Demi cinta, Kataleya rela meninggalkan kokpit dan menyerahkan mimpinya menjadi Kapten Pilot pada suaminya, Arkana. Ia memilih menjadi istri dan ibu, mengorbankan karier yang dulu hampir berada di puncak.
Enam tahun kemudian, pengorbanan itu justru dibalas dengan pengkhianatan. Arkana berselingkuh, menghina penampilan Kataleya, dan menyebutnya wanita yang sudah tak pantas berdiri di sisinya.
Akan tetapi Arkana lupa satu hal, langit itu dulunya milik Leya. Saat wanita itu menuntut cerai dan kembali mengenakan seragam pilotnya, seluruh dunia penerbangan mulai menyadari siapa dia sebenarnya.
Di akademi pilot, ia bertemu Kaisar... pria misterius yang selalu berada di sisinya. Arkana baru sadar terlalu terlambat, wanita yang dulu ia rendahkan kini kembali terbang lebih tinggi darinya. Leya menjadi Kapten Pilot, yang tak akan pernah bisa ia miliki lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 27.
Beberapa kru masih berdiri di sekitar lounge pilot. Mereka jelas belum benar-benar pergi. Sebagian pura-pura sibuk membuka tablet, sebagian lagi berdiri sambil berbisik. Tatapan mereka masih tertuju pada Kaisar dan Leya, situasi itu mulai terasa seperti tontonan.
“Apa ini tempat untuk kalian bergosip?!” tiba-tiba sebuah suara terdengar dari belakang.
Suasana langsung sunyi, semua orang menoleh bersamaan. Kikan berdiri di sana, mengenakan setelan kerja rapi dengan ekspresi profesional seperti biasa.
Tatapannya menyapu seluruh ruangan.
“Apa kalian tidak ingin bekerja?”
Beberapa kru langsung panik.
“Maaf, Bu!”
“Kami cuma—”
“Kami akan kembali bekerja!”
Tanpa menunggu lebih lama, mereka segera bubar. Beberapa berjalan cepat keluar lounge, seolah takut ditegur lebih lama. Tak lama, ruangan itu kembali lebih tenang. Hanya tersisa beberapa kru yang memang sedang bertugas di sana.
Kikan lalu menatap dua orang yang masih berdiri di tengah ruangan, Kaisar dan Leya. Tatapannya berhenti pada tangan mereka yang masih saling menggenggam.
Alisnya sedikit terangkat. “Ini tempat bekerja, bukan tempat untuk kalian bermesraan.”
Beberapa kru yang masih ada di ruangan itu langsung berpura-pura fokus bekerja.
Kikan melanjutkan dengan nada dingin, “Kalian seharusnya memberikan contoh yang baik pada kru lain, apalagi kalian adalah kapten pilot baru... yang mempunyai nilai paling tinggi di akademi.”
Nada suaranya benar-benar seperti seorang atasan yang sedang menegur bawahan.
Leya mengerjap kaget, ia baru sadar tangannya masih berada dalam genggaman Kaisar. Ia segera menarik tangannya. “Maaf, Bu Kikan.”
Kaisar melirik ke arah Leya. “Ck, kamu—”
“Kai, cepat minta maaf pada Bu Kikan,” potong Leya cepat.
Kaisar langsung melongo, matanya membesar. Ia menatap Leya seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Minta maaf?
Pada siapa?
Adiknya sendiri.
Kaisar menoleh ke arah Kikan, adiknya itu juga terlihat sama terkejutnya.
Kikan sebenarnya hanya berniat berpura-pura menegur, agar semua orang melihat bahwa ia tidak membeda-bedakan siapa pun di maskapai ini... termasuk bertindak tegas pada kakaknya sendiri. Namun ia tidak menyangka, Leya justru menanggapinya dengan sangat serius. Bahkan meminta Kaisar meminta maaf padanya.
Leya menatap Kaisar tajam. “Cepat.”
Nada suara wanita itu rendah tapi penuh tekanan.
Kaisar menghela napas pelan. Dengan wajah sedikit kesal, ia menatap Kikan. “Bu Kikan, maafkan kami. Kami berdua membuat keributan dan tidak profesional.”
