Citra Lestari terbangun di dunia novel yang penuh intrik dan cinta beracun.
Di sana, sang bintang cantik Shafira Maharani hancur karena pria yang tak pernah setia.
Namun kali ini, Citra Lestari datang bukan untuk menangis — tapi untuk menaklukkan.
Dengan pesona lembut dan kecerdikan tersembunyi, ia perlahan membuat sang taipan bertekuk lutut.
Ketika si libertine mulai menyerahkan hatinya, cinta pun berubah menjadi permainan yang tak bisa dihentikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Air Mata yang Membakar
Arjuna Pratama merasa tersanjung
Dia begitu proaktif?
Sebelum sempat berpikir dua kali, lengannya sudah terbuka sendiri—mantap, naluriah—menangkap tubuh yang harum dan lembut itu sebelum benturan terjadi.
Wanita itu menerjang masuk ke pelukannya seperti burung kecil yang kehilangan arah. Wajah mungilnya terbenam di kain kemeja mahalnya, lengan-lengan kecil itu melingkar erat di pinggangnya, seolah takut dilepaskan.
"Ada apa?"
Hati Arjuna Pratama sedikit luluh. Tangannya bergerak otomatis, melingkari pinggang rampingnya—yang terasa seolah bisa ia rangkul hanya dengan satu tangan—menariknya lebih dekat.
Ia menundukkan kepala, menggosokkan dagu ke puncak kepala wanita itu. Aroma manis yang alami menyambutnya.
"Apakah kau sangat merindukanku? Hmm?" Suaranya merendah, lembut, menggoda.
Kepala kecil di lengannya itu bergetar. Tak ada jawaban. Hanya isak tangis yang samar.
teredam.
namun terdengar sangat jelas oleh telinganya.
Hati Arjuna Pratama terasa berat.
Rasa tersanjung itu menguap begitu saja, digantikan oleh rasa sakit hati dan kepanikan yang ia tak tahu harus bagaimana menangani nya.
Apa yang salah? Selama setengah bulan terakhir,kecuali di ranjang.....ia sudah memanjakan dan menuruti setiap kemauannya. Tidak seharusnya ia yang memprovokasinya.
Ia tidak ragu lagi. Satu lengannya menyelip di bawah lutut, yang lain menopang punggungnya. Dengan sedikit tenaga, gadis kecil itu sudah terangkat,ringan seperti kapas di genggamannya.
Sosok Arjuna memang diciptakan untuk menggendong. Tinggi, tegap, bahu lebar, pinggang ramping. Otot-otot di bawah kemeja hitamnya tampak kencang namun tak mengancam. Menggendong gadis si mungil ini terasa senatural bernapas.
Jari-jari kaki Citra Lestari menjuntai di udara sejenak. Secara naluriah ia mengulurkan tangan, melingkarkan lengan di leher pria itu, membenamkan wajah lebih dalam ke lekukan hangat di sana. Napas hangatnya menerpa kulit sensitifnya.
Arjuna membawanya beberapa langkah ke sofa besar di ruang tamu, lalu duduk—tanpa menurunkannya. Ia menyuruh gadis itu duduk menyamping di atas pahanya yang kokoh, seperti menimang sesuatu yang rapuh dan berharga.
Satu tangannya melingkari pinggang rampingnya. Tangan yang lain, dengan perlahan namun penuh tekanan, mengangkat dagu kecil yang bersembunyi di lekukan lehernya.
"Bersikap baiklah, lihat ke atas dan biarkan aku melihat." Suaranya rendah, membujuk. "Siapa yang menyusahkan Gadis Kecil ku...? Katakan padaku, aku akan menguliti mereka hidup-hidup, hmm?"
Citra Lestari hampir terpaksa mengangkat kepalanya.
Di bawah cahaya lampu, wajah mungilnya tampak polos dan menawan—namun mata basahnya yang berkilauan itu penuh kesedihan mendalam, menatapnya tanpa berkedip.
Sesuatu mencengkeram hati Arjuna Pratama, membelitnya hingga terasa masam dan mati rasa.
Selain saat ia kelelahan di tempat tidur, kapan lagi ia pernah melihat gadis ini tampak se pedih ini?
Inilah gadis kecil yang ia manjakan dan tak berani ia sakiti. Siapa yang punya nyali seperti itu?
"Ada apa? Bicaralah."
Ujung jarinya—yang dipenuhi kapalan tipis—menyentuh sudut mata yang memerah itu, mencoba menghapus air mata. Rasa sakit hati dalam suaranya hampir meluap:
"Sayang, siapa yang menindas mu? Aku akan melampiaskan amarahmu untukmu, oke? Hmm?"
Saat kata "Sayang" itu keluar dari bibirnya.
