Kirana adalah lambang keindahan alami desa yang polos. Namun, dunianya runtuh seketika saat sang bapak berpulang. Sebagai anak sulung, beban berat kini berpindah ke pundaknya. Demi menyambung hidup adik-adiknya dan membiayai pengobatan ibunya yang sakit-sakitan, Kirana memantapkan hati untuk mengadu nasib ke kota besar.
Namun, kota besar tidak seramah impiannya. Terjebak dalam kepolosan dan keputusasaan, Kirana dikhianati oleh makelar tak berhati dan menjadi korban perdagangan manusia. Ia dijual ke sebuah tempat prostitusi kelas atas di Valerion—sebuah kota metropolitan yang megah di luar, namun busuk dan kejam di dalamnya.
Di balik jeruji emas tempat bordil tersebut, Kirana dipaksa menanggalkan keluguannya dan berubah menjadi wanita malam. Di sinilah kisah perjuangan Kirana dimulai: sanggupkah ia menjaga secercah cahaya di hatinya yang mulai menggelap, atau ia akan selamanya terperangkap dalam sangkar derita tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
jejak langkah dirumah serigala
Rencanaa Kirana untuk menyusup ke dalam lingkaran terdalam keluarga sang Kepala Dinas berjalan dengan ketepatan yang menakutkan. Hanya dalam waktu kurang dari tiga minggu, jerat asmara palsu yang ia pasang telah sepenuhnya membutakan Adrian. Pemuda itu kini tidak lagi memandang Kirana sebagai "Mawar Hitam," sang primadona kelab malam, melainkan sebagai sosok kekasih rapuh yang harus ia selamatkan dari kejamnya Kota Valerion.
Sore itu, sebuah sedan mewah berwarna hitam metalik berhenti tepat di depan gerbang belakang The Velvet Rose. Adrian turun dengan setelan kemeja kasual bermerek, wajahnya tampak berseri-seri penuh kemenangan. Hari ini adalah hari ulang tahun ibunya, dan setelah berminggu-minggu merengek serta meyakinkan Kirana, gadis itu akhirnya bersedia menerima undangannya untuk datang ke rumah pribadinya di Distrik Menteng Valerion, dengan dalih sebagai "teman dekat" yang ingin membantu merayakan acara keluarga tersebut.
Mami Rosa, yang telah menerima jaminan uang sewa kompensasi dalam jumlah besar dari Adrian, hanya melempar senyum penuh arti saat melihat Kirana melangkah keluar dari kelab. Bagi Mami Rosa, selama asetnya menghasilkan aliran rupiah yang deras, ia tidak peduli ke mana dan dengan siapa wanita-wanitanya pergi.
Kirana masuk ke dalam mobil, mengenakan gaun terusan batik sutra modern berwarna biru dongker yang sopan namun tetap memancarkan keanggunan yang berkelas. Rambut hitamnya disanggul rapi ke belakang, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajah ayunya yang dipoles riasan tipis. Di dalam tas tangan kecilnya, terselip sebuah diska lepas (flashdisk) mini berkapasitas besar dan sebotol kecil cairan kimia khusus pembersih yang biasa ia gunakan untuk menghapus sidik jari.
"Kamu cantik sekali hari ini, Rana," puji Adrian tanpa bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Kirana saat mobil mulai melaju membelah jalanan distrik.
"Terima kasih, Mas Adrian," sahut Kirana lembut, menyunggingkan senyum manis yang tampak begitu polos. Namun, di balik senyuman itu, matanya menatap tajam ke arah luar jendela, merekam rute perjalanan dan menghitung waktu yang mereka butuhkan untuk sampai ke kediaman sang Kepala Dinas.
“Rumah serigala,” batin Kirana berbisik dingin. “Tempat di mana bukti-bukti yang akan menghancurkan Juragan Jaya dan ayahmu disimpan.”
Kediaman pribadi Kepala Dinas Perpajakan Wilayah Barat berdiri megah di kawasan elite yang sunyi. Rumah bergaya kolonial modern itu dikelilingi oleh tembok beton tinggi dengan penjagaan dua orang satpam berbadan tegap di gerbang depan. Begitu mobil Adrian masuk, Kirana segera memetakan situasi: ada tiga kamera pengawas (CCTV) yang terpasang di area halaman depan, namun ada satu sudut buta di dekat lorong samping yang menuju ke arah dapur belakang.
Adrian menuntun Kirana masuk ke dalam rumah. Di dalam ruang tamu yang luas dan dilapisi lantai marmer mengilap, atmosfer kemewahan yang dibangun dari uang haram terasa begitu pekat. Lukisan-lukisan mahal dan guci-guci porselen besar menghiasi setiap sudut ruangan.
"Ibu, Ayah, kenalkan... ini Kirana," Adrian memperkenalkan Kirana kepada kedua orang tuanya yang sedang duduk di sofa utama.
Ibunya, seorang wanita paruh baya dengan perhiasan emas yang mencolok di leher dan jemarinya, menatap Kirana dari atas ke bawah dengan pandangan menilai yang ketat. Sementara ayahnya, Tuan Surya—sang Kepala Dinas yang memiliki raut wajah tegas, bermata tajam, dan tampak angkuh—hanya mengangguk pelan sembari mengisap cerutunya.
"Selamat sore, Bapak, Ibu. Selamat ulang tahun untuk Ibu, semoga selalu diberikan kesehatan," tutur Kirana dengan nada suara yang sangat sopan, sedikit membungkuk hormat layaknya seorang gadis desa yang berpendidikan baik. Sikapnya yang santun seketika meruntuhkan prasangka buruk di wajah sang ibu, yang mengira putranya akan membawa wanita kelab malam yang liar.
"Duduklah, Kirana. Adrian banyak bercerita tentangmu," ujar sang ibu, nadanya melunak.
Selama satu jam berikutnya, Kirana melebur ke dalam obrolan keluarga tersebut dengan sangat alami. Ia memainkan perannya sebagai gadis yatim piatu yang sedang merintis usaha konveksi kecil di kota, sebuah latar belakang palsu yang telah ia susun rapi bersama Mbak Lastri. Dengan lihai, Kirana melemparkan pujian-pujian halus yang menyenangkan hati sang ibu, sementara telinganya tetap waspada menangarkan setiap kalimat yang diucapkan oleh Tuan Surya yang sesekali menerima telepon di sudut ruangan.
"Ah, iya, Surya. Bagaimana dengan urusan orang daerah itu? Jadi dia datang minggu depan?" tanya sang istri tiba-tiba di sela-sela obrolan, merujuk pada Juragan Jaya tanpa menyebut namanya secara langsung.
Tuan Surya mendengus pelan, meletakkan cangkir tehnya. "Dia sudah meneleponku tadi siang. Si bodoh itu bilang dia sudah berhasil menjual dua gudang cadangannya di desa untuk mencairkan uang tunai jaminan yang kuminta. Minggu depan, begitu uang lima milyar itu masuk ke rekening penampungan Bramanto, aku sendiri yang akan menyerahkan dokumen izin Amdal dan pemutihan pajaknya dari brankas kerja," jawab Tuan Surya dengan nada meremehkan.
Kirana menunduk, berpura-pura merapikan lipatan gaunnya untuk menyembunyikan kilatan kemarahan sekaligus kepuasan yang mendadak berkobar di matanya. Informasi itu valid. Transaksi final akan terjadi minggu depan, dan dokumen itu masih berada di dalam rumah ini.
Kesempatan yang dinantikan Kirana tiba ketika acara makan malam keluarga selesai. Sang ibu sedang sibuk di dapur bersama para pelayan untuk mengemas kue ulang tahun, sementara Tuan Surya kembali ke ruang tengah untuk menonton berita bisnis.
Adrian, yang merasa perutnya kurang nyaman akibat terlalu banyak makan, pamit untuk ke kamar mandi lantai bawah. "Rana, kamu tunggu di ruang tengah sebentar ya, aku ke toilet dulu," bisik Adrian.
"Iya, Mas. Jangan lama-lama ya," jawab Kirana dengan nada manja.
Begitu Adrian menghilang di balik lorong toilet, Kirana tidak pergi ke ruang tengah. Ia berbalik, melangkah dengan cepat namun tanpa suara menuju ke arah sayap kanan rumah—tempat di mana ia melihat Tuan Surya keluar masuk dari sebuah ruangan berpintu kayu jati besar sejak sore tadi. Itulah ruang kerja sang Kepala Dinas.
Koridor itu sepi. Kirana memeriksa langit-langit; beruntung, tidak ada kamera pengawas di lorong dalam yang menuju ruang kerja pribadi demi menjaga privasi sang pejabat. Dengan jantung yang berdegup kencang namun tangan yang tetap stabil, Kirana memutar knop pintu kayu jati tersebut.
Cklek. Pintu tidak dikunci. Tuan Surya tampaknya terlalu percaya diri dengan keamanan ketat di gerbang depan rumahnya hingga merasa tidak perlu mengunci ruang kerjanya saat berada di rumah.
Kirana menyelinap masuk dan langsung menutup pintu rapat-rapat. Ruangan itu bernuansa gelap, dipenuhi oleh rak-rak buku besar dan sebuah meja kerja kayu ek yang megah. Di sudut ruangan, tepat di balik sebuah lukisan pemandangan alam yang besar, Kirana melihat sudut sebuah kotak besi berwarna abu-abu tua yang tertanam di dinding. Brankas.
Ia melangkah mendekati meja kerja terlebih dahulu. Matanya menyisir tumpukan kertas, mencari petunjuk. Di atas sebuah kalender meja, ia melihat sebuah coretan angka acak yang ditulis dengan tinta merah: 08-11-26. Kirana tertegun sejenak. Angka itu adalah format tanggal. Ia mencoba mengingat-ingat—08 November adalah tanggal lahir Adrian, dan '26' kemungkinan adalah tahun sekarang atau kode pin yang baru diganti.
Kirana berjalan cepat ke arah brankas di balik lukisan. Ia menggeser bingkai lukisan itu perlahan agar tidak menimbulkan suara. Brankas itu menggunakan sistem kombinasi digital dan kunci manual. Beruntung, kunci manualnya dibiarkan menggantung di lubangnya—sebuah kelalaian khas orang kaya yang merasa rumahnya sudah sangat aman.
Dengan tangan yang gemetar oleh ketegangan, Kirana memasukkan angka 0-8-1-1-2-6 pada papan ketik digital.
BIP. KLIK.
Lampu indikator brankas berubah menjadi hijau, dan pintu besi tebal itu perlahan terbuka.
Napas Kirana tertahan. Di dalam brankas tersebut, bertumpuk-tumpuk ikatan uang tunai pecahan seratus ribu rupiah yang nilainya pasti mencapai milyaran. Namun, mata Kirana tidak mencari uang. Fokusnya terkunci pada sebuah map plastik berwarna biru tua yang bertuliskan: PROYEK PERGUDANGAN DISTRIK UTARA - PT. BRAMANTO JAYA.
Kirana membuka map tersebut dengan cepat. Di dalamnya terdapat dokumen perizinan Amdal yang telah ditandatangani secara ilegal, berkas manipulasi pajak yang memperlihatkan bagaimana perusahaan Bramanto dibebaskan dari pajak daerah, serta yang paling mematikan: sebuah surat perjanjian bawah tangan yang mencantumkan nama Juragan Jaya sebagai pemilik modal utama yang menanggung seluruh risiko hukum jika proyek tersebut bermasalah.
Ini adalah bom waktu yang akan menghancurkan mereka semua.
Kirana segera mengeluarkan ponselnya, mengubah modenya ke pengaturan senyap tanpa lampu kilat (flash). Dengan gerakan yang super cepat dan presisi, ia mengambil foto setiap lembar dokumen penting di dalam map tersebut. Lembar demi lembar, memastikan setiap teks, tanda tangan, dan stempel dinas perpajakan tertangkap dengan sangat jelas oleh kamera ponselnya.
“Satu... dua... tiga...” Kirana menghitung dalam hati, peluh dingin mulai membasahi pelipisnya seiring dengan waktu yang terus berjalan. Setiap detik di dalam ruangan ini adalah pertaruhan antara hidup mati dan pembalasan dendamnya.
Setelah selesai memotret lembar terakhir, Kirana mengembalikan map plastik biru itu ke posisi semula di dalam brankas. Ia menutup pintu besi tersebut hingga berbunyi klik tanda terkunci kembali, lalu menggeser bingkai lukisan besar itu untuk menutupi keberadaan brankas dengan sangat rapi.
Ia mengeluarkan botol kecil berisi cairan pembersih dari tasnya, menyemprotkannya sedikit ke knop pintu brankas dan papan ketik digital, lalu mengusapnya menggunakan saputangan kain untuk menghilangkan seluruh jejak sidik jarinya.
Saat Kirana baru saja selesai merapikan tasnya dan berbalik menuju pintu keluar, terdengar suara langkah kaki berat yang berjalan mendekat di koridor luar. Langkah kaki itu menuju tepat ke arah ruang kerja ini.
Jantung Kirana mendadak seolah berhenti berdetak. Itu adalah langkah kaki Tuan Surya.