Nada suaranya terdengar datar, namun cukup keras untuk didengar orang lain di ruangan itu. Beberapa kru yang masih di sana hampir menjatuhkan tablet mereka.
Pewaris maskapai… minta maaf pada adiknya sendiri?
Kikan masih berdiri diam beberapa detik, ia pun tersenyum kecil menahan tawanya. “Kalian berdua… ikut aku ke ruanganku.”
Setelah mengatakan itu, Kikan langsung berbalik dan berjalan menuju lorong sambil menahan tawa. Diikuti oleh Kaisar dan Leya.
Di dalam ruangan Wakil Presdir, begitu pintu tertutup... Kikan langsung berbalik. Tanpa aba-aba, ia berjalan cepat ke arah Leya dan langsung memeluknya.
“Ah! Kakak iparku!”
Leya langsung kaget. “Hah?!”
Pelukan Kikan erat dan hangat, sama sekali berbeda dengan sikap profesionalnya di luar.
“Sudah lama aku ingin melakukan ini!” kata Kikan sambil tertawa.
Kaisar memijat pelipisnya, ia menatap adiknya. “Aduh… dia mulai lagi. Mending dia sok jaim aja, daripada selengean begini.”
Leya masih bingung.
Kikan akhirnya melepaskan pelukan itu, tapi tangannya masih memegang bahu Leya dengan akrab. Wajahnya kini benar-benar santai, tak ada lagi ekspresi dingin seorang Wakil Presdir.
“Kakak ipar, kamu hebat banget,” katanya sambil terkekeh. “Baru pertama kali, kakakku minta maaf padaku di depan orang. Hahahaha...”
Leya langsung salah tingkah. “Eh… aku hanya—”
“Tidak, tidak... Kamu nggak tahu betapa langkanya itu.” Ia lalu menunjuk Kaisar dengan santai. “Sejak kecil, kakakku itu keras kepala sekali.”
Kaisar mendengus. “Jangan mencoba menjelek-jelekkanku pada calon kakak iparmu itu.”
“Kenapa adikmu nggak boleh menjelekkanmu? Lagipula aku sudah tahu kelakuanmu sejak kecil,” Leya mendengus.
Kikan menyilangkan tangan dan menatap kakaknya dengan senyum usil. “Tapi serius Bang, aku benar-benar nggak nyangka... kamu sampai minta maaf padaku hanya karena disuruh kakak ipar. Abang segitu cintanya sama Mbak Leya, sampai nurut begitu.”
Leya langsung menutup wajahnya dengan tangan. “Kikan, jangan panggil aku kakak ipar terus.”
Namun Kikan malah tertawa.
“Kenapa? Aku sudah lama ingin punya kakak ipar.” Ia lalu merangkul bahu Leya dengan santai. “Apalagi... kalau orangnya Mbak Leya.”
Kaisar hanya bisa menghela napas. “Kikan, jangan buat dia makin malu.”
Namun Kikan malah semakin menggoda, ia mencondongkan wajahnya ke arah Leya dan berbisik nakal, “Jadi… kapan kalian meresmikan hubungan?”
“Kikan!” Leya langsung memprotes dengan wajah merah.
Kikan tertawa lagi, sementara Kaisar berdiri di samping mereka dengan senyum kecil.
Ruangan itu pun dipenuhi tawa ringan.
Seminggu kemudian...
Kantor Maskapai Penerbangan Nusantara sudah kembali berjalan seperti biasa.
Kesibukan para kru terlihat di berbagai sudut gedung. Pilot keluar masuk ruang briefing, pramugari berjalan membawa tablet jadwal penerbangan, sementara staf administrasi terlihat sibuk di depan komputer.
Namun ada satu orang yang datang dengan langkah pelan, Shanaz. Wanita itu berdiri beberapa detik di depan meja resepsionis. Wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya, namun ia sudah tidak terlihat histeris seperti saat di rumah sakit. Rambutnya diikat rapi, make up tipis menutupi wajah lelahnya.
Ia terlihat berusaha terlihat normal, namun tetap saja beberapa staf yang mengenalnya langsung saling melirik.
Bisik-bisik kecil mulai terdengar.
“Itu Shanaz, kan?”
“Iya… yang kemarin masuk rumah sakit karena keguguran hasil hubungan gelapnya dengan Kapten Arkana.”