Air mata Citra Lestari yang selama ini tertahan akhirnya jatuh. Satu tetes. Mendarat di punggung tangan Arjuna Pratama.
Satu tetes saja. Namun terasa seperti membawa suhu yang amat panas, membakar jantungnya dan membuat seluruh lengannya kaku seketika.
Astaga. Dia benar-benar menangis.
Arjuna Pratama panik. Semua ketegasan dan strategi bisnisnya yang ia banggakan lenyap dalam sekejap.
Ia dengan canggung menyeka air mata itu, nadanya lebih kikuk dari yang ia mau akui:
"Jangan menangis, jangan menangis... Ini salahku, ini karena aku pulang terlambat... Jangan menangis, bersikaplah baik..."
Justru karena dibujuk seperti itulah, Citra Lestari merasa semakin tersinggung.
Ia terisak, membenamkan wajah kecilnya kembali ke leher lebar yang hangat itu. Suaranya teredam, sengau, dan penuh kecemburuan yang ia sendiri tidak mau mengakui:
"...Itu mantan pacarmu..."
"Mantan pacar?" Arjuna Pratama terkejut. Alisnya langsung berkerut.
Dari mana dia bisa mendapatkan mantan pacar?
Dahulu, istilah seperti itu bahkan tidak ada dalam kamusnya. Para wanita yang plin-plan itu—manakah di antara mereka yang pantas?
Baru-baru ini ia baru memiliki seorang kekasih yang lembut seperti ini, yang ia manjakan dalam hati dan beri gelar istimewa.
Dalam sekejap, wajah cantik Shafira Maharani terlintas di benaknya. Apakah "mantan pacar" yang dimaksud adalah dirinya?
Arjuna mengingat pertemuan terakhir di lorong belakang panggung—Shafira dengan mata berlinang, menuduhnya. Namun sebelum kenangan itu sempat mengendap, isak tangis gadis dalam pelukannya menghapusnya bersih.
"Dia bukan mantan pacarku." Arjuna membantah dengan tegas.
Namun melihat ekspresi kesal di wajah yang terbenam di dadanya—seolah berkata aku tidak mau mendengarkan—ia pasrah mengalah.
"Baiklah. Jika menurutmu begitu, ya sudah."
Tangan yang melingkari pinggang rampingnya mengencang. Nadanya merendah, ada rasa dingin yang menyertai:
"Apakah dia menindas mu? Shafira Maharani?"
"Aku akan menyuruh seseorang memberinya pelajaran, oke? Aku jamin dia akan berpaling setiap kali melihatmu mulai sekarang."
"Tidak!" Citra Lestari tiba-tiba mengangkat kepalanya, mata merahnya menatap dengan keras kepala. "Kau tidak boleh ikut campur!"
"Hmm?" Arjuna terkejut—lalu tertawa tanpa sadar.
Ia mencubit hidung kecil yang sedikit memerah itu. "Apakah botol cuka kecilnya tumpah? Tidak bolehkah aku melampiaskan amarahmu?"
"Aku tidak akan membiarkanmu ikut campur!" Citra Lestari mengulang, suaranya lembut dan serak setelah menangis.
terdengar lebih seperti manja daripada ancaman.
"Aku tidak akan membiarkanmu mencarinya. Kau sudah berjanji bahwa hubungan kita tidak boleh diceritakan kepada siapa pun..." Suaranya mengecil. "Jangan sampai dia tahu."
Sambil berbicara, ia membenamkan wajah kecilnya kembali, menggesekkan pipi ke leher pria itu seperti binatang kecil yang mencari kehangatan.
"...Kau tidak diizinkan pergi mencarinya..."
Arjuna Pratama terombang-ambing antara tawa dan tangis menghadapi logika wanita ini.
Namun merasakan tubuh yang bergantung padanya—dan keluhan lembut yang mengikutinya—hatinya melunak tanpa bisa ia cegah.
Ia menundukkan kepala, menyandarkan dagu di atas mahkota rambut wanita itu, dan menghela napas panjang yang penuh kasih sayang yang ia sendiri tak mau akui.
"Baiklah, baiklah, baiklah. Aku akan mendengarkan mu. Citra Lestari-ku."
Ia mempererat genggamannya. Tangan yang besar itu dengan lembut menepuk punggung rampingnya, seperti membujuk bayi kecil yang sedang ngambek.
"Aku tidak akan mencarinya. Lalu ceritakan padaku—bagaimana dia menindas mu? Hmm? Ceritakan padaku."
Citra Lestari membenamkan dirinya di lehernya, menghirup aroma kayu ebony yang menenangkan darinya. Keluhan yang ia pendam selama seminggu penuh akhirnya menemukan jalannya keluar.
Dan dengan suara teredam yang terputus-putus, ia mulai bercerita.