Orang bilang, cinta masa SMA itu, adalah cinta monyet? Aku rasa iya. Tapi ini berbeda, sejak mengenal gadis cantik bernama Cinta Alisya, disitulah aku sadar, kalau ini lebih dari sekedar cinta monyet. Aku Rangga 18th. Aku akan berjuang demi Cinta, untuk sebuah ungkapan... KATAKAN CINTA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ADA APA DENGAN CINTA
Malam Sabtu terasa berjalan sepuluh kali lebih lambat di kamar Rangga. Kamar berukuran tiga kali tiga meter itu mendadak sunyi, hanya menyisakan suara dengung kipas angin dinding yang berputar malas. Rangga berbaring telentang di atas kasurnya, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Jaket *bomber* hitam yang kemarin dia banggakan kini tergeletak mengenaskan di sudut lantai, dilempar begitu saja seperti sampah.
Setiap kali Rangga memejamkan mata, rekaman kejadian di kafe The Glasshouse berputar kembali secara otomatis di otaknya. Tatapan mata Cinta yang dingin, kalimat "Teman sekelas aku di sekolah yang lama," hingga senyum penuh kemenangan dari Nicholas, terus-menerus menghantam dadanya seperti hantaman godam.
Rangga bangkit, lalu duduk di tepi kasur. Dia menatap ke arah meja belajarnya, memperhatikan sebuah foto berukuran dompet yang terselip di bawah kaca meja. Di foto itu, Cinta Alisya tersenyum sangat manis dengan seragam SMA Bina Karya yang sederhana.
"Kenapa, Cin? Kenapa lu berubah secepat itu?" bisik Rangga pada kesunyian malam, suaranya terdengar sangat parau. Harga dirinya hancur, tapi rasa penasarannya jauh lebih menyiksa. Ada apa sebenarnya dengan Cinta?
*Brak!*
Pintu kamar Rangga tiba-tiba ditendang terbuka dari luar tanpa permisi. Sesosok cowok dengan kaus oblong kusut dan celana pendek bola masuk sambil menenteng satu plastik besar berisi bungkusan. Siapa lagi kalau bukan Aldi, sahabat karibnya yang tidak punya sopan santun tapi berhati emas.
"Woy, Jomblo Sekarat! Masih hidup kan lu?" teriak Aldi, langsung melemparkan diri ke atas kasur Rangga tanpa merasa berdosa.
Rangga mendengus, kembali merebahkan badannya. "Gue lagi males bercanda, Al. Kalau lu cuma mau ngetawain gue gara-gara kejadian kemarin, mending lu pulang deh."
"Lah, sembarangan! Gue ke sini tuh mau melaksanakan tugas mulia sebagai penolong umat yang lagi patah hati," sahut Aldi sambil mengeluarkan dua bungkus mi instan goreng yang masih panas dan sekantong gorengan dari dalam plastik. "Nih, gue bawa amunisi. Lu belum makan dari kemarin kan? Muka lu udah kusut amat, Ngga. Malah makin mirip sama Vega pas lagi mogok."
Aroma mi instan goreng menguar di dalam kamar, sedikit mengusir atmosfer suram yang menyelimuti Rangga sejak kemarin. Meski tidak berselera, Rangga terpaksa duduk lesehan di lantai bersama Aldi.
"Al... menurut lu, gue emang se bego itu ya?" tanya Rangga tiba-tiba sambil mengaduk mi instannya dengan sumpit plastik.
Aldi yang mulutnya penuh dengan bakwan goreng langsung menelan makanannya dengan susah payah. Dia menatap Rangga, lalu mendesah panjang. "Ngga, kalau lu nanya bego apa kagak, jawaban jujur gue: iya, lu emang bego banget kalau urusan cewek. Tapi kalau soal kejadian kemarin di kafe, lu nggak salah. Yang salah itu si Nicholas belagu, sama sirkelnya yang mandang orang dari merek sepatu."
"Tapi sikap Cinta, Al... itu yang paling bikin gue nyesek. Dia kayak bener-bener malu kenal sama gue," lirih Rangga, pandangannya meredup.
"Nah, makanya itu gue ke sini. Lu jangan menyimpulkan sesuatu cuma dari apa yang kelihatan di luar," ucap Aldi, nadanya mendadak berubah serius. Dia meletakkan bungkusan mi instannya ke lantai, lalu merogoh kantong celananya untuk mengambil ponselnya yang layarnya retak seribu. "Tadi sore, si Tasya nelpon gue lagi."
Rangga seketika mendongak, menghentikan aktivitas makannya. "Tasya? Sepupu lu? Dia ngomong apa?"
"Dia ngerasa bersalah banget gara-gara rencana kita kemarin malah berakhir zonk. Nah, pas di kafe kemarin kan dia sempat gabung lagi tuh sama sirkelnya Cinta setelah kita pergi. Dia denger sesuatu, Ngga," ujar Aldi, membuat rasa penasaran Rangga meroket tajam.
"Ngomong apa dia? Buruan, Al, jangan dipotong-potong kayak iklan TV!" desak Rangga, hatinya mulai berdebar kencang.