“Dia masih berani datang ke sini?”
Shanaz pura-pura tidak mendengar, tangannya mengepal pelan. Ia datang ke sini hanya untuk satu hal, mengambil surat pemecatan dan beberapa barangnya yang masih ada di maskapai.
Seorang staf HR keluar dari ruangan dan memanggilnya. “Bu Shanaz, silahkan ke ruangan HR.”
Shanaz mengangguk pelan, saat ia berjalan melewati lorong utama maskapai, langkahnya tiba-tiba terhenti.
Leya baru saja keluar dari pintu lift, wanita itu sedang membaca tablet di tangannya sambil berjalan. Namun ketika ia mengangkat kepala, matanya langsung bertemu dengan pandangan tajam Shanaz.
Suasana lorong tiba-tiba terasa sunyi. Beberapa kru yang lewat langsung memperlambat langkah mereka, karena tahu konflik antara Shanaz dan Leya.
Leya menatap Shanaz beberapa detik dengan ekspresi datar. Ia terlihat tenang, tanpa amarah. Baginya, masa lalu sudah selesai. Namun... wajahnya juga tidak ramah. Di matanya, Shanaz hanyalah orang asing.
Shanaz menggertakkan giginya sedikit, tatapan Leya padanya terasa seperti cermin yang mengingatkannya pada semua kesalahannya.
Shanaz membuka mulutnya terlebih dahulu, ia berkata dengan nada sedikit sinis, “Kau pasti senang sekarang.”
“Maksudmu?”
“Aku kehilangan pekerjaanku, dan juga anakku.” Shanaz menatap Leya dengan pandangan dingin. “Sementara kau... mendapatkan segalanya.”
Beberapa kru di sekitar mereka mulai memperhatikan.
“Kalau kau datang untuk menyalahkanku, tidak perlu. Kau hanya melihat aku yang sekarang, tapi kau tak pernah lihat apa saja yang harus kulalui sampai bisa berdiri di posisi ini. Aku kehilangan banyak hal, anakku juga kehilangan sosok ayahnya karena ulahmu. Sedangkan keadaanmu sekarang… itu akibat dari perbuatanmu sendiri,” balas Leya dingin.
Shanaz tersenyum tipis, ia mendengus. “Tenang saja, aku nggak akan membuat drama lagi. Lagipula… semua orang sudah tahu siapa yang menang.”
Kalimat itu terdengar pahit.
“Aku tidak pernah menganggap ini sebagai pertandingan,” kata Leya dengan tenang.
Baginya, pengkhianatan Arkana maupun posisinya sekarang sebagai kapten pilot bukanlah permainan. Semua itu hanyalah bagian dari jalan hidup yang harus ia lewati.
Shanaz tertawa pelan. “Ya... tentu saja kau bilang begitu. Sekarang, kau dekat dengan pewaris maskapai. Hidupmu sudah aman, dan harusnya kau berterima kasih padaku. Kalau dulu aku nggak merebut Mas Arkana darimu, kau mungkin nggak akan bertemu pria pewaris yang kaya raya.”
Nada bicaranya penuh sindiran, beberapa orang yang mendengar langsung saling melirik.
Namun Leya tidak terlihat terganggu. “Urusan pribadiku... bukan urusanmu. Soal fitnah yang kau sebarkan tentangku, sebenarnya masih bisa ku proses secara hukum kalau kau terus bicara sembarangan di sini. Aku memilih tidak menuntutmu, karena aku dengar kau sedang 'sakit'. Tapi sekarang melihat kau masih bisa menyindir seperti ini… sepertinya kau sudah sembuh. Jadi bagaimana? Perlu aku laporkan semua perbuatanmu padaku?”
Mata Shanaz menyipit tajam, ia akhirnya berjalan melewati Leya. Langkahnya cepat, seolah ia ingin segera pergi dari tempat itu.
biasa ny kn benci jd berubah jd cinta ,,
eeeits tp anda bukan tokoh utama dsni ,, mending kerja aj yg professional yx rafii ,, jgn menghancurkn apa yg sudh km miliki skrang ,, jgn kaya si arkana2 tu ,, 😒😒😒😒
perlu berendam di kawah gunung merapi ni shanaz biar otak ny rileks🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