di gunakan perempuan tadi sudah tidak ada . Semua nya masih tersimpan rapi di lemari penyimpanan .
" Tadi ada perempuan yang masak di dapur ini pak , waktu ibu tanya kata nya mau masak buat anak - anak nya " .
" Nggak ada siapa - siapa , kamu ngelindur mungkin bu " .
" Nggak pak , ibu nggak ngelindur wong ibu beneran lihat sendiri kok tadi kalau ada perempuan yang masak di sini " .
" Iya iya , ya sudah bu ayo tidur lagi , ini masih jam dua pagi " .
Pak Soni merangkul bahu bu Wati dan mengajak nya kembali ke kamar .
" Tapi pak , apa bapak nggak percaya kalau ibu beneran lihat tadi ? " .
" Bapak percaya tapi ini masih pagi bu " . Pak Soni tersenyum melihat bu Wati yang mulai tampak kesal .
" Pak , ibu bicara beneran loh pak '' .
Pak Soni menutup pintu kamar kemudian membaringkan badan bu Wari dan mencium dahi nya .
" Pak .. " .
" Hemm " .
" Pak , perempuan tadi memang ada di dapur " .
Pak Soni yang di ajak bicara sudah masuk ke alam mimpi terlihat dari nafas nya yang teratur .
Bu Wati menatap langit - langit kamar , dirinya merasa benar dan tidak merasa bermimpi .
" Lingsir wengi , Sepi durung bisa nendra
Kagodha mring wewayang , Ngerindhu ati
Kawitane , Mung sembrana njur kulina
Ra ngira yen bakal nuwuhke tresna
Nanging duh tibane , Aku dhewe kang nemahi
Nandang branta , Kadung lara
Sambat , sambat sapa "
Terdengar kembali nyanyian yang sama seperti yang bu Wati dengar tadi .
Bu Wati menyingkirkan perlahan tangan pak Soni dan beranjak turun dari kasur untuk melihat kembali ke dapur dan memastikan bahwa dirinya tidak bermimpi . Tapi baru sampai di pintu pak Soni sudah memanggil nya .
" Bu .. " .
" Bapak bangun lagi ? " .
" Ibu mau kemana ? " .
" Ibu .. " .
Pak Soni berjalan mendekat .
" Ini masih malam bu , besok kita masih harus ke desa Rejo Sari " .
" Ya sudah ayo tidur lagi pak " . Bu Wati berupaya menghapus rasa penasaran nya kali ini karena merasa kasihan dengan pak Soni yang tampak masih sangat lelah .
Pagi - pagi sekali pak Soni sudah bersiap - siap , akan tetapi sebelum meninggalkan rumah itu pak Soni terlebih dahulu ingin membersihkan rumput tinggi yang berada tepat di depan teras rumah .
" Kita berangkat sekarang pak ? " .
" Sebentar bu , bapak pengen bersihkan rumput yang tinggi ini dulu biar nggak terlihat suram " .
" Bapak baik banget , ya sudah kalau gitu ibu mau bantu bapak " .
Sebelum berjalan ke teras , bu Wati menghentikan langkah nya . Karena tiba - tiba saja ada anak kecil berusia sekitar dua tahun berjalan di samping rumah .
Bu Wati mendekati anak kecil yang tengah tertawa dan menatap nya . Bu Wati merasa kasihan karena melihat anak kecil umur segitu sudah berada di luar rumah pagi - pagi buta entah sama siapa .
Pakaian anak kecil itu lusuh dan rambut nya acak - acakan mungkin karena baru bangun tidur . Tapi bu Wati merasa sangat senang dihampiri anak kecil itu .
" Di mana ibu kamu nak ? " . Bu Wati berjongkok di hadapan anak kecil itu .
Bu Wati yang sedang menjadi pejuang garis dua sampai di umur empat puluh tahun ini sangat senang bertemu anak perempuan yang cantik dan lucu di depan nya . Sampai lupa kalau rumah itu tidak memiliki tetangga .