"Sabar, pahlawan! Jadi gini... Tasya bilang, lu jangan buru-buru benci atau salah paham sama si Cinta. Kemarin itu, pas kita lagi di lantai bawah kafe, sebenarnya bokapnya Cinta lagi ada di lantai dua kafe yang sama! Beliau lagi ada *meeting* bisnis penting!" jelas Aldi dengan mata melebar.
Rangga tertegun. "Bokapnya Cinta ada di sana?"
"Iya! Dan yang lebih gila lagi, lu tahu nggak siapa yang nemuin bokapnya Cinta di lantai dua setelah kita pulang? Bapaknya si Nicholas!" seru Aldi sambil menepuk lantai dengan keras. "Tasya baru tahu kalau perusahaan bokapnya Nicholas itu adalah investor terbesar buat proyek barunya keluarga Cinta Alisya. Kasarnya, posisi keluarga Cinta sekarang lagi butuh banget dukungan dari keluarganya Nicholas."
Mendengar penjelasan Aldi, otak Rangga langsung berputar cepat. Potongan-potongan teka-teki yang kemarin membuatnya frustrasi kini mulai menyatu.
"Jadi... Cinta kemarin ketakutan karena ada bokapnya di sana?" gumam Rangga, seolah mendapat pencerahan.
"Tepat sekali, Bego!" sahut Aldi, menjentikkan jarinya. "Cinta itu bukannya malu kenal sama lu. Tapi dia tegang dan takut setengah mati. Kalau sampai dia kelihatan akrab sama cowok biasa kayak lu di depan Nicholas, terus Nicholas ngadu ke bokapnya, kerja sama bisnis keluarga mereka bisa batal! Dan lu tahu sendiri kan gimana bokapnya Cinta? Galak dan kaku banget kalau soal status."
Rasa sesak yang menyumbat dada Rangga sejak kemarin sore mendadak luntur, digantikan oleh sebuah perasaan bersalah yang amat sangat. *Gue udah berpikiran buruk tentang dia,* batin Rangga menyesal. Dia menyadari bahwa posisi Cinta kemarin jauh lebih sulit dan tertekan daripada dirinya. Cinta sedang terjebak di dalam sebuah 'penjara emas' demi tuntutan keluarganya.
"Berarti... Cinta terpaksa ngelakuin itu semua?" tanya Rangga meyakinkan, matanya kembali berbinar, memancarkan secercah harapan yang sempat padam.
"Ya iyalah. Makanya dia kemarin cuma bisa nunduk. Dia gak berani belain lu karena taruhannya nasib perusahaan bokapnya. Si Nicholas itu sengaja manfaatin situasi buat pamer kekuasaan di depan Cinta," kata Aldi sambil geleng-geleng kepala. "Sialan emang itu anak, pengen banget gue sambit pakai busi Vega lu."
Tepat saat obrolan mereka mereda, ponsel milik Rangga yang tergeletak di atas kasur tiba-tiba bergetar pelan, menandakan ada sebuah pesan masuk.
*Drrt... Drrt...*
Rangga mengerutkan dahi. Jarang sekali ada yang mengiriminya pesan di jam sebelas malam seperti ini, kecuali operator seluler yang mengingatkan kuotanya hampir habis. Rangga merangkak mendekati kasur, lalu meraih ponselnya. Di layar kunci, tertera sebuah notifikasi pesan dari nomor baru yang tidak dikenal.
"Siapa, Ngga? Tagihan pinjol?" celetuk Aldi asal-asalan.
Rangga tidak menjawab. Jantungnya mendadak berdegup kencang saat dia membuka aplikasi pesan tersebut. Profilnya kosong tanpa foto, namun kalimat pertama di dalam pesan itu langsung membuat napas Rangga tercekat.
**+62812-3345-xxxx:**
Rangga... ini aku, Cinta. Ini nomor baru aku, sengaja aku pakai nomor ini lewat ponsel lama yang jarang aku bawa sekolah. Tolong jangan diblokir ya...
Mata Rangga melotot. Dia langsung menggeser duduknya, bersandar pada dinding kamar dengan tangan yang sedikit gemetar membaca baris-baris kalimat berikutnya. Pesan itu sangat panjang, seperti sebuah luapan emosi yang selama ini ditahan.
Rangga, aku mau minta maaf yang sebesar-besarnya atas kejadian kemarin sore di kafe. Aku tahu aku jahat banget karena bilang kamu cuma 'teman lama'. Aku tahu aku udah ngancurin harga diri kamu di depan Nicholas dan temen-temen baru aku.
Tapi sumpah, Ngga... aku terpaksa ngelakuin itu. Kemarin Papa aku ada di lantai atas bersama Papanya Nicholas. Nicholas sengaja mancing emosi kamu karena dia tahu hubungan kita dulu di Bina Karya. Dia sengaja mau nunjukin ke Papa aku kalau ada cowok dari 'sekolah biasa' yang deketin aku. Kalau sampai Papa tahu, Papa bisa marah besar dan bukan cuma aku yang dihukum, tapi Papa juga punya kekuasaan buat mempersulit sekolah kita yang lama, SMA Bina Karya.
Aku gak mau kamu kenapa-kenapa, Rangga. Aku gak mau kamu dapet masalah karena aku. Nicholas itu orangnya nekat dan licik. Tolong, jangan benci aku ya, Ngga... Aku rindu masa-masa kita di Bina Karya. Aku rindu liat kamu naik Vega yang selalu batuk-batuk... Maafin aku, Rangga.
Rangga membaca pesan itu berulang-ulang, sampai matanya terasa panas. Rasa perih akibat dihina Nicholas kemarin sore seketika menguap tanpa bekas, digantikan oleh rasa hangat yang membuncah di dalam dadanya. Cinta tidak berubah. Gadis itu masihlah Cinta Alisya yang sama, gadis baik hati yang selalu peduli dan memikirkan keselamatan orang lain, terutama keselamatan dirinya.
"Woy! Malah melamun! Pesan dari siapa sih? Kok muka lu mendadak kayak habis menang lotre?" tanya Aldi penasaran, mencoba mengintip layar ponsel Rangga.
Rangga dengan cepat menjauhkan ponselnya sambil tersenyum lebar—sebuah senyuman yang sudah hilang sejak dua hari lalu. "Dari Cinta, Al. Dia nge-chat gue pakai nomor baru."
"Hah?! Serius lu?!" Aldi langsung merebut ponsel Rangga dan membaca pesan tersebut dengan cepat. Setelah selesai membaca, Aldi mengembalikan ponsel itu sambil manggut-manggut dengan senyum badungnya yang khas. "Nah, kan! Apa gue bilang! Insting detektif seorang Aldi kagak pernah salah. Tuan putri lu itu masih cinta mati sama lu, Ngga."
Rangga berdiri, berjalan mendekati jendela kamarnya yang terbuka, menatap langit malam Kota Jakarta yang dihiasi lampu-lampu jalanan. Rasa minder dan putus asa yang sempat menguasai dirinya kini telah lenyap sepenuhnya. Semangat petarung di dalam dirinya kembali bergejolak, bahkan sepuluh kali lipat lebih dahsyat dari sebelumnya.
Cinta Alisya sedang berjuang sendirian di balik tembok istana emasnya, bertahan dari tekanan Nicholas dan ambisi bisnis orang tuanya. Dan sebagai cowok yang sudah berjanji untuk berjuang demi Cinta, Rangga tahu dia tidak boleh tinggal diam dan menyerah begitu saja pada keadaan.
Rangga mengepalkan tangan kanannya dengan kuat.
"Al," panggil Rangga tanpa menoleh.
"Apaan?" sahut Aldi sambil mengunyah sisa gorengan terakhir.
"Besok temenin gue ke bengkel Mang Ojak."
"Mau ngapain? Mau ngubur si Vega?"
Rangga berbalik, menatap Aldi dengan mata yang menyala-nyala penuh tekad baru. "Bukan. Gue mau servis total si Vega. Gue mau ganti olinya, benerin karburatornya, dan pasang knalpot baru. Gue mau bikin Vega melesat kencang."
Aldi menaikkan sebelah alisnya, mulai menangkap arah pembicaraan sahabatnya. "Terus? Setelah Vega sehat walafiat, rencana lu apa, Pahlawan?"
Rangga tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh percaya diri yang selama ini menjadi ciri khasnya sebagai anak badung SMA Bina Karya. "Gue bakal samperin Nicholas di wilayahnya sendiri. Gue nggak akan sembunyi-sembunyi lagi lewat rencana penyamaran. Gue bakal tunjukin ke dia, dan ke bokapnya Cinta, kalau cowok dari sekolah biasa yang naik Vespa butut ini punya nyali yang jauh lebih besar daripada mereka."
"Dan yang paling penting," Rangga menarik napas dalam-dalam, menatap foto Cinta di mejanya. "Gue bakal buktiin ke Cinta, kalau dia nggak perlu takut lagi. Karena gue akan selalu ada di sana, buat menyelamatkan dia, dan akhirnya... KATAKAN CINTA."
Aldi langsung berdiri dari lantai, bertepuk tangan dengan heboh mengapresiasi pidato emosional sahabatnya. "Nah! Ini baru Rangga sohib gue yang otaknya agak gesrek tapi punya nyali macan! Gak sia-sia gue korbanin kuah mi instan demi denger lu tobat dari kegalauan!"
Malam itu, di dalam kamar sederhana yang pengap, sebuah ikrar baru telah diucapkan. Investigasi konyol di kafe kemarin memang tidak sesuai harapan, namun justru dari sanalah perang yang sesungguhnya baru saja dimulai. Rangga tidak akan berjalan mundur lagi. Mau setinggi apa pun tembok kastanya, mau selicik apa pun Nicholas menghalanginya, Rangga bersumpah akan mendobrak semuanya demi gadis bernama Cinta Alisya.
btw saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen.. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Hey//Smile